Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 50 — Amatsumi Aludra


__ADS_3

“Bukannya aku sangat ingin bertemu denganmu.” Altucray tampak enggan hanya untuk melihat wajah Rigel, kebencian yang dia miliki sejak awal tidak pernah berkurang sedikitpun dan justru bertambah.


“Pastinya kamu datang bukan untuk melapor saja, apa yang ingin kamu bicarakan secara khusus denganku?”


“Hah! Tak ada hal semacam itu. Mulutmu hanya berisi kebohongan bagiku, termasuk semua janjimu yang ingkar.” Altucray meludah mengabaikan martabatnya sebagai keluarga kerajaan, dia jelas sangat kesal karena Rigel mengingkari sebuah janji dengannya.


Rigel tertawa geli, “Kapan aku melakukannya, seumur hidupku tak ada satupun janji yang gagal kutepati.” Meski tahu apa yang dimaksud oleh Altucray dia tetap bermain bodoh seolah tidak tahu apa-apa.


“Tak ada gunanya membicarakan sesuatu yang bahkan mudah bagimu melupakan!” Altucray mendecakkan lidahnya dan berniat memberikan laporannya, sebelum dia berkata-kata lagi Rigel memotongnya.


“Aku tahu apa yang kamu maksud dan aku tidak mengingkarinya, waktunya saja belum tiba bagiku melakukannya. Tidak perlu khawatir, hal itu akan terwujud dan untuk itu aku menginginkan kamu melakukan suatu hal.” Rigel menatap Altucray dengan serius, dia tak harus mengatakannya namun ada keharusan baginya menyiapkan sebuah jalan.


“Jangan harap aku membantumu.”


“Ini bukan permintaan, tapi perintah.” Rigel mengaktifkan segel budak dan membuat Altucray menderita rasa sakit di dadanya hingga menjerit.


Setelah berhasil menjinakkannya Rigel mengungkapkan apa yang dia pikirkan, Altucray hanya diam dan mendengarkan dengan penuh keterkejutan, dia bahkan tak mempercayai bahwa hal itu akan terjadi.


“... kamu yakin? Bahkan jika aku membencimu, beban itu diluar kemampuanmu. Siapapun akan prihatin.” Altucray terlihat campur aduk antara marah dan tak percaya dengan yang di dengarnya.


“Aku membencimu dan kamu membeciku, dengan kebencian yang saling terhubung kepercayaan ditempa. Kamu pasti akan melakukannya, kan? Lagipula Tirith adalah harta berhargamu.” Rigel menyeringai dan membuat Altucray jengkel, “Cepat berikan laporanmu, juga jangan beritahu siapapun apa yang ku katakan!”


“Ya ya ya, aku tahu! Tak peduli seburuk apa takdirmu, selama Tirith bahagia bukan masalah bagiku.” Altucray mengambil kertas dari infentory dan mulai membacakan laporannya.


Rigel hanya tersenyum masam melihat pak tua tersebut menggerutu, selain memberikan umpatan tak penting dia melaporkan bahwa Batu Ramalan di Pulau Es berhasil diamankan dan akses ke saja tersedia.


Natalia tampaknya telah membawa Takumi ke sana dan Pahlawan lainnya, dia juga telah menyediakan layar proyeksi sehingga Rigel bisa menyaksikan dari kejauhan kalau dia tak berkeinginan datang.


Sekali lagi Rigel mengagumi cara kerja Natalia yang cepat dan tak sia-sia, dia sejak awal tak ingin pergi ke Pulau Es karena ingin mengurus beberapa hal.


“Tidak hanya Pulau Es, Padang Gurun juga berhasil diselesaikan. Semuanya telah siap dan tinggal menunggu nama Batu Ramalan yang hanya kamu ketahui.” Altucray meski enggan namun mengakui bahwa pengetahuan dan strategi yang digunakan Rigel sungguh cerdik.


“Pujianmu terdengar sampah bagiku. Beritahu Takumi bahwa nama Batu Ramalan di Pulau Es adalah Betelgeuse. Untuk di Padang Gurun biar aku saja.”


Seperti sebelumnya ketika nama disebutkan seseorang muncul dari batu, orang itu bernama Edward Betelgeuse Doom. Kata-katanya sama persis dengan Alnilam dan yang lainnya, di akhir kata dia mengatakan:

__ADS_1


“Dia yang melakukan perjalanan dan mencari pengampunan.”


Rigel tidak mengerti sedikitpun makna dari kalimatnya meskipun sudah menggabungkan dengan enam kalimat lainnya, dia berpikir bahwa mereka menyampaikan pesan yang berkaitan dengan masa depan atau orang tertentu.


Di tempat terakhir yang berada di Padang Gurun, Rigel dan yang lainnya tiba di lokasi terakhir, butuh satu hari penuh untuk Rigel ke sana dengan terbang dan membawa seorang Pahlawan agar yang lainnya bisa berteleportasi.


“Kamu terbang tanpa istirahat bahkan tidur, apa kamu baik saja, Rigel?” Yuri terlihat khawatir dengan kondisi Rigel, sekalipun dia kuat namun Rigel tetaplah seorang manusia.


Rigel sendiri tidak khawatir untuk tidak tidur beberapa hari karena dia sudah terbiasa dan bisa melakukannya nanti, yang lebih penting adalah Batu Ramalan terakhir sedikit berbeda dari yang lainnya.


“Apakah benar ini Batu Ramalan? Warnanya tercampur dengan hitam.”


Batu Ramalan lain berwarna biru cerah sepenuhnya namun yang satu ini memiliki bagian hitam separuhnya, hitam gelap yang mengeluarkan aura tidak menyenangkan seakan roh jahat tersegel di dalamnya.


“Aku yakin tak salah, energi besar semacam ini hanya ada di Batu Ramalan. Meski separuh bagiannya tampak aneh dan mencurigakan.” Merial yakin sesuatu yang tidak menyenangkan akan muncul dari batu itu ketika mereka memanggil jiwa yang bersemayam di dalamnya.


Ray memperingati Rigel beberapa kali untuk tidak mencoba sesuatu yang tidak diketahui, tetapi dengan kekeras kepalanya Rigel dia menyerah, misteri tidak akan pernah terungkap jika takut untuk melakukan sesuatu yang memiliki risiko.


“Jadi apa nama batu terakhir ini?” Takumi menatap Rigel dengan penasaran, dia menyiapkan tombaknya untuk berjaga-jaga kalau sesuatu yang jahat muncul.


“Batu ini memiliki nama yang kalian kenali, kamu pasti ingat bahwa namaku juga diambil dari bintang, Takumi.”


Takumi menganggukkan kepalanya, dia ingat bahwa Rigel pernah menceritakan namanya berasal dari bintang yang paling terang. Dia tampak tak mengerti mengapa Rigel membahas hal itu di waktu ini, kemudian suatu kenangan muncul tentang cerita asal-usul nama Rigel.


“Itu, mungkinkah ...” Takumi menatap Rigel yang tersenyum puas, fakta bahwa dia mengingatnya seharusnya tak perlu baginya memberitahu nama tersebut.


Yuri dan yang lainnya memiringkan kepala karena tak mengerti percakapan Rigel dan Takumi, mereka merasa ada sesuatu yang mengganjal di ujung lidahnya. Dari mendengar ke arah mana diskusi Rigel berjalan, nama dari Batu Ramalan di depannya dapat mereka tebak.


“Itu benar, nama Batu Ramalan ini sama dengan namaku yaitu, Rigel.”


Bumi bergetar dan seketika warna di ruangan sekitar menjadi hitam-putih pucat seakan warna di dunia hanya ada dua jenis, Rigel cukup terguncang karena dia belum memanggil jiwa di dalam batu.


Batu Ramalan yang memiliki sisi biru bersinar sangat terang sementara sisi gelap menelan sebagian ruangan ke dalam kegelapan, tujuh Batu Ramalan yang berada di tempat lain ikut bersinar terang, seberkas cahaya dikirimkan ke lokasi mereka berada saat ini.


Suara-suara aneh berputar di dalam kepala mereka dan hampir membuatnya gila. Jeritan, tangisan, ratapan, penderitaan, marah dan permintaan maaf di akhir.

__ADS_1


“Delapan Batu Ramalan telah bersinar ke satu titik dan membangkitkan potongan jiwaku—”


Seorang pria dengan pakaian serba hitam muncul, rambut dengan cambang yang panjang dan diikat, mata penuh keputusasaan serta kesedihan dengan garis wajah tampan yang tajam. Penampilan pria tersebut seperti campuran antara pria lembut dan jahat.


“—yang artinya pesanku, teka-teki yang kutinggalkan sampai kepadamu, putraku.” Pria itu menunjukkan tatapan kehangatan kepada Rigel yang terguncang bukan main.


“P-putra? Apa dia Ayahmu, Rigel?” Marcel bergumam saat tubuhnya merinding sepenuhnya.


“... Entahlah, aku tidak tahu. Lagipula aku tidak pernah melihat wajah ayahku.” Rigel menceritakan bahwa dia tak pernah bertemu dengan orang tuanya, dia besar disebuah panti asuhan.


Rigel baru melihat sosok ibunya dari kenangan yang dimunculkan oleh Azartooth dan ujian dari pohon roh. Namun tak pernah sekalipun dia memiliki ingatan tentang ayahnya.


Marcel merasa bersalah karena telah bertanya, dia tentu tahu rasanya namun nasibnya berbeda dengan milik Rigel.


“Lalu siapa dia sebenarnya?!” Ray menyiapkan senjatanya dan bersiap menyerang jika sosok itu memulai.


Alasan mereka diam mematung karena kekuatan di depan mereka jauh dari yang pernah dihadapi, bahkan Kekuatan sosok itu lebih besar dari Lucifer dan Michael, bahkan Rigel tidak bisa dibandingkan.


“Apa dia ... seorang Dewa?” Petra berlutut lemas dan terlihat ingin menangis.


“Bersiaplah evakuasi diri! Sosok ini jelas berbahaya!” Hazama mengaktifkan pelindung di . sekitar Pahlawan lainnya.


“Jangan panik Pahlawan generasi kedua, aku tak memiliki niat melukai kalian lagipula aku hanyalah jiwa.” Dia tersenyum namun kekuatan besarnya membuat senyuman itu jadi mengerikan.


“Siapa kamu, dan mengapa kamu menganggapku sebagai putramu?” Rigel berhasil mengembalikan ketenangannya, dia pernah bertemu dengan Satan dan Azartooth yang memiliki kekuatan amat besar sehingga tak lagi terguncang olehnya.


“Sepertinya memang harus dari awal, ini memang konsekuensi dari menghapus kehadiranku dari dunia.” Dia tersenyum pahit dan berjalan mendekati Rigel serta Pahlawan lain.


Dia mampu menembus perisai yang dibuat Hazama tanpa banyak usaha, kehadirannya semakin mengerikan saat dirinya mendekat.


“Pria yang mengubah dunia ini menjadi neraka. Membuat orang suci ternoda oleh darah dan dosa. Akulah yang membenci dunia ini lebih dari siapapun. Akulah yang menanggung dosa membunuh Pahlawan lebih dari siapapun. Dan akulah yang mencari pengampunan lebih dari siapapun—”


Wajahnya yang tertunduk kian terangkat dan senyuman sinis terukir dari bibir. Disertai senyumannya, dia menyuguhkan pembuka.


“—akulah Aludra. Amatsumi Aludra, orang dari dunia yang sama dengan kalian dan menodai dunia.”

__ADS_1


__ADS_2