DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 87 : KESEMBUHAN YANG SEMPURNA


__ADS_3

Tentu Nicole sangat geram mendengar celotehan Dinda yang seolah menyudutkannya di hadapan Anin.


Sehingga, ia makin tidak banyak bersuara saat pertemuan mereka di acara festival itu, yang berakhir di sebuah Chopstix & Rice menyajikan nasi Padang serta sajian khas China yang letaknya ada di bagian basement Orchard Tower. Tidak jauh dari area Festival berlangsung.


Dari etalase kaca yang ada, terlihat jelas sajian apa yang ada di sana. Pilihan lauknya ada puluhan macam. Tampak Melisa juga Wilna sekretarisnya, hadir bergabung pada acara makan bersama tersebut.


Hanya memerlukan waktu 4 hari bagi mereka belajar sambil berlibur untuk menikmati hadiah kemenangan itu, kini mereka sudah kembali ke Indonesia bersama Wilna.


Sehingga baik Melisa ataupun Anin tidak perlu repot lagi menggunakan mode rahasia di antara keduanya, demi saling menjaga privasi mereka. Anin masih punya waktu 1 minggu yang bisa ia gunakan untuk bersantai.


Hari ini, Melisa mengajaknya untuk ke rumah sakit untuk menjenguk mamanya. Mereka datang siang, tepat saat mama baru saja menyelesaikan makan siangnya yang selalu di suapi oleh papa Darel.


Papa yang tidak pernah meminta bantuan perawat untuk urusan menyuapi istrinya ini. Karena baginya itu bentuk kasih sayangnya pada wanita yang telah ia minta dari mertuanya, untuk hidup dalam keadaan susah dan senang itu.


"Hai... papa... mama... lihat siapa yang Mel ajak untuk menjenguk mama." Sapa Melisa dengan nada yang sangat riang.


Papa segera menoleh ke arah Anin, dan sesaat memperhatikan penampilan Anin dari ujung kaki sampai kepala Anin, ada seulas senyum di bibir pria paruh baya yang masih tampak gagah dan juga tampan itu.


"Papa, kenalkan. Ini Anin desainer di Butik ku juga teman dekat Emil." Terang Melisa memperkenalkan Anin pada papanya.


Anin yang di sebut namanya pun melangkah mendekati papa Darel untuk menyalami dan mencium punggung tangan papa Darel dengan sopan.


Tampak papa Darel menyambut sikap manis Anin itu dengan wajah yang penuh penerimaan.


Setelah itu Anin beralih dan berjongkok mendekati mama Darel yang duduk di kursi roda. Anin segara meraih jemari mama Darel untuk ia jabat dan ia ciumi dengan penuh rasa hormat dan sayang.


"Bu... ibu masih ingat Anin kan...? Kita pernah bertemu di Butik saat ibu di Surabaya. Maaf, baru sekarang Anin bisa jenguk ibu. Padahal, Anin sudah sangat lama ingin melihat keadaan ibu. Tapi, doa Anin tidak pernah berhenti meminta kesembuhan dan kepulihan untuk ibu...cepat sehat ya bu." Ucap Anin yang kini masih duduk berjongkok di depan kursi roda itu, yang ia tak tau mengapa begitu merasa bersalah selalu menolak ajakan Darel untuk ikut menjenguk mamanya saat masih di Bandung. Tampak buliran kristal putih jatuh mengalir dari kedua bola mata Anin.


Hal serupa yang terlihat dari wajah sendu milik mama Darel. Pipi yang sudah tidak kencang itu tampak basah, tangan yang di jabat Anin sedari tadi pun tampak masih berpaut karena mama Darel malah memegang tangan Anin dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Anin... Anin... kamu datang untuk mama nak...?" Tiba-tiba ucapan itu lolos keluar dari mulut seorang Amelia Aletha Kurnia yang selama ini hanya bisa terbuka tanpa bisa bersuara selama kurang lebih 6 bulan.


Sontak Melisa dan papa Darel yang sedari tadi melihat interaksi keduanya terperanjat kaget, dan berlari mendekati keduanya.


"Mama... apa tadi baru saja mama berbicara.. ?"


Ucap papa yang kini berada tepat di samping kanan mama dan memegang pipi mama dengan tatapan tak percaya.


Ada anggukan kecil dari kepala yang masih di pegang papa Darel. Kemudian mama berkata lagi : " Pa... mama sudah kembali."


Tidak sanggup menahan rasa bahagianya, papa menciumi wajah mama bertubi-tubi sambil terus mengucapkan kata : " Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah kembalikan istriku. Mama... mama sembuh ma...! Alhamdulillah... terima kasih ya Allah."


Melisa tak kalah senang yang kini nampak mengambil bagian di sisi kiri mama untuk memeluk tubuh yang makin ringkih itu.


Berangsur Anin menjauh karena kini tangannya tidak di genggam oleh mama Darel lagi. Anin terisak, menangis haru melihat kesembuhan yang sempurna dari mama Darel. Bermacam pikiran berkecambuk di pikirannya, antara senang juga merasa bersalah, mengapa tidak dari dulu saja ia menjenguk mama Darel, jika ternyata pertemuannya bisa membantu proses penyembuhan mama Darel itu.


Dokter segera datang ke ruang rawat mama Darel, setelah papa melakukan panggilan melalui alat yang tersedia di ruangan itu. Kemudian melakukan beberapa pemeriksaan ringan sekedar mencek beberapa bagian untuk ia memastikan, bahwa pasiennya telah benar benar sembuh total.


Sepeninggalan dokter itu, seketika ruang rawat itu tampak ramai kembali. Karena papa dan Melisa tampak begitu rindu dan ingin bertukar cerita dengan mama yang sangat mereka cintai itu.


Nampak dua tangan mama Darel terulur ke arah Anin yang kini hanya tampak duduk di sofa menikmati kedekatan ke tiga orang yang mestinya masih asing dengannya.


"Sini, nak. Dekat mama." Ujar mama Darel pada Anin.


"Iya bu." Jawab Anin patuh dah melangkah mendekati mama Darel yang kembali duduk di kursi roda.


"Terima kasih sudah mau bertemu mama. Mama sangat lama menunggumu." Ucapnya membuat suasana kembali haru.


"Maaf kan Anin, baru bisa datang..." Ucap Anin yang sudah diliputi rasa bersalah. Tetapi, Anin benar-benar merasa tidak layak untuk ikut menjenguk mama Darel, karena saat itu Darel memang sedang bersama Felysia.

__ADS_1


"Pa... Emil mana...?" tanya mama yang baru menyadari ketiadaan anak kesayangannya itu.


"Emil sedang melakukan perjalanan bisnis ke Vietnam ma. Mama tau, sejak mama di rawat di sini, papa sudah langsung pensiun. Sekarang papa tidak perlu repot lagi mengurus perusahan, karena semua sudah papa serahkan pada Emil." Terang papa pada mama dengan nada yang sangat riang.


"Akhirnya... anak itu menyerah juga menjadi pewaris tahta papa. Tunggu saja dia pulang, mama akan jewer telinganya. Sampai mama harus sakit dulu baru dia mau meneruskan perusahan papa." Ucap mama seolah kesal sekaligus bercanda.


Kali ini, giliran Melisa yang tiba-tiba memeluk erat tubuh Anin.


"Anin...terima kasih sudah mengembalikan kesehatan mama ya. Ternyata selama ini mama hanya ingin bertemu calon menantu idamannya." Wuussshh.... mendadak hawa panas menjalari seluruh tubuh Anin. Malu bercampur senang dan tidak mengerti melanda hati dan pikiran Anin. Saat Melisa mengatakan kata calon menantu idaman yang di tujukan padanya.


Tetapi Anin hanya tersenyum kecil menanggapi kata-kata Melisa yang sebenarnya telah nyata membuatnya melambung ke angkasa.


Bersambung...


...So sweet...


...Akhirnya mama Darel sembuh setelah bertemu...


...dengan menantu pilihannya....


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat author harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...

__ADS_1


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...


__ADS_2