DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 36 : DAREL MENGHILANG


__ADS_3

Syuting selesai dengan sukses dalam waktu satu hari saja. Nampak binar senang di wajah para kru dalam tim itu. Artinya besok sabtu mereka sudah bisa kembali pulang. Bertemu dengan sanak keluarga yang mereka tinggalkan.


Anin tentu lebih senang, karena ia akan segera bertemu ayah yang selalu ada dalam pikirannya yang selalu ia khawatirkan. Anin yang selalu gesit dan cekatan pun sudah menyelesaikan semua pekerjaannya.


Ada yang berbeda dari sikap Felysia, ia terlihat pendiam dan tidak begitu cerewet seperti biasanya.


Tetapi Anin merasa enggan untuk menanyakan penyebab perubahan sikapnya.


Senja kembali datang dengan manja menyambut datangnya malam. Merangkul rembulan dan ribuan bintang yang siap bertaburan di angkasa raya. mengusir pelan cahaya jingga pada langit yang semula cerah berganti dengan kegelapan.


Anin selalu suka melihat senja, gitar yang selalu ia bawa saat ke lokasi syuting selalu mampu mengusir rasa sepi dan galau yang seenaknya datang dan pergi tanpa permisi.


Beberapa lagu ia lantunkan dengan penuh penghayatan. Semua syair itu seolah tengah mewakili perasaan hatinya.


Anin masih susah lupa akan bayangan perlakuan Darel padanya. Potongan demi potongan ingatannya, bagai sebuah cuplikan kilas balik sejak pertemuan pertamanya di butik, sampai semalam di rumah sakit. "Apakah aku telah jatuh cinta? Mungkin begini rasanya jatuh cinta? Tapi...bukankah ini yang di sebut cinta sendiri. Aku harus segera membuang rasa ini jauh jauh. Aku tidak pantas menginginkannya. Bagaikan pungguk merindukan bulan. Bagaikan langit dan bumi. Aku sungguh tidak tau diri jika memiliki hasrat untuk memilikinya. Sadar diri lah... wahai asisten. Dengan kata lain aku hanyalah seorang pembantu yang menginginkan kekasih majikannya sendiri."


Dalam batin Anin terus beradu antara hati dan logikanya. Hingga matanya lah akhirnya yang kalah, nampak buliran kristal bening lolos mengalir membasahi pipinya. Anin menghentikan permainan gitarnya, dan memejamkan matanya untuk menikmati rasa perih yang tak jelas dari mana sumber masalahnya.


Terdengar derap langkah kaki menuju arah Anin berada. Seketika Anin membuka kedua bola matanya. Nampak Gerald berjalan ke arahnya, buru - buru Anin menyeka air mata yang sempat ia biarkan tergenang di pelupuk matanya.


"Anin, kamu ada liat Darel ga seharian ini?" tanya Gerald saat sudah semakin dekat dengan Anin.


"Tidak, aku sama sekali tidak melihatnya."


Bohong Anin.


"Memangnya kenapa?" tanya Anin lagi.


"Sejak pagi aku tidak melihatnya, kukira dia tidur di kamarnya. Tapi sampai kita selesai syuting pun dia tidak muncul. Barusan aku minta kunci duplikat kamarnya, ku buka dan aku tidak menemukan dia di sana."


"Sudah kamu hubungi ponselnya?" tanya Anin yang juga menjadi penasaran, karena sejak Anin di penginapan pun WA nya tidak di balas.

__ADS_1


"Sudah pasti. Tetapi tidak aktif Nin. Ini anak bikin repot aku aja, heran!!" kesal Gerald.


"Kamu kirim pesan aja, pasti di baca." Ujar Anin yang tiba - tiba tidak menggunakan panggilan abang lagi pada Gerald.


"Masalahnya kita besok pagi pagi sekali sudah pulang. Tapi bagaimana dengan dia, dan semua barangnya?"


"Kamu sendiri bilang kalau dia itu CEO yang bisa berbuat apa saja. Lalu apa yang membuatmu risau."


"Bukan begitu, aku hanya takut di salahkan jika kita pulang tanpa menunggunya."


"Tapi juga bukan salah kita jika meninggalkannya. Toh, dua duluan yang ninggalin kita tanpa pesan dan tanda - tanda." Jawab Anin enteng yang sesungguhnya juga penasaran, kemana Darel.


"Ya sudahlah. Aku akan membawa semua pakaian dan barang barangnya. Seperti kata mu, salah sendiri ninggalin kita. Kita juga bisa ninggalin dia." Ujar Gerald yang memang sudah berkali kali menghubungi ponsel Darel. Juga mengirimi pesan. Mengatakan jika besok pagi - pagi sekali mereka akan pulang.


Di tempat lain.


Darel nampak bergelayut manja pada mamanya yang sangat ia rindukan. Entah dapat pikiran dari mana, setelah meninggalkan rumah sakit di puncak kemaren. Tiba - tiba muncul ide di kepala Darel untuk menjenguk kedua orang tuanya di Bandung. Kedatangan Darel tentu disambut dengan gembira oleh papa dan mamanya.


"Sayang, usiamu sudah hampir 28 tahun.


Dan sampai sekarang, kamu masih datang sendiri ke rumah mama dan papa. Masih belum dapat calon istri nak?" tanya mama berhati-hati, sambil membelai rambut anak kesayangannya yang masih betah tidur berbantalkan kedua paha wanita paruh baya itu.


"Sabar ya ma, lagi digodok. Bentar lagi juga mateng." Canda Darel pada mamanya.


"Cewek Mil. Mama lagi tanya soal cewek,


bukan jagung rebus." Ujar mamanya tak mau kalah meladeni candaan Darel.


Kemudian Darel menceritakan perasaannya tentang Felysia juga Anin. Darel semacam meminta pendapat pada mama wanita pertama yang ia cintai dan hormati itu.


Mama nampak menyimak dengan cermat saat Darel menceritakan kedua wanita itu.

__ADS_1


"Sayang, cinta pertama tidak harus menjadi yang terakhir. Bisa saja cinta berikutnya yang bisa menjadi cinta sejati mu. Mama tidak berhak memilih, sebab kamu yang akan menjalani rumah tangga mu kelak. Mama yakin, kamu pasti bisa dan lebih tau antara keduanya mana yang lebih pantas menjadi ibu dari anak anakmu kelak. Mama dan papa tidak mengharuskan kalian menikahi orang yang berasal dari keluarga yang kaya dan mapan. Tapi bukan berarti, kamu harus cari yang miskin juga. Pastikan akhlak nya, agama nya sopan santun, juga hubungan nya dengan keluarganya. Sebaiknya, wanita itu bukan dari keluarga yang 'broken home'. Jika bisa di hindari. Tapi, jika jodohmu dapat yang begitu, itulah tugasmu sebagai imam nantinya. Agar kelak anak keturunanmu tidak merasakan hal yang sama."


Darel bangkit dari posisi enaknya,


dan langsung memeluk mesra mamanya.


"Terima kasih ya ma." bisiknya.


"Sama - sama sayang. Mama tunggu kamu ajak keduanya menemui mama ya. Atau mama saja yang ikut kamu ke Surabaya?"


"Beneran? Apa papa akan ngijinin mama pergi?" tanya Darel pada mamanya.


"Ya, nanti deh mama ijin sama papa dulu. Kalo tidak salah, papa ada rencana ke Singapura untuk kunjungan bisnis. Dari pada mama ikut papa, mending sekali - kali mama nengok cucu.bSudah lama mama ga main dengan Rafa dan Reya." Ujar mama penuh semangat.


"Okeh... Ma, aku jalan dulu ya. Sudah lama ga main di sini." Ujar Darel.


"Iya..., hati - hati ya sayang." Ucap mamanya sambil mencubit dagu anak bujang nya yang masih dia anggapnya seperti remaja kemarin sore.


Bersambung


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat autor harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2