DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 72 : NASEHAT AYAH


__ADS_3

Dua minggu berlalu Anin dan Ayah masih tetap betah berada di Desa Bumiraya. Winda yang sedang menikmati waktu libur semesternya tentu banyak menghabiskan waktunya di rumah saja bersama Anin.


Anin dan Winda hampir memiliki kesamaan dalam urusan memasak, bahkan Winda malah lebih jago dalam urusan membuat kue.


"Pantas saja Kak Jovan memilih mbak Winda jadi istrinya, karena mbak pintar masak. Masakan mbak cocok dengan selera ku, mbak" puji Anin saat mereka sama- sama menyantap makan malam di rumah.


Dan setelah makan malam selesai mereka tampak duduk santai di ruang tengah rumah Jovan.


"Ayah, punya istri itu ternyata enak ya, berangkat ada yang liatin punggung, ke kantor bisa bawa bekal, pulang kerja juga ada yang nungguin sambil senyum, apa lagi tidur udah ga meluk guling lagi, kenapa ga dari dulu aja aku nikah kalo enaknya kayak gini." Ujar Jovan sambil tersenyum dan melirik ke arah Anin


"Jovan, awal pernikahan itu semua manis dan indah nak, tugas kita adalah menjaga rasa dan menciptakan suasana agar selalu indah dan manis itu yang lumayan sulit. Mendapatkan cinta mungkin gampang, tetapi mempertahankan rasa agar tidak berubah itu merupakan tantangan besar. Hidup tidak selalu nyaman, pasti akan masa di mana kita di uji dengan berbagai hal, saat ujian itu datang ingatlah kembali bagaimana berdebarnya hatimu saat pertama kali melihatnya, saat baru mengenalnya dan bagaimana gugupnya kamu saat berjabat tangan di hadapan penghulu saat kamu berjanji mengambilnya dari kedua orang tuanya menjadi pasangan hidupmu."


Jovan, Winda dan Anin menatap lekat ayah mereka yang sampai sekarang selalu mempunyai kata - kata bijak untuk mendidik anak anaknya.


"Ayah dulu pernah bertengkar tidak dengan ibu?" tanya Anin penasaran.


"Tentu pernah. Apa lagi ibumu itu seperti kamu. Tipe wanita pekerja keras yang tidak pernah mau duduk manis dan tinggal diam. Sedangkan kalian tau dulu hanya ayah yang bekerja, tentu keuangan keluarga kita sangat minim dan pas-pasan. Sering ibu merengek agar ayah mengijinkannya bekerja di luar rumah, tetapi ayah melarang. Karena ayah ingin ibu hanya fokus mengurus kalian dan rumah saja." Ayah menarik nafas sebentar, kemudian melanjutkan ceritanya.


"Mungkin karena kalian masih sangat kecil sehingga kalian tidak menyadari, bahwa dulu ibu kalian diam-diam menerima catringan untuk beberapa rumah sekitar komplek. Saat itu ayah juga tidak tau, karena waktu ayah hampir seharian ayah habiskan di kantor, tetapi karena yang ayah lihat ia selalu sibuk memasak saja di dapur dalam jumlah banyak. Akhirnya ayah selidiki sendiri. Ternyata, setiap siang ia selalu naik sepeda untuk mengantar makanan pada pelanggannya. Hingga terjadilah pertengkaran besar antara ayah dan ibu waktu itu. Dan akhirnya, ibu berhenti menerima pesanan makanan itu. Ayah meminta ibu untuk hamil lagi, dengan maksud agar ibu benar benar di rumah saja dan tidak bekerja menerima pesanan lagi.


Ibu mu memang berwatak keras kepala, tetapi ia selalu patuh dan taat dengan perintah suami. Maka ibu kalian pun bersedia untuk hamil lagi di usia nya yang cukup beresiko. Yang kemudian bukan pertambahan anggota keluarga yang kita dapatkan, justru pengurangan dan kehilangan dua nyawa sekaligus yang di berikan Tuhan untuk kita. Itu merupakan penyesalan terbesar bagi ayah, karena tidak pernah membiarkan ibu menjalani hidup sesuai kehendaknya." Tampak ayah mengusap air matanya, teringat akan keegoisannya dulu terhadap istrinya.


"Karena itu, nanti jika kalian sudah semua berkeluarga. Baik sebagai istri atau pun suami, hargai pasangan kalian, bicarakan baik-baik tentang apa yang diinginkan oleh pasangan kita. Sampaikan alasan dengan baik pula, jika di rasa keinginan pasangan kita itu, tidak patut untuk di ikuti."


"Bangga memiliki mertua seperti ayah. Tetap sehat dan panjang umur ya, yah. Agar dapat bermain dan menasehati cucu mu kelak." Ucap Winda terharu sambil memenang jemari mertuanya dengan sayang.


"Istriku... kamu hamil?" tanya Jovan tiba-tiba.


Membuat Winda spontan menoleh ke arah suaminya.


"Ngegoal gawang aja baru 1 minggu udah hamil aja, mas ada kasih DP sebelumnya?" canda Winda pada Jovan.


Yang di sambut gelak tawa mereka berempat.

__ADS_1


"Ya kali... tadi bilangnya supaya ayah main sama cucu, kirain udah jadi hasil tembakan ku." Jawab Jovan penuh canda.


"Hati-hati di sini masih ada perawan yang pikirannya masih belum ternoda." Canda ayah yang tentu lagi - lagi membuat keki Anin.


"Oh ya, istriku. Besok masak yang banyak ya. Gara-gara aku bawa bekal, komandanku mau ikut makan di rumah, boleh?" tanya Jovan pada istrinya.


"Ya, silahkan. Berapa orang yang ikut makan, supaya besok ga malu kalo persediaan kurang."


Ujar Winda.


"Pak Kapolsek sama 1 anggota nya saja."


Kata Jovan lagi.


Keesokkan harinya Winda di bantu Anin tampak agak sibuk di dapur karena menyiapkan makan siang untuk komandan Jovan yang ingin makan siang di rumah.


Sebenarnya, ini bukan yang pertama bagi Jovan, sebab mereka memang sering memasak dan makan bersama di rumah Jovan. Karena Komandan Jovan tersebut tipe orang yang mudah bergaul dan tidak pilih - pilih dalam urusan berteman, selepas dinas ia selalu menempatkan dirinya sebagai kawan bukan pimpinan. Karena saat itu status Jovan masih sendiri sehingga mereka sering kumpul di rumah Jovan tanpa ijin dengan Winda, berbeda dengan sekarang Jovan merasa perlu minta ijin karena sekarang ia sudah berkeluarga.


Tadinya Anin mengira yang mereka sebut pak Komandan adalah seseorang yang berusia paruh baya, tinggi hitam, berkumis dan perut agak buncit sedikit.


Anin merasa tidak berkepentingan untuk ikut bersama mereka. Setelah mereka sudah duduk di meja makan, hanya sepintas Anin berlalu dan melemparkan senyum manisnya, kepada semua yang ada di sana. Anin lebih memilih masuk kamar, dan mulai memasang headset nya untuk kembali belajar melatih dirinya untuk berbahasa Perancis.


Beberapa menit kemudian. Tampak ayah berdiri di depan pintu kamar Anin, rupanya dari tadi ayah suah mengetuk tetapi, Anin tidak mendengarnya.


"Ada apa ayah" tanya Anin menghampiri ayahnya.


"Di panggil kakak mu." Ujar ayah sambil mengisyaratkan dengan kepalanya menuju arah luar kamar.


Anin pun merapikan bajunya, kemudian keluar kamar menemui Jovan yang ternyata, kini mereka sudah duduk di ruang tamu, untuk menikmati kudapan buatan Winda.


"Ada apa kak?" tanya Anin sopan mendekati kakaknya.


Dan tanpa basa basi Jovan langsung berkata :

__ADS_1


"Ini perkenalkan komandan Kakak, dia ingin mengenalmu lebih jauh." Orang yang di maksud oleh Jovan pun berdiri, mengulurkan tangannya pada Anin lalu memperkenalkan dirinya.


"Bimo Aswatama, panggil saja Bimo." Suara khas bariton itu dengan tegasnya keluar dari bibir milik pria yang lebih cocok di sebut cogan.


Gubrak, gagah banget ini cowok. Sejenak Anin terpesona ketika mata meraka beradu pandang.


"Anindyta Kailila, sebut saja Anin." Ujar Anin sedikit tergagap.



Bersambung...


...Sorry reader,...


...Kali ini author bener bener baper nulisnya...


...ketar ketir ngebayangin tokoh Bimo....


...Apa yang terjadi selanjutnya ya..???...


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat autor harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2