DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 110 : ISTRI ISTIMEWA


__ADS_3

"Aaccch...." akhirnya Anin pun terpekik. Saat sudah tidak dapat meredam suara yang sedari tadi ia tahan.


Sebuah aliran lahar panas terasa menyembur di dalam inti bumi milik Anin. Darel pelan pelan melepas benda yang tadi tertancap dengan sempurna di sana.


Kemudian dengan lembut dan penuh sayang ia mengecup kening istrinya, yang tak kalah basah karena keringat seolah mereka baru selesai joging mengelilingi komplek perumahan.


"Sakit mom...? maaf ya." Ucapnya pelan sambil merebahkan tubuhnya di samping istrinya.


"Memang gitu kali ya Bee." Jawab Anin yang kini memiringkan tubuhnya kearah suaminya sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang masih polos tanpa busana apapun.


"Kata orang siih semuanya gitu mom." Jawab Darel yang tampak mengatur nafasnya yang masih tersengal.


"Kok, kata orang. Pengalaman mu sebelumnya bagaimana...?" tanya Anin yang tidak percaya jika ini pun pengalaman pertama bagi suaminya.


"Ini yang pertama bagi kita berdua istriku."


"Masa...?" goda Anin pada suaminya yang kini malah menyundul kepalanya dengan manja ke dada bidang suaminya.


"Tidak percaya...? Atau kita lakukan lagi agar sakitnya cepat hilang...?" Darel tak ingin kalah menggoda istrinya.


"Itu sih emang maunya kamu, Bee." Ujar Anin yang masih sangat merasa nyaman dalam pelukan suaminya.


"Mom... terima kasih ya." Ucapnya sambil mencium mesra pucuk kepala istrinya.


"Untuk apa...?"


"Semuanya mom. Kamu sudah menerima aku menjadi suamimu, bahkan tetap sabar menunggu aku yakin akan perasaanku, dan juga tetap menjaga ini hanya untukku." Ucapnya dengan tangan yang kembali menjelajah pelan di area hutan lindung itu lagi.


"Bee... tanganmu!!!" seru Anin mengingatkan.


Sebab gerakan itu mungkin saja akan membangkitkan kembali gairah terpendam yang sepertinya belum puas mereka lakukan.


"Sekali lagi mom." Ujar Darel yang tanpa menunggu persetujuan sudah kembali berada di atas tubuh itu, mungkin proyek tebas tebang yang mereka lakukan tadi di rasakan belum tuntas, sehingga pergulatan itu terjadi lagi dan lagi. Sampai keduanya terkulai lemah tak berdaya dan benar-benar tidur dalam satu selimut.


Alarm pertanda subuh meronta, membangunkan keduanya. Sontak keduanya pun bangun, Saling menatap mesra dan memandang satu sama lain, dengan saling tersenyum sumringah melihat keadaan tubuh mereka yang telah hampir mirip dengan macan tutul. Di karenakan banyak terdapat jejak kepemilikan di area sekwilda keduanya.

__ADS_1


Cup, Darel mengecup bibir Anin sekilas.


"Selamat pagi istriku." Sapanya.


"Selamat pagi juga suamiku sayang." Ujar Anin manja.


"Yuk mandi, kita sholat subuh dulu. Lalu kita lanjutkan lagi pertarungan semalam." Ujar Darel dengan santainya sambil berdiri dari ranjang itu tanpa malu dengan tubuhnya yang masih polos itu.


"Bee... jangan kelewatan. Ini saja aku sudah susah untuk bangun dan sakit berjalan.


Masa iya, kamu masih mau bertarung lagi...?" ucapnya sambil mengulurkan kedua tangannya minta pertolongan suaminya untuk bangun dari posisi rebahannya. Darel paham, kemudian menggendong istrinya menuju kamar mandi dan mereka pun mandi bersama di sana, di bawah guyuran shower yang sama, saling bergantian menggosok punggung satu sama lain dengan sesekali mencuri kecupan di wajah Anin yang tidak pernah membosankan baginya.


Tidak ada rasa canggung dan malu bagi keduanya, sebab mereka memang telah merasa saling memiliki satu sama lain. Kegiatan mandi bersama itupun selesai di lanjutkan dengan sholat subuh berjamaah. Terdengar lantunan merdu dari Anin saat membaca ayat suci alquran, berdoa dan berzikir untuk memohon ampunan dan perlindungan pada maha besar Allah SWT.


Darel ingin kembali melanjutkan tidurnya, namun di urungkannya untuk merebahkan dirinya saat ia melihat percikan darah di atas seprei yang menjadi saksi hilangnya mahkota kesucian milik istrinya.


"Mom... sini, bantu aku melepas ini." Pintanya pada Anin yang kini sudah mengenakan pakaian santai dirumah.


"Kenapa di ganti, itu baru ku pasang kemarin Bee." Jawab Anin yang belum melihat noda merah di atas alas tidur itu.


"Oh...ya udah kita laminating aja noda itu, biar jadi peringatan." Ucap Darel sambil menunjukan noda itu.


"Bee...sarapan yuks." Ajak Anin pada suaminya.


"Sarapan...kapan kamu masak mom?" heran Darel yang tidak melihat Anin sibuk di dapur.


"Aku sudah menyiapkan semuanya sebelum kamu tiba. Sebab aku tau jika suamiku datang, aku pasti di gempur hingga hancur lebur."


"Istriku memang istimewa. Mom, kayaknya ini pertama kalinya aku makan masakan mu setelah berstatus menjadi suamimu ya kan mom." Ucapnya yang kini telah sama-sama duduk di meja makan.


"Iya...maaf ya suamiku. Karena jadwal khursus ku, kita jadi tertunda melakukan semuanya berdua." Jawab Anin.


Darel memegang tangan Anin yang ingin mengambil piring untuknya. "Sepiring berdua saja mom. Mulai sekarang kalo kita sedang berdua saja, kita biasakan makan sepiring berdua saja ya. Biar irit nyuci piringnya." Canda Darel sambil serius.


"Baiklah... duduknya pangku gini terus juga?" tanya Anin yang sejak tadi memang tidak Darel biarkan lepas dari pelukan dan pangkuannya.

__ADS_1


"Kalau istriku mau... aku sih selalu sanggup." Ujarnya yang sudah mulai di suapi istrinya.


Anin hanya tersenyum menanggapi Darel yang semakin hari semakin manja.


Awal tahun yang sangat indah bagi kedua pasangan pengantin baru ini. Jika saat berangkat Anin hanya pergi sendiri, berbeda dengan saat ia pulang.


Ia tampak bergelayut manja dengan suami tercintanya. Dan terlihat banyak membawa barang, sebab akhirnya khursus Anin memang benar benar telah selesai.


Darel memang telah menikah dan memutuskan untuk menetap di Bandung. Ia berencana membangun sebuah rumah untuk ia dan istrinya tempati.


Tetapi, mama Darel memohon agar setelah menikah nanti Darel tinggal bersama mama dan papanya saja di rumah keluarga Felix Simon Aswindra.


Untuk sementara, Anin dan Darel menyetujui permintaan mama Darel tersebut. Karena Anin memang senang berada dekat dengan orang tua, terlebih itu adalah seorang ibu. Yang di anggapnya seperti ibunya sendiri. Lagipula, mama Darel sendiri sangat menyayangi Anin sama seperti menyayangi Melisa dan Darel anak kandungnya.


Sebulan telah berlalu, semakin hari kehidupan Anin dirasakannya semakin bahagia. Karena di kelilingi orang-orang yang menyayanginya. Tetapi, tidak dapat Anin pungkiri bahwa ia merasa kesepian dan merasa seolah tidak berguna. Jika selepas khursus ia hanya hidup dan tinggal sebagai ibu rumah tangga. Walaupun statusnya masih sebagai desainer di Butik MJ. Ia memang telah sebagai ipar Melisa tetapi kewajibannya sebagai desainer tetap yang masih harus menyerahkan desainnya lewat email.


Sehingga, pada suatu senja saat Darel pulang dari kantor, Anin mengajak Darel pergi sekedar jalan-jalan.


Dengan maksud ingin menyampaikan isi hatinya, tanpa di dengar oleh kedua mertuanya.


Bersambung...


...Masih ada aura pengantin baru di sini ya readers...


...Turut bahagia 😘😘😘...


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat author harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...

__ADS_1


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...


__ADS_2