
"Iya, siap pak komandan!" Ujar Anin yang kini dengan lega melepas kepergian Bimo .
Pria yang beberapa bulan terakhir memenuhi beranda hati Anin.
Sementara di rumah Melisa. Darel tampak uring-uringan. Maksud hati setelah menyelesaikan pekerjaannya di Bandung, ia ingin berlama - lama di Surabaya bersama Anin. Dan ingin mengakui semua rasa cintanya. Tetapi Darel tampak kalah sebelum berperang. Jadilah kini, Darel hanya menghabiskan akhir minggunya bersama dua keponakan kembarnya Rafa dan Reya.
Kali ini, Rafa dan Reya tidak ingin melewatkan kesempatan. Mereka berdua merengek untuk di ajak jalan - jalan ke mall, bahkan tanpa di dampingi pengasuh, mama dan papanya juga.
Darel yang memang sangat menyayangi keponakannya itu pun tidak dapat menolak.
Mengingat usia mereka pun sudah hampir 5 tahun, sehingga Darel yakin bisa mengatasi tingkah mereka nantinya.
Sesampai di mall, tampak Darel tidak pernah sekalipun melepas pegangan tangan kedua keponakan nya yang selalu memanggilnya dengan sebutan Dady Mil. Pemandangan itu sontak membuat mata wanita - wanita muda memandang Darel dengan sejuta pikiran berbeda, sebab penampilan Darel bak seorang 'Hot Dady' yang sedang promosi mencari mommy yang mungkin sedang di sale pada mall itu.π
Hanya saat masuk mall itu saja Darel bisa memegang tangan Rafa dan Reya, setelah menuju pintu keluar saat pulang. Tangan Darel sudah di penuhi paper bag demi paper bag hasil jarahan dua ponakan kembarnya itu.
Setiba di rumah, dua bocah itu hanya sempat membersihkan diri dan berganti pakaian, selanjutnya mereka bagai terbantai, tidur karena puas bermain dan nampak kelelahan.
"Apa mereka sudah makan Mil...?" tanya Melisa pada Darel yang juga tampak lelah.
"Sudah kak." Jawab darel pelan.
"Terima kasih untuk hari ini adikku sayang, berkatmu aku bisa berquality time bersama mas Jordan." Ujar Melisa yang tampak membuka satu demi satu paper bag yang di bawa Darel masuk dari mobilnya.
"Hmm..." Jawab Darel seolah tak bersemangat.
"Mil... kamu beli gaun buat siapa...? tapi ini sepertinya barang butik ku." Ujar Melisa yang bingung dengan satu paper bag yang tidak asing baginya.
Darel tidak menanggapi ucapan Melisa dengan serius, ia masih tampak selonjoran di sofa tengah rumah kakaknya itu.
"Lho ini kan belanjaan mama waktu itu." Melisa mengingat-ingat.
Mendengar kata mama yang Melisa ucapkan Darel bangkit dan mendekati Melisa.
Melisa mengeluarkan kotak pakaian yang sangat jelas bertulis Butik MJ itu, kemudian membukanya.
Tampak secarik kertas di atas gaun tersebut.
^^^"Untuk Anin^^^
^^^Terimalah dan tolong gunakan di hari pertunangan mu nanti ya...^^^
__ADS_1
^^^Semoga Allah SWT,^^^
^^^menjodohkanmu^^^
^^^dengan putraku Darel Emilio Aswindra.^^^
^^^Berbahagialah selalu"^^^
^^^Dari^^^
^^^'Amelia Aletha Kurnia'^^^
^^^Mama Mel&Mil.^^^
Seketika Darel dan Melisa saling bersitatap.
"Artinya, sejak awal mama sudah memilih Anin untukku Kak." Penuh kekesalan Darel berucap pada kakaknya.
"Dan juga. Kado itu ada dalam mobil mu selama itu...!!!" Melisa tak kalah terkejut.
"Kenapa mama tidak terus terang saja, coba mama bilang malam itu, bisa bisa sekarang Anin sudah bunting anakku kak."
Pletak...!!! sebuah jitakan berhasil mendarat di dahi Darel.
"Ya... aku kan perlu waktu untuk meyakinkan diriku kak...!!!" Darel membela diri.
"Sampai kapan waktu yang tepat untuk meyakinkan dirimu, sampai Anin di embat orang...?"
"Kok, kakak tau kalau Anin sudah jadi milik orang...?" Darel berkata dengan nada sedih dan pelan.
"Hah...!!! Apa...??? Anin sudah ada yang punya...? Rasaiin... Noooh.... makan itu keyakinan hati, keyakinan diri, atau apalah itu. Milih cewek aja lola banget...!!!" Melisa tampak sangat gusar.
"Kok kakak ga ada kasian - kasian nya siih sama aku...???"
"Ya... habisnya kamu, kelamaan buang waktu. Orangnya sudah jelas di depan mata gitu ga di tembak. Sekarang tiba udah milik orang, baru sadar kamu... cinta sama dia hah...???" Melisa masih bernada marah melempar pertanyaan demi pertanyaan pada adik kesayangannya itu.
"Iya... kak. Rasanya tu kaya lagu Parid Hardja... 'Setelah dia pergi, baru aku mengerti. Ku telah Jatuh cinta kepadanya." tiba-tiba Darel menyanyikan syair lagu itu agar kakak nya tidak selalu menyudutkannya.
"Masih pacaran kan, Mil...?" tanyanya lagi.
Darel mengangguk.
__ADS_1
"Kejar, ambil, rebut, pepet terus. Hari gini istilah janur kuning udah melengkung juga masih bisa di embat, Mil Semangat...!!!" Melisa memberi kekuatan penuh.
"Mana Emil mampu bersaing dengan calonnya kak...?" Ujar Darel terdengar lemah.
"Hallo.... adikku sayang. Kamu itu adalah seorang Darel Emilio Aswindra CEO muda nan tampan. Berprestasi, mandiri, mapan, baik hati dan tidak sombong. Pria jenis apa yang bisa mengalahkan mu..hah..???" Jika Melisa di kasih sapu saat ini gaya-gayanya dia akan terbang bak nenek sihir menuju lelaki yang sudah merebut mainan adiknya itu, saking sayangnya sama sang adik.
"Dia seorang perwira polisi Kak. Jabatannya sekarang Kapolsek di sebuah kecamatan."
"Bagus!!! Anin layak dapat seseorang yang baik , berwibawa dan punya jabatan. Sebab, Anin adalah wanita baik-baik, pasangannya tentu pria yang baik-baik juga, tidak seperti kamu yang pengecut. Nembak aja pake mikir dulu, pasti polisi itu gercep, liat barang bagus langsung dor!!! will you marry me...???
Wanita mana yang ga langsung Ho'oh, jika di tembak pria, perwira lagi. Ga sabar deh ketemu Anin, ku mau kasih selamat buat dia." Kata Melisa kini lebih terdengar memanas-manasi Darel. membuatnya semakin sedih meratapi, kegagalan cinta keduanya.
"Halaaah, ngomong sama kakak ga ada solusi. Bukannya mendukung Emil, malah bela Anin. Aku balik ke apartemen aja. Assalamulaikum...!!!" salamnya menghindari kata demi kata yang kakaknya suguhkan padanya yang hanya membuat hatinya makin merasa bersalah.
Di jalan, Darel masih meruntuki dirinya. Tidak salah yang kakaknya katakan tadi. Ia terlalu lamban dalam mengikat dan memastikan hubungannya dengan Anin. Padahal tampak jelas saja, jika sebenarnya Anin juga memiliki rasa yang sama.
Darel mengakui kesalahannya yang telah membuat Anin seolah menjadi "Kekasih Bayangan" ala ala lagu milik Cakra Khan, yang telah membuat Anin seolah cinta sendiri.
Tapi apa mau dikata, di mata Darel kini Anin telah tampak bahagia menjalani hubungannya bersama pria itu, Darel sampai tak mau menyebut namanya, saking sirik dan bencinya.
"Tapi..., Apa aku harus mengikuti saran kak Mel. Bukankah nanti Anin akan LDR karena studi ke Paris. Mungkin jarak jauh dan waktu yang lama bisa merusak pertahanan cinta mereka...? Oke... jika Felysia sudah ku blacklist. Tapi tidak dengan Anin. Bukan kah mama juga sangat menginginkan dia menjadi menantunya...??" Darel bertekad di dalam hatinya
Bersambung...
...Yang setuju Darel mengejar Anin...
...mana suaranya...???...
...Author berbaik hati lagi niih... 3x1 dosisnyaπ...
...Mohon dukungannya π...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih ππβοΈπΉ...
...seikhlasnya yaa...
...Biar makin semangat...
__ADS_1
...Terima kasih...