Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 8 — Black Horizon


__ADS_3

Biru dan hitam putih bergerak menyatu dengan angin, saling berbenturan dengan liar, gila dan tidak masuk akal. Cahaya biru yang lebih kecil memiliki kelincahan yang lebih tinggi dari cahaya hitam putih. Namun besar kekuatan jelas keunggulan di pihak lain.


"..."


Dalam diam, Amatsumi Rigel menarik keluar kekuatan yang bersemayam dalam dirinya dengan bentuk Rune biru yang menyala-nyala, membakar, menggebu-gebu dan menciptakan dilema tentang perasaan kosong yang dia rasakan.


Kekuatan yang dia dapatkan dari perjalanan menempuh seratus tahun pelatihan. Sebuah kekuatan yang dia raih dengan membunuh orang-orang 'itu' dan menyerap kekuatan mereka untuk dirinya gunakan secara pribadi.


Dia telah membunuh mereka yang bisa dibilang teman, sekumpulan orang-orang yang berjuang bersamanya menaklukkan neraka. Sekumpulan orang-orang mati yang berakhir di tempat itu, sekumpulan orang-orang yang berakhir tepat di tangannya.


Penyesalan tentunya sungguh ada. Kekuatannya berasal dari nyawa dan energi banyak orang yang sudah dia bunuh dikumpulkan dan memperkuat kekuatan itu. Kekuatan dari Kehampaan, Void.


"Apapun yang kamu lakukan, manusia tidak pernah bisa menentang Dewa!"


Selayaknya orang tuli, tidak sedikitpun dia terusik akan perkataan yang sangat idiot. Mengklaim diri sebagai Dewa, namun begitu susah payah membunuh manusia, benar-benar sebuah guyonan paling buruk di dunia.


Naga itu— Acnologia melontarkan bola tidak stabil dalam jumlah tidak sedikit. Kekuatannya menghisap segala bentuk fisik ke dalam bola cahaya dan gelap tidak stabil yang saling mengejar satu sama lain.


Dalam jumlahnya yang puluhan itu, mereka tersebar ke berbagai tempat, tetapi tujuannya tetaplah kepada Rigel. Bola-bola energi itu menutup segala jalan bahkan celah untuk mencegah jalan pelarian baginya.


Rigel berdiam diri melayang di tempat, benar-benar acuh dengan segala bentuk ancaman yang mendekatinya..., begitulah jika orang lain memandangnya.


Namun pada kenyataannya, tidak satupun dia anggap ancaman mendekatinya. Justru baginya itu adalah sekumpulan gandum yang ingin memberinya makan dan menjadi semakin tumbuh. Jika semakin tumbuh, semakin kuat dia, semakin kuat dia maka semakin tak terkalahkan dia.


Dia yang mengulurkan tangan kanannya melepaskan sebagian kekuatan yang dia simpan. Kekuatannya teramat besar sampai menelan seluruh rangkaian energi yang mendekatinya. Seluruh energi yang tertelan melebur menjadi mana yang akan dia gunakan untuk mengalahkannya.


"Terima kasih atas makanannya..."


Rigel menjilat bibirnya seakan baru saja menyantap hidangan mewah bintang lima. Nampaknya hal itu memancing kemurkaan Acnologia dan hal yang keluar darinya selanjutnya hanya—


"Terlalu lancang, tidak sopan, keparat, sialan dan bajingan, rupanya. Bahkan kematian tidak akan bisa membebaskan dirimu dari dusta!"


—perkataan yang tidak sedikitpun dia pedulikan, khawatirkan ataupun berguna bagi masa depannya. Hanya perkataan sampah, kotor yang tidak memiliki manfaat ataupun berguna bagi kehidupan.


"Selayaknya seorang sampah yang hanya bisa besar mulut tanpa ilmu, dirimu hanyalah anjing tolol yang menggonggong untuk mengancam karena takut dirinya terancam..."


Dengan segera sosoknya berkedip dan memberikan tendangan menuju wajahnya. Dia menggunakan punggung kakinya karena mungkin bisa menghempaskannya.

__ADS_1


Namun Acnologia tidak akan sebodoh itu sampai-sampai membiarkan luka apapun mendarat kepadanya lagi. Cukup sudah dengan tangannya yang dihancurkan, meskipun bisa beregenerasi, penghinaan namanya bila terus menerima luka.


Dia membiarkan cakar-cakaranya menahan tendangan itu, sementara mulutnya terbuka lebar dan menghembuskan nafas cahaya yang terasa cukup panas.


Rigel menendang udara untuk menjauh, mengambil dua bazoka dari penyimpanannya dan menembakkannya tanpa henti. Acnologia menerjangnya, baginya segala ledakan itu seperti kuman belaka dan tidak memiliki dampak besar kepadanya.


Rigel melemparkan bazoka dan menyilangkan tangannya yang disertai Mana Hand raksasa dan melindungi seluruh tubuhnya dari cakaran tajam Acnologia. Terlambat satu milidetik dapat membuat tubuhnya termutilasi tanpa dia sadari.


"Jika ingin adu mekanik dalam tinju, aku dengan percaya diri dapat menerimanya!"


Dia melumuri kedua tangannya dengan mana dan berteleportasi ke belakangnya. Dia mengirimkan Mana Hand dengan tangan kiri dan melemparkan Void Of Destruktif bersamaan dengan Mana Hand.


Acnologia berputar searah jarum jam dengan mengirimkan tebasan yang diikuti bilah bayangan yang terbang dan memotong serangan Rigel. Terbukti bahwa setiap gerakan dan serangannya tidak ada yang sia-sia.


Dengan segera, mereka menyatu dengan angin dan bertukar serangan dalam kecepatan diluar kekuatan manusia biasa.


"Material Buster!"


"Roaarrrrwwwrrr!"


Nafas api hitam dengan cahaya berbenturan, menghempaskan segala bentuk fisik benda di sekitar mereka dan menghancurkan daerah sekitar menjadi semakin hancur.


Amatsumi Rigel, seseorang dari dunia lain yang dipanggil dan mendapatkan gelar Pahlawan, kini bertarung untuk masa depan dari dunia yang bukan tempat kelahirannya. Meskipun niatnya hanya untuk melindungi mereka yang dia kasihi, manfaat lainnya dia menyelamatkan dunia.


Acnologia, naga yang menguasai kegelapan dan cahaya, memperbudak rasnya sendiri dan memimpin secara diktator. Dengan kekuatannya dan egonya, dia berniat menundukkan seluruh kehidupan di bawah pemerintahannya dan melenyapkan mereka keberadaan yang jelek.


Dua orang dengan tujuan yang sangat berlawanan berhadapan satu sama lain dengan tujuan melenyapkan salah satunya. Pemenang dan pecundang belum dapat dipastikan, yang pasti hanyalah pecundang dan tujuannya akan hancur.


"Mana Hand : Hand Of Midas!"


Tangan Mana raksasa terbentuk dan menampar Acnologia jauh ke pertempuran lain. Rigel menciptakan puluhan misil dan menembakkannya kepada Acnologia yang terlempar.


Acnologia mengabaikan serangkaian serangan yang merusak kulitnya dan dengan marah menuju Rigel dan—


"Keparat, sialan! Yamikari Territory : Black Horizon..."


—kegelapan abadi menyelimuti dunia. Kesunyian, dunia tanpa warna selain kegelapan, seluruh indra yang dia miliki mati. Langit dan bumi tidak dapat dipastikan, angin bahkan tidak menyentuh kulitnya.

__ADS_1


"..."


Tubuhnya tidak dapat dirasakan, namun dia bisa memastikan dirinya ada. Dia bernapas, namun tidak merasa bernapas, dia hanya ada, seakan kesadaran dan tubuhnya berada di tempat berbeda.


Bang!


Rasa sakit menghantam tubuhnya dengan kuat. Dirinya terhempas dengan kuat, namun tidak kunjung menghantam, mendarat, menabrak, bahkan jatuh atau terbang juga tidak.


"Khahaha! Tersiksa dan matilah di tempat ini, MANUSIA!"


Cruch!


Merasakan dampak cakar di dada, Rigel memuntahkan darah dari dada dan perutnya. Rasa sakit menghantam dengan sangat kuat, sesuatu berupa kutukan membakar dagingnya secara perlahan dengan menyakitkan.


Cairan hangat mengalir keluar, dia tahu bahwa tubuhnya terluka cukup parah, ditambah dengan kutukan yang membakar dagingnya dengan perlahan.


"Ergh...! Territory Void!"


Tanpa berpanjang lebar, dia mempersingkat pelafalan mantra dan menghancurkan Territory Acnologia. Karena pelafalannya dipersingkat, kekuatannya tidak sekuat yang biasanya sehingga Territory miliknya hancur bersamaan dengan milik Acnologia.


Dunia menampakkan wujud aslinya, hal yang hanya menampilkan siluet kini memperjelas wujudnya. Udara panas, dingin pertempuran menerpa kulitnya, cahaya masuk melalui matanya dan apa yang ditemukannya pertama kali adalah luka cakar dengan daging yang perlahan membusuk membuat bekas di dada.


Lukanya terbilang besar, dari dada hingga ke perutnya, bahkan mengerat organ tubuhnya yang sangatlah rentan terhadap serangan. Yang paling bermasalah adalah api hitam yang membakar daging dan Mana tubuhnya yang mencoba memulihkan diri.


Rigel kembali memuntahkan darah dari mulutnya dan seakan ratusan jarum mengoyak tubuhnya sedikit demi sedikit. Sakit, sakit, rasanya sakit, namun entah mengapa dia tidak terlihat menderita.


Bukannya terbiasa, tidak akan pernah ada manusia di dunia ini yang akan menjadi terbiasa dengan rasa sakit. Amatsumi Rigel jelas menderita dan merasakan sakit yang membara, hanya saja, hatinya lebih tenang dari yang dia duga


Darah meninggalkan tubuhnya, kehangatan meninggalkan tubuhnya dan jiwanya perlahan terangkat dari tubuhnya. Kegelapan mulai merayap pengelihatannya, rasa kantuk yang berat perlahan membelainya untuk segera tidur, melepaskan beban yang dia tanggung.


Ah~, rasanya sungguh berbeda dari yang pertama. Apakah ini menjadi kematian yang kedua dan terakhir? Tidak terduga, aku bisa dengan ikhlas menerimanya, seakan ini keinginanku yang bersemayam...


Tubuhnya perlahan tumbang, di hadapan sosok naga yang sedikit babak belur yang memiliki senyuman lebar dan cakar hendak memenggal kepalanya, Amatsumi Rigel menunjukkan senyuman penuh arti.


"Bahkan menjelang kematian dirimu masih sanggup memberikan penghinaan."


"Rigel!"

__ADS_1


Jauh dari medan tempur lain, teriakan kemarahan disertai kesedihan bergema dari wanita tidak terduga. Dia yang memiliki sayap, dia yang memiliki kecantikan, dia yang memiliki cinta, dia yang memiliki kasih sayang, dia yang memiliki kesucian, dia yang memiliki kebaikan, dia yang memiliki kesempurnaan, dan dia yang memiliki kehangatan.


Seorang wanita—seorang Ratu dari ras yang dikenal dunia dengan sebutan Peri memberikan air mata kesedihan, terhadap pria yang dia berikan cinta dan wewenang terhadap peri, dialah Sylph.


__ADS_2