DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 55 : DI BERI JUDUL APA?


__ADS_3

Anin hanya manyun mendengar penjelasan Wilna yang entah mengapa membuat hatinya sedikit perih dan geram. "Bukan hanya Dinda yang patah hati, gue juga kali." Anin berseloroh dalam hatinya.


"Kebayang deh ntar kalo mereka nikah ya, cowoknya tampan, ceweknya cantik. Sama sama kaya pula, mereka pasti akan jadi pasangan ter 'UWU' deh sepanjang masa." Dinda terus saja menerawang khayalan tentang Darel dan Felysia.


Sementara Anin tampak terdiam saja mendengar ocehan Dinda.


"Oke semua, makanan kita sudah pada habis nih. Kita kembali ke ruangan kita saja. Sambil menunggu pembagian map dan lain lain." Ajak Wilna yang sudah terlebih dahulu berjalan menuju kasir untuk membayar tagihan makan siang mereka tadi.


"Wil, kita bayar masing - masing saja." Pinta Anin pada Wilna.


"Udah ga apa-apa, aku bayarin semua aja. Sesekali beramal." Ucap Wilna sambil terus tersenyum dan mendekat meja kasir. Kemudian segera berbalik ke arah Anin dan yang lain.


"Rejeki emang ga kemana, ternyata makan siang kita semua sudah di bayar pak Bos lho." Ucap Wilna kegirangan.


"Emang baik dan tidak sombong ya Pak Bos." Ujar Dinda yang hari itu tampak benar benar terpesona, karena baru pertama kali berjumpa dengan sang CEO.


Merekapun berjalan bersama menuju ruang desainer. Untuk menunggu pembagian beberapa alat untuk mereka kumpulkan karya mereka.


Yang nantinya harus di serahkan dalam stopmap yang telah di sediakan oleh panitia lomba. Untuk mencegah adanya ciri dan pesan sponsor. Dalam ketentuan lomba pun tidak di ijinkan untuk memberi tanda atau simbol pada gambar tersebut.


Untuk menghindari jika itu sebagai kode dari peserta dan juri yang mungkin saja saling kenal dan bekerja sama.


Anin sangat setuju dan antusias dengan ketentuan itu. Sehingga dia tidak khawatir jika misalkan ia akan menang nantinya, bukan karena ia kenal dengan Melisa, kak Melati atau Darel sekalipun.


Yang mungkin akan terlibat dalam penjurian lomba tersebut. Sehingga yang menang nantinya adalah yang benar benar mampu dan layak sebagai pemenang.


Sesuai janjinya, tanpa permisi dan chat pada Anin sebelumnya. Selepas magrib Darel yang sudah berpakaian santai dan rapi, tentu tampak berbeda dangan penampilannya biasa. Dimana tubuhnya yang selalu di balut setelan jas yang memberi kesan maskulin pada dirinya. Kini ia sudah berada di teras rumah Anin.


Anin yang sedang duduk santai memeluk gitar kesayangannya. Untuk menghabiskan waktu senjanya setelah melaksanakan sholat magribnya. Tentu sangat terkejut melihat sosok pria tampan nan rupawan, pria pujaan hatinya itu.


Anin yang saat itu hanya mengenakan pakaian rumah setelan kaos singlet dan celana selutut. Untuk pertama kalinya Darel melihat bentuk betis jenjang Anin, juga melihat lengan Anin yang biasa ia tutupi dengan baju lengan panjangnya.


Anin yang tidak menyangka akan kedatangan Darel tentu merasa sangat malu dengan penampilannya yang tidak biasa di hadapan laki - laki selain ayah dan juga kakaknya Jovan.


"Ih, bang Emil ga bilang - bilang kalau mau datang." Ucap Anin yang sangat terkejut setelah melihat laki-laki yang baru keluar dari dalam mobil sportnya itu, kini sudah dengan Pe-De nya duduk di depannya.


"Lho, kan tadi aku udah bilang. Sore bakalan makan di sini lagi. Lusa aku udah ke Bandung lagi Nin. Bakalan lama ga menikmati masakan mu." Terang Darel.

__ADS_1


"Tapi aku tadi cuma masak buat ayah, stok bahan makananku juga kayaknya mau habis deh." Ujar Anin.


"Ya udah, kita belanja aja dulu. Lalu kamu masak, aku sabar menunggu kok." Ujar Darel yang tiba - tiba mengatur Anin. "Yah, kok. Aku berani - beraninya ya ngatur ni anak. Emang dia siapanya aku?" Batin Darel yang menyadari keberaniannya meminta Anin memasak bahkan berbelanja bareng Anin.


"Ya, Allah. Ampun!! Dosa apa siih gue. Masa aku harus pergi belanja bareng plus masak juga sama kekasih bosku. Emang aku siapanya?" batin Anin.


Anin hanya menggaruk belakang telinganya yang sebenarnya tidak gatal.


"Kenapa? Ga mau masak buat aku?" tebak Darel


"Atau kita makan di luar aja?" tawar Darel makin berani mengajak Anin.


"Waduh kedua tawaran itu ga ada yang bener deh, Bang."


"Kenapa?"


"Aku ga enak sama Fely, secara abang kan kekasih bosku. Masa tiba giliran bos ku ga ada, aku yang jalan sama kekasihnya, ini ga bener Bang." Tolak Anin.


"Kan dia juga ga ada di sini, Nin." Ujar Darel santai.


"Ya, justru dia ga ada itu, aku salah bang. Mending pas dia ada, jadi aku bisa masak buat kalian berdua."


"Belanja di luar, makan bareng juga di luar. Ya udah, belanja di market depan situ aja deh Bang. Masak yang simpel aja tapi. Supaya ga lama, nanti abang keburu lapar." Jawab Anin menentukan pilihan.


"Nasi goreng Nin, nasi goreng aja gimana? kayak waktu di Villa waktu itu." Pinta Darel lagi.


"Yah, kalo cuma nasi goreng sih, kita ga usah belanja kali, ada tuh sosis sama telur buat campurannya." Ujar Anin lagi.


"Nah, ya udah. Buru gih masak. Aku tunggu di sini aja." Ujar Darel tersenyum ke arah Anin yang sudah beranjak dari duduknya untuk masuk dan memasak untuk mereka berdua.


"Ga masuk?" tanya Anin.


"Ga, di sini aja. Pinjam gitar mu ya Nin." Ujar Darel yang langsung memeluk gitar milik Anin.


"Emang bisa?" tanya Anin.


"Meluk doang, masa ga bisa." Canda Darel.

__ADS_1


Anin pun masuk kedalam rumah, kemudian kembali ke luar dan berkata: " Kalo di luar banyak nyamuk, masuk aja. Nih, ada ayah di dalam."


"Iya, nanti." Jawab Darel. Yang sesungguhnya bingung, akan di beri judul apakah hubungan mereka berdua Anin. Pacar bukan, teman juga lebih.


Bagaimana perasaan Darel sesungguhnya pada Anin. Kalau cinta, tentu terlalu dini.


Sayang...? sepertinya juga belum. Nyaman... ya sejauh ini Darel hanya merasa nyaman, tiap kali bisa berkomunikasi dengan Anin. Baginya, Anin bisa menenangkannya, menghiburnya di kala sedih dan yang pasti mengenyangkan perutnya, melalui masakan masakan sederhana dengan olahan tangannya.


"Mungkin Gerald benar, gue kelamaan jomblo dan tidak punya banyak pembanding dalam urusan cewek. Sehingga standar ku tentang cewek mentok di Fely dan Fely saja." Darel sibuk bermonolog di dalam hatinya.


Sementara gitar yang sedari tadi di peluknya. Memang hanya di peluknya tanpa ada sedenting pun bunyi dawai itu terpetik.


Darel hanya melamun, sampai ia tidak menyadari bahwa kini di sampingnya ada ayah Anin yang telah duduk di sebelahnya dan berkata : "Kenapa tidak masuk nak Emil?"


"Astaghfirllahaladzim." Darel kaget bukan main ketika mendengar suara yang tiba - tiba muncul di sebelahnya.


"Wah, maaf jika mengagetkan mu." Ujar Ayah Anin.


"Tidak Pak, hanya Emil saja yang terlalu fokus melamun, sampai tidak menyadari jika bapak sudah di sini."


Nampak Ayah Anin terkekeh melihat prilaku Darel yang benar benar tampak terkejut.


Bersambung..


...Tiba-tiba aja Author hari ini ingin berbaik hati untuk Up lebih dari 1 eps hari ini....


...Semoga semakin suka ya reader ku ā¤ļøā¤ļø...


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat autor harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...

__ADS_1


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...


__ADS_2