DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 119 : PEGAWAI BARU STOK LAMA


__ADS_3

Kenapa aku ga kepikiran gitu ya...okelah. Memang ga salah ku rindu kamu Ger, sangat bermanfaat. Thanks ya bradaaaaaah." Darel Segera menutup sambungan telepon.


Berkat Gerald akhirnya terbuka pikiran Darel untuk membuka group alumni SMA di WA nya.


Darel mengakui jika ia hanya ada, tetapi tak pernah aktif dalam group itu.


Tanpa pikir panjang ia langsung menghubungi Nindy.


"Hallo Nin... lagi repot ga sih?"


"Darel...apa kabar tumben nelpon. Ga repot siih, ada apa?"


"Ada perlu sedikit, enaknya ketemuan atau bicara di telepon saja...?" tawar Darel pada Nindy.


"Ketemu aja jika kamu berkenan." Ujar Nindy.


"Oke... nanti sore di cafe DD aku tunggu ya."


" Siap... tapi, apa aku boleh mengajak suamiku?"


"Tidak masalah, malah begitu lebih baik."


" Oh... baiklah. Sampai ketemu Darel, terima kasih."


Sambungan itupun berakhir.


Darel sudah terlihat datang terlebih dahulu dari Nindy, karena ia tidak pulang kerumah. Sehingga penampilannya masih dengan setelan jas ciri khas seorang CEO pada umumnya.


Nindy tampak datang bersama lelaki dengan pakaian santai.


"Hai Darel... perkenalkan ini Wisnu suamiku." Nindy memperkenalkan suaminya pada Darel.


"Senang berkenalan dengan mu, mas Wisnu." Di sambut senyuman dan pertautan tangan keduanya.


"Penampilanmu... formal sekali Darel. Apa sekarang kamu memang bekerja di sini?" tanya Nindy yang sesungguhnya kagum dengan setelan jas yang Darel kenakan.


"Oh iya, sejak mama ku kecelakaan tahun lalu. Aku terpaksa mengurus perusahaan milik papa. Jadi, ya... aku kembali ke sini."

__ADS_1


"Aku sempat liat SW mu, sepertinya kamu juga sudah menikah, kenapa tidak di ajak ke sini?" tanya Nindy yang memang memiliki sifat perhatian kepada semua temannya.


"Iya, Desember tahun lalu kami menikah di Surabaya. Hanya sekarang kami LDR karena dia melanjutkan studinya di Paris, mungkin 3 tahun." Jelas Darel sambil menyodorkan buku menu pada keduanya untuk memesan makanan da minuman.


"Jadi...apa yang membuatmu mengundangku untuk bertemu?" tanya Nindy tanpa tedeng aling-aling.


"Aku sedang mencari seorang sekretaris di perusahaan ku, untuk meringankan pekerjaan asistenku. Jika nanti aku akan ke Paris menemui istriku. Kalian tentu lebih tau lah rasanya pengantin baru yang saling berpisah. Menurutku, dari pada aku buka lowongan besar-besaran, mengapa aku tidak rekrut teman sendiri dulu untuk menjadi pegawai ku. Nah, kira-kira kamu punya kandidat untuk itu...?"


Nindy dan suaminya saling berpandangan.


Kemudian ada anggukan kecil nampak dari kepala suami Nindy.


"Aku 6 bulan lalu telah berhenti dari pekerjaanku. Karena setelah melahirkan aku perlu banyak istirahat.


Jika cocok mungkin aku bisa menjadi pegawai mu. Boleh kan yang...?" tanya Nindy pada suaminya.


"Yah... jika memang Mas Darel menerima mu, aku ijinkan saja." Jawab Wisnu dengan tatapan sayang pada Nindy.


"Benar kamu bersedia...? Tapi bagaimana dengan anak kalian...?" tanya Darel yang menyadari jika memiliki bayi tentu akan repot dan susah membagi waktu.


"Anak kami meninggal mas Darel. Nindy juga sempat di rawat secara intensif pasca melahirkan. Bahkan sekarang kami juga harus menunggu 3 tahun untuk bisa program hamil lagi. Jadi, jika dia memang bisa bekerja kembali, aku adalah orang pertama yang mendukungnya, agar dia punya kegiatan juga bisa sedikit melupakan kesedihannya." Terang Wisnu pelan, sambil memegang jari istrinya penuh sayang.


"Sama... dulu aku juga sebagai sekretaris di perusahaan CC. Tetapi memilih berhenti saat masa lahiran sudah dekat, karena begitu ketat peraturannya. Jadilah aku pengangguran sekarang."


"Alhamdulilah... berarti setidaknya kamu sudah paham pekerjaanmu. Karena aku sudah merekrut pegawai baru tapi stok lama. Ha...ha...ha...


Besok bawalah semua berkas mu ya Nindy... kita deal saja. Kamu langsung aku terima tanpa interview." Ujar Darel.


"Kamu yakin dengan kinerja ku...?"


"Ah... sudahlah. Kita kan teman harus saling membantu, jika tidak paham kan kita bisa belajar." Darel merasa senang mendapatkan pegawai baru dan berharap benar-benar bisa bekerja sama dengan baik.


"Terima kasih atas kepercayaan mu ya Darel, semoga kita dapat bekerjasama dalam waktu yang lama." Ujar Nindy sambil berjabat tangan.


Ada semburat rona bahagia di raut wajah Nindy. Di saat ia memang telah merasa siap kembali bekerja, setelah melewati masa dukanya.


Tiga bulan berlalu Nindy tampak sungguh-sungguh bekerja di perusahaan milik Keluarga Aswindra. Tidak membutuhkan waktu yang lama baginya untuk beradaptasi karena basic nya memang telah ada di bidang pekerjaan itu.

__ADS_1


Demikian pula dengan Darel yang tentu tidak merasa canggung saat menyampaikan hal-hal yang di anggapnya perlu untuk di sampaikan atau di perbaiki. Sebab Nindy adalah orang yang memang telah lama di kenalnya. Walaupun pertemanan mereka tidak begitu akrab aat duduk di bangku sekolah menengah atas.


Kehadiran Nindy sebagai sekretaris juga kesigapan Vino menangani perusahaan tentu sangat membuat Darel memiliki waktu dan kesempatan untuk dapat meninggalkan perusahaan dalam kurun waktu yang lumayan lama, untuk sekedar melepas rindu dan menikmati masa-masa kebersamaanya pada istri tercintanya.


Paris di musim panas.


Musim yang paling ditunggu-tunggu kebanyakan warga Perancis. Selain matahari tenggelam pada pukul 10 malam, musim panas ini adalah musim liburan terlama anak sekolah. Bayangkan hampir 2 bulan lamanya mereka dapat libur sekolah, dari awal juli s/d awal september. ( Sebelum pandemi tentunya)


Kemudian, suhu di Paris bisa mencapai 40°C.


Angka yang sangat fantastik, dan suhu tersebut tidak setiap hari di angka 40°C dan sangat jarang terjadi.


Suhu di musim panas hampir sama seperti suhu yang ada di indonesia.


Membuat Darel dan Anin tidak sulit untuk beradaptasi dengan masa itu. Perkuliahan Anin tidak serta merta menyedot semua waktu Anin untuk belajar, ia pun masih memiliki waktu untuk berjalan-jalan. Apalagi dengan kehadiran suaminya di sisinya tentu menambah semangat dan sukacita di hatinya.


Mereka masih layaknya pasangan kasmaran yang di mabuk cinta, apalagi mereka sudah halal. Tentu tidak ada penghalang bagi keduanya saling memadu cinta.


"Mom... sepertinya Tuhan memang sedang memberi waktu yang panjang untuk kita berkencan ya..." Guraunya pada Anin saat mereka tengah duduk santai di taman Jardin Du Luxemburg yaitu taman bunga warna warni indah dan terdapat air mancur. Tempat yang sangat cocok untuk mereka habiskan bersama hingga senja menjelang.


"Alhamdulillah." Anin sangat bersyukur atas ketentuan hidup yang Allah berikan padanya kini.


"Mom... apa kamu bahagia di sini?"


"Aku bohong jika bilang di sini bahagia... karena aku tersiksa rindu pada suamiku. Tetapi aku bangga berada disini. Terima kasih sudah mengijinkan aku melanjutkan studi yang bahkan lebih dari yang aku impikan." Ucap Anin bersungguh-sungguh..


Bersambung...


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat author harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...

__ADS_1


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...


__ADS_2