DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 10 : PEMENANG KOMPETISI


__ADS_3

"Tuhan... sisain buat aku satu aja πŸ™πŸ™πŸ™ buat sandaran hidup selamanya."Jiwa misqueeen Anin meronta. Ha...ha...ha


Begitulah Anin, yang hanya mampu terpesona dan berdoa saat terkadang berjumpa dengan lelaki yang di anggapnya tampan. Namun, sedikitpun tidak pernah ia berani mencari tau atau hanya sekedar memikirkan tentang makhluk lawan jenisnya itu.


Anin merasa belum pantas untuk memiliki kekasih. Ia cukup sadar dengan keadaannya. Saat sekolah semua lelaki adalah teman baginya. Saat kuliah, ia hanya fokus belajar. Sekarang, tentu ayah yang menjadi prioritas utamanya. Dan mencari nafkah. Anin, masih memiliki keinginan kuat untuk memperdalam ilmu menjadi desainer di Paris. Itu adalah keinginan terakhir Anin, untuk itulah ia giat mengumpulkan uangnya. Sehingga, tidak ada waktu untuk bermain apalagi berkencan.


Ketika sampai di rumah, ayahnya terlihat sudah tidur. Maka, Anin tidak membangunkannya. Anin langsung membasuh tubuhnya dan mengganti pakaiannya dengan piyama tidurnya. Saat ia merebahkan dirinya di kasur, kembali terngiang dalam pikiran Anin tentang ucapan juri laki-laki yang tidak ia kenal.


CEO hanya itu yang Anin tau. Dia bilang Anin paket lengkap, dan karya ku di tunggu senin besok. "Apakah itu artinya aku pemenangnya...?" tanya Anin dengan dirinya sendiri.


"Tidak... aku tidak boleh memikirkan hal yang belum terjadi. Bukan kah Kak Melati bilang, hasil nya akan di kirim. Pliis..hati, kamu jangan suka Ge-eR donk. Ntar kecewa." Anin masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Hingga akhirnya ia tertidur pulas.


Keesokan harinya, seperti biasa Anin langsung ke kamar ayahnya. Untuk memastikan keadaan ayahnya. Dan karena hari ini hari minggu, tentu Anin tidak berangkat bekerja.


Nampak Anin mendorong kursi roda ayahnya, berjalan di sekitar komplek perumahan mereka. Sambil berinteraksi dengan tetangga,sebab di pagi minggu suasana perumahan mereka lebih ramai, semua warga juga nampak ingin menikmati waktu libur dari kepenatan aktivitas rutin mereka masing - masing.


Para pedagang pun bermunculan untuk menjemput rejekinya. Mulai dari pedagang bunga, perabotan rumah tangga dari bahan plastik sampai aneka makanan pun lengkap di tawarkan di sana.


Anin jarang melewati moment ini, sebab hanya di kesempatan ini Anin bisa menikmati jajanan kue tradisional yang di sukainya.


Waktu sudah menunjukan pukul 10 pagi. Ayah sudah mandi dan sarapan. Nampak beliau dengan santainya menonton TV di ruang tengah. Anin juga yang baru menyelesaikan semua tugas rumahnya, akhirnya memiliki waktu untuk memegang HP benda pipih persegi miliknya. Yang sudah sejak tadi malam tidak di sentuhnya.


"Alhamdulillaah, ayaaaaah... aku pemenangnya ayah. Desain Anin terpilih ayah." Ucap Anin tiba-tiba mengejutkan ayahnya. Saat membaca notifikasi email melalui HPnya.


"Alhamdulillaah, nak. Selamat ya." Jawab ayahnya ikut senang.


"Ayah... Anin pamit ke butik lagi ya?" Ujarnya sambil bergegas masuk kamar untuk mengganti bajunya.


"Apa butik itu juga buka di hari minggu?" tanya Ayah.


"Butik memang tutup di hari minggu ayah, tetapi karena desain Anin yang terpilih. Sudah menjadi ketentuan, Anin harus bisa menyelesaikan karya itu dalam bentuk pakaian siap pakai, sesuai yang di rancang Anin kemarin. Dan semua bahan juga alat tersedia di butik, Anin tinggal memilih saja." Jawab Anin

__ADS_1


"Wah... harus gerak cepat kamu Nin. Tapi, pesan ayah. Jangan terburu-buru dalam mengerjakannya. Kamu bisa minta penambahan waktu, jika memang tidak bisa selesai besok. Sebab, kalau tergesa dalam melakukan pekerjaan, ayah takut hasilnya tidak memuaskan. Ayah yakin, durasi waktu yang mereka buat hanya untuk menguji mental mu saja,Anin." Ucap ayah mengingatkan


"Iya, baik ayah. Anin akan fokus pada hasil tidak pada waktu. Maaf, ayah Anin tinggal dulu ya." Pamitnya sambil mencium punggung tangan ayahnya dengan hormat.


"Iya, tidak apa - apa. Sukses ya Nak." Ujar ayah memberi semangat.


Perlu waktu 30 menit untuk Anin bisa sampai di butik MJ. Di sana ada Wilna dan Kak Melati yang sudah tampak menunggu.


"Maaf, jika menunggu lama." Sapa Anin pada mereka.


"Tidak, kami juga baru sampai. Mari kita ke gudang bahan di lantai 2." Ajak Kak Melati pada Anin.


Dan mereka bertiga pun berjalan beriringan, menuju tempat yang di maksud.


Terlihat banyak ruangan di sana, ada ruangan yang isinya peralatan menjahit. Segala jenis mesin ada di sana mulai dari mesin jahit manual, listrik,digital, portable juga ada mesin untuk obras, neci, wolsum, pelobang kancing, pemasang kancing, jahit zig zag sampai bordir.


Anin tertegun di buatnya.


Kemudian Anin di ajak masuk pada gudang bahan. segala jenis kain ada di sana. Dan saat itu, Anin di beri kesempatan untuk memilih kain yang sesuai seperti karya yang ia rancang. Anin tau, di sini lah nantinya tempat yang dapat membuat jatuh. Jika, presentasi semalam hanyalah menjual kecap.Maka, saat pemilihan bahan ia tidak dapat membedakan dan memilih seperti yang ia maksudkan. Hancurlah Anin.


"Sudah?" tanya Kak Melati pada Anin.


"Iya, sudah kak." Jawab Anin.


"Sebenarnya besok desain mu harus menjadi baju berpasangan. Tetapi, Pak CEO berpesan. Hari rabu saja karya mu diserahkan pada kami. Dengan pertimbangan baju itu sepasang. Mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama dalam penyelesaiannya. Tetapi beliau minta, kamu wajib membuatnya di sini. Pada ruang jahit juga telah ada CCTV yang tersambung pada mereka." Ucap kak Melati dengan jelas.


"Baik, siap." Jawab Anin. Sambil merasa lega, bahwa ia tidak perlu tergesa dalam menyelesaikan pekerjaannya.


"Oh iya, ini juga titipan mereka. Ukuran badan Pak CEO dan ibu Direktur. Mereka berdua yang langsung ingin menjadi model karyamu." Ucap Kak Melati sambil tersenyum.


"Siap, Anin paham." Jawab Anin sopan.

__ADS_1


"Selamat untuk desain mu dan tunjukan kemampuanmu dalam produksi, Wilna akan ada untuk menemani mu di ruang jahit, saya tinggal ya." Pamit Kak Melati sambil berlalu meninggalkan Anin dan Wilna yang kini telah berada di ruang jahit.


"Apakah kamu akan memulainya sekarang?" tanya Wilna.


"Iya, mungkin hari ini aku akan membuat pola serta menggunting kain saja terlebih dahulu." Jawab Anin.


"Tapi, ini sudah waktunya makan siang. Bagaimana kalau kita makan siang terlebih dahulu, setelah itu baru kamu mulai bekerja." Tawar Wilna.


"Boleh juga." Jawab Anin. Kemudian mereka berdua berjalan menuju kantin untuk makan siang.


"Anin, sepertinya karier mu bagus bekerja di sini. Belum juga 1 bulan, dan baru 1 kali ikut kompetisi karyamu sudah masuk nominasi. Sepertinya Bu Melisa memang menyukai karya mu." Ujar Wilna saat kami tengah menunggu pesanan makanan kami datang.


"Wah, benarkah? Aku tersanjung." Jawab Anin polos


"Iya, bahkan Bu Melisa sendiri nanti yang akan menjadi model nya, Kamu beruntung sekali, Anin." Ujar Wilna lagi.


"Wil, apakah Pak CEO itu suami bu Melisa ? Sehingga mereka menjadi model baju couple ini." tanya Anin pada Wilna.


"Tidak, Bu Melisa direkturnya. Pak CEO itu adiknya namanya Emilio. Kami biasa menyebutnya Pak Emil." Terang Wilna.


Anin mengangguk paham dengan yang di katakan oleh Wilna.


Sesaat pesanan mereka telah datang. Merekapun tampak lahap menikmati makan siang itu. Dengan tidak bersuara lagi.


Bersambung


...Mohon dukungannya πŸ™...


...Komen kalian...


...sangat autor harapkan...

__ADS_1


...Kasih πŸ‘πŸ’ŒβœοΈπŸŒΉseikhlasnya ya...


...Terima kasih...


__ADS_2