
“Tak kusangka bahwa manusia akan mengirimkan Pahlawan lainnya secepat ini. Kalian tampaknya cukup putus asa.”
Di waktu yang sama saat Hazama berlari pergi menuju Nadia, konfrontasi antara Regulus dan Ray sudah memanas meski mereka hanya saling menatap tanpa aksi.
Jauh dari mereka, Diablo sedang berhadapan dengan Marcel dan Rafael melawan Priscilla. Regulus cukup skeptis dengan situasi ini karena dilihat dari manapun mereka seperti menari di telapak tangan seseorang.
“Apa kamu yakin tidak salah mengatakan demikian? Bukankah seharusnya kalian yang cukup putus asa karena tidak ada bantuan meski tahu nyawa kalian akan segera melayang?” Ray mengacungkan senjata ilahinya dan mengeluarkan belati yang terbuat dari taring Hydra.
Diantara para Pilar Iblis Kekuatan Regulus salah satu yang berbahaya. Mereka hanya mengetahui bahwa Pilar Iblis Regulus mampu membuat Es Abadi namun di luar hal tersebut mereka tidak tahu jawabannya.
Untuk hal itu Ray harus berhati-hati dengan kesiagaan penuh, lawannya adalah pengguna sihir yang artinya dia memanfaatkan jarak untuk bertarung. Mungkin bukan lawan yang benar-benar cocok baginya namun dia tak bisa mengeluh.
“Terpojok? Bagiku kalian manusia hanya sampah yang sedikit baik. Mengecualikan Pahlawan yang hampir membunuh Diablo, sisanya mungkin hanya kera yang bisa mengangkat sumpit.” Regulus tertawa geli saat menatap Ray dengan penuh merendahkan.
Dalam sekejap mata sesuatu melesat cepat tanpa dia sadari dan berhasil memberikan luka kecil di bawah matanya. Meski luka tersebut perlahan tertutup es dan sembuh, Regulus jelas tidak senang akan hal tersebut.
Dia melihat Ray yang baru saja menerbangkan bilah api ke arahnya, “Tak masalah jika manusia itu lemah, karena bahkan iblis atau malaikat tidak lebih baik. Dunia ini hanya berisikan orang lemah.”
Tanpa meninggalkan kata-kata lagi Ray melesat cepat dan menebas tangan Regulus. Tangan tersebut terpotong namun berubah menjadi es dan mulai tumbuh kembali.
“Khahaha! Maka aku akan menunjukkan jika manusia terlemah dari yang paling lemah!” Regulus melompat mundur dan menembakkan puluhan duri es.
Ray berlari selagi menghindari, dia berusaha memotong jarak namun seperti dugaan bahwa Regulus akan bertarung selagi terus menjaga jarak.
‘Sekarang apa yang sebaiknya aku lakukan? Jika keadaan seperti ini terus maka hanya menunggu waktu sampai aku kelelahan.’
Ray segera menghantamkan kedua belatinya hingga menciptakan percikan api yang menyelimuti bilah kedua belati tersebut, “Dagger Flame!”
Bilahnya menyala akan warna oranye dan panas yang membara, saking panasnya api tersebut dapat membuat es yang datang mencair sebelum mencapai Ray.
__ADS_1
“Itu kekuatan yang menarik juga menyebalkan. Kamu benar-benar musuh alami yang aku miliki.” Regulus yang awalnya tersenyum kini kehilangan senyuman, dia melemparkan bongkahan es yang lebih besar dari sebelumnya menuju Ray.
“Burst Step —Minus Tempo!” Kaki Ray bergerak sangat cepat seolah ada puluhan kaki yang berlari di waktu sama.
Kecepatannya meningkat dan dengan mudah dia memotong jarak. Regulus sedikit tertegun terutama ketika Ray sudah mengulurkan dua senjatanya menuju jantungnya. Dengan tergesa-gesa Regulus menyilangkan tangan dan mengorbankannya.
Tangannya mulai berubah menjadi es dan mencair, dia menjauhkan diri untuk menyembuhkannya kembali namun Ray tidak sebaik itu untuk membiarkannya.
“Hundred Slash!” Ray memberikan ratusan tebasan dalam sekali serang, hal tersebut membuat Regulus mendecakkan lidahnya.
“Icecubes!” Regulus membekukan tubuhnya di dalam bongkahan es raksasa untuk menghindari tebasan Ray, setelah berhasil dari serangan beruntun tersebut, Regulus menumbuhkan kedua tangan dan merapalkan mantra lain, “Freze of World!”
Asap dingin keluar dari tangannya dan menyambar tanah dan merubahnya menjadi dingin. Tanah merah perlahan tertutupi es putih, Ray melompat sekali untuk menghindari kakinya dibekukan oleh es tersebut.
Serangan yang digunakan Regulus memiliki cangkupan area yang cukup luas, mungkin menutupi tanah yang akan menjadi pertarungan sengit diantara mereka.
‘Ini cukup masalah, meski bukan Teritory namun hal ini jelas merugikanku.’
“Apa yang terjadi, ke mana semangatmu sebelumnya? Aku akan bermain-main denganmu sebentar. Akan kiper ingatkan bahwa aku tidak pernah setengah-setengah menghadapi lawanku. Cobalah untuk tidak mati!”
Regulus segera menghilang dan menyatu dengan es di tanah. Ray dengan panik memandang sekitar tanpa menemukan hasil apapun, dia tidak merasakan sedikitpun kehadiran Regulus sampai sesuatu terbentuk.
Bukan hanya satu tetapi muncul sepuluh patung es dengan penampilan Regulus, perbedaannya sangat jelas karena Regulus memiliki penampilan manusia dan bukan es.
“Mari lihat seberapa baik kamu bertahan!” Patung es yang menyerupai Regulus segera memberikan tendangan dari segala arah.
Ray melompat untuk menghindar, segera dia menatap langit dan menemukan tombak es terjun ke arahnya. Di udara dia tidak memiliki pijakan sehingga Ray memilih menahannya dengan kedua belati.
Dia berusaha membuat tombak es meleleh dengan belatinya namun usahanya gagal, Ray jatuh keras menghantam tanah es dan membuat lubang dengan tubuhnya.
__ADS_1
Patung es Regulus datang dengan tujuan menginjak namun untungnya dia berguling beberapa kali dan berhasil menghindari runtutan serangan tersebut.
“Firedagger — Phoenix Beak!” Ray mengangkat belatinya dan segera menghantamkan kedua bilahnya.
Api berbentuk paruh tajam muncul dan menyapu bersih semua patung es milik Regulus, dia mulai berpikir bahwa menghadapi patung tersebut tidak akan ada habisnya dan hanya ada satu jalan keluar.
“Hahaha, apa yang bisa kamu lakukan dengan senjata bodoh itu? Dari pada menjadi Pahlawan, aku sarankan dirimu menjadi koki di neraka!” Regulus berbicara entah dari mana dan memunculkan duri-duri es yang perlahan mendekat.
Ray memejamkan matanya meski perlahan duri es tumbuh dari sekitarnya, dia membiarkan detak jantungnya berdetak pada irama tertentu untuk memasuki kondisi khusus yang dia namakan Kondisi Super Sadar.
Di kepalanya waktu satu tiga menit hanya berlangsung selama tiga detik, di waktu itu juga Ray mulai memikirkan langkah yang tepat untuk dilakukan dan mencari keberadaan Regulus.
‘Mau bagaimanapun aku tidak menemukannya di permukaan. Tak mungkin juga dia berteleportasi ke tempat yang jauh karena dirinya takkan mampu mengawasi tindakanku.’
Sebelumnya dia sudah mengawasi langit sejenak namun tidak menemukan apapun yang artinya hanya ada satu lokasi memungkinkan bagi Regulus untuk bersembunyi dari Ray.
Menemukan lokasi yang sangat memungkinkan tersebut Ray kembali membuka matanya, dia melakukan putaran penuh dan mencegah duri es yang diarahkan kepadanya, “Penari Belati Api!”
Tornado api muncul disebabkan oleh Ray yang berputar-putar, es di sekitarnya mulai mencair sehingga tak satupun yang berhasil menyentuh Ray.
“Bertahan takkan membuatmu menjadi pemenang!” Regulus jelas sangat menikmati keadaan saat ini, dia terus mengamati dari tempat yang tidak diketahui.
Namun dia juga tidak mengetahui sama sekali jika Ray telah menemukan tempatnya berada dan karena itu dia hanya berkata, “Aku tidak bilang akan terus bertahan.”
Ray mengambil botol kecil seukuran penghapus, dia membuka tutupnya dan segera memutarnya, setetes cairan kebiruan seperti kristal jatuh dengan dramatis.
“Sayang sekali bahwa aku bukan orang yang terlalu bergantung kepada senjata Pahlawan.”
Ray tersenyum mengejek meski tidak yakin apakah Regulus akan memperhatikannya, “Phoenix Tear.”
__ADS_1
Setetes cairan menghantam tanah dan menghilang begitu saja. Segera fenomena mengejutkan terjadi, apa yang awalnya tanah es berubah menjadi tanah yang dipenuhi api kebiruan.