Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 116 — Pertarungan Puncak II


__ADS_3

Benturan besar, Rigel menggunakan Void Tahap Empat. Selama pertempuran berlangsung dia sudah beberapa kali menerima luka besar baik dari Lucifer ataupun Michael.


Meski begitu Rigel juga telah memberikan luka kepada dua musuhnya, tentunya hal seperti itu takkan mampu membunuh mereka.


“Keluarlah para anjing.” Cerberus keluar dari tangan kiri Lucifer, mereka menyerang menuju Michael sementara Lucifer menuju Rigel.


Rigel tersenyum dan menggunakan Void, “Bentuk benda dan kehidupan kan melebur dalam kehampaan.”


“Kehancuran akan terjadi kepada sesuatu yang memiliki bentuk.”


Rigel dengan tangan kanannya, Lucifer dengan tangan kirinya, keduanya saling berbenturan dalam upaya menghancurkan satu sama lain. Rigel membuka mulutnya dan menembakkan cahaya, Lucifer mengelak dengan menggeser sedikit kepalanya.


Tak lama, Michael yang memotong kepala Cerberus muncul dengan pedangnya, dia memberikan ayunan besar sehingga Lucifer dan Rigel harus menghindarinya.


“La Fire!” Lucifer membakar medan peperangan dengan api kemerahannya, apinya tidak kunjung padam dan terus membakar tanah.


“Lemah.” Michael memutar pedangnya satu lingkaran penuh dan menciptakan api biru yang melahap api merah Lucifer, sementara Rigel tidak ingin merepotkan dirinya dengan mengurusi hal itu.


Rigel mengulurkan tangan kirinya dengan penuh senyuman lebar, “Air Mata Poseidon!”


Tetesan air mata kristal jatuh, berton-ton air kemudian muncul secara ajaib bagaikan laut yang terbentuk secara misterius.


Rigel berdiri di atas ombaknya dan memanggil monster sejati yang menguasai lautan, “Datang, Hydra.”


Mahkluk kepala dua yang termasuk ke dalam kategori naga muncul dan membuat kekacauan. Medan perang berubah menjadi lautan dan Hydra menyerang secara acak, Rigel memanggil petir dan menghujani air dengan aliran listriknya.


Michael tak mampu untuk terbang karena baik darat atau udara dipenuhi dengan serangan, Rigel sungguh-sungguh mengeluarkan kemampuan terbaiknya tanpa keraguan.


“Kamu sungguh memiliki banyak hal.” Lucifer menggunakan Black Hole untuk memindahkan serangan yang datang kepadanya, sehingga dia tidak terkena baik air atau listrik.

__ADS_1


“Jangan sombong, manusia. Serangan skala besar namun selemah ini tidak akan melukaiku.” Michael dilindungi gelembung cahaya sehingga tidak ada apapun yang menembusnya.


Jika mereka berpikir bahwa Rigel hanya akan menggunakan itu maka cara berpikir mereka naif. Rigel adalah tipe orang yang blak-blakan dan takkan ragu menggunakan sesuatu ketika waktunya tiba.


“Kalian jangan berpikir ini sudah berakhir. Aku baru saja mulai-!” Rigel mengangkat tangan kirinya, langit mulai berwarna oranye karena ratusan tinju api jatuh dari langit bagaikan meteor.


“Gate of Heaven.” Michael memutuskan memperkuat pertahanannya, sementara Lucifer menyambut Rigel dengan lapang dada.


“Sudah kuduga melawanmu jauh lebih menarik, Rigel. Meski tahu api hanya berakhir menjadi kekuatanku, kamu tetap menggunakannya!”


Menggunakan elemen api terhadap Lucifer adalah tindakan bodoh karena tangan kirinya mampu menyerapnya dan mejadikan kekuatannya. Meski begitu Rigel bukan orang bodoh, dia selalu melakukan percobaan. Jika tidak berguna maka akan ditinggalinya namun jika berguna akan dijadikan senjata ampuh olehnya.


Sekalipun ada di pertempuran hidup dan mati Rigel tetap melakukan uji cobanya. Alasan Michael memilih bertahan mungkin karena dia menyadari sebuah trik kecil yang bersembunyi dari tinju api yang berjatuhan.


“Api adalah kekuatanku!” Lucifer meraih serangan paling besar, dia tersenyum karena apinya terserap namun kemudian dia merasa sakit dan memuntahkan darah dari mulutnya.


Tak ada kesempatan untuk menghindar, dia menerima banyak serangan dari tinju api Rigel, Lucifer bersusah payah membuat Black Hole untuk melindungi dirinya dari berbagai sisi yang mungkin menjadi target serangan Rigel.


Dia mampu melihat api tersebut sudah diserap oleh tangannya namun entah mengapa api tersebut justru menjadi luka baginya, seakan sebuah racun untuk tubuhnya. Hanya ada satu hal yang bisa dipastikan olehnya.


“Begitu, kekuatan suci, ya?” Lucifer bertanya geram selagi memulihkan dirinya.


Rigel yang tersenyum merendahkan berkata dengan riang, “Ya, Purgatory, api penyucian. Tak peduli meski kamu malaikat ataupun iblis, api ini akan memihak kepadaku seorang dan akan melukai siapapun yang aku anggap musuh.”


Jika dia menyerang temannya maka api tersebut tidak akan memberikan kerusakan apapun. Rigel memahami bahwa api ini sangat cocok untuk menggertak dan membedakan mana kawan dan lawan.


“Kamu sepertinya menjadi tollol sejak ditendang ke dunia bawah, Lucifer. Ha ha ha, aku sangat malu jika jadi dirimu!” Michael tampak sangat bahagia karena perbuatan konyol Lucifer.


Rigel ikut menertawakannya karena Lucifer terlalu bersemangat sampai menjadi bodoh.

__ADS_1


“Hahaha, kamu memang kurang ajar, Rigel. Sepertinya aku sudah benar-benar marah.”


Lucifer kemudian bergerak cepat, Rigel menyadari dia memasuki zona waktu yang melambat. Tak perlu mengambil risiko, Rigel ikut memasuki zona tersebut dengan Void Tahap Empat.


Dia menghalau serangan Lucifer yang mengincar punggungnya dengan kedua tangannya.


“Orang bodoh di sini sepertinya murka karena aku mempermalukannya. Maafkan aku karena tidak mempermalukan lebih jauh—”


Sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya sebuah pedang menusuk perut Rigel dan menembus hingga ke tubuh Lucifer. Pedang dengan cahaya keemasan yang bersinar terang akan kekuatan.


Rigel menoleh ke belakang dan menemukan keberadaan Michael di sana, dia berdecak kesal karena lupa bahwa Michael adalah pemimpin Seraphim, sangat wajar baginya untuk bisa melakukan hal-hal yang bisa mereka lakukan.


“Kalian mengabaikanku dan itu menyakitkan serta membuatku kesepian, karena itu aku membunuh kalian berdua sebagai gantinya. Tidak masalah, kan?” Michael menunjukkan tatapan yang merendahkan.


Rigel hanya tertawa selagi memuntahkan darah dari mulutnya, “Ha ha ha, seakan kamu bisa melakukannya. Jika aku mampu mati semudah ini, semua kisah saat ini takkan lagi berjalan ...”


“Kukuku, kamu tetap bajingan seperti di masa lalu, Michael. Meski begitu aku tidak membencinya.” Lucifer menjauh karena merasakan sesuatu tidak menyenangkan dari Rigel.


Bahkan Michael bersikap sama dan menjauh, ketiganya kembali ke waktu semula. Rigel mengeluarkan cahaya dari luka yang dia miliki dan perlahan memulihkannya. Tangan kanannya mengumpulkan energi alam dalam jumlah besar, sementara tangan kirinya mengambil sebuah bola aneh.


“Dari mana dia mendapat energi alam sebesar ini dan begitu cepat?” Tanya Michael ketika menyadari kejanggalan.


“... begitu, ya. Pohon besar di sana tumbuh bukan tanpa alasan. Aku tidak menduga kamu akan menggunakannya seperti itu.” Lucifer menemukan sesuatu yang telat dia sadari.


Rigel hanya tersenyum masam, dia merasa senang karena rencana diam-diamnya sangat telat untuk disadari oleh pihak lain. Dia bukan tipe orang yang menyuruh seseorang melakukan sesuatu tanpa arti.


Meminta Priscilla menumbuhkan pohon sebesar itu bukanlah upaya memulihkan medan perang di masa depan nantinya, tetapi sesuatu untuk Rigel gunakan.


“Ya, pohon itu menghasilkan energi alam yang besar. Aku menghisap segala energi yang dia keluarkan dan menjadikannya kekuatanku.”

__ADS_1


“Meski begitu, mustahil manusia sepertimu—” Perkataan Lucifer dipotong oleh Rigel, Lucifer juga menyadari bahwa dada Rigel terukir sebuah gambar yang tidak asing.


“Kamu pasti menyadarinya. Aku pernah menjadi Raja Peri, dan tanda yang ditinggalkan Sylph sangat berguna untuk melakukan hal-hal seperti ini.”


__ADS_2