
Rigel melakukan benturan hebat, dia memulai menyerang dari Jahoel selagi Seraphim lain mencoba mendekat. Saat bersentuhan Rigel menyadari kalau Jahoel pelaku yang membuat penghalang teleportasi.
“Jangan sombong!” Wanita berotot bergerak cepat dengan pedangnya, Rigel dengan mudah menghindari dan mengambil jarak yang pasti dari mereka.
“Kalian sangat bersemangat hanya untuk menghadapiku seorang. Bagus-bagus, tampaknya keberadaanku menjadi ketakutan terbesar bagi kalian.” Rigel menunjukkan senyuman yang merendahkan.
Delapan Seraphim tampak berdecak kesal namun mereka tidak bertindak bodoh di hadapan Rigel. Mereka pasti telah melihat atau tahu aksinya selama ini. Sepak terjangnya begitu heroik dan menjadi manusia paling berbahaya yang berada di prioritas utama untuk dimusnahkan.
“Terserah apa yang kamu katakan, fakta bahwa dirimu akan mati tidak akan berubah.” Malaikat wanita yang menggunakan tudung putih keemasan, rambut perak yang cantik dan mata sayu yang seakan mampu melihat segalanya.
“Kekuatan sihirmu yang paling besar dari yang lain. Jika tidak salah, ada sesuatu bernama ahli sihir atau semacamnya. Kalau begitu maka kamu ...” Rigel hendak menyebutkannya namun wanita itu menyela dan memperkenalkan dirinya.
“Ahli Sihir Surga, Seraphiel. Setidaknya ingatlah namaku di akhirat nanti.” Malaikat yang dimaksud memperkenalkan dirinya.
Selain kekuatan sihirnya yang besar, Seraphiel memiliki ukuran tubuh yang sedikit lebih besar dari yang lainnya. Seluruh tubuhnya diselimuti jubah penyihir dan menyisakan separuh wajah yang terekspos.
“Itu kalau aku ke sana. Tapi siapa yang akan menduga jika nantinya kamu yang akan lenyap?” Rigel melambaikan tangannya seakan habis menyentuh sesuatu yang kotor.
Rigel menatap mereka satu persatu, dia menemukan dua yang tidak lagi asing. Seraphim yang bernama Kemuel dan Rafael, mereka tampak sehat-sehat saja terlepas dari pertarungan hebat dengan Nadia juga Hazama. Sementara Seraphim lainnya, Rigel tak mampu menebaknya.
“Pejuang tangguh dari surga, Gabriel.” Wanita berotot dengan pedang besar dan perisai persegi di tangan kirinya memperkenalkan diri.
Mengikuti perkenalan dari Gabriel, Seraphim lainnya yang enggan mulai memperkenalkan diri satu demi satu.
“Aku Khamael. Sejujurnya perdebatan ini menjengkelkan karena itu matilah dengan mudah.” Seraphim berambut emas yang acak-acakan juga berwajah malas, berkata jengkel. Dia tak membawa apapun selain jubah kebesarannya yang terlihat unik.
“Cahaya yang menerangi surga, Selafiel.” Wanita kecil yang bersandar dengan tongkat besarnya. Dia menggunakan tudung keemasan dan ada rune unik di tengah keningnya. Rune merah yang membentuk matahari.
“Kenali aku dengan Zadkiel, rendahan.” Malaikat dengan penampilan pendeta dan menyatukan tangannya berkata dengan merendahkan.
“Penjaga Gerbang Langit, Kemuel.”
“Penyembuh Dari Surga, Rafael.”
Dua lainnya tak membutuhkan penjelasan lebih lanjut karena Rigel sudah mengetahuinya. Sementara yang bersikap seperti komandan, tak ada tanda akan memperkenalkan diri. Mau melakukannya atau tidak, Rigel sudah tahu dia. Jahoel.
“Yah, bahkan jika kalian memperkenalkan diri seperti itu. Nama brengsek kalian tidak akan terlukis dalam benakku.”
Perkataan Rigel cukup untuk membuat jengkel para Seraphim, terlihat jelas dari aura mencekam yang mereka keluarkan. Jika orang biasa berada di tempat dan menerima aura seperti ini, kematian mereka sudah terjamin.
Namun orang yang berada di sana, Amatsumi Rigel. Tak ada keraguan bahwa sekuat apapun tekanan yang diberikan kepadanya, dia hanya akan menganggapnya sebagai angin lalu.
Meski dia percayai diri namun ada berbagai kondisi yang harus Rigel hindari. Kondisi yang bila terjadi akan fatal baginya, bahkan dia takkan bisa keluar dengan kondisi baik-baik saja. Sebisa mungkin Rigel harus menghindari kondisi dirinya dikepung dari berbagai arah.
“Ada apa? Jika kalian tidak menyerangku maka aku yang akan memulainya!” Rigel melompat maju, dia meletakkan bola di tangannya ke saku karena mau bagaimanapun dia tak bisa meletakkannya di penyimpanan dimensi.
Melesat langsung ke arah Jahoel. Kemuel menyadarinya dan segera memotongnya jarak, dia menahan tinju Rigel yang sangat kuat. Sedikit mengerang, tak lama kemudian Kemuel terdorong beberapa meter oleh satu pukulannya.
“Seribu Pedang!”
Ribuan pedang cahaya sepanjang 2 meter berjatuhan, Rigel bergegas menghindar dan melompat sangat tinggi. Sekejap mata dia berada tepat di atas Gabriel. Tinjunya mengepal kuat, cahaya keemasan muncul dan membentuk tangan yang sangat besar.
Tangan tersebut menjatuhkan Gabriel dengan benturan yang sangat keras. Tanah hancur dan menyebar, debu menutupinya namun tak ada keraguan bahwa Rigel tidak bisa membunuhnya dengan serangan itu.
“Purgatory!” Rigel menyemburkan api kebiruan dari mulutnya ke tempat jatuhnya Gabriel.
__ADS_1
Sedikit aneh menggunakan kekuatan suci untuk menyerang makhluk yang jelas suci. Tetapi Rigel tidak ragu bahwa kekuatannya lebih dari mampu melukai Seraphim. Api Phoenix akan mampu membakar apapun bahkan makhluk paling suci sekalipun.
“Kamu pikir aku akan diam?” Kemuel menyela dan tangannya mengeluarkan cahaya, “Perisai Surgawi!”
Dari kedua tangannya cahaya berkumpul, Kemuel menyilangkan tangannya dan membentuk pelindung yang menjaga Gabriel tetap aman dari serangannya. Segera Kemuel merasakan perasaan lain yang lebih mengerikan.
“Dan kamu pikir aku takkan melangkah lagi?”
Wajah dingin Rigel berada tepat di depan wajahnya. Meski begitu Kemuel percaya diri bahwa pelindungnya akan melindungi dirinya tidak peduli apa yang terjadi.
“Coba saja—” dia ingin mengucapkan kalimat yang memprovokasi tetapi bibirnya terkaku. Tangan kanan Rigel yang menyentuh pelindungnya mulai mengeluarkan cahaya.
Pelindung yang dia banggakan sebagai yang terkuat di dunia, hancur dengan hanya sentuhan tangannya saja. Kemuel terguncang bukan main, dia kehilangan pijakannya dan segera tangan lain Rigel mencengkram wajahnya, lalu membantingnya ke tanah.
Rigel menarik napas panjang untuk menggunakan Material Buster tepat di kepala Kemuel dan meledakkan lokasi tersebut. Ketika dia melompat keluar, Zadkiel dan Khamael sudah menunggunya. Mereka menggunakan rantai keemasan dan menahan kedua tangan juga kaki Rigel.
Pergerakannya dihentikan sepenuhnya. Jahoel memanfaatkan momentum tersebut untuk menusuk jantungnya. Rigel yakin bahwa para Seraphim menganggap dia sudah terpojok. Bukannya merasa khawatir, Rigel justru berpikir menerimanya namun pemikiran tersebut kembali disangkal.
Kekuatan Jahoel yang sesungguhnya masih belum benar-benar diketahui, barangkali pedangnya mampu memberikan luka yang tidak bisa sembuh bahkan untuknya. Rigel hanya tersenyum lalu membuka mulutnya lebar. Cahaya emas seperti peluru pistol melesat keluar dan membuat Jahoel menggagalkan serangannya.
“Mainan ini takkan bisa menghentikanku!” Rigel menariknya dan memutuskan rantai yang mengikat tangan dan kakinya.
“Manusia ini ...” Zadkiel memberikan perkataan gantung yang segera disambut Khamael.
“... Dia memiliki banyak trik di lengannya.”
Rigel menemukan Gabriel dan Kemuel yang mengeluarkan darah telah berhasil berdiri. Gabriel nyaris tidak memiliki luka sementara Kemuel memiliki kulit hangus di sebagian wajahnya namun berlangsung singkat karena Rafael lekas menyembuhkannya.
‘Jika aku ingin membunuh semua Seraphim sendirian, mau tidak mau Rafael perlu menjadi target utama.’ pikirnya selagi mengatur langkah yang akan dia ambil nantinya.
Dia ingin langsung menyerang Rafael namun Selafiel menjaganya dengan sangat ketat. Rigel meyakini bahwa lebih dari Seraphim lain, keberadaan Rafael amat berarti bagi pihak mereka.
“Hei, ada apa dengan kalian. Menghadapi satu orang sepertiku saja tidak becus.” Rigel memberikan provokasi ringannya.
Jika ingin membunuh Rafael maka Rigel harus mengurangi lawannya sedikit demi sedikit. Mengincar satu orang dengan menghadapi delapan dari mereka bukan pekerjaan mudah. Rigel percaya diri pada kekuatannya namun dia takkan mampu membunuh Seraphim jika Rafael ada.
Setiap kali Seraphim sekarat maka Rafael akan memulihkannya dan takkan ada akhir dari pertarungan mereka. Rigel takkan kehabisan kekuatan sihir atau stamina karena dia punya banyak cara memulihkannya namun tidak ada artinya untuk melakukan pertarungan sia-sia.
“Kamu banyak bicara, manusia!” Gabriel menjadi tidak sabaran dan menerjang masuk menuju Rigel.
Jahoel berusaha menghentikannya namun Gabriel menghiraukannya. Dia melindungi bagian vital tubuhnya dengan perisai dan mengintip melalui perisainya, sementara pedangnya langsung menuju leher Rigel.
Waktu seakan melambat, Gabriel mampu melihat dengan jelas bahwa Rigel tersenyum tanpa melakukan apa-apa. Dia berpikir lawannya sudah menyerah namun pikirannya dihancurkan oleh kemunculan lubang dimensi yang menelannya.
Diwaktu bersamaan Rigel mengepalkan tinjunya, dia berbalik dan melancarkan pukulannya. Lubang dimensi kembali muncul dan Gabriel yang mengendurkan penjagaannya mendapat pukulan kuat di wajahnya. Hidungnya langsung bengkok dan giginya patah, Gabriel terhempas beberapa meter dan memegang wajahnya yang hancur. Dia berusaha menyembuhkannya namun keadaan tidak sebaik itu.
Seorang pria terjun bebas dari langit, dengan belati yang menghadap langsung ke leher Gabriel, dia mengeluarkan cahaya terang dan bergerak dengan sangat cepat.
“Aria of Destruction!”
Ray yang muncul dan terjun bebas. Tanah menjadi kawah dan retak, dalam satu serangan kilat leher Gabriel terpenggal dan kehilangan nyawanya.
Rigel tersenyum ke arahnya dan menatap langit, dia tersenyum kepada seorang wanita yang menaiki pesawat tanpa awak, “Bantuan yang bagus, Natalia.”
Seolah mendengar suaranya, Natalia membungkuk hormat dan segera meninggalkan medan perang ini. Ketika lawan mengetahui keberadaannya maka sudah semestinya dia menjadi incaran. Sangat mudah untuk menjauh dari sini dengan Spatial miliknya.
__ADS_1
“Satu— tidak. Dua Seraphim tumbang, termasuk yang dikalahkan Petra. Ini pertarungan yang mudah, apa aku sedikit terlalu berharap?” Rigel berkata dengan intonasi yang terkesan kecewa.
Seorang Seraphim dengan nama Zadkiel mengepalkan tangannya dengan sangat kuat. Dia melesat dan berada tepat di atas kepala Rigel.
“Kuhancurkan kau!” Tangannya membentuk jarum cahaya dan menghantam ke arah Rigel.
Bagi Rigel sendiri gerakan Zadkiel cukup lambat, dia tak banyak bertingkah dan melakukan lompatan kecil untuk menghindarinya. Pertahanan Zadkiel terbuka sepenuhnya. Tangan kanan Rigel mulai mengeluarkan sinar dan suhu yang sangat tinggi.
“Takkan kubiarkan!” Jahoel bertindak cepat dan mengulurkan pedang besarnya.
Rigel sama sekali tidak khawatir karena dia tahu, ketika Natalia muncul dan memahami situasinya, dengan kecakapannya, pasti Pahlawan lain yang senggang akan diarahkan ke sini dengan cepat. Untuk itu dia tidak khawatir, karena bocah yang dia rawat sudah ada di sini.
“Teknik Pedang Ganda — Taring Naga!” Leo melompat masuk dan menahan sepenuhnya serangan Jahoel.
Leo menggunakan Kusanagi untuk menahan pedang Jahoel, sementara senjata Ilahinya digunakan sebagai tumpuan agar pedangnya tidak terdorong mundur. Benturan antara Leo dan Jahoel cukup meriah dengan cahaya terang dan getarannya. Namun hal itu tak mendorong Rigel untuk menghentikan serangannya.
Tangan kirinya yang memiliki suhu setara Hellfire segera menekan kepala Zadkiel dan memendamkannya di tanah.
“Api Phoenix!” Suhu panas tersebut menyebar dan meledakkan tempatnya berpijak. Dia menghancurkan separuh tubuh Zadkiel dan memastikan 100% kematiannya.
Tak hanya Zadkiel, tetapi Jahoel yang berada di dekatnya akan terkena dampak ledakannya dan dia bergegas melangkah mundur. Rigel sendiri tak khawatir dengan Leo karena Hazama tiba tepat waktu dan memberikan Perisainya kepada Leo.
Hazama, Aland, Merial, dan Yuri segera melompat keluar dari mobil yang mereka gunakan. Ray dan Leo juga berkumpul bersama mereka tanpa mengurangi penjagaan sedikitpun.
“Kamu menggunakan Phoenix Tear kepada Aland, ya?” tanya Rigel ketika melihat kondisi Aland sangat prima seakan tak pernah bertarung.
Hazama mengangguk setuju, “Ya. Nona Natalia menyampaikan kalau kamu menghadapi keseluruhan Seraphim, karena itu aku menggunakannya kepada Aland untuk meningkatkan kekuatan kita.”
Rigel sedikit kecewa karena seharusnya Hazama tidak menggunakan sumberdaya langka hanya untuk Aland. Mau bagaimanapun dia takkan mampu memberikan banyak kontribusi meski memiliki satu serangan yang sangat kuat. Namun menyesali apapun takkan ada gunanya saat ini.
“Pertarungan Ozaru dan Takumi melawan Leviathan juga sudah sampai pada puncaknya. Sandalphone tampaknya disegel Ozaru dan hanya menunggu kematiannya.” Yuri menyampaikan situasi di sisi lain dengan cekatan dan ringkas.
Sejak awal Rigel tidak mengkhawatirkan mereka karena baik Takumi dan Ozaru adalah kartu terkuat setelah Leo. Mereka akan baik-baik saja sekalipun lawannya Leviathan yang mampu menenggelamkan benua.
“Kalau begitu empat Seraphim tumbang di waktu yang sangat singkat. Kalian lebih buruk daripada Iblis, ya?”
Dengan berkumpulnya Pahlawan lain, keunggulan Seraphim dalam hal jumlah sudah menghilang. Jahoel tampak kesal namun dia tidak begitu marah meski rekannya tewas. Entah karena mereka tak punya hati untuk itu atau sejak awal kematian tidak perlu menjadi kekhawatiran mereka.
...*****...
“Situasinya menjadi menarik. Seraphim sedang mengeroyok Rigel, ya? Ini mengecewakan karena mereka tak mampu memberikan hiburan lebih jauh.” Cekikikan jahat menggema di kastil gelap yang penuh kekosongan.
Ada beberapa orang yang berlutut di hadapannya, mereka adalah punggawa setia yang masih dia simpan karena menariknya situasi peperangan saat ini.
“Apa kita tidak akan bergabung dengan kesenangan ini, Tuan Lucifer? Saya yakin kemunculan kita lebih dari cukup untuk membawa perang ini ke akhir.” Zenos yang berlutut di tempat paling dekat dengan Lucifer berkata.
Lucifer hanya tersenyum dan membuka matanya, selama ini dia mengamati medan perang melalui Mata Pengamat yang hanya dimiliki beberapa iblis tertentu. Dan tentunya mata itu memiliki batas untuk melihat sesuatu. Selain sebuah peristiwa yang menyebabkan benturan mana, dia takkan mampu melihatnya.
“Kamu ada benarnya. Aku mulai bosan diam dan menonton saja. Selain itu, Rigel tampaknya juga sudah tidak sabar untuk bertarung.”
Lucifer yakin bahwa Rigel menyembunyikan sesuatu, kemunculannya di medan perang jauh lebih cepat dari yang dia harapkan. Pahlawan itu takkan datang untuk alasan konyol seperti membantu rekannya atau karena bosan. Tindakannya pasti memiliki tujuan.
Meski berbahaya untuk datang karena tidak diketahui apa tujuannya namun langkah terbaik adalah menghentikannya sebelum semuanya terlambat.
“Persiapkan pasukan. Tarik semua Bangsawan Iblis dan prajurit ke medan perang.” Lucifer bangkit dari kursinya dan mulai berjalan keluar, dia melirik tangan kirinya sebelum kembali menatap ke depan, “Sudah waktunya bagi kita membawa kegelapan untuk dunia ini.”
__ADS_1