
Di sebuah Cafe
Nampak Darel duduk sendiri mengutak-atik ponsel yang baru ia nyalakan sejak pagi.
Samar mengalun sebuah lagu
yang menurut Darel begitu mengena di hatinya.
Kurasa 'ku sedang jatuh cinta
Karena rasanya ini berbeda
Oh, apakah ini memang cinta?
Selalu berbeda saat menatapnya
Mengapa aku begini?
Hilang berani dekat denganmu
Ingin 'ku memilikimu
Tapi aku tak tahu
Bagaimana caranya?
Tolong katakan pada dirinya
Lagu ini kutuliskan untuknya
Namanya selalu
kusebut dalam doa
Sampai aku mampu
Ucap maukah denganku
Alunan lagu Tolong dari Budi Doremi, mampu membuat Darel tersenyum sumringah sendiri. Cepat cepat ia mengambil buku daftar menu
untuk menutupi wajahnya yang tiba - tiba ia rasakan menghangat. Dan jika ia bercermin mungkin kulit wajahnya merah merona.
Darel tidak mengerti mengapa akhir akhir ini, hatinya mudah bergemuruh tidak jelas. Terutama jika ia sedang dekat dengan Anin. Dan hal itu lah yang membuat ia bimbang.
__ADS_1
Bukankah Felysia cinta pertama yang ingin ia miliki sekarang. Tetapi mengapa hatinya bagai terpincut pada seorang gadis hitam manis, bahkan hanya seorang asisten.
Darel kembali mencerna setiap ucapan yang mamanya sampaikan tadi. Sungguh pesan yang bijaksana. Tugas Darel sekarang ialah ia harus cepat mendapatkan bukti dan kebenaran tentang pekerjaan sampingan Felysia. Jika benar ia adalah wanita malam bahkan simpanan Om Om maka apapun perasaan yang pernah ada dalam hatinya, harus segera ia lenyap kan. Dan untuk perasaannya terhadap Anin, Darel pun harus meyakinkan dirinya,
untuk memastikan perasannya.
Cintakah?
Iba kah?
Salut kah?
Atas segala yang terjadi dalam hidup Anin.
Juga, Darel harus memastikan. Apakah Anin memiliki rasa yang sama terhadapnya. Sebab, walau sering bersama bahkan dekat ekspresi Anin cendrung datar padanya. Berbeda saat Anin bersama dengan Gerald. Dia bisa tertawa lepas, bahkan ngobrol dengan sangat akrab. Atau Anin menyukai Gerald. Atau juga karena Gerald adalah perayu wanita nomor wahid. Sehingga ia dapat dengan mudah mendapatkan hati seorang Anin.
"Darel... Kamu Darel kan?" sapa seorang wanita yabg cukup cantik memasuki cafe bersama 2 teman wanitanya juga.
"Siapa ya?" Darel mengingat ingat.
"Aku Nindy, kita sekelas waktu SMA di kelas 2." Jawabnya
"Oh... Nindy. Iya maaf ya Nin, kamu makin cantik. Sampai sampai aku susah untuk mengenalimu. Duduk, aku sendirian kok." Tawar Darel ramah pada wanita yang katanya teman sekolahnya itu.
"Oh, terima kasih. Kemana aja .. kok baru keliatan sekarang kamu?" tanya Nindy antusias.
"Kok sendirian aja, malam minggu ini. Jomblo?" tembaknya
"Ha...ha...ha, lagi pengen jalan sendiri aja."
"Darel... foto yaa." Biar ku masukan di group alumni SMA ujar Nindy.
Darel tidak menolak ajakan Nindy. Kemudian Nindy juga meminta no kontaknya, lalu meminta ijinnya untuk memasukannya ke group alumni SMA itu.
Lagi lagi Darel tidak menolak. Sebab ia juga tidak ingin di sebut sombong jika ia menolak ajakan Nindy.
Iseng Darel pun memasang fotonya bersama Nindy tadi di SWnya. Dengan caption
"Malam Minggu with Nindy di Bandung."
Yang ternyata di pantau oleh Gerald. Sontak handphone Darel menjerit jerit minta di angkat sang pemilik.
Hanya kata hallo yang mampu Darel ucapkan pada sambungan telepon itu. Selanjutnya isinya adalah semprotan marah dari Gerald. Dan Darel hanya terkekeh, sesekali menyebut kata maaf. Lumayan lama, sampai emosi Gerald mereda. Baru panggilan telepon itu ditutup.
__ADS_1
"Siapa? Cewek mu ?" tanya Nindy.
"Tidak, hanya teman." Ujar Darel sambil tersenyum. Sambil melihat siapa siapa saja yang ikut melihat pic SW nya. Dan Senyum Darel makin mengembang saat melihat Anin dan Felysia jua nampak Kepo dengan story' nya itu.
Tak banyak yang bisa Darel bicarakan dengan Nindy dan teman temannya itu. Ia pun pamit untuk pulang terlebih dahulu. Nindy pun tidak memiliki hak untuk sekedar menahan Darel untuk lebih lama bersama mereka, lagi Darel belum mau pulang kerumah.
Ia memilih duduk di kursi taman pinggiran jalan, sekedar menikmati malam di kota kelahirannya itu. Darel merasa beruntung memiliki waktu sendiri di Bandung. Walau hanya sekedar duduk di pinggiran jalan, sebab di sini tidak ada yang tau jika ia adalah seorang CEO muda. Ia seolah menjelma menjadi orang biasa, terlepas dari hal hal yang sebenarnya membuat ia merasa canggung untuk sekedar di hormati oleh karyawannya.
Tak banyak kenangannya dengan kota itu,
kecuali kenakalan kecil layaknya remaja pada umumnya, bersama sahabat sahabat kecilnya.
Yang kini, entah sudah tercerai berai kemana kah, untuk mengadu nasib dan membina kehidupannya masing - masing. Soal pacar, sejak sekolah Darel memang tidak pernah pacaran atau sekedar curi curi pandang saat masih sekolah. Darel termasuk anak yang culun, berkacamata tebal, karena ia seorang kutu buku. Darel anak yang cerdas secara akademik saat di sekolah. Sehingga waktu bermainnya tidak banyak, tempat favoritnya adalah perpustakaan. Jadi, wajarlah dalan waktu 4 tahun ia sudah mendapatkan gelar SE-nya dengan nilai cum laude, dan melanjutkan kembali mengambil pasca sarjananya di LN dalam waktu 2 tahun. Sehingga di usianya ke 25 tahun, ia sudah bisa merintis karirnya di Surabaya.
Jadilah kini, Darel Emilio Aswindra seorang pengusaha muda, tampan yang sangat tersohor, juga incaran para pengusaha lainnya untuk menjadikan dia calon mantu. Namun, semua itu tidak serta merta membuat Darel memanfaatkan keadaan. Ia masih ingin terus mengkokohkan perusahannya, hingga cita cita nya benar benar tercapai. Ia tidak ingin di hina wanita karena kemiskinan nya.
Maka wajar lah jika saat kuliah ia pertama kali merasakan jatuh cinta, kemudian di tolak.
Membuatnya trauma, karena tidak memiliki pengalaman sebelumnya.
Hingga kini, di usia yang seharusnya telah memiliki ketetapan hati. Bahkan mestinya sudah waktunya untuk menikah, Ia malah di sibukkan dengan dua wanita yang baginya sangat mengganggunya. Ia ingin belajar dari Gerald, tapi Gerald tidak bisa di jadikan contoh teladan yang baik dalam urusan cinta.
Namun Gerald malah lebih parah, menganggap wanita hanya sebagai partner ranjang, parah benar benar parah. Sebentar sebentar Darel tampak menimang 2 hape di tangannya.
Selintas ia ingin menghubungi Anin sebagai Gerald, tetapi ia tau, mereka baru saja pulang bersama dalan 1 bus.
Ia ingin menghubungi Felysia,namun kini ia pun dapat memonitor Felysia melalui alat sadap yang ia hubungkan pada HPnya. Dan sejauh ini, tidak ada gerakan mencurigakan perihal hubungan Felysia sebagai wanita simpanan.
Jam pada pergelangan tangannya menunjukan waktu pukul 12 malan. Darel merasa cukup.
Dan kembali pulang ke rumah. Untuk melepas penat lelah jiwa dan raganya. Seharian ini yang hanya di habiskan untuk memikirkan wanita.
Bersambung
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat autor harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
__ADS_1
...Biar makin semangat...
...Terima kasih...