DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 84 : KEINGINAN PAPA DAREL


__ADS_3

"Terima kasih pesan dan doanya bang."


Darel hanya mengangguk setuju, kemudian memandang nanar punggung wanita yang sangat ia cintai itu."


Ketika sudah mendapatkan kursi di dalam pesawat. Nampak Anin termenung mengenang saat perpisahannya dengan Darel. Walaupun Anin sadar kali ini akhirnya ia jatuh kedalam pelukan Darel. Laki-laki yang perasaannya pada Anin masih misteri baginya.


Ternyata dosa itu nyaman, betapa tidak Anin sangat menikmati beberapa menit dalam dekapan pria pujaannya tadi.


Anin memang sudah yakin bahwa ia mencintai Darel, bahkan saat ia menjalin hubungan bersama Bimo pun, tidak mengurangi rasa ingin selalu tau kabar tentang Darel.


Tetapi, apakah Darel memiliki rasa yang sama padanya. Mungkin Darel mengira jika Anin masih memiliki hubungan dengan Bimo. Anin bertekad untuk fokus belajar saja. Dan untuk masalah hubungannya dengan Darel, mungkin sekarang waktunya untuk menunggu saja, sampai Darel tau sendiri. Betapa Anin mencintainya. Lama pikiran Anin mengembara, hingga akhirnya ia tertidur pulas.


Darel dalam posisi yang kurang lebih sama dengan Anin. Hanya, tentu Darel lebih cepat sampai ketimbang Anin. Sebab, Darel hanya ke Singapura. Dalam perjalanan itu, Darel masih berpikir sekaligus curiga akan hubungannya dengan perwira polisi itu.


"Bukankah, sejak magrib hingga dini hari aku bersamanya kemarin, tetapi sekalipun aku tidak melihat Anin memegang ponselnya. Bahkan sampai sebelum berangkat tadi pun, aku tidak sama sekali melihatnya bertukar info. Apa hubungan mereka sudah berakhir...? Nanti akan aku cari tau sendiri. Jika Anin tidak mengakui kelanjutan hubungan mereka.". Isi batin Darel yang kepo.


Tak berapa lama... Darel telah sampai di Singapura. Seperti hari-hari biasa ia tentu langsung ke rumah sakit. Tetapi betapa terkejutnya Darel, ternyata mamanya sudah tidak di rawat di ICU lagi.


Melainkan di ruang VVIP rumah sakit tersebut.


Dengan penuh semangat, Darel memasuki ruang rawai inap itu, lagi Darel di buat terkejut. Ketika melihat mama tidak berada di ranjang pasien. Tetapi, tengah berada duduk di atas kursi roda. Dengan mata terbuka, namun tatapan itu masih kosong, tanpa respon yang aktif.


Seketika, Darel menghambur pelukannya dan hampir menangis. Melihat kemajuan kesehatan mamanya.


"Mama... Emil datang lagi ma. Mama terus berjuang untuk kembali yaa...

__ADS_1


Mama, kenapa tidak bilang dari awal. Jika mama ternyata memilih Anin untuk menjadi menantu mama. Mama bahkan sudah menyiapkan gaun untuk pertunangan kami. Mama cepat sembuhnya, agar Emil segera mewujudkan impian kita bersama. Emil janji akan jadikan Anin wanita satu-satunya yang Emil cintai dan menjadi istri Emil. Bukankah Anin memantu idaman mama...? Ayolah, kembali pulih. Sebelum usia 30 pun , Emil siap menikahinya ma." Darel meracau. Berbicara melepas semua ungkapan hatinya pada mama. Seperti kebiasaannya sewaktu mamanya sehat. Mama adalah satu-satunya tempat Darel berbagi kisahnya, tentang semuanya.


Darel tampak berjongkok dalam posisi sujud di hadapan kursi roda mamanya, ia terus saja meremas dan mencium jari sang mama. Sampai ia merasa kepalanya di elus dengan ritme yang lambat dan terasa lemah. Darel menyadari itu adalah belaian yang sangat ia rindukan dari tangan sang mama yang sangat ia rindukan.


"Pa.... papa. Mama bisa menggerakkan tangannya." Pekik Darel keras.


Papa Darel yang dari tadi hanya diam mematung melihat dan mendengar pengakuan anaknya itu, hanya tersenyum.


"Mama sekarang memang sudah mulai bisa menggerakkan tangannya Mil. Makanya kini mama bisa di pindah ke ruang ini. Fase membuka mata sudah terjadi, fase menggerakkan tangan dan kaki juga sudah mama alami. Kini kita masih menunggu mama dapat bicara dan mengingat semuanya.


Dokter sedang ingin melihat progresnya sampai akhir bulan ini. Jika memungkinkan, mama di ijinkan untuk rawat jalan saja. Sebab, kemungkinan sembuh dan ingatannya pulih akan lebih cepat jika berada di rumah. Bertemu dengan orang-orang yang ia sayangi dan mengasihinya." Terang papa. Lagi-lagi Darel menyerang mamanya dengan ciuman bertubi-tub karena kesenangan. Sampai tampak air mata mama mengalir lagi.


Di mata Darel, mamanya tak ubahnya seperti patung yang belum bisa banyak bergerak. Tetapi masih bernyawa. Dan proses menuju sadar dari koma mama, agak berbeda dari kebanyakan orang pada umumnya.


Dengan kondisi mama yang sudah tidak lagi di penuhi alat di tubuhnya pun, membuat hati Darel semakin yakin. Bahwa sebentar lagi mama akan benar benar sembuh.


Darel memilih untuk tidur di rumah sakit bersama papanya. Sebab ada beberapa urusan perusahaan yang ingin ia konsultasikan dengan papanya. Terutama menyangkut tentang pasokan bahan industri garmen milik ayahnya tersebut yang sudah sampai masanya untuk melakukan pembaharuan kontrak.


Dan, tidak ada pilihan lain. Dalam waktu dekat, yaitu di akhir bulan ini Darel harus segera terbang ke negara Vietnam, negara yang selama ini menjadi negara pengekspor tekstil terbesar di dunia. Dan perusahaan Aswindra Group merupakan salah satu perusahaan di Indonesia yang memang telah masuk dalam hitungan dalam menjalin kerja sama.


Karena tampuk kekuasaan Perusahaan itu, telah di serahkan pada Darel. Tentu tidak ada pilihan lain baginya, kecuali berangkat untuk melakukan perjalanan bisnis tersebut.


"Papa yakin kamu bisa cepat beradaptasi dengan semua kolega bisnis papa di sana Mil.


Bahkan kini papa sudah tidak berminat lagi untuk kembali ke perusahaan. Jika mama telah sembuh dan benar-benar pulih. Papa dan mama hanya ingin menghabiskan masa tua kami dengan traveling keliling Indonesia saja terlebih dahulu. Kemudian papa akan mendirikan panti jompo yang di lengkapi dengan fasilitas alat kesehatan. Agar orang-orang tua yang sudah tidak di urus oleh anak anaknya, tetap merasakan kasih sayang dan perawatan yang baik, sehingga mereka juga bisa menikmati indahnya usia di masa senja mereka. Sebab, rasa terbuang di usia senja itu dapat menyebabkan depresi yang mengakibatkan kematian dini sebelum waktunya.

__ADS_1


Sebut saja itu adalah klinik jompo, sehingga bukan hanya tempat penampungan biasa, tetapi juga ada perawatan medis di dalamnya. Ungkap papa Darel panjang dan lebar tentang keinginannya .


"Emil dukung keinginan papa."


"Karena kamu mendukung papa, lepaskanlah perusahaan mu yang di Surabaya. Agar kamu benar benar fokus bekerja di Bandung saja. Jangan sampai Panti Jompo yang papa buat itu, ternyata isinya adalah papa dan mama mu nantinya." Seloroh papa penuh tawa.


"Ah, papa. Tentu saja aku tidak membiarkan papa dan mama menjadi penghuni Panti Jompo itu. Emil tidak ingin menjadi anak durhaka pa." Tawa mereka berdua.


Dan keduanya pun kini telah bersepakat untuk melaksanakan sholat Isya bersama.


Bersambung...


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat author harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2