
Seraphiel mengulurkan kedua tangannya dan mengumpulkan kekuatan, dia mulai geram dengan serangan Yuri yang datang dari berbagai arah dan membuatnya terpojok.
“Akan kuubah medan pertempuran.”
Tanah mulai naik ke langit dan mencipta situasi di mana batu-batu tinggi seperti menara. Medan perang mereka berubah dengan drastis dan sangat sulit bagi Yuri mencari tempat baik untuk berpindah tempat.
“Kamu pikir aku akan membiarkannya menjadi mudah? Sayangnya aku tidak sebaik itu.”
Seraphiel menggunakan serangan skala besar yakni komet kecil yang berjatuhan, Yuri tak memilih tempat berlindung. Cara terbaik yang bisa dia lakukan adalah menghancurkan setiap komet yang datang dengan anak panahnya.
Sampai dia merasa bosan dengan situasi tersebut, Yuri menghentikan tembakan dan menarik napas dalam sebelum menarik tali busurnya, “Panah Artemis.”
Woosh!
Panah cahaya melesat namun Seraphiel menghindari dengan mudah. Meski begitu tujuan Yuri tampak tercapai dan dia tidak menggunakan panah tersebut lagi.
“Apa hanya seperti itu? Meski menggunakan nama Dewi namun itu tidak ada apa-apanya.” Seraphiel mendengus dengan kecewa.
Dia menciptakan pedang-pedang cahaya dan menembakkannya ke arah Yuri. Tentunya yang merepotkan adalah jumlahnya sehingga Yuri mengalami sedikit luka dan kelelahan. Memanfaatkan kesempatan itu Seraphiel bergerak cepat ke belakang Yuri dan berhasil menusuk tangan kanannya.
“Kyah!” Yuri menjerit, dia melepaskan busur di tangan kirinya dam membentuk anak panah dengan tangan tersebut. Yuri mengayunkannya dan melukai sedikit pipi Seraphiel.
Meski begitu hasilnya tidak sepadan. Seraphiel hanya menerima luka gores sementara Yuri menerima lubang di tangan kanannya. Dia takkan lagi mampu menarik anak panahnya hanya dengan satu tangan.
“Aku terkejut kamu bisa menggunakannya seperti itu. Luar biasa, kamu juga telah melukai wajahku. ****** kotor, aku takkan mengampunimu!”
Seraphiel mengamuk dan menurunkan meteor besar. Semakin besar benda seharusnya semakin lambat gerakan namun milik Seraphiel memiliki kecepatan luar biasa. Yuri tidak mampu menarik busurnya dan hanya bisa menjauh.
Meski sudah mengerahkan usahanya dia tetap terkena dampaknya, kali ini tangan kanan yang sebelumnya hanya berlubang kulitnya melepuh karena panasnya meteor. Separuh wajahnya juga demikian dan Yuri jatuh dengan bebas.
__ADS_1
“Aku akan mengakhirimu dengan satu serangan.” Seraphiel mengangguk kedua tangannya, cahaya ungu berkumpul dan membentuk bola energi yang seakan mampu meledak kapan saja.
Dalam jatuhnya Yuri teringat sebuah momen kebersamaannya dengan Takumi. Itu tepat sebelum peperangan dimulai, waktu terakhir yang mereka habiskan bersama.
“Takumi, seandainya peperangan ini berakhir dengan kita sebagai pemenangnya, apa yang akan kami lakukan?”
“Aku? Hmm, benar juga. Tidak ada hal khusus yang aku impian namun di masa depan aku ingin kita bersenang-senang, minum dan tertawa di dunia yang telah diselamatkan. Bagiku itu hal yang setimpal dengan semua perjuangan kita. Di duniaku sebelumnya aku tidak memiliki teman atau orang untuk berbagai tetapi, di dunia ini aku memilikimu, Rigel dan yang lainnya.”
Takumi tersenyum dan berbalik kepadanya dengan senyuman paling lebar, “Aku sangat mencintai tempat di mana ada kamu dan yang lainnya. Selama aku memiliki kalian maka tak ada apapun lagi yang aku Ingin. Semuanya akan cukup, bahkan jika aku akan mati setelahnya, aku pasti mati dengan bahagia.”
Yuri bertanya, “Apa kamu yakin akan puas dengan itu saja?” dia mengharapkan sebuah jawaban yang selalu ingin dia dengar.
Takumi sedikit berpikir sebelum menjawabnya. Seakan telah menemukannya Takumi berlutut dan mencium tangan Yuri dengan penuh cinta.
“Jika ada itu hanya itu hanya waktu di mana kita bersama. Untuk mewujudkan keinginan ini, aku harap kamu tidak gugur di dalam medan perang.”
Yuri berkilau air mata dan tersenyum, dia tidak pernah menjadi sebahagia ini, “Ya! Aku harap kamu juga tidak mengalami apapun yang membuat kita tak bisa bersama.”
Yuri yang terjun bebas dan jatuh bersama bebatuan yang dibangun Seraphiel mengeluarkan sedikit air matanya.
Kamu berbohong padaku tentang itu. Kamu seharusnya menjaga dirimu tetap baik-baik saja namun apa sekarang? Kamu hanya seorang pembohong. Pikirnya.
Yuri merasa kesal kepada Takumi, juga kepada dirinya. Seandainya dia tidak begitu lemah maka takkan ada kesempatan untuk Seraphiel menahannya dan sekarang ini dia tidak memiliki harapan untuk hidup.
Takumi sudah hampir kehilangan nyawanya, apa yang bisa kulakukan seandainya ke sana? Tak ada. Pikirnya.
Ada sosok yang mendekati Takumi dan Yuri merasa mengenalinya namun disampingnya ada sosok lain juga, mereka berdua seakan balap-balapan untuk sampai ke tempat Takumi.
“... ini bukan waktunya untuk bersedih, bukan waktunya bagiku menyerah.”
__ADS_1
Yuri melepaskan busurnya dengan dramatis, kesadarannya tentu masih dipegang dan Yuri tentu saja tidak menyerah oleh keadaan saat ini. Dia hanya bisa melakukan satu hal seandainya tangan kanannya tidak bisa digunakan.
“Jika tangan tak bisa kugunakan, akan kugunakan kaki, jika kaki tak bisa akan aku gunakan gigi. Jika semuanya tak lagi bisa, akan kugunakan tekad untuk melawan!”
Yuri mengigit tali busurnya, dia menggunakan kedua kakinya dan mendorong busur agar bisa menarik anak panahnya. Dia mengerahkan seluruh kekuatannya di satu serangan terakhir. Segenap tenaga dia kerahkan hingga matang memutih.
“Kamu melakukan usaha yang sia-sia. Sekarang tamatlah riwayatmu, Nebula!” Seraphiel melepaskan serangannya, laser ungu yang menghancurkan apapun yang dia lalui.
Serangan tersebut lurus menuju Yuri yang jatuh dan berputar-putar, dia tak memiliki pijakan atau apapun sehingga hanya bisa mengarahkan serangannya si timing tertentu.
Dengan segenap tenaga, Yuri melepaskan tali busurnya, anak panah ungu raksasa melesat cepat menembus serangan Seraphiel, “ARTEMIS!”
Serangan Seraphiel terbelah menjadi dua, dia mulai panik dan berusaha menghindar namun terlambat dan separuh tubuhnya hancur.
“Jalang brengsek, akan kubunuh kamu!”
“Sudah terlambat.”
“Hah?!”
“Yang akan mati ... adalah kamu.” Yuri menggunakan tangan kirinya yang bebas dan menunjuk sesuatu yang ada di belakang Seraphiel.
Menoleh dan melihat ke arah tersebut, Seraphiel dikejutkan dengan pemandangan di mana busur raksasa dan anak panah yang ditarik. Busur tersebut seperti bulan sabit, seakan-akan ada bayangan seorang wanita besar tengah menariknya dan mengarahkannya kepada Seraphiel.
“Sejak ... kapan?” gumamnya.
Seraphiel ingat sebuah serangan Yuri yang melesat, dia kemudian meyakini bahwa serangannya sengaja meleset karena memang itu tujuannya.
“Mari lihat apakah kamu mampu bertahan dari panah bulan ... ARCANUM!”
__ADS_1
Anak panah ditembakkan dan tepat mencapai Seraphiel. Dia berteriak dengan keras akan serangan tersebut dan seluruh tubuhnya lenyap ditelan oleh cahaya dari anak panah.
Lubang besar terbentuk, gempar, langit bergemuruh karenanya. Disaat yang bersamaan Yuri jatuh dan memuntahkan darah, tubuhnya menjadi begitu kelelahan karena menggunakan dua serangan terkuatnya dalam waktu yang bersamaan. Kemenangan diraih oleh Yuri.