
Kalkydras segera melepaskan cengkeramannya kepada Petra karena merasakan firasat yang buruk. Selain bola matanya menjadi merah, aura mematikannya tiada tandingannya.
Sementara tentara Legion terus mencoba menembak jatuh Kalkydras tanpa jeda sedikitpun, memang menjengkelkan karena Kalkydras harus mengaktifkan pertahanan yang berbentuk seperti gelembung di sekitar tubuhnya.
“Apa yang terjadi dengan manusia ini, kekuatannya sangat berbeda dengan sebelumnya.”
Ini pertama kalinya dia melihat yang seperti ini, sekalipun telah memantau keadaan Pahlawan menghadapi berbagai malapetaka, Kalkydras tidak pernah melihat gadis ini menggunakan kekuatan semacam itu. Maka artinya hanya ada satu yang bisa disangkutpautkan.
“Begitu, seri kutukan rupanya. Kekuatanmu bangkit disaat-saat terakhir.”
Hanya kemungkinan tersebut yang bisa dia simpulkan karena Petra mengeluarkan aura mengerikan yang tidak seharusnya dimiliki oleh Pahlawan sepertinya. Sontak hal tersebut membuat Kalkydras semakin berwaspada dan tak lagi memiliki banyak pilihan.
“Maka aku harus menggunakannya. Ini menyakitkan bahwa aku menggunakannya untuk melenyapkan makhluk rendahan sepertimu dan yang lainnya.”
Dia tak berencana menggunakan kartunya hanya untuk melawan Pahlawan ataupun Pilar Iblis. Dari awal sampai akhir perang dia berniat tidak menggunakannya sebelum terdapat suatu keadaan tertentu yang mendorongnya hingga menuju kematian.
Meski sekarang bukanlah waktunya namun Kalkydras memutuskan menggunakannya, untuk keadaan yang terburuknya dia harus bersiap kehilangan hal paling berharga baginya, dan karena itu tak ada keraguan.
Terompet yang selama ini berdiam di sakunya akhirnya dikeluarkan, aura emas menyelimutinya dan segera merasuki kristalnya, mengubahnya menjadi bening sepenuhnya.
“Sekarang adalah akhir kisah hidupmu, manu—”
Tanpa pernah menyelesaikan kalimatnya Kalkydras terpental mundur oleh hempasan yang sangat kuat. Hempasan dari ayunan kipas Petra yang cukup melubangi pohon dalam satu ayunan.
Tentara Legion yang melihat kejadian tersebut berhenti memberikan bantuan.
“Hentikan tembakkan!”
Meski kecil namun bukan mustahil bahwa salah satu dari peluru mereka akan mengenai Petra. Untuk menghindari situasi di mana mereka melukai Pahlawan di pihak mereka ada baiknya berhenti menembak secara asal.
Di sisi lain pertarungan Bellemere dengan bangsawan iblis sedang berada di puncaknya. Bangsawan iblis tersebut telah kehilangan tangan kanannya namun sebagai ganti lengan, Bellemere harus mengorbankan mata kirinya yang kini hancur.
“Lawan yang tidak takut mati dan gila, adalah paling merepotkan.” Gumam Bellemere saat melihat iblis lawannya yang tersenyum puas.
Dia entah bagaimana berhasil mencabik-cabik malaikat dengan empat sayap sebelumnya dengan sebagian kontribusi dilakukan oleh bangsawan iblis tersebut. Sepertinya hubungan iblis dan malaikat tak pernah berakhir, faktanya mereka berada di kapal yang sama untuk membunuh malaikat.
“Itu juga berlaku untukmu, manusia. Aku tak menduga bahwa ketimbang malaikat sebelumnya, kamu lebih merepotkan darinya. Tak ada seorangpun yang membayangkan bawahan sepertimu menggunakan Artifak Kuno.”
Bukan tanpa alasan Bellemere yang seorang wanita mampu menjadi wakil dari pasukan Sparta yang di bawah komando mendiang Pahlawan Sabit, Marcel. Dengan penilaian yang amat ketat dari Pahlawan Rigel maka seharusnya posisi wakil harus diisi orang yang cakap.
Seperti Odin yang mengisi posisi Hetairoi, pada suatu waktu mereka sparing sebagai demonstrasi kekuatan namun tak satupun keluar sebagai pemenang.
“Pedang yang memotong segalanya dan akan semakin kuat seiring dengan tekad penggunanya, Exterion.” Bellemere memperkenalkan Artifak Kuno miliknya dan menyejajarkan bilahnya dengan separuh wajahnya.
Bangsawan iblis tersenyum penuh derita, “Hehehe, pedang yang sungguh merepotkan. Memberikan efek aneh yang mampu menghentikan regenerasi atau bentuk penyembuhan apapun terhadap luka yang dia buat.”
Sekalipun lawan Bellemere Pahlawan, bukannya mereka akan menang dengan mudah melawan Bellemere. Kemampuan pedang Exterion yang menghentikan segala penyembuhan sungguh lawan terburuk bagi siapapun. Dalam artian tertentu, orang yang terkena tebasan pedang tersebut akan memiliki luka yang takkan pernah sembuh.
__ADS_1
Seandainya pedang tersebut di tangan orang yang salah maka tidak mengejutkan menentang Pahlawan sangat dimungkinkan mengingat kemampuanya merepotkan.
“Terlihat hebat namun senjata ini bukan Tampa kekurangan. Meski aku bisa menghentikan efek dari pedang ini, namun nyatanya ada hal-hal yang berada di luar pemahamanku.”
Salah satunya adalah Pahlawan Creator yang tak habis-habisnya membuat Bellemere mempertanyakan sebesar apa kehadirannya di hadapan pria tersebut. Tidak sopan namun Bellemere menganggap Pahlawan Creator, Amatsumi Rigel sebagai monster mengerikan.
Pada waktu pertama dia mengajukan diri bergabung untuk peperangan dan mempersembahkan pedangnya untuk digunakan Pahlawan, Rigel yang memprosesnya saat itu menolak karena tidak berguna baginya. Dia tahu efek luar biasa dari Exterion dan melukai tangannya, pada akhirnya lukanya sembuh sendiri sekalipun Bellemere tidak menghentikan efeknya sama sekali.
“Hal-hal yang berada di luar pemahamanku, untungnya adalah pejuang terhebat dari manusia yang kubela. Tak pernah ada keraguan untuk mengorbankan nyawa ini.” Bellemere menodongkan pedangnya ke bangsawan iblis tersebut dan mengambil ancang-ancang, “Atas nama mendiang komandan tertinggi pasukan Sparta, Pahlawan Sabit, Tuan Marcel. Aku Bellemere bersumpah takkan henti-hentinya menebang semua musuhku!”
“Bawa sini kepalamu!” Bangsawan iblis menggila dan melompat masuk, dengan cakar panjang dari tangan kiri, yang tersisa darinya. Dia menggunakan kekuatan yang disebut “Killer!” dan mengeluarkan asap kemerahan.
Bellemere memejamkan mata, dia mengambil satu langkah yang sangat cepat. Menyisakan cahaya putih yang berasal dari pedangnya, memotong dua bagian tubuh iblis lawannya.
“Satu lagi kelebihan Pedang Exterion ... Yaitu mampu menyerap kekuatan dari musuh yang ditumbangkan.” Bellemere tak membuka mata, dia memutar bilahnya dan cahaya putih masuk dari pedang ke tubuhnya, “Absorb.”
Dalam artian Bellemere takkan pernah kehabisan tenaga. Setiap kali dia membunuh makhluk hidup, kekuatan stamina dan sihirnya akan diserap Exterion, lalu dialihkan ke tubuhnya. Memang kekuatan yang hebat tetapi kelemahannya adalah terdapat batasan di mana dia bisa menerima manfaatnya.
“Hanya tersisa dua kesempatan lagi bagiku bisa menyerap energi. Lebih dari itu tubuhku takkan mampu bertahan.”
Kemampuan Absrob dari Exterion hampir seperti meminum racun yang akan menjadi berbahaya jika dia melakukannya sebanyak tiga kali. Alasannya karena tubuh akan terbebani saat Kekuatan asing merasuki tubuh, menjadikannya kekuatan lalu akan digunakan untuk dihabiskan. Tergantung pada ketahanan tubuhnya, seseorang mungkin mampu melakukannya lebih dari tiga kali.
“Nona Bellemere!”
Seorang kesatria Legion yang menggunakan tudung hitam dan membawa bola kristal di tangannya berlari mendekat. Tak perlu dipertanyakan lagi siapa dia, hanya tim Investigasi yang memiliki penampilan seperti itu. Keberadaan mereka sangat bermanfaat untuk menyampaikan informasi dari sisi lain peperangan atau menerima perintah terbaru dari Kaisar Surgawi yang bertarung menggunakan otak sampai penghujung perang ini tiba.
“A-apa anda baik-baik saja? Luka itu ...” Dia terfokus pada mata kiri Bellemere yang sudah hancur dan mungkin tidak lagi tertolong.
“Y-ya! Saya ingin menyampaikan informasi terbaru dari setiap sisi medan perang.” Tim Investigasi itu mengatur nafasnya selama sekitar satu menit sebelum kembali berbicara, “Di sisi barat, di mana Pahlawan Kipas, Nona Petra sedang berhadapan dengan Seraphim, Penyanyi Surga, Kalkydras.”
Bellemere sedikit berkeringat saat mendengar situasi di bagian barat. Dia terlalu lama berhadapan dengan bangsawan iblis sampai tidak menyadari situasi di bagian lain sehingga tidak memberikan pertolongan kepada Pahlawan, karena mau bagaimanapun pasukan iblis dan malaikat takkan jadi penonton saja.
Dia ingin bergerak ke sana segera, tetapi prajurit dari Tim Investigasi seolah memahami niatnya mulai melanjutkan informasi yang dia miliki.
“Untuk bagian barat anda tak perlu datang, karena Raja Regulus serta regu penembak telah memberikan bantuan. Namun situasinya tak henti sampai sana, Pahlawan Petra tampak menggunakan kekuatan kutukan saat Seraphim Kalkydras berniat menggunakan terompetnya. Entah bagaimana beliau tampak berusaha sangat keras memastikan Seraphim Kalkydras tidak meniupnya.”
Bellemere sedikit berpikir atas informasi yang mungkin terkesan berantakan. Dia cukup pintar dan dalam waktu singkat menemukan alasan dari tindakan Petra.
“Jika Pahlawan Petra berusaha sekeras itu, maka hanya satu kemungkinan. Apa pun yang terjadi jangan biarkan Seraphim Kalkydras meniup terompetnya. Jika nyanyiannya yang sebelumnya mampu mempengaruhi kita, maka tak diragukan lagi terompet lebih buruk.” Bellemere tak mau mengambil risiko besar namun ada hal yang pantas dicoba, “Kirimkan para penyihir yang mampu mempengaruhi suara ke sana. Mereka harus tahu cara menghentikan suara!”
“Ya! Untuk informasi lainnya, dari Barat Daya tempat Pahlawan Palu, Tuan Aland bertarung melawan Pilar Iblis, Capella. Situasi di sana ... sulit.” Prajurit itu tampak ragu untuk mengatakannya secara pasti, Bellemere segera mendesak untuk membuatnya bicara, “Bagaimana saya harus menjelaskannya, Pahlawan Aland, dia seolah ingin meratakan bumi.”
Tentu saja perkataan tersebut sungguh absurd dan tak dipahami segera. Namun Bellemere mampu menebaknya sampai batas tertentu.
“Pahlawan Aland terus menjatuhkan palu raksasa guna menyerang Pilar Iblis Capella dan menjauh dari peperangan. Kekuatan yang dimiliki Pilar Iblis Capella adalah pengaruh indra perasa, nafsu birahi. Dia adalah lawan terburuk untuk pasukan kita.”
Prajurit itu menjelaskan bahwa sebelumnya Capella menggunakan kekuatannya dalam skala besar dan membuat ribuan prajurit Legion tewas seketika. Kali ini Bellemere mulai berkeringat dingin karena skala kekuatan di peperangan ini di luar imajinasi terliarnya. Segera dia meminta prajurit itu menyampaikan informasi lainnya, yang membuat dua info sebelumnya seperti candaan.
__ADS_1
“Dari Timur, kemungkinan terburuk yang terpikirkan terjadi. Bentrokan besar antara Pilar Iblis, Seraphim dan Pahlawan benar-benar terjadi!”
“Apa?!! Lalu siapa yang bertarung di sana? Pahlawan Rigel, atau mungkin Pahlawan Takumi?” Bellemere terguncang karenanya.
Dari berbagai kemungkinan yang ada, Kaisar Surgawi, Asoka menyampaikan bahwa ada kemungkinan terburuk bahwa bentrokan besar dari tiga kekuatan besar akan terjadi. Kala hal itu terjadi, instruksi yang diberikan adalah memantau keadaan dan memberikan pertolongan hanya ketika Pahlawan benar-benar terdesak.
“B-bukan dari keduanya ... Yang bertarung adalah, Pahlawan Ozaru!” Dari pada takut atau khawatir, prajurit itu lebih terlihat bingung, “Situasi di sana sangat mengerikan, juga aneh. Selain hancurnya sebuah gunung dan kacaunya alam di sana, ada ribuan monyet serupa dengan Pahlawan Ozaru muncul tiba-tiba!”
Bellemere mampu menebak betapa hancurnya alam sekitar karena bentrokan kekuatan besar tersebut, lagi pula dia sudah mengunjungi tempat-tempat yang menjadi pertarungan besar para Pahlawan dan tidak ada yang baik-baik saja.
Namun situasi di mana ribuan kera muncul amat aneh tentunya. Apakah itu kekuatan Summoner atau bukan, jelasnya mungkin hanya Ozaru yang memahaminya. Namun tak ada satupun dari mereka tahu bahwa Ozaru memiliki kekuatan menakjubkan seperti itu.
“Bagaimana dengan keadaan Pahlawan Ozaru sendiri?”
“Tampaknya beliau baik-baik saja, malah dia tampak sangat menikmati pertarungannya.”
“Jika begitu tak ada tempat bagi kita untuk membantu. Memaksakan datang dipastikan kita menjadi penghalang. Tetap awasi kondisinya dan sampaikan padaku jika terjadi sesuatu!”
“Ya!”
Bellemere mulai berjalan dan ingin memberikan perintah kepada prajurit yang selesai melawan malaikat ataupun iblis, tetapi prajurit dari Tim Investigasi memanggilnya kembali.
“Nona Bellemere, informasinya belum selesai.”
“Apa ada lagi, cepat katakan, tak ada waktu tuk disia-siakan!”
“Tentang itu, saya membawa kabar dari Tenggara dan berita dari Pahlawan Rigel yang disampaikan oleh Kaisar Surgawi. Dari keduanya ada yang mungkin dibilang baik, dan juga kabar yang sangat buruk.” Wajahnya tampak pahit dan tubuhnya sedikit gemetar.
Meski Bellemere ingin memarahinya karena saat sebelum turun ke medan perang mereka bersumpah untuk tidak ada rasa takut, yang ada hanya kegilaan. Namun untuk saat ini dia bisa tutup mata terhadapnya.
“Yah, untuk sekarang bagaimana dengan mulai dari kabar yang sedikit baik dulu?” Menghela napas lelah dia mulai menyiapkan hatinya terlebih dahulu.
“Dari Tenggara, berdekatan dengan tempat Pohon Raksasa yang ditanam sesuai rencana oleh Ratu Peri, Priscilla. Es Abadi yang membekukan Pahlawan Ray dan Pilar Iblis Regulus memiliki retakan. Raja Alexei yang berada di sana mengatakan bahwa Pahlawan Ray kemungkinan besar masih hidup dan tengah melakukan pertarungan batin melawan Pilar Iblis Regulus.”
Kabar baik bahwa Ray masih hidup dan hanya terperangkap di dalam Es Abadi. Masih ada harapan untuk menyelamatkannya dari sana dan para prajurit Legion juga takkan jadi putus asa karenanya.
Namun jika Ray masih hidup maka sama artinya dengan Regulus. Mereka sedang melakukan pertarungan batin, yang mana ada di tempat yang hanya ada kesadaran mereka berdua saja. Jika mengikuti kejadiannya maka kemungkinan untuk keluar dari Es Abadi adalah mengalahkan Regulus secara batin.
Tetapi hal tersebut masih abu-abu dan tak pernah ada jaminan akan berhasil. Prajurit itu juga mengatakan meski mengalahkan Regulus namun masalahnya takkan selesai selama kesadarannya berada di tempat lain.
“Untuk perkara ini Tuan Alexei tengah melakukan sesuatu guna menyelamatkan Pahlawan Ray. Tidak dipastikan berhasil atau tidak, namun beliau meminta kita untuk terus berharap akan keselamatan Pahlawan Ray.”
Entah untuk apa tujuannya namun Alexei memiliki pemikirannya sendiri, sebagai pendeta tertinggi dari agama dunia ini maka pasti ada sesuatu yang akan berguna dari mengharapkan kembalinya Ray.
“Itu sungguh melegakan namun juga memusingkan ketiak memikirkan Pilar Iblis juga akan lepas begitu Pahlawan Ray berhasil diselamatkan.” Bellemere memijat keningnya dengan penuh kelelahan akan hal-hal rumit yang terjadi pada satu waktu, “Lalu, apa kabar terburuknya?”
Kabar yang disampaikan Rigel kepada Asoka dan diteruskan kepada seluruh pasukan. Dalam artian tertentu jika Rigel yang menyampaikannya bisa jadi keadaan benar-benar menjadi buruk lebih dari yang diharapkan.
__ADS_1
“Untuk itu ... Beliau menyampaikan, gelombang ketiga akan datang.”
Dari segala kemungkinan yang sudah dia pikirkan, tak sekalipun Bellemere membayangkan gelombang lainnya akan datang secepat ini di waktu yang sangat kurang tepat.