
"Anin... mengapa namanya seperti wanita yang aku kenaal di Paris. Apakah itu orang yang sama...? Jika Iya... oh. Mengapa begitu baik nasibya memiliki suami setampan, tajir, cerdas juga penyayang seperti Darel? Tidak...!! kurasa hanya nama yang sama, bukankan nama Anin tidak hanya satu di dunia ini...?" Santy bermonolog dalam hatinya seraya melangkah masih mengikuti Darel dengan diam-diam.
Belum sempat Darel memasuki mobilnya, kini ia tampak terjatuh tiba-tiba di lantai parkiran itu.
Tampak beberapa orang security mendekti untuk menolongnya.
Santy yang telah dapat memprediksi akan hal itu, langsung meminta tolong pada orang-orang tersebut untuk mengangkat tubuh Darel masuk ke mobilnya dan segera membawanya kesebuah kamar hotel tempat ia menginap.
Sementara di sisi lain tempat parkir itu ada sepasang mata melihat semua kejadian itu dan berinisiatif mengikuti mereka.
Santy memang perlu merogok kocek lebih besar pada pertemuan makan malamnya kali ini, demi untuk meminta pihak restoran itu mau mengikuti keinginaannya untuk memasukan obat tidur pada makanan penutup yang ia pesan dan di aturnya sedemikian rupa agar, benar Darel yang akan mengkonsumsinya. Maka tidak sampai masuk hitungan jam, reaksinya akan mengakibatkan seseorang tersebut akan mengantuk dan tertidur dengan tidak sadarkan diri.
Kini, Darel telah berada dalam satu kamar super mewah yang di pesan oleh Santy.
Entah apa yang merasuki hati dan pikiran wanita itu, sehingga ia benar-benar terobssesi untuk memiliki seorang Darel yang bahkan iapun tau Darel adalah pria beristri dan sangat mencintai wanitanya.
Namun, jiwa jomblonya seakan meronta dan membutakan batinnya. Bahwa ia sangat menginginkan pria ini jadi miliknya walau hanya semalam.
Ia tidak peduli jika Darel hanya seperti patung malam ini. Teronggok kaku dan diam dalam tidunya yang sangt nyeyak.
Satu persatu pakaian Darel ia lucuti, menyisakan celana panjang menutupi tubuh pria tampan itu.
Seperti wanita gila yang tidak sadarkan diri, Santy mencumbu Darel yang tak bergeming akibat obat tidur yang masih mempengaruhinya.
Kini, bukan hanya tubuh Darel yang tampak polos di bagian atas, tetapi tubuh Santy pun kini telah tampak polos di bagian dadanya. Berbagai gerak dan posisi di lakukan Santy di atas tubuh Darel, juga di buatnya seolah Darel pun sedang mencumbunya. Berkali-kali posisi itu di ubahnya dan ia abadikan dalam sebuah kamera pada ponselnya.
Kegiatan itu terhenti saat kamar yang ia tempati itu di ketuk dari luar, dengan setengah berlari sambil memasang kemeja seadanya untuk menutupi bagian tubuh atasnya yang sempat ia peloroti sendiri.
Dan betapa terkejutnya Santy, bahwa kini tampak manager dan beberapa petugas hotel beserta Gerald berada di luar kamarnya.
__ADS_1
Tidak menunggu lama, Gerald segera menerobos masuk dan mendapati Darel yang terlihat tidur nyenyak dalam balutan selimut.
Seketika itu juga, Gerald memerintahkan pelayan hotel itu untuk menggotong tubuh Darel keluar dari kamar itu. Yang sebelumnya tentu dengan memasanng kembali pakaian Darel yang berceceran di lantai kamar hotel tersebut.
"Hei wanita ja****...!!! apa yang sudah kau lakukan pada sahabat ku. Apa kau tidak tau bahwa dia telah beristri, hah???" Sarkas Gerald dengan nada yang sangat tinggi pertanda ia sangat marah pada Santy.
Santy hanya diam, tanpa tau akan memberi alasan apa untuk membela diri.
Gerald menggendong tubuh Santy ke atas ranjang, ia menerkam bibir Santy, berusaha mencumbu wanita itu dengan kasar. Memberi beberapa bekas merah keunguan di atas dada yang telah polos di sana, berusaha mengungkung tubuh itu dengan posesif. Sangat terasa oleh Gerald bahwa wanita itu memang menginginkaannya. Tidak ada penolakan dan perlawanan dari Santy. Namun itu justru membuat Gerald, berdiri dan meninggalkan Santy yang terlihat bingung atas perlakuan pria yang baru dua kali ini, ia temui.
'Ha...ha...ha... ternyata kau benar-benar menginginkannya." Ucap Gerald yang segera beranjak meninggalkan Santy yang hanya bisa termangu menatap punggung Gerald yang meninggalkannya begitu saja.
Tanpa mempedulikan Santy yang sempat terhayut dan terbawa dalam cumbuan singkat tadi.
Dengan cepat Gerald menggiring para pelayan hotel itu untuk mengarahkan agar mengantar Darel masuk ke dalam mobilnya. Yang kemudian mengantar Darel ke apartemen. Dan kali ini Gerald memilih untuk tidur bersama Darel.
Namun, ia terkejut melihat tubuh Darel yang di gotong naik ke mobil yang tidak ia kenali. Maka ia berinisiatif untuk mengikuti mobil itu, yang ternyata Darel di bawa ke sebuah hotel.
Lama Gerald meyakinkan pihak hotel agar di ijinkan untuk masuk memastikan sahabatnya akan di perlalukan dengan tidak senonoh di sana. Sampai Gerald harus meyerahkan KTPnya sebagai jaminan agar pihak hotel mengijinkannya.
Dan ternyata hampir saja terlambat. Gerald tidak tau apa yang akan terjadi jika saja ia tidak cepat menolong Darel dalam jebakan wanita licik itu.
Darel terkejut bukan main, mendapati dirinya yang telah tidur bersama Gerald di kamar apartemennya sendiri.
Dilihatnya waktu menunjukkan pukul 5 pagi, ia sempatkan melaksanakan sholat, kemudian membangunkan Gerald. Untuk segera mengantarnya ke Juanda. Sebab pukul 6.20 WIB ia sudah harus terbang ke Bandung.
Di perjalanan Darel hanya dapat menggelengkan kepalanya. Tidak percaya akan hal yang terjadi semalam. Ia benar-benar tidak tau dan tidak ingat apa-apa tentang kejadian itu. Bahkan ia tidak tau, bagaimana proses pemindahannya sehingga dapat tidur di kamar apartemennya.
Tetapi bagaimanapun caranya, Darel sungguh-sungguh berterima kasih lada Gerald sahabatnya itu.
__ADS_1
"Pokoknya aku tidak mau tau...kamu jangan sampai bekerja sama dengan wanita licik itu. Aku tidak sudi dia masuk di perusahaanmu yang mana saja. Jika kamu tetap menerima tawarannya. Aku hengkang dari perusahaan yang aku pimpin sekarang." Tolak Gerald dengan tegas.
"Aku tentu lebih baik kehilangan kesempatan bermitra daripada harus melepas mu Ger. Bagaimanapun kamu sudah membuatku terhindar dari malapetaka. Aku tidak tau jika hal semalam di ketahui oleh Anin. Aku bahkan tidak berani membayangkannya." Ujar Darel terdengar sangat getir.
"Ya...sekarang kamu wajib lebih selektif lagi memilih patner. Dan yang terpenting sekarang, kamu harus fokus sama kehamilan Anin. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah. Dan sekarang waktunya untuk menebus waktu yang lama terhilang selama kalian berjauhan. Urusan Santy... nanti aku yang akan selesaikan sampai tuntas. Jika saja kamu sudah berada di mobil, mungkin aku semalam sudah berhasil menidurinya. Berhubung waktunya singkat, aku hanya sempat membuat stempel saja di dadanya...haa...haa...ha...!!" Gelak tawa Gerald penuh kemenangan
Bersambung...
...Yang setuju Santy sama Gerald mana suaranya...
...Besok senin ya Reader.... pliiiss dukungannya...
...VOTE...
...VOTE...
...VOTE...
...Dan hujani aku dengan like kalian...
...ai lap yu all ā¤ļøā¤ļø...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...Biar makin semangat...
__ADS_1