
Seketika keduanya terkejut saat pintu lift terbuka, tampak sesosok pria yang sangat mereka kenal berdiri di depan lift itu dengan aroma alkohol yang begitu pekat. Kini dengan cepat menubruk tubuh Anin, memeluk Anin dengan erat.
Dengan cepat Darel melepas pegangan koper, dan melepas pelukan pria itu pada tubuh istrinya.
"Anin... Anin, aku masih sangat mencintaimu. Sampai kapan pun aku akan tetap menginginkanmu. Aku tak rela kau di miliki pria manapun Anin." Racau pria itu yang sangat dapat di pastikan tengah dalam keadaan mabuk berat.
"Mas Bimo...jangan begini...!!!" Sarkas Anin yang sudah berhasil lepas dari pria bertubuh kekar dan gagah itu.
Darel secepatnya menarik tubuh wanitanya untuk keluar dari lift itu. Segera memencet tombol sembarang agar lift itu segera tertutup.
Kemudian Darel menuju meja resepsionis untuk menyerahkan kartu kamar mereka. Juga meminta agar pihak hotel mengantarkan Bimo ke kamar yang telah ia tempati sebelumnya. Dengan menyebutkan nama Bimo agar pihak hotel dapat membantunya kembali.
Tampak raut kesal tersirat jelas di wajah Darel. Sepanjang perjalanan ia hanya diam di balik kemudi. Anin pun sesungguhnya bingung harus berbuat apa.
Selain berbicara dan terus berbicara untuk memancing jawaban dari suaminya itu.
"Bee... jangan ngambek.
Aku juga ga tau, kalau kita bakalan ketemu dia di sana tadi."
Darel masih membisu.
"Bee... semalaman kita bersama. Aku sama sekali ga ada nyentuh ponsel, jika kamu mengira pertemuan itu setingan."
Tidak ada jawaban dari Darel.
"Bee...!!! Usia pernikahan kita bahkan belum 24 jam. Masa iya harus kita isi dengan marahan. Jangan rusak moodku yang masih baik-baik saja dengan pikiran kekanak-kanakan mu!!!" Kali ini Anin lebih terdengar marah.
Chiiiit...!!!
Seketika itu juga Darel menghentikan laju mobil yang mereka kendarai pada tepi jalan yang masih sepi.
__ADS_1
"Aku tidak marah padamu, aku hanya kesal dengan diriku yang tidak bisa melindungi mu. Mestinya aku segera memasang badanku di depanmu, agar dia tidak sempat memelukmu." Akhirnya Darel buka suara.
"Sepertinya dia dalam keadaan mabuk, aroma alkohol begitu menyengat tadi. Jadi...mungkin saja dia sedang tidak sadarkan diri, Bee"
"Tapi dia sangat jelas menyebut namamu Lov. Jadi sepertinya dia memang belum move on darimu."
"Trus...salahku di mana? Orang yang ga bisa move on, tapi malah aku yang di diemin suami. Orang mabuk di ladenin." Kesal Anin.
"Mestinya kita tiduran lagi saja tadi, ga usah sepagi ini keluar hotel. Pasti kita tidak bertemu pria mabuk itu. Hubungan kalian sedekat apa sih mom waktu pacaran, sampai segitunya ga bisa lupain kamu...?" Darel mulai menelisik.
"Apa yang bisa di lakukan pasangan pacaran yang hanya kurang lebih 3 bulan, juga saling berjauhan Bee...?"
"Lalu mengapa dia begitu mencintaimu...? Udah di kasih apa aja sih...?" tanya Darel masih ingin tau.
Giliran Anin yang sangat kesal dengan penuturan dari suaminya. Maka, kini Anin yang memasang mode diam.
Darel yang tidak tau di mana pasar tradisional yang ingin di tuju Anin pun tidak mendapat jawaban apa-apa dari istrinya itu, sehingga atas inisiatif sendiri Darel pun melajukan mobilnya untuk pulang ke apartemennya. Sebab, ia tidak ingin perselisihan mereka akan menjadi konsumsi keluarga Anin.
Anin masih dalam mode diam juga pasrah saja dengan perlakuan suaminya itu. Bukan marah, hanya sedikit memberi waktu untuk Darel bisa memecahkan masalah yang tidak perlu ada diantara keduanya saja.
Darel meletakkan tubuh itu dengan pelan di atas sofa di tengah ruangan apartemennya. Ia dalam posisi duduk berlutut di dean lutut istrinya.
"Mom...maaf. Sebenarnya aku bukan marah pada Bimo. Juga bukan tidak percaya sama istriku, percayalah... aku hanya kesal pada diriku sendiri, bukan karena hari ini. Tetapi, karena sebenarnya bahkan Bimo tidak pernah ada dalam hidupmu jika aku lebih cepat menyadari jatuh cinta padamu. Bahkan Felysia pun tidak perlu tercatat dalam sejarah pernah menjadi kekasihku. Jadi... maafkan atas kata-kataku tadi ya mom. Aku percaya, istriku adalah gadis yang baik. Jangankan untuk Bimo yang baru muncul, aku yang udah lama ngantri aja... baru kebagian sekwilda, udah halal pula. Trus..., aslinya tuh mom. Kayaknya emosiku memuncak tuh karena kemarin gagal jebol gawang deh." Ujarnya jujur dengan mimik muka yang sangat serius masih dalam posisi berjongkok, dengan dagu yang menempel di lutut Anin.
Kali ini Anin sudah tidak tahan lagi mendengar rengekan dan kejujuran yang suaminya sampaikan.
Dengan cepat Anin menarik dagu yang sedari tadi menempel di atas lututnya, mendekatkan wajah itu ke wajahnya dan Cup...Anin memberikn kecupan kecil pada bibir Darel.
"Makanya...masalah kecil jangan di besar-besarkan. Cemburu mu itu melewati batas Bee. Apapun yang terjadi di depan pada rumah tangga kita nanti, ingat lah syair lagu yang ku nyanyikan untukmu. Oh How adore you, like no one before you, i love you just the way you are. Itu benar-benar dari hati ku, my hubby...muach...muach...muach!!! Anin terus saja menghujani suaminya dengan kecupan kecil pada seluruh permukaan lelaki yang sangat ia puja itu.
"Maafin dady, mom...!!!" sambutnya dengan serangan ciuman balasan pada wajah, leher dan area dada istrinya. Sebab kini posisi mereka berdua telah rebah tertumpuk beselonjor di sofa itu.
__ADS_1
"Udah Bee... udah. Ini kata Pa Haji Dosa looh." canda Anin pada Darel yang khawatir perbuatan itu mungkin saja akan membangkitkan singa yang sedang tidur nyenyak di kandangnya. Atau mungkin saja, ia akan berubah menjadi macan tutul lagi, akibat isapan dan gigitan nakal dari suaminya itu.
"Ampuuun deh gua...perasaan pak haji selalu ada di segala musim cintaku deh. Saat pacaran dia nongol, bahkan saat udah halal pun dia masih mendominasi otak istriku. Mom...tahun depan kita umroh aja, biar sekalian nyenengin hati pak Haji... ha...ha...ha." Derai tawa Darel mengasihani dirinya sendiri.
"Jangan suka berjanji... serius mau Umroh? Sekalian yuk ajak ayah, mama sama papa juga." Anin menanggapi dengan serius ajakan suaminya itu.
"Oke...mama papa juga pasti seneng. Tapi mom, kita jebol gawang dulu aja. Soalnya aku kaya remaja labil kalo belum dapat hak sebagai suami."
"Ingat deh soal haknya, kalo sudah urusan tentang itu." Ucap Anin sambil mencubit lama hidung suami tampannya itu.
"Mom... kita pesan makanan OL aja ya. Ku mau tidur lagi. Soal kerumah ayah, tunda sore atau besok saja." Pintanya dengan lembut dan terdengar sangat serius. Sebab energinya cukup terkuras karena emosinya sendiri juga karena harus menggendong istri tercintanya tadi.
Bersambung...
...Nasib-nasib ......
...Kalian blum beruntung kawan š...
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
...Biar makin semangat...
...Terima kasih...
__ADS_1