
"Ya...ibadah sebaiknya jangan sampai bolong mom. Pahalanya dapat, nikmatnya juga dapat.
Hayooo... nikmat mana yang ingin kau dustakan?" Darel selalu punya jawaban untuk membela to'ingnya.
Anin memencet hidung Darel keras-keras dan lama. Membuat hidung itu merah dan Darel segera menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada untuk minta ampun pada istrinya yang kini lumayan makin galak.
Cakrawala berkemilau memberi cahaya terang berangsur menampilkan semburat jingga keemasan mengantar senja bersama pulangnya matahari yang akan berganti posisi dengan rembulan yang siap dengan angkuhnya menyendiri di langit malam.
Tampak Anin telah berpenampilan cantik dengan pakaian modern overal bumil berwarna pastel dengan dalaman hitam.
Anin siap menantikan kedatangan Gerald juga bakso pesanannya. Setelah beberapa jam yang lalu ia sudah melakukan panggilan VC dengan penjual bakso tersebut.
Entahlah, ada secercah rasa bahagia bagi Anin saat penjual itu tau jika kini hidupnya telah semakin baik dan bahagia. Mengingat masa-masanya saat kuliah dulu yang bahkan kadang bahkan ikut mencuci mangkuk bakso di warung itu.
Keringat Anin bercucuran saat ia kini telah menikmati bakso idamannya itu.
Darel dan Gerald tampak bahagia dan puas melihat ekspresi di wajah Anin saat melahap makanan yang ia pesan. Sesekali mengusap perutnya, seakan mengajak serta anak yang dalam kandungannya ikut menikmati makanan itu.
"Mana cewek loe... katanya mau bobo bareng?" tanya Darel pada sahabatnya.
"Becanda Darling. Mana mau dia di bawa-bawa sebelum di halalin. Semoga segelnya masih utuh." Gerald terdengar sedikit mendesah pada kalimat terakhirnya.
Pletakk!!! Darel berhasil menjitak jidat sahabatnya itu dengan keras.
"Ga usah mimpi dapat yang masih segelan, jika botolmu saja udah kaya kaleng rombeng, keluar masuk. Udah kaya flashdisk tau ga...!!" Canda Darel.
"Ya...aku kan udah tobat Darliing. Masa ga ada remisi gitu buat aku. Sumpah...selama ini aku belum pernah dapat vera one." Bela Gerald pada dirinya sendiri.
"Ya iyalah... nyarinya di club malam. Noo... cari tuh di pesantren. Jamin dah, banyak barang masih segelan di sana." Saran Darel pada Gerald .
"Terlambat...saran mu terlambat. Aku dah kadung jatuh cinta sama Elian. Gua pasrah dah jika emang dia ga segelan. Anggap saja itu hukuman atas perbuatanku selama ini." Jawab Gerald lirih
"Ger... Santy gimana? udah kamu beresin?" tanya Darel dengan pelan takut di dengar oleh Anin.
"Udah...aku dah ngantongin bukti dari pihak hotel bahkan restoran tempat kita makan bulan lalu. Ternyata, dia bayar salah satu pelayan di sana, untuk kasih obat tidur ke kamu." Ujar Gerald tak kalah pelan.
__ADS_1
"Whaat... dasar licik...!!!" Sarkas Darel dengan suara nyaring membuat Anin menoleh ke arah mereka.
"Ada apa Bee...?" tanya Anin kepo.
"Oh...ga ada apa-apa. Ini Gerald bohong. Katanya mau ajak calonnya. Ternyata ga." Jawab Darel sembarang.
Anin hanya mengangguk tanda mengerti tanpa curiga sedikitpun akan perihal yang kedua sahabat itu perbincangkan.
Hari di laksanakannya ritual adat mitoni pun tiba.
Anin dan Darel tampil seolah seperti raja dan ratu sehari kembali, dengan pakaian Couple adat Jawa bernuansa hijau muda.
Dan dekorasinya pun kental dengan nuansa Jawa dengan corak cerah.
Warna serba hijau, kuning dan putih menghiasi kediaman Darel Emilio Aswindra dan Anin Kailila.
Tanaman segar mulai dari bunga matahari, mawar kuning, hingga lily putih menghiasi dekorasi utama dan area lainnya.
Backdrop yang terbuat dari rangkaian daun, di pasang memanjang menutupi satu sisi tembok. Juga di isi ukiran khas Jawa bercorak perak dan emas tampak di sela-sela backdrop dedaunan itu. Corak baju papa, mama, Melisa dan suami juga Ayah Anin pun di buat matching dengan nuansa dekorasi ruangan itu.
Properti yang di gunakan pun kental dengan nuansa adat, mulai dari gerabah tempat air siraman hingga vas-vas bunga besar bermotip etnik, menghiasi area tempat duduk tamu undangan dan meja sajian aneka hidangan.
Gerobak pikul untuk prosesi berjualan dawet pun, di hiasi bunga bercorak kuning dan putih.
Untuk balutan tubuh Anin bagian atas saat siraman berlangsung tentu saja telah di tutupi oleh rompi dari untaian kuncup bunga melati.
Lagi... air mata bahagia Anin mengucur bersama dengan guyuran pelan dari mama mertuanya. Anin terbayang wajah ibu yang melahirkannya."Ibu... Anin bahagia. Ibu bisa liat Anin dari surga kan bu." Anin membatin sambil tak hentinya merafalkan doa untuk keselamatan dan kebahagiaan rumah tangganya kedepan.
Demikianlah acara Mitoni hari itu berjalan dengan mewah dan lancar. Corak cerah dan segar yang di gunakan memaknai sebagai lambang kebahagiaan. Juga doa dan harapan agar ibu dan bayi selamat, lancar sampai masa persalinan nanti.
Di tutup dengan acara pengajian yang di ramaikan oleh kehadiran anak panti asuhan, para tetangga di sekitar lingkungan rumah Darel, juga beberapa kolega bisnis serta seluruh karyawan perusahaan yang Darel pimpin.
Tak terkecuali Nindy dan Wisnu yang juga hadir di acara tersebut. Nindy datang dengan penampilan yang sedikit berbeda, sebab kini Nindy kembali dipercayakan untuk mengandung anak ke dua mereka.
"Kak Nindy... apakah ini hasil kerja keras saat berhoney moon tahun kemarin?" canda Anin saat acara itu sudah selesai dan kini mereka hanya sekedar duduk menyapa tamu yang hadir serta memandang senang dengan pemandangan riuh bahagia dari anak-anak panti yang sudah semakin akrab dengan mereka.
__ADS_1
"Sepertinya begitu Nin. Aku ketularan kalian deh. Ini udah hampir masuk bulan ke 7 juga looh." Ujar Nindy dengan senyum terkembang di wajahnya.
"Bee... Bee..." Panggil Anin tiba-tiba pada suaminya.
Secepatnya Darel mendekat ke arah Anin lalu bertanya : "Iya mom... ada apa?"
"Bee... segera cari pengganti kak Nindy untuk sementara. Kamu ga boleh mempekerjakan bumil dengan sederet pekerjaan yang banyak Bee. Agar Kak Nindy tidak lelah." Ucap Anin meminta pengertian suaminya.
"Sudah cintaku. Sekarang Nindy sedang melatih sekretaris baru yang akan menggantinya saat ia akan cuti nanti. Orangnya cantik, lumayan buat daddy cuci mata di kantor." Canda Darel pada Anin.
"Bee... jangan nakal." Sarkas Anin pada Darel. Di sambut gelak tawa dari mereka yang mendengar obrolan suami istri tersebut.
"Dia bohong Nin. Sekretaris penggantiku cowok, namanya Langit. Sekarang lagi aku godok biar paham sama karakter suamimu, yang sekarang lebih suka bolos kerja setelah istrinya di Indonesia."
Anin hanya nyengir sambil mengelus pelan pipi wajah suaminya penuh sayang.
Seketika suasana menegang, saat ada seorang tamu yang tampak tergopoh dan terburu-buru memasuki area acara mereka tersebut.
Bersambung...
...Waah... siapa ya kira-kira tamunya...
...Tamu di undang atau tamu tak di undang nih??...
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
...Biar makin semangat...
__ADS_1