
Sedikit nostalgia, waktu di mana Rigel dan Altucray melakukan pembicaraan rahasia beberapa tahun yang lalu perihal janji dan kepercayaan.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?” Tanyanya tanpa sedikitpun harapan karena dia sudah puas dipermainkan oleh Rigel.
“Akan tiba waktu di mana aku melepaskan Tirith sesuai janji. Dia akan terlepas dari belenggu Pendragon, dan akan lupa bahwa Amatsumi Rigel pernah ada. Saat waktunya tiba, aku ingin kamu merawatnya, mungkin dia takkan sadar selama beberapa waktu.”
Altucray menolak untuk percaya tetapi wajah Rigel demikian serius dan hampir mustahil dia berbohong. Meski begitu tetap sulit dipercaya bahwa ada cara baginya melepaskan belenggu yang mengikat Tirith.
“Memang bagaimana caramu melepaskan belenggu yang sudah ada sejak turun temurun itu? Asa kamu tahu, sudah banyak orang yang mencoba dengan hasil kegagalan.” Altucray menggelengkan kepalanya dan meyakini bahwa Rigel akan bernasib sama.
“Belenggunya aktif saat dia jatuh cinta pada seseorang. Dan apa yang akan terjadi bila dia melupakan seseorang tersebut? Apakah cintanya tetap akan ada, tentunya aku yakin semua akan hilang seiring sosok tersebut lenyap dalam pikirannya.”
Altucray melebarkan matanya selayaknya terkejut, meski samar dia sangat memahami makna dari apa yang Rigel coba sampaikan. Saking mudahnya dipahami dia benar-benar tidak mempercayainya.
“Apa maksudmu, dengan menghapus segala tentang dirimu pada Tirith akan melepaskannya dari belenggu? Dalam artian kamu berniat menghapus ingatannya.”
“Kamu tidak bodoh, kurang lebih seperti itu yang akan aku lakukan.” Rigel tersenyum saat mengatakannya.
Altucray seharusnya senang karena putrinya akan bebas seperti kehendak yang selama ini dia pendam dalam-dalam. Namun untuk alasan yang tak dimengerti, dia tampak lesu dan seolah-olah tidak mengharapkan hal ini.
Rigel tidak memahami ketidaksediaan tersebut, dia berpikir bahwa Altucray akan melompat bahagia dan tertawa keras. Namun kenyataannya semua yang terjadi berbalik dari perkiraan Rigel.
“Aku pikir kamu akan senang dan bersuka cita karena keinganmu akan terkabul. Hal yang kujanjikan padamu tidak pernah dilanggar.”
Janji untuk melepaskan Tirith dari belenggu, semacam itu. Rigel akan mengabulkannya di masa depan dan waktu itu terjadi sudah dekat. Dan karena sudah dekat maka sudah waktunya Rigel menceritakannya kepada orang yang dia benci serta bisa dipercaya.
“Aku tahu itu, bahwa kamu bukan orang yang ingkar janji, hanya saja ... Kamu tidak harus menepati janji itu.” Altucray tampak enggan untuk mengatakannya namun dia tetap melanjutkannya, “Sejujurnya aku tidak akan menolak lagi jika kamu serius dengan putriku. Saat kulihat lagi, waktu Tirith paling bahagia adalah saat aku, dia dan ibunya berkumpul, juga waktu bersamamu.”
Rigel tak mengharapkan kata-kata itu keluar dari mulut Altucray. Faktanya Tirith selalu tersenyum saat bersama dengannya, bahkan tanpa ada belenggu keluarga Pendragon sekalipun cinta Tirith itu nyata.
“Jadi maksudmu, kamu sudah rela jika Tirith bersanding denganku?” Rigel bertanya untuk mengkonfirmasinya.
Altucray sedikit diam sebelum menjawab, “... Ya. Selama kamu berjanji kan membahagiakannya ... aku rasa itu baik-baik saja.”
Altucray tersenyum masam dan ini kali pertama bagi Rigel melihatnya demikian. Jika begitu maka Rigel tidak akan menolaknya, lagi pula Tirith memang spesial baginya. Namun faktanya apa yang akan terjadi di masa depan tidak memungkinkan hal tersebut.
“Aku sungguh senang mendengar kamu menyerahkan Tirith padaku. Namun maaf, karena itu tidak akan pernah terjadi.”
“Apa-apaan kamu ini. Jangan-jangan selama ini Tirith hanya mainan bagimu?” Altucray terlihat marah dan bisa meledak kapanpun.
“Tentu saja tidak. Malah aku ingin mempersuntingnya sekarang juga.”
Tidak ada kerugian dari menikahi Tirith, Rigel ingin melakukannya meski tak pernah dengan lantang mengatakannya. Namun keadaannya tidak biasa, seandainya Rigel tidak melihat masa depan dia sudah menerima Tirith.
“Aku membencimu, kamu juga membenciku. Hubungan saling membenci ini meyakinkanku bahwa kamu bisa kupercaya. Dengar ini baik-baik, Altucray. Di waktu yang jauh, keberadaanku ditelan oleh dunia ini. Saat waktunya tiba, Tirith pasti akan sangat menderita, mungkin dia akan melajang sampai tua.”
Bahkan Rigel tidak ingin Tirith mengalami hal seperti itu, dan karena itu ada kebutuhan melepaskannya dari belenggu saat waktunya tiba. Suka atau tidak masa itu pasti akan datang.
“Dan karena itulah, aku akan menghapus segala ingatannya tentangku. Saat waktunya tiba, aku serahkan sisanya kepadamu.”
***
Kembali ke masa kini, waktu di mana Rigel telah menepati janji yang dibuat dengan Altucray. Melihatnya sejak awal percakapan, hati Altucray terasa sakit melihat putrinya sungguh mencintai pria itu yang seorang Pahlawan Creator.
“Kamu benar-benar melakukannya.” Altucray berkata dengan acuh tak acuh, tetapi raut wajahnya tak bisa ditutupi.
“Ada hal-hal yang harus kuselesaikan. Cepat atau lambat semuanya akan terjadi, jika waktunya tiba, jangan pernah ceritakan apapun yang berhubungan denganku.” Rigel membopong Tirith dan menyerahkannya kepada Altucray yang wajahnya terlihat pahit juga sedih.
Pria tua menyebalkan yang pernah mengkhianatinya dulu sudah berubah menjadi orang tua yang benar-benar rapuh. Di satu sisi menyenangkan melihatnya namun di sisi lain Rigel merindukan perseteruan diantara mereka.
“Aku tahu itu. Namun apa sungguh hal semacam itu akan terjadi? Aku selalu percaya kepada keajaiban, tetapi hal seperti itu lebih pantas sebagai malapetaka!” Altucray menaikkan suaranya dengan kemarahan.
Dia tahu alasan mengapa Rigel melakukan hal-hal seperti ini dan karena dirinya tahu, Altucray tidak sedikitpun bisa bersuka cita atas hal tersebut. Dia menatap kembali wajah Rigel yang sekarang benar-benar kosong meski tersenyum menatap Tirith.
“Aku tidak berharap kamu mengatakan itu. Namun, terima kasih atas kepedulianmu.” Rigel berjalan tanpa berbalik, dia menepuk pelan pundak Altucray, “Peranmu sebagai Raja Boneka telah berakhir, Britannia kembali di tanganmu, Raja Altucray.”
Rigel tersenyum dan berniat pergi ke garis depan karena tak ada lagi waktu untuk bersantai.
Altucray yang mendapatkan keinginannya atas kebebasan putrinya, juga kerajaan yang telah direnggut darinya seharusnya merasa senang. Tetapi untuk beberapa alasan dia menggigit bibirnya dengan frustasi, seolah-olah tengah menahan perasaan emosionalnya.
“Pahlawan Creator—”
Rigel berhenti berjalan atas panggilan Altucray. Dia tentu tidak menolak karena saat ini hubungan diantara mereka tidak seperti dulu lagi. Hubungan yang tumpul akan tajam bila ditempa seiring dengan waktu.
“—saat semuanya berakhir ... temuilah aku, untuk terakhir kalinya!” Selepas mengatakan hal tersebut tubuhnya bergetar hebat selagi memeluk putri di pelukannya, “Ada sesuatu ... yang ingin aku katakan!”
Rigel tidak perlu membalikkan badan untuk melihat apa yang terjadi padanya. Selain sudah mengetahui apa yang terjadi pada Altucray sekarang ini, melihatnya langsung akan memberikan tekanan yang tidak ingin Rigel rasakan.
Yang terbaik adalah menyisihkannya tanpa pernah mencoba menuruti rasa penasaran untuk melihatnya. Tidak mengetahui apa-apa terkadang adalah pilihan terbaik yang bisa diraih.
__ADS_1
“Jika waktunya benar-benar tiba, akan kulakukan. Selamat tinggal.” Rigel mengangkat tangan kanannya dan segera dirinya menghilang dari istana.
Altucray tetap berdiri mematung selama beberapa waktu sebelum mengantarkan Tirith kembali ke kamarnya. Dia mungkin tidak akan sadar selama beberapa hari dan karena itu pilihan terbaik adalah menempatkan penjaga serta pelayan untuk merawatnya.
***
Rigel pergi ke garis depan di mana dia memantau situasi perang seperti sebelumnya. Dia menemukan Takumi, Yuri, Leo dan Merial dalam diam memantau medan perang yang jauh. Termasuk Rigel, tersisa lima orang Pahlawan yang belum diperintahkan untuk bertarung.
Hal tersebut berlaku sama dengan Ozaru namun dia seenaknya sendiri bertarung meski Rigel berniat menyimpannya. Mau bagaimanapun dia adalah kekuatan yang harus ditahan sampai akhir, seperti halnya Leo yang di luar harapan.
Sebelum menyapa mereka Rigel menarik napas dalam-dalam dan menyentuh dadanya yang terasa sakit.
‘Tak kusangka akan seperti ini rasanya dilupakan.’
Dia perlu menyesuaikan kembali dirinya dan hanya butuh sedikit waktu.
“Sepertinya tidak ada kemajuan dalam peperangan, malah sepertinya lebih banyak kemunduran.”
“Ayah! Kamu telah kembali rupanya.” Leo yang pertama kali bereaksi atas kata-kata Rigel.
Rigel hanya mengangguk dan berdiri di samping Takumi yang mengamati medan perang dengan wajah bermasalah.
“Aku benci mengatakannya, namun memang benar ada lebih banyak kemunduran ketimbang kemajuan. Salah satunya adalah aku merasakan kekuatan kutukan datang dari tempat Petra yang bertarung melawan Seraphim.”
Memang benar bahwa ada kekuatan menyerupai kutukan menyelimuti tubuh Petra. Meski seharusnya Rigel melarang penggunaan kekuatan kutukan terkecuali untuk keadaan yang benar-benar mendesak, tampaknya sulit melawan musuh tanpa menggunakan doping.
“Itu tak bisa diapa-apakan. Lalu bagaimana situasi di tempat lain?”
Merial mengambil langkah maju dan menunjukkan bola kristal yang mengirimkan gambar tentang situasi di sana. Dimulai dari tempat Bellemere memimpin pembunuhan Armageddon dan tentara iblis, situasinya tampak buntu karena mereka masih bertarung sengit. Namun dari pasukannya Rigel meyakini Bellemere telah membagi regu penyihir untuk membantu sisi lain.
“Wakil komandan pasukan Sparta, Bellemere, kah. Sepertinya aku tidak salah untuk membiarkan dia memegang Exterion.”
“Aku setuju. Tidak hanya cakap dalam bermain pedang, namun pengambilan keputusannya membagi regu penyihir sangatlah tepat.” Merial mengangguk setuju dengan perkataan Rigel.
“Dia juga yang membantuku belajar pedang.” Leo menambahkan.
Di tempat lain juga terdapat Regulus dengan regu penembak yang memberikan sedikit bantuan kepada Petra untuk mengatasi Seraphim bernama Kalkydras. Tampaknya Regu penyihir dari kelompok Sparta dikerahkan ke sana.
“Dari cara mereka tidak memberikan celah kepada Kalkydras dan mendukung penuh Petra, sepertinya ada tujuan untuk tidak membiarkan Kalkydras melakukan sesuatu. Salah satunya adalah terompetnya yang menarik minatku.” Rigel memberikan penilaiannya dan menemukan beberapa kali Kalkydras hendak meniupkannya dan digagalkan.
“Kekuatan utamanya adalah mempengaruhi seseorang dengan suara. Untuk menghindari dia bermain terompet atau pun menyanyi, pilihan bijak untuk terus mengganggunya.” Takumi memberikan penilaiannya selagi mengangguk-angguk.
Menemukan Yuri menyadari kejanggalannya, Rigel mengangguk penuh arti. Umumnya peluru biasa hanya akan mampu melukai iblis dan malaikat rendah, tetapi sama sekali tidak berpengaruh melawan Seraphim ataupun Pilar Iblis.
Rigel telah melakukan percobaan tertentu dengan mencari monster yang mungkin setara dengan pasukan iblis dan Armageddon. Mengejutkannya ada beberapa monster yang tidak mempan dengan peluru biasa dan karena itu perlu modifikasi untuk mengatasinya.
“Mudahnya aku menggunakan Adamantite sebagai bahan pelurunya.”
Pahlawan yang mendengarnya terkejut bukan main, bahan terkeras yang juga sulit didapatkan justru digunakan sebagai bahan pembuatan peluru. Tentunya mereka tahu bahwa dengan kekuatan Rigel, mengumpulkan Adamantite bukan perkara sulit. Namun tetap saja tidak siapapun akan menduganya.
“Aku tahu bahwa Adamantite adalah logam terkeras di dunia ini. Namun, aku tidak memahami bagaimana bisa benda itu melukai Seraphim.” Yuri bertanya karena ada banyak bagian yang tidak lengkap.
“Kalian ingat bahwa malaikat lemah terhadap energi alam? Alasanku menginginkan kalian semua mampu menggunakannya karena sangat bermanfaat. Tak hanya berguna melawan Seraphim, tetapi Pilar Iblis juga memiliki kekurangan yang sama.”
Baik iblis atau malaikat akan terluka dengan energi alam. Kekuatan yang bahkan Rigel akui sangat berguna, meski hanya ada garis tipis yang memisahkannya dengan mana pada umumnya.
Rigel meyakini keuntungan terbesar umat manusia adalah mampu menggunakan energi alam seperti halnya para peri. Meski tak secakap dan sehebat peri, setidaknya mereka memiliki cara melawan musuh.
“Adamantite mengandung energi alam yang meski tak seberapa setidaknya masih mampu memberikan luka kepada Seraphim. Selain itu, aku memiliki cara untuk memperkuat energi alam tersebut.” Rigel menunjukkan senyuman yang cerah.
Tidak ada yang mengerti dari mana asalnya kepercayaan diri tersebut. Sekalipun mereka telah mendiskusikan berbagai rencana untuk peperangan ini, tetap saja ada beberapa hal yang Rigel lakukan tanpa diketahui para Pahlawan tujuannya.
Setiap kali ada yang bertanya mengenai rencana rahasia Rigel, jawabannya akan selalu sama. “Untuk mengelabui musuh, kelabui temanmu dulu. Sesuatu yang semacam itu.”
“Jadi begitu. Meski energi alamnya hanya sedikit Adamantite mampu memberikan kerusakan yang lumayan. Meski begitu, apa memang dengan sedikit itu mampu memberikan luka yang terbilang berat? Aku sedikit ragu tentang itu, Ayah. Seharusnya baik Seraphim atau Pilar Iblis mampu menahannya tanpa mengalami luka mendalam.”
Penilaian Leo memang tidak salah, sedikit energi alam saja tidak berguna dan hanya akan menimbulkan lecet saja, tidak akan pernah bisa melubanginya. Namun faktanya Kalkydras mengalami luka yang lumayan hanya dari satu tembakan saja.
Maka dari itu ada rahasia tertentu di balik mengapa membutuhkan waktu persiapan bagi regu penembak untuk menembakkan senjatanya.
“Rahasianya terletak dari senjata yang digunakan untuk menembak. Aku meminta regu penembak menambahkan elemen angin sehingga peluru akan melesat lebih cepat dari biasanya. Dan juga, bukan tanpa alasan pohon raksasa itu ditumbuhkan.”
Pohon raksasa tersebut akan menyerap energi di sekitarnya dan mengeluarkannya sebagai energi alam yang akan memenuhi lokasi medan perang. Sekalipun Rigel melancarkan nuklir sembarangan, tidak akan ada dampak signifikan pada kerusakan alam, karena energi tersebut akan memulihkannya.
“Alasan menumbuhkan pohon raksasa?” Leo memiringkan kepalanya.
“Ya, nanti kamu akan melihatnya.” Rigel menolak membahasnya lebih jauh, “Dengan energi alam melimpah di medan perang, bukan mustahil Adamantite menyerap sedikit. Bahkan jika tidak menyerap, kecepatan peluru tersebut akan membantu menembus kulit tebal Seraphim.”
Peluru dari senjata api mampu menimbulkan ledakan kecil saat mengenai targetnya, dan meskipun kecil dampaknya cukup besar untuk melukai. Bahkan ada kasus di mana Rigel mampu membunuh Dante berkat bantuan ledakan besar dari tenaga nuklir.
__ADS_1
Memang terdengar rumit dan aneh namun mudahnya untuk membunuh Seraphim ataupun Pilar Iblis, tak semestinya menggunakan energi alam selalu. Kekuatan biasa, bahkan fisik juga mampu membunuh mereka.
“Kembali ke topik utama, bagaimana sisa lainnya?” Rigel kembali mengalihkan pembicaraannya.
Merial mulai menjelaskan situasi Aland yang telah pergi begitu jauh dari medan perang. Kekuatan lawannya, Pilar Iblis Capella cukup Merepotkan karena mampu mempengaruhi tentara Legion dan untuk alasan itu Aland memancingnya menjauh. Pertarungan mereka sendiri tampak berat sebelah karena Aland terkena pengaruhnya. Meskipun dia terkena pengaruhnya namun tak ada tanda Aland akan kalah ataupun mengalah, situasi mereka tampak jelas mengalami kebuntuan.
Di tempat lain, pertarungan dengan kemungkinan terburuk yaitu menghadapi dua kekuatan besar sekaligus terjadi. Ozaru saat ini menghadapi Seraphim Sandalphone dan Pilar Iblis Leviathan yang merupakan salah satu kekuatan besar diantara para pilar. Ketiganya tampak bertarung imbang dan berusaha menumbangkan satu sama lain.
Meskipun Ozaru telah menggunakan kekuatannya yang memanggil ribuan kera, Leviathan dengan monster-monster panggilannya, mereka tetap terlihat kesulitan melawan Sandalphone, yang memiliki sedikit keunggulan dari keduanya.
“Ini berita yang didapatkan Tim Investigasi yang berada di dekat Raja Alexei. Singkat informasinya, ada kemungkinan Ray bisa dibebaskan dari Es Abadi jika pertarungan batin dengan Regulus dimenangkan olehnya. Namun masalahnya adalah ketika penggunanya mati yaitu Regulus, Ray takkan bisa kembali ke tubuhnya. Untuk itu Raja Alexei sedang mengakalinya, sehingga yang perlu dikhawatirkan adalah situasi Regulus masih hidup.”
Rigel menarik napas lega ketika tahu bahwa ada cara lain yang memungkinkan untuk Ray selamat. Meski awalnya Rigel ingin menggunakan Void untuk mencairkannya, tetap akan ada risiko yang bisa saja terjadi.
“Untuk sementara situasi Ray bisa diserahkan kepada Alexei. Seandainya Regulus selamat, kekuatannya pasti menurun drastis dan kelelahan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan adanya Alexei.”
Pendeta tertinggi dari agama Ruberios bukanlah gelar kosong belaka. Diantara para Pahlawan sekalipun, Rigel akan dengan tegas mengatakan bahwa Alexei mampu menggunakan kekuatan cahaya yang lebih besar dari Pahlawan.
Keberuntungan berpihak kepada mereka mengingat lawannya adalah iblis. Bukan hal yang sulit bagi pendeta sepertinya melawan sosok jahat, akan lain ceritanya jika lawan Ray adalah malaikat.
“Namun untuk berjaga-jaga, aku ingin kamu datang membantu jika keadaannya buruk, Merial.”
Meski tidak perlu terlalu khawatir, Rigel tetap perlu membuat jaminan keamanan. Dia tidak ingin kehilangan Alexei dan Ray karena keduanya adalah kekuatan tempur yang amat berharga.
“Dimengerti. Lalu, bagaimana dengan keadaan lainnya? Haruskah mengirim pertolongan?”
Sebelum menjawabnya Rigel sedikit berpikir terlebih dahulu. Bertindak ceroboh dengan mengirimkan bantuan adalah kerugian tak terduga yang bisa saja terjadi. Situasi Ozaru, Petra dan juga Aland sama-sama memprihatinkan. Karena itu Rigel tidak bisa salah bertindak, dia juga tidak bisa diam karena kehilangan salah satu dari mereka adalah kegagalan besar.
“Kita mulai dari Petra lebih dulu. Dia telah membangkitkan kutukan, Regulus serta regu penembak dan Regu Penyihir dari kelompok Bellemere ikut mendukungnya. Seharusnya situasi mereka unggul namun aku mengkhawatirkan terompet Kalkydras. Memang pilihan bijak untuk tidak membiarkannya meniup terompet. Yuri, kamu bantulah Petra, cukup dari jarak yang takkan disadari Kalkydras. Ada kemungkinan Petra akan tidak terkendali karena kekuatannya, dan kamu cocok untuk menangani binatang buas.”
Yuri adalah pendukung terbaik karena Petra saat ini pastinya melakukan pertarungan jarak dekat. Dengan banyaknya orang yang mendukung di belakang akan menutup kemungkinan Kalkydras menggunakan kekuatannya secara penuh.
“Baiklah, aku akan pergi sekarang.” Yuri melompat dari tembok tinggi dan berlari ke medan perang.
Dikarenakan dia belum mentitik teleport tempat tersebut jadi wajar dia harus menempuhnya sendiri. Selain itu jika memang harus menembak dari jarak yang tak disadari, tidak menggunakan teleportasi adalah pilihan bijak.
“Lalu untuk Ozaru, aku ingin turun tangan langsung, tapi ...”
“Biar aku saja, Rigel.” Takumi mengajukan diri sebelum Rigel benar-benar memutuskan, “Kekuatanmu lebih berharga untuk disimpan, serahkan saja Ozaru padaku.”
Meski Rigel tak masalah dengan melakukan pertarungan dini namun dia tak ingin menimbulkan masalah lain dan membiarkan Takumi bertindak. Lagi pula dia bukan orang yang akan kalah dengan mudahnya.
“Kalau begitu baiklah, Takumi yang akan pergi. Sisanya yang merepotkan yaitu Aland. Kekuatan pengaruh macam apa yang dimiliki lawannya?” Rigel beralih ke Merial yang memantau situasi dari kristal.
“Pengaruhnya adalah memancing nafsu birahi seseorang dan menyerap kehidupannya. Semakin lama terpengaruh, umur akan semakin memendek.”
Kekuatan terburuk juga merepotkan, pantas saja Capella dan Kalkydras saling menjauh satu sama lain karena kekuatan mereka takkan berguna jika berbenturan. Namun Rigel penasaran kenapa Aland menggiringnya menjauh, bukan mendekati Kalkydras. Jika demikian mereka akan mampu mengatasinya karena kekuatannya akan tersegel.
“Kalau begitu biar aku saja yang pergi, Ayah!” Leo mengangkat tangannya dengan bersemangat.
“Tidak, kamu takkan pergi sekarang, Leo. Meski kamu mungkin mengalahkannya, kekuatanmu lebih baik disimpan sebagai truf.”
Perkembangan Leo lebih mengejutkan ketimbang Ozaru yang bersatu dengan kepribadian lainnya. Kekurangan Leo hannyalah pengalamannya terbilang sedikit dan Rigel tidak ingin Leo menunjukkan kemampuannya sekarang.
Segera Rigel merasakan sesuatu yang tidak biasa, Gerbang Langit memiliki mana yang lebih besar dari sebelumnya. Hanya ada satu hal yang memungkinkan hal tersebut dan menyebabkan keringat dingin.
“Situasinya tambah buruk, ya.”
“Apanya?” Leo bertanya karena penasaran.
“Pasukan malaikat akan datang, yang artinya gelombang ketiga mendekat. Namun aku tidak merasakan tanda-tanda iblis akan menambah pasukan.”
Dengan tambahan pasukan maka langit akan dipenuhi oleh malaikat. Jika begitu keadaannya Rigel mungkin harus mengirim pasukan Legion atau kartu yang dia simpan. Namun untuk sekarang yang perlu dilakukan hannyalah ...
“Hubungi Asoka, sampaikan padanya bahwa gelombang ketiga dari pihak malaikat akan tiba! Kirimkan juga berita ini kepada Bellemere dan pasukannya!”
“Dimengerti!”
“Lalu bagaimana dengan situasi Tuan Aland, Ayah?” Leo tampak tergesa-gesa dan khawatir.
Pilihan terbaik adalah Rigel datang sendiri atau benar-benar mengirimkan Leo, tetapi tampaknya kekhawatiran tersebut tidak lagi dibutuhkan meskipun sedikit mengkhawatirkan.
“Biar aku saja ... yang melakukannya!”
Seseorang yang tiba-tiba muncul di dekat mereka mengajukan diri untuk bertarung. Luka-lukanya atas pertarungan sebelumnya mungkin telah pulih tetapi tidak sepenuhnya.
“Kondisimu belum begitu baik, apa kamu yakin melakukannya?”
“Tentu saja. Lagi pula selain aku, tidak ada orang lain yang lebih cocok. Sebagai pelindung umat manusia, aku tak boleh mundur.”
__ADS_1
Dengan kehadirannya kekuatan Capella takkan berguna, dia memang cocok untuk tugas tersebut. Sebagai Pahlawan yang bertugas melindungi, Hazama adalah pilihan tepat.