
Menatap pasukan yang tiada habisnya, Rigel tersenyum dan mengambil sesuatu di tempat jauh yang hanya dia ketahui. Pertempurannya semakin intens dan dia tak ingin melakukannya semakin lama. Karena itulah, Rigel akan menjadi sosok yang mengacaukan perang dan mendorongnya ke tahap akhir.
“Jangan bilang kamu telah kelelahan setelah menghancurkan ombak, Leo.” Rigel tersenyum dan melontarkan perkataan kepada orang yang punggungnya saling menempel dengannya.
Leo dengan Kusanagi dan pedang Ilahi tersenyum dengan riang, sudah sangat lama sejak dia memiliki harapan untuk bertarung bersama seperti ini. Rasanya seperti semua ini hanya mimpi.
“Aku bahkan belum pemanasan!”
Leo memberikan balasan cepat.
“Kalau begitu baguslah. Teruslah bergerak, kematian tidak diizinkan.” Rigel melompat masuk dan dengan santai mengulurkan bola di tangannya.
Benda hidup yang coba dia dan Guren ciptakan. Meski awalnya hanya percobaan liar saja namun siapa yang akan menduga hasilnya mengerikan. Tidak ada jaminan apakah mampu menetas atau tidak, meski begitu jika meledak setidaknya akan mampu memberikan kerusakan besar dari pihak lawan.
“Aku penasaran sejak tadi. Benda mengerikan apa itu, Ayah?” Leo mengeluarkan keringat dingin selagi melihat benda yang mengeluarkan cahaya mengerikan.
Bola kristal yang berwarna merah, sangat persis sepert mata yang mengerikan namun kekuatan yang dikeluarkannya jauh lebih mengerikan.
“Benih atau mungkin lebih tepatnya telur. Kamu akan tahu segera.”
Tanpa perlu menunggu Leo menjawab, Rigel melompat turun. Dia mendekat ke tumpukan mayat Iblis, malaikat bahkan manusia. Tanpa emosi khusus di wajahnya, dia mengulurkan benda itu dan cahaya kemerahan segera menelannya dengan lahap.
“Masih belum cukup.” Rigel pergi lebih jauh untuk membunuh dan menyerap mayat, tindakannya begitu liar sampai menarik minat tentara Legion yang berada di sisi lain.
Pasukan yang jumlahnya menutupi daratan hanya berdiam diri dan menunggu perintah. Penunggang monster juga menunggu di udara dengan tenang, sementara yang menaiki pesawat tanpa awak hanya berputar-putar. Mobil yang dimodifikasi dengan meriam sihir besar di atasnya sudah berbaris dan bersiap menembak.
Dengan ini umat manusia telah mengerahkan seluruhnya korps Sparta, Hetairoi dan Herakles. Sementara pasukan terbesar Berserker yang sudah siap masih menunggu perintah untuk turun ke medan perang, dengan turunnya tiga korps besar sudah cukup membuat banyak lautan manusia.
Tak hanya tentara saja tetapi kini Pahlawan dikerahkan seluruhnya tanpa perlu lagi melakukan pergantian seperti sebelumnya. Merial, Yuri dan Natalia yang mengendarai mobil pergi untuk menjemput Hazama juga Aland. Asoka dan para Raja lainnya mulai bersiap-siap dan akan berangkat bersama Berserker.
Leo akan bertarung di garis depan bersama Rigel dalam rangka menghancurkan gerakan iblis dan malaikat yang sangat terorganisir. Meski pasukan iblis sekarang tampak sangat kacau namun tindakan liar yang tidak masuk akal adalah hal paling mengerikan.
“Tak ada gairahnya jika melawan cecunguk seperti kalian.” Rigel berkata selagi menginjak mayat iblis sebelum menyerapnya.
__ADS_1
Kristal di tangannya mulai memancarkan aura yang lebih kuat lagi namun hal itu belum cukup untuk membuatnya terwujud. Dibutuhkan lebih banyak jasad agar benda itu mampu membentuk wujudnya.
Kekuatannya tidak diragukan lagi akan kuat karena tercipta dari banyak kekuatan besar. Walaupun demikian entah bagaimana Rigel tidak begitu mengharapkannya karena mau bagaimanapun benda itu hanya produk cacat.
“Tak ada jalan lain ... Kalian semua, bawa semua mayat.” Rigel memerintahkan tentara kematian yang bertarung sengit.
Mereka mulai membawa banyak tubuh malaikat dan Iblis, bahkan manusia juga tidak terkecuali. Perintah yang diberikan adalah membawakan mayat dan tidak ada kriteria khusus.
Rigel menyerapnya dan selagi menyerapnya kehadiran seseorang yang tak bisa diabaikan segera menarik minatnya. Ini kali pertama mereka berjumpa namun hawa di sekitar mereka tak lagi menyenangkan.
“Akhirnya kamu datang menyapaku, malaikat sialan.” Rigel berkata acuh tak acuh dan tetap fokus menyerap mayat.
“Sayangnya aku tidak memiliki keinginan menyapa orang yang tak lama lagi akan mati.” Malaikat yang menyejajarkan pedangnya dengan wajahnya berkata acuh selagi melihat seksama tindakan Rigel.
“Percaya diri boleh saja namun sesuaikan dengan kemampuan. Baik kamu, Michael, bahkan Lucifer. Sekumpulan orang tidak kompeten seperti kalian tidak akan pernah bisa membunuhku.”
“Sepertinya kamu juga memiliki kepercayaan diri yang tidak memiliki dasar.”
Rigel memberikan balasan cepat dan mengejutkan malaikat itu.
“Ada?”
“Karena aku yang terkuat.” Rigel menoleh dan tersenyum penuh percaya diri, “Kamu yang paling menyusahkan karena mampu memerintah Armageddon dengan sangat baik. Karena itu tak ada kesempatan bagiku melepaskanmu, Jahoel.”
Malaikat di depannya, Seraphim yang selama ini mengendalikan Armageddon dengan sangat baik sampai membuat Bellemere dan pasukannya mundur. Memanfaatkan jumlah yang banyak, tanpa tahu malu Jahoel memanfaatkan keuntungan jumlah dan mengeroyok satu orang dengan tiga malaikat.
Untuk lawan yang lebih kuat Bellemere contohnya, dia tanpa ragu mengerahkan 100 malaikat secara bergilir dalam upaya membuatnya kelelahan. Meski strateginya licik namun Rigel akan melakukan hal sama jika saja manusia berasal dari pohon yang berbuah tanpa henti.
“Itu juga berlaku untukmu. Necromancer adalah kekuatan mengerikan yang bertambah kuat seiring pertarungan. Meski awalnya mengkhawatirkan namun tampaknya tak berguna karena kamu tak bisa menjadikan makhluk roh pasukan.”
Makhluk seperti Tortoise, White Tiger, Malaikat dan Iblis adalah bagian dari roh. Singkatnya mereka tidak terikat dengan alam fana meskipun memiliki tubuh fisik yang mampu menjadi jasad. Rigel takkan mampu membangkitkan mereka dengan kekuatannya tak peduli berapa banyak upaya yang dikerahkan.
Namun tak ada kekhawatiran, sejak awal dia tak terlalu bergantung kepada satu kekuatan saja terutama yang kelemahannya fatal seperti Necromancer.
__ADS_1
“Beberapa tahun ini aku melakukan upaya terbaik untuk mengingat gudang skill-ku. Banyak yang berguna, sangat banyak yang tidak berguna. Bahkan jika Necromancer tidak pernah ada, masih banyak kartu yang mampu kumainkan.”
Menyimpan sebanyak mungkin rahasia dari kekuatannya, sebelum mengelabui musuh, kelabui temanmu. Rigel telah menjaga batas di mana Pahlawan lain memahami kekuatan Creator dan Void terutamanya.
Dari banyaknya skill yang dia miliki, memang menyebabkan, tetapi Rigel sangat bergantung dengan dua skill tersebut. Dia sudah sangat terbiasa dengan Creator terutama kekuatannya yang mampu membuat Rigel menggunakan elemen dasar dengan mudah. Selain itu ada hal lain yang tersembunyi dari kekuatannya.
Lalu untuk Void, Rigel tidak ingin menggunakannya terus karena ada bagian dirinya yang kosong setiap kali membuka tahap. Namun dia dengan jujur mengakui bahwa Void adalah kekuatan paling kuat yang dia miliki.
“Ya, Michael telah memprediksi bahwa kekuatan dari Rune tersebut masih memiliki potensi lainnya.” Untuk pertama kalinya Jahoel mengerutkan alis, berwaspada dan sedikit marah, “Kenyataannya memang bahwa aku tidak mungkin membunuhmu sendirian.”
Jahoel mengakui kekuatan besar Rigel dan sangat berbahaya, bahkan mungkin melebihi Lucifer sebelum dia menerima Tangan Kiri Hades. Situasi semacam ini di mana setiap pihak memiliki kartu rahasia membuat tak ada yang tahu siapa yang akan berdiri di akhir.
Jahoel sangat tahu bahwa dia takkan mampu mengalahkannya karena hanya dirinya sendiri yang tahu seberapa jauh batasannya. Namun itu berlaku jika dia hanya sendirian. Di peperangan ini Jahoel memegang keuntungan jumlah dan juga—
“Sayang sekali manusia, aku tidak sendirian.”
—Seraphim lainnya yang tersisa berada di pihaknya. Mengecualikan Michael, Barakiel dan Samael yang tak dikeluarkan, delapan lainnya turun dari langit dan membuat lingkaran di sekitar Jahoel.
Kalkydras dan Sandalphone tak hadir karena satunya tumbang dan satu lagi berada di tangan Ozaru. Namun menghadapi delapan Seraphim seorang diri adalah pekerjaan yang berat bahkan bagi Rigel sekalipun.
Pemandangan di mana Rigel berdiri tenang di hadapan delapan Seraphim yang siap membunuhnya, hal itu akan mampu mendorong siapapun menuju keputusasaan terdalam namun tentunya yang tidak normal seperti Rigel tidak akan demikian.
“Suatu kehormatan karena membuat kalian takut sehingga mengeroyokku. Tak kusangka, nyali kalian sekecil goblin, bahkan lebih rendah.” Rigel berjalan terhuyung-huyung, entah sudah berapa lama dadanya tak berdebar seperti ini.
Dia tersenyum bengis karena sudah lama tidak merasakan adrenalin dari pertarungan, rasa senang saat bertarung dengan lawan yang kuat.
“Akan kuladeni. Sekalipun kalian membawa seluruh malaikat dan Seraphim, aku tidak akan kalah. Tidak akan bisa kalah—”
Karena mau bagaimanapun akhir dari kisah ini sudah ditentukan dan Rigel telah melihat gambaran akhirnya. Seberapa brutal peperangan ini, atau seberapa keras dunia mencoba menguburnya, akhir yang dia lihat tidak akan berubah. Dan oleh sebab itu Rigel tak ingin memiliki penyesalan.
“—majulah kalian, serang aku dengan segenap kekuatan kalian!” Rigel tersenyum lebar, dia melompat cepat dan menyebabkan tanahnya berpijak hancur.
Tiba-tiba muncul di atas para Seraphim, Rigel memberikan pukulan kuat dan menghancurkan tanah. Seraphim tentunya tidak begitu bodoh untuk menerimanya, mereka sudah menyebar dan mengelilingi Rigel dalam formasi lingkaran.
__ADS_1