Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 88 — Pesta Akan Dimulai


__ADS_3

“Perban takdir perlahan terbuka, belenggu yang mengikat akan terlepas.”


Menatap semu pemandangan yang jauh, dia merasakan perasaan yang sulit dijelaskan dengan rangkaian kata-kata. Perubahan arus peperangan yang terus terjadi akan meningkatkan hal-hal yang harus ditangani. Tak bisa diam, tak boleh diam. Dia harus menjaga kredibilitas yang diberikan banyak orang kepadanya.


Rigel diam-diam menutup mata dan merasakan desiran angin dingin yang berhembus. Dia mampu merasakan perasaan takut dan kecemasan dari orang-orang.


‘Apa yang harus kulakukan? Bertarung di sini hanya akan menimbulkan kerugian, tetapi menahan diri juga sebuah kebodohan.’


Dia sedang dalam dilema untuk mengambil keputusan. Meski tak peduli dengan seberapa banyak nyawa yang akan melayang, Rigel jelas memperhatikan seberapa besar kemungkinan menang yang akan dia miliki.


“Aku ... Perasaan buruk apa ini? Seolah ada sesuatu yang menyelimuti medan perang.” Merial berkata dengan wajah tidak mengenakkan, keringat tampak mengalir di keningnya.


Samar-samar dia merasakan kekuatan tidak biasa yang menyelimuti medan perang, seperti halnya pelindung dari Batu Ramalan yang menutupi semua kerajaan. Namun perasaan ini berbeda. Lebih seperti seseorang mencegah makhluk di dalamnya untuk keluar, selayaknya sebuah kurungan yang semata-mata dibuat untuk mencegah keluar-masuknya seseorang.


“Aku tidak tahu apa itu, tetapi sepertinya semacam sihir untuk mengganggu.” Leo berpikiran sama, dia meletakkan tangan di alis dan menyipitkan mata selayaknya mencoba melihat sesuatu yang jauh.


“Itu pasti sihir penghalang. Dengan adanya sihir tersebut, teleportasi menjadi tidak mungkin.” Rigel menjawab kekhawatiran yang mungkin mereka miliki.


Sangat mudah untuk melenyapkan sihir tersebut, Rigel mampu menggunakan Void untuk melakukannya. Karena tak peduli apa pun itu, tidak ada yang tidak bisa dilenyapkan.


“Masalah besarnya adalah, ada rangkaian sihir aneh yang mungkin akan memberikan dampak buruk bagi yang berada di dalamnya jika aku menghancurkannya.”


Hal yang membuatnya ragu adalah apakah dia perlu menghancurkannya bersamaan dengan yang ada di dalamnya, atau mengabaikannya dan mengirim Hetairoi menuju medan perang. Jalan manapun yang dia ambil mungkin kerugiannya setimpal namun mana yang lebih menguntungkan akan menentukan.


“Aku penasaran siapa yang menggunakannya. Dia pastinya sadar, jika berhasil membuat Pahlawan sekarat atau di ujung tanduk, kita bisa berteleportasi dan selamat.” Kekhawatiran yang dimiliki Merial semakin menjadi. Dengan hancurnya jalan melarikan diri dan datang, kemungkinan tewas akan tinggi.


Masalah lainnya adalah sihir tersebut juga mempengaruhi alat teleportasi buatan Rigel. Mengirim banyak pasukan sekaligus sudah tidak mungkin. Butuh waktu satu hari penuh tanpa istirahat jika mereka ingin mengirim pasukan secepatnya.


“Apa yang harus kita lakukan, Ayah?”


Rigel hening dalam balutan kesunyian yang tanpa makna, dia memutar otaknya dengan keras sampai beberapa waktu lalu. Tetapi, setelah dipikir-pikir tidak perlu mengkhawatirkan banyak hal. Selama seseorang mampu membuat dua sampai tiga jalan untuk menang, kegelisahan adalah emosi yang tak lagi diperlukan.

__ADS_1


“Mudah saja, kita tak perlu melakukan apa pun terhadap sihir itu, aku sudah mempertimbangkan adanya kemungkinan seperti ini. Entah dari iblis atau malaikat, siapapun penggunanya, dia orang yang berani karena menggertak dengan sesuatu yang tidak bisa disangkal.” Rigel menurunkan alisnya, menyilangkan lengan dan menatap dengki sesuatu yang jauh.


Segera seseorang datang dengan teleportasi, wanita cantik dengan busur di tangannya menunjukkan wajah yang cerah.


“Akhirnya kamu datang. Lalu bisa-bisanya kamu tidur di situasi ini?” Rigel berkata acuh tak acuh, siapapun akan menyadari wajah bantal wanita itu.


“Eh? Kelihatan jelas, ya. Maaf-maaf, aku kebablasan, hehe.” Yuri tersenyum masam, dia memandang kejauhan dan juga menyadarinya.


Sekali lihat Yuri tahu bahwa ada sihir penghalang menyelimuti medan perang. Risiko, kerugian dan dampaknya langsung dengan mudah dia pahami. Rigel juga pastinya tahu dan karena itu tak perlu baginya menyusahkan diri untuk menjelaskan.


“Tindakan apa yang akan kita ambil? Situasinya semakin runyam karena tidak mungkin mengirim pasukan dengan teleportasi. Selain itu, pertarungan Ozaru dan Takumi, sepertinya mengkhawatirkan.” Yuri menatap tempat di mana konfrontasi besar tengah terjadi.


Mereka mampu melihat tongkat raksasa, hujan tombak, ombak, bahkan cahaya yang meledak-ledak. Medan tempur mereka pasti tampak seperti neraka bagi tentara biasa untuk melihatnya. Dan untungnya tidak satupun dari Sparta bertindak bodoh untuk membantu.


Kedatangan mereka hanya akan menghalangi saja. Jika ingin membantu maka sebaiknya mengirim Pahlawan yang mampu bertarung atau tentara yang lebih cakap dari yang lainnya.


“Ya namun aku yakin baik Takumi atau Ozaru akan tetap baik-baik saja. Mereka kuat, percaya saja pada kekuatan mereka.” Rigel menggaruk kepalanya dengan kasar dan mengambil sebuah keputusan, “Selain itu, aku sudah memerintahkan seseorang untuk melakukan hal yang rumit.”


“Apa mungkin kamu diam-diam membuat banyak mobil atau pesawat dalam ukuran besar?!” Yuri berkata dengan kejutan dan wajah bersemangat.


“Itu merepotkan dan tentunya tidak kulakukan. Membuat pesawat dengan ukuran besar amatlah sulit karena aku tidak tahu harus menggunakan apa sebagai tenaganya. Lain halnya dengan pesawat tanpa awak yang dasarnya menggunakan konsep drone.”


“Benar juga, aku selalu penasaran dengan kekuatanmu. Awalnya semua orang menganggap sangat lemah, tetapi nyatanya sangat kuat dan memiliki potensi besar. Dengan kekuatan seperti itu, mengapa kamu tidak membuat semacam robot atau homonculus?”


“Aku ingat pernah menjelaskan, bahwa kekuatan Creator bisa membuat benda-benda yang aku memiliki pengetahuan mengenai konsep utamanya. Homonculus tidak ada dalam pengetahuanku, mungkin membuatnya dengan membayangkan namun hasil akhirnya tidak akan berguna.”


Sementara robot Rigel tidak tahu bagaimana cara kerjanya karena ada begitu banyak bagian rumit. Tentunya Rigel bisa membuat dengan membayangkannya, robot akan tercipta namun pada akhirnya akan menjadi rongsokan karena tidak ada mekanisme dasar untuk menggerakkannya.


“Hmm ... Aku masih tidak memahaminya.” Yuri mengelus dagunya dan memiringkan kepala.


“Yah, contoh mudahnya ...”

__ADS_1


Meriam yang biasa digunakan kapal perang memiliki dasar yang sama dengan pistol. Sumbu yang biasa digunakan untuk menyalakan meriam mengandung mesiu, begitu mesiu terbakar maka bola besi akan terlempar sebagai hasil pembakaran tersebut. Untuk alasan itulah meriam hanya memiliki satu lubang masuk dan keluar.


Pistol adalah bentuk lebih kecil dari meriam, Rigel pernah tak sengaja mempelajarinya dan siapa sangka akan berguna. Yuri yang mendengar penjelasan tersebut tampaknya mengerti, bahkan Merial dan Leo, yang tidak memiliki pengetahuan tentang bumi cukup pintar memahami.


“Jadi begitu. Ibaratkan, kamu mampu membuat robot namun itu hanya bagian luar, tetapi bagian dalamnya tidak. Pada akhirnya itu hanya akan seperti besi yang dibentuk menjadi robot namun takkan bisa bergerak sendiri karena tidak ada bagian pendukungnya.” Yuri mengangguk puas atas kesimpulannya yang dia ambil.


“Jika diibaratkan ... Rigel bisa membuat kulit kacang, tetapi tidak dengan isinya karena tidak tahu bagaimana isi kacang terbentuk.” Merial ikut dalam percakapan mereka.


Meski perumpamaan itu mampu menimbulkan kesalahpahaman lain namun Rigel tak ingin ambil pusing dengan menjelaskannya.


“Kembali ke topik. Bagaimana kamu mengirimkan pasukan tanpa teleportasi?”


Masalah awalnya belum benar-benar terselesaikan. Mereka mungkin bisa menteleportasikan semua tentara ke lokasi terdekat yang tidak terkena sihir penghalang namun sayangnya koordinat menjadi masalah utama. Mereka tak bisa mengirimkan koordinat ke Ciel sekarang karena Rigel sedang mengerahkan Ciel mengatasi pesawat tanpa awak.


“Mudah saja, kita memiliki kartu luar biasa yang memiliki kemampuan serupa dengan teleportasi. Aku yakin penghalang tidak akan berlaku bagi sihir ruang.”


Teleportasi dengan Spatial sama-sama mampu mempersingkat perjalannya. Namun perbedaannya, Spatial membuat celah ruang seolah memotong jarak, sementara teleportasi mengirim tubuh seseorang ke tempat lain.


“Ah, begitu. Patut saja Ibuku tidak membuat permintaan apa pun untuk berpartisipasi dalam perang. Biasanya dia sangat keras kepala saat berhubungan dengan sesuatu yang besar.” Merial tersenyum masam dan menggaruk pelipisnya.


“Ya. Selain itu aku punya rencana, sudah waktunya bagiku turun ke medan perang.” Rigel tersenyum semangat karena dia sudah menantikannya.


Bersamaan dengan itu, senyuman Rigel membesar dan dia mengibas-ngibaskan tangan kanannya. lubang-lubang hitam kebiruan muncul dan sesuatu mulai keluar dari sana. Lautan manusia, tentara yang terbang di langit menggunakan Griffin dan pesawat tanpa awak menuju medan perang.


“Sekarang, kita mulai pesta yang meriahnya!”


...***Note Author***...


Yo, saya di sini. Melihat perkembangan sejauh ini, saya paham cukup membosankan membaca cerita di luar tokoh utama. Saya paham karena saya berpikir demikian. Namun tetaplah bersabar karena bagian terbaiknya (mungkin) belum dimulai.


Sekian saja, terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2