Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 115 — Pertarungan Puncak


__ADS_3

Hutan Peri yang jatuh dalam kebingungan kini mengalaminya situasi gempar atas kepergian Ratu mereka yang tidak memberikan kabar apapun. Seharusnya dia tetap berada di hutan untuk mengendalikan dan menenangkan para penghuni Hutan Peri lainnya, bukannya menambah keributan dengan menghilang.


“Apa yang ada di pikiranmu, aku tidak pernah memahaminya. Tolong, jangan melakukan apapun yang membuat kami kehilangan ratu untuk kedua kalinya. Kala itu terjadi, Hutan Peri, kami para peri juga tidak akan mampu bertahan.” Undine menatap langit dan mengepalkan tangannya, dia mulai berdoa.


Ketika sesuatu terjadi kepada Priscilla, tak lagi bisa dihindari kehancuran Hutan Peri dan penduduk dunia ini. Posisi Ratu Peri sebagai penjaga alam lebih penting dari yang terlihat. Tanpa kehadiran Ratu, siapa yang akan menghentikan amukan para peri?


“Yang Mulia Sylph, saya yakin anda menyaksikan dari sana. Mohon, sekali lagi, beri kami perlindungan.” Undine sedikit meneteskan air matanya ketika berdoa kepada Ratu pendahulu, kawan lamanya yang telah tiada.


Jauh di tempat lain, Priscilla terbang menuju medan perang tempat Ragnarok berlangsung. Wajahnya rumit dan sedikit khawatir, untuk beberapa alasan dia tak bisa menjadi tenang sama sekali.


Ingatannya kacau dan seakan-akan ada sesuatu yang menghilang dari kenangannya. Priscilla tidak tahu apa tepatnya namun dia merasa akan menemui jawaban ketika bertemu Pahlawan atau datang langsung ke peperangan.


“Aku tidak bisa menyangkal kegelisahan ini. Entah apa yang akan terjadi, firasat ku mengatakan hal penting yang aku hilangkan ada di sana.”


Dia rela mengabaikan para peri termasuk Undine hanya untuk rasa keingintahuannya yang begitu kuat. Ada berbagai hal yang tidak dia pahami namun dia rasa teramat penting lebih dari tugasnya sebagai Ratu. Ada banyak hal yang harus diselesaikan.


“Aku tidak tahu siapa yang aku cari, apa yang aku butuhkan. Tolong, apapun itu, jangan lenyap.”


...***...


“SOLAR ECLIPSE!”


Bola api panas seperti mini matahari jatuh dari langit, dengan bantuan gravitasi kuat benda tersebut memiliki laju yang cepat untuk jatuh.


“Jadi ini kekuatan yang jauh gunakan sebelumnya, biarkan aku mencobanya!” Lucifer melompat dan menahan serangan yang ditujukan kepadanya dengan tangan kiri.

__ADS_1


Matahari tersebut berbenturan dengan tangan kiri Lucifer, suhu panas yang dimilikinya mulai diserapnya dan serangan Rigel kian mengecil laku hancur berkeping-keping.


Sementara di tempat lainnya, Michael melemparkan pedang-pedang cahaya kepada Rigel yang terus terbang sana-sini dengan cepat. Ketiganya memiliki kesibukannya tersendiri dalam menghadapi serangan satu sama lainnya, bahkan Rigel tak hanya dengan pedang, dia juga harus bertahan dari kutukan aneh berbentuk hewan bulat yang memakan mana. Tinju kanan Rigel tengah menahan hewan tersebut sehingga dia menunda menggunakan Void sementara waktu.


“Jangan abaikan aku!” Lucifer kembali menyerang dan melemparkan banyak Black Hole kepada Rigel dan Michael.


“Kergh!” Rigel menggertak gigi dan membuat banyak misil yang segera menuju Black Hole. Meski tidak berguna banyak namun hal itu mampu mengurangi dampak serangan Lucifer.


Rigel mengambil jarak pasti, dia menatap tangan kanannya dan segera menghancurkan benda aneh yang ditanamkan Lucifer sebelumnya.


‘Tangan kirinya amat berbahaya.’ Pikirnya.


Tidak hanya mampu menggunakan api dan menyerap jenis sihir apapun, tangan tersebut mampu memanggil monster yang belum pernah Rigel lihat. Hanya satu yang dia ketahui, Cerberus, siapa sangka Lucifer juga mampu memanggilnya.


“Ini mengerikan, menjengkelkan. Kamu mengganggu pertempuranku, bisa-bisanya Samael melepaskanmu!” Michael berkerut marah dan mengatupkan giginya dengan sangat kuat.


Dari gelagatnya Rigel meyakini bahwa Samael sungguh menjadi orang kepercayaan Michael. Entah siapa yang lebih kuat diantara keduanya namun Samael mungkin berada di bawahnya karena nyatanya Takumi berhasil membunuhnya.


Rigel cukup prihatin dengan Takumi meski dia berhasil selamat karena Leo dan Yuri, Rigel tidak bodoh, dia tahu bahwa Takumi harus mengorbankan umurnya hingga hanya akan mampu hidup kurang dari dua tahun lagi.


“Meski begitu aku tidak membenci ini. Sudah sejak lama, aku memimpikan hari di mana kita bertiga bisa saling membunuh.” Lucifer berkata senang selagi menyerap utuh energi di tangannya.


“Ya, karena dengan ini aku akan lebih mudah membunuh kalian secara bersamaan.” Rigel berkata selagi meregangkan tubuhnya.


Michael untuk pertama kalinya menginjak tanah, “Dunia bawah tempat makhluk rendah dan kotor menginjakkan kaki, ini menjijikan namun jika tidak seperti ini aku tidak akan menghormati kalian yang akan mati.”

__ADS_1


Mereka saling berhadapan dan tampak jelas ingin saling berbicara sebelum memulai pertarungan. Baik Michael, Lucifer hingga Rigel berdebar-debar di situasi yang telah lama mereka nantikan.


Bukan hanya karena bersemangat untuk bertempur saja. Melalui pertarungan ini mereka akan membuktikan siapa yang lebih kuat dan siapa yang seorang pecundang.


“Ha ha ha, ini menyakitkan karena aku harus membunuh teman lamaku. Mungkin setelah kematian kalian aku akan kesepian karena menjadi penguasa absolut dari dunia ini.” Lucifer berkata selagi tersenyum mengejek.


“Kalau begitu mengapa tidak mati saja? Kamu takkan kesepian ketika mati. Neraka mungkin jauh lebih menyenangkan dari katanya.” Rigel memberikan sarannya, “Lagi pula sebagai manusia aku tidak akan kesepian, umurku sebagai manusia terbatas.”


Kematian bukanlah kekurangan yang dimiliki manusia tetapi justru kematianlah yang menjadikan manusia sempurna.


Rigel tiada henti meyakini hal tersebut karena ketika memikirkan bagaimana rasanya keabadian dalam kesendirian, itu lebih menyakitkan daripada neraka manapun di alam semesta ini.


“Mengapa kalian berdebat saat kematian kalian sudah ada tepat di depan mata? Omong-omong meski kalian sudah tamat takkan ada kesempatan bagiku untuk bosan. Manusia dan Iblis takkan memahami betapa indahnya surga.” Michael tertawa dan mendengus dengan merendahkan.


Pertukaran kata tidak akan ada habisnya jika mereka terus melanjutkan. Rigel sadar bahwa mengulur waktu untuk berbicara seperti ini tidak akan membawa hal baik apapun ke pihaknya dan karena itu Rigel takkan ragu untuk memulainya.


“Apa ada kata-kata terakhir?” tanya Rigel selagi memukulkan tinjunya.


“Jika ingin mati cepat katakanlah biar aku kabulkan secepatnya.” Lucifer memunculkan monster neraka dari tangan kirinya.


“Kalian takkan pernah mendapatkan izin ke surga, bahkan melihat gerbangnya saja tidak akan pernah.” Michael menarik pedang cahayanya.


Tidak ada kata lain yang pantas diucapkan diantara mereka lagi. Selanjutnya biarlah tinju yang berbicara. Rigel berlari kencang dan dua musuhnya juga sama berlari.


Rigel berteriak dengan keras dan melemparkan serangannya, dia kemudian melompat dan menghajar Lucifer yang ada dekat dengannya, kemudian Michael datang dengan pedangnya. Bentrokan diantara mereka dimulai, peperangan akhir memasuki puncaknya.

__ADS_1


__ADS_2