
“Sekarang bagaimana caramu menghadapiku, Pahlawan?”
Dengan hampir seluruh indra menjadi tidak berguna tak ada cara pasti untuk Takumi menghadapinya. Dia ingin menggunakan indra keenam namun akan sulit dan tidak ada jaminan keberhasilan.
Semua indranya dikaburkan dan bukan mustahil demikian dengan indra keenam. Setiap informasi yang dia terima dari tubuhnya tak bisa diterima begitu saja karena mungkin menyesatkan. Jika dia membuat langkah yang buruk maka semuanya akan berakhir.
‘Menggunakan Territory juga tidak bisa karena kita sudah ada di dalam sebuah wilayah. Bahkan jika aku bisa membuatnya tidak ada jaminan kegelapan ini akan menghilang.’
Territory mungkin akan aktif selama beberapa waktu namun Takumi merasa ragu akan mampu melakukan sesuatu dengannya. Dia perlu rencana lain yang lebih memiliki kemungkinan berhasil tinggi.
“Kamu tak bisa melihat, tak bisa merasakan. Hanya telinga yang berfungsi dan itupun sulit memastikan lokasiku hanya dengan suara. Apa yang akan kamu lakukan? Inilah kekuatan sejati, tidak sepertimu yang meminjam kekuatan dari senjata.”
Takumi hanya seorang remaja biasa pada umumnya yang tiba-tiba datang ke dunia lain dan mendapatkan kekuatan luar biasa. Dia tidak pernah mengharapkannya dan tidak pernah menduganya juga, sebagai manusia dari bumi, sesuatu seperti Pahlawan dan sihir hannyalah cerita negeri dongeng.
Namun sekarang semuanya nyata, Takumi mampu menggunakan sihir dan menjadi Pahlawan. Sekalipun kekuatannya hannyalah pinjaman saja namun di sini dialah yang menentukan untuk menggunakannya.
“Memang benar jika kekuatan ini hanya pinjaman dan bukan sesuatu yang benar-benar kudapatkan dengan usaha. Namun kamu harus tahu bahwa selama ini aku yang mengembangkannya, Kekuatan ini memilihku karena kepantasan. Dan tidak peduli bagaimana caramu menjatuhkanku, pegang erat kata-kataku bahwa kamu akan mati.”
Takumi menancapkan kedua tombaknya dan memejamkan mata, dia membiarkan semua pemikiran dan emosinya menjadi kosong. Menarik rune hijau dari tingkat kini tubuhnya dialiri kekuatan besar. Tanpa perlu bagi siapapun melihatnya mereka tahu karena mampu merasakannya.
“Curse Series ...”
Kekuatan yang dia simpan untuk waktu lama dan hanya digunakan sedikit demi sedikit kini akan ditarik sepenuhnya, “... Kekuasaan Pemalas.”
Tak memiliki nafsu dan tak memiliki keinginan selain ingin menyelesaikannya dengan segera, si pemalas hanya ingin menghabiskan waktunya abadi dalam kematian setelah semua tugasnya selesai.
Di dunia yang gelap tersebut hanya mata dan Rune-nya yang bersinar terang, kemudian cahaya lain yang berbentuk tombak menyala dalam gelap. Samael menjadi takjub karena kekuatan besar takkan berpengaruh di dalam tempat ini. Jika saja Rigel sungguh-sungguh menggunakan kekuatannya maka tak diragukan tempat ini akan hancur.
Samael tak mengerti apa alasan Rigel hanya menyicipinya tanpa ada usaha sungguh-sungguh menghancurkannya. Entah karena percaya kepada rekannya atau tak ingin membuang waktu, sekarang tidak jadi masalah.
“Kamu hebat. Akan kuberi tahu, untuk menghancurkan tempat ini kamu hanya perlu menghancurkan tangan kananku yang memegang kendali tempat ini sepenuhnya. Itupun jika kamu bisa!”
__ADS_1
“... tak peduli. Aku ingin mati saja setelah tugas ini selesai.” Kesadarannya jelas direnggut oleh sifat malas sekaligus dosa terkutuk yang bisa dimiliki oleh manusia.
Tanpa kalimat lain Takumi melesat dan berada tepat di depan Samael. Dia mengayunkan kedua tombaknya bersamaan dan ditangkis namun tiga tombak besar yang melayang mulai menyerang seolah punya pemikirannya sendiri.
Samael menghindar dan bertahan, dia menelan satu tombak cahaya namun segera tombak itu digantikan oleh yang lain. Dengan tangan kirinya dia mengimplementasikan segenap kekuatannya untuk memberikan pukulan besar tepat di dada Takumi, “Darkness!”
Pukulannya sangat kuat hingga membuat armor dada penyok dan tulang rusuknya memiliki keretakan namun dominasi pemalas memungkinkannya menghindari rasa sakit selama dalam kutukannya. Rasa sakitnya akan dirasakan nanti dan di sana pertarungan besar melawan rasa sakit.
Takumi membuang armor dan bajunya yang mulai compang-camping, dia jalan terhuyung kemudian berlari kencang. Dia melemparkan tombak Gungnir dan Samael harus menahannya dengan tangan kiri karena perisai buatannya hancur sesaat mengenainya.
“Menarik, teruslah menari!”
“Javelin.”
“Light Shield!” Samael menggunakan perisai cahaya dan melindungi dirinya, “Jangan pikir aku hanya bisa menggunakan kekuatan gelap.”
“Tak peduli juga.” Bukannya menggunakan tombak kali ini Takumi mengerahkan tendangan yang membuat Samael terdorong mundur.
Saat menghadap Takumi, Samael merasakan keringat dingin di punggungnya. Sebuah tombak besar sedang jatuh ke arahnya, tombak tersebut memotong dimensi dan mencapai lebih cepat ke arahnya.
“Sial!” Samael mengerahkan kekuatan penuh untuk menelan tombak tersebut.
Selain kekuatannya yang besar, tangan kanannya saat ini tidak bisa digunakan sehingga perlu waktu lama bagi Samael menelannya. Dia pikir akan mampu melakukannya tetapi Takumi tampak menduga dan melesat maju.
Dia menggunakan serangan kuatnya sendiri sebagai umpan agar bisa mendekat.
‘Takkan sempat!’ Samael terlalu lama berpikir dan Takumi sudah berada di depannya.
Kedua tombaknya direntangkan, Takumi berputar dan memotong tangan kanan Samael, dia membanting tombaknya ke tanah dengan kuat. Di detik yang seakan melambat, kegelapan mulai menghilang dan dunia kembali ke warna aslinya.
“Jangan sombong!” Samael berteriak keras dan mendorong kepalanya maju, dengan gigi kuatnya dia mengigit bahu kiri Takumi, memelintirnya dan berhasil membuatnya putus.
__ADS_1
Darah segar mengalir dan untuk pertama kalinya Takumi yang dalam kutukan pemalas mengalami wajah menyakitkan. Luka sekelas itu mustahil tidak menyebabkan rasa sakit, seseorang tidak akan terbiasa oleh rasa sakit.
“Mata dibayar mata, dan tangan dibayar dengan tangan.” Samael meludah dalam upaya membuang daging dan darah Takumi yang tertinggal.
Menatap tangan kanannya, Samael terkejut karena tidak bisa pulih. Dia menyadari ada api kecil di lukanya dan dagingnya membusuk juga hangus secara perlahan. Samael memotong bagian tersebut namun tidak berguna karena apinya kembali muncul dan dagingnya terus membusuk.
“Aku tidak memahaminya. Kutukan seperti apa ini yang bahkan malaikat tinggi sepertiku tidak bisa menghilangkannya?”
“Kamu malas. Malas adalah dosa dan semakin malas semakin besar kutukan.” Takumi berkata selagi menguap dan berjalan mendekat.
“Jadi begitu. Memang benar selama ini aku menjalani hidup dengan bermalas-malasan. Tanpa tertarik pada apapun dalam waktu lama sejak Lucifer ditendang dari surga. Jadi aku menuai apa yang kutabur, kah. Ini menyebalkan namun sekaligus menyenangkan. Kamu benar-benar tidak mengecewakanku.”
Samael tampak tak lagi menganggapnya kesenangan seperti sebelumnya. Pahlawan di depannya jelas kuat dan ada kelemahan fatal di mana kekuatan kemalasan sangat efektif melawannya.
“Apa dia sudah memperhitungkan ini? Kamu adalah musuh alami yang patut aku hindari namun temanmu, Rigel tampak meramalkan bahwa aku tidak akan melarikan diri.”
Hanya Takumi yang bisa mengalahkannya karena hanya dia yang menggunakan kekuatan kemalasan. Bahkan Rigel sendiri tak mampu menggunakan kekuatan semacam tersebut. Meski bisa membunuhnya dengan Void namun akan terlalu membuang banyak kekuatannya dan mengungkap kartu miliknya.
“Terserah katamu. Mari selesaikan sebelum kamu mati kehabisan darah.” Takumi mengulurkan tombaknya, meski hanya memiliki satu tangan namun postur bermain tombaknya tidak terganggu sama sekali.
Tombak adalah senjata yang membutuhkan dua tangan karena tak hanya panjang namun kontrolnya juga lebih rumit ketimbang bermain pedang. Berkat panjangnya tersebut seharusnya akan sangat sulit menggunakan tombak hanya dengan satu tangan.
Mayoritas pengguna tombak hanya akan menggunakan tombak dan tidak ada bantuan senjata lain. Tentu ada kasus di mana mereka membawa perisai atau menaiki kuda namun setiap serangannya sama yaitu hanya menusuk.
“Kamu benar-benar tidak terkendali. Aku memang benci berbicara, benci juga membuang waktu namun peperangan ini menghilangkan semua perasaan itu. Meski begitu sayangnya aku masih sangat membenci bajingan sombong sepertimu. Terakhir kali ada orang seperti itu, aku menendangnya dari surga.”
Samael mengumpulkan kekuatannya di tangan kiri. Gravitasi kuat menarik Takumi ke tanah dan berlutut selagi Samael terus mengumpulkannya energi gelap. Melihat matanya yang berubah, penampilan Samael saat ini lebih condong ke arah iblis ketimbang malaikat.
“Kamu pasti pernah melihat ini, cahaya dan kegelapan yang disatukan. Kadal itu, Acnologia mampu menyeimbangkannya karena Michael memberikan sebagian kecil dari kekuatanku.”
Sebagian kecil dari kekuatannya lebih dari cukup untuk membuat semua Pahlawan sangat kewalahan. Pertarungan melawan Acnologia adalah titik balik besar di mana mendorong para Pahlawan untuk lebih mengoptimalkan skill yang mereka miliki.
__ADS_1
Setelah bertahun-tahun kemudian mereka mempelajari senjata Pahlawan dan akhirnya mampu menggunakannya secara maksimal. Meski ada beberapa yang tampak cacat namun tak dapat dihindari bahwa mereka jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Namun tetap saja, tidak ada jaminan bahkan untuk Takumi mampu menghadapi kekuatan tersebut. Jika dibandingkan, kekuatan cahaya dan kegelapan Acnologia hanya seperti lelucon dihadapan Samael.