
"Apakah Anin wanita yang mama pilih untukku Ma?" tanya Darel di awang - awang seolah ia merasakan bahwa mama bisa mendengar gumam di hatinya.
Di Perusahaan Darel.
Keesokan harinya, pada pukul 10 pagi. Sesuai rencana tampak seluruh dewan direksi berkumpul untuk mengadakan rapat luar biasa.
Secara aklamasi, Darel mengangkat Gerald menjadi Wakil Presdir di perusahaannya. Darel juga mengumumkan, bahwa segala pekerjaan untuk sementara ia limpahkan sepenuhnya kepada Wakil yang baru di angkatnya.
Tampak seluruh peserta rapat menyambut baik keputusan yang Darel ambil walaupun terkesan mendadak. Dan mereka pun tidak heran juga tidak keberatan, sebab mereka sudah sangat kenal dan tau bagaimana kinerja Gerald selama ini, sebagai asisten yang multifungsi dan bertanggung jawab dengan pekerjaannya.
"Selamat ya Ger." Ujar Darel pada Gerald.
"Terima kasih kepercayaannya Pa Darel." Jawab Gerald karena mereka masih di kelilingi beberapa direktur di ruangan itu. Dan saat mereka berdua sudah dalam ruangan yang hanya ada mereka berdua.
"Ger, kalau bisa kebiasaan mu ke club dan minum - minum di kurangi ya, selama jadi Wakil CEO."
Gerald hanya nyengir mendengar saran dari sahabatnya itu.
"Jika memungkinkan, luangkan waktu mu untuk menjenguk kedua orang tuamu. Jangan seperti aku." Ujar Darel memberi saran pada Gerald.
"Iya, sekarang aku juga sudah mulai intens menghubungi mama. Dan mama juga udah ga maksa aku menikah lagi dengan wanita - wanita pilihannya itu." Ujar Gerald.
"Hmm. Seandainya mama ku bisa bicara dan sembuh Ger, siapapun wanita yang di pilihkan mama untuk ku, pasti langsung aku nikahin." Ujar Darel lirih yang kembali mengingat keadaan mama nya yang masih terbaring koma.
"Sudah lah, percaya saja. Mamamu pasti sembuh. Keyakinan mu dan seluruh keluarga yang akan membuat mama mu kembali." Ujar Gerald menguatkan.
"Kita makan siang dimana nih hari ini. Kamu ga berniat traktir aku gitu, setelah naik jabatan?" canda Darel pada Gerald.
"Bukannya kamu juga naik jabatan sebagai presdir di perusahaan raksasa milik keluarga Aswindra." Canda Gerald tak mau kalah.
"Hahahahaa... haruskah kita berdua mengadakan makan malam romantis di sebuah restoran mewah, di hiasi lilin dan lampu temaram di pinggiran pantai?" canda Darel.
"Cie... sejak kapan lu punya ide norak macam itu. Kamu tidak sedang ingin melamar ku kan Darliiing." Ucap Gerald dengan menirukan suara wanita.
"Hahahahaaa... jijik tau ga kamu gitu!!!"
"Lagian siapa yang mancing duluan?" ujar Gerald.
__ADS_1
"Ya, udah kita makan di kantin Butik yuks, kali di sana ketemu Anin." Darel keceplosan.
"Nah, ada apa loe ama Anin hah?" Darel cuma nyengir dan sudah tidak berniat menyembunyikan perasaannya lagi dari Gerald.
Sambil mereka berdua pun menuju Kantin sebelah Butik MJ Darel pun menceritakan perasaannya terhadap Anin, pada Gerald. Termasuk kebohongannya menggunakan nama Gerald saat chat dengan Anin.
"Wah, untung cepat ngaku. Padahal rencana, pas kamu tinggal nanti , ku mau pendekatan tuh sama si Anin." Canda Gerald.
"Jangan loe babat juga dong si Anin Ger, loe masih banyak kan stok cewek. Lah gue, kamu tau sendiri. Gue susah move on."
"Ya, kalo Anin emang maunya sama aku dari pada sama kamu. Aku bisa apa?" jawab Gerald enteng.
"Ya justru ini Anin, bakalan ku tinggal, ke Bandung. Cukup kamu jaga dia lah untukku, tapi jangan di embat."
"Ya, bilang dong ke orangnya supaya selama kamu tinggal jangan naksir sama aku, kamu tau kan pesona dalam urusan mendapatkan wanita, jauh lebih darimu." Ucap Gerald menyombongkan diri.
"Pe-De mu itu emang tingkat dewa ya Ger. Emang Anin suka sama kamu?" tanya Darel yang mulai Kesal.
"Ya.. ntar ku coba tembak deh, kali aja kena." Jawab Gerald santai yang kini mobil mereka sudah terparkir dengan sukses di halaman kantin Butik MJ.
"Nyesel gua curhat kalo gini, bukannya solusi malah jadi rival." Ujar Darel yang menganggap serius semua ucapan Gerald.
"Iya juga sih, tapi aku kan gengsi kalo tiba-tiba chat dia sebagai diriku sendiri." Ujar darel membela diri.
"Kenapa? Malu karena dia orang biasa? Karena dia hanya seorang asisten? Dar, cinta itu ga kenal gengsi, cinta itu ga bisa milih jatuhnya ke siapa dan kapan. Dan itu ga bisa di rekayasa. Rasa itu ngalir gitu aja, tanpa aba - aba." Gerald menasehati sahabat setianya ini.
"Iya, kemaren kan aku terkecoh dengan hadirnya si Felysia itu. Tapi sekarang tuh, rasanya aku lebih ketar - ketir sama Anin." Jawab Darel jujur.
"Udah ah, ketar ketir lu, karena lapar aja kali. Buruan masuk. Ngapain coba kita lama - lama ngobrol di mobil kayak gini."
Darel dan Gerald pun turun memasuki Kantin yang keadaanya cukup ramai, karena memang mereka datang dia saat jam makan siang berlangsung.
Darel dan Gerald sengaja duduk di tempat yang biasa saja walau di posisi pojok, mereka senang di tempat yang biasa di bandingkan di ruang VIP, supaya mereka bisa melihat banyak pemandangan yang segar untuk santapan mata jomblo mereka.
Pada suapan terakhirnya, Darel melihat segerombolan wanita - wanita yang tampak berjalan menuju kantin itu.
Dengan di halangi kaca pembatas koridor dan ruang kantin itu, Darel bisa dengan jelas melihat, bahwa itu benar benar Anin gadis yang memang ingin di temuinya.
__ADS_1
Yang lagi - lagi di rindukanya, padahal baru semalam ia jumpai saat makan malam di rumah Anin. Ia tampak asyik berbicara dengan serius dengan beberapa wanita yang salah satunya adalah Wilna sekretaris Melisa, yang pasti sangat di kenalnya.
Gerald yang melihat perubahan wajah Darel langsung menoleh melihat siapa yan Darel lihat di belakang tubuhnya. Seketika, Gerald mengangkat tangannya ke arah gerombolan wanita itu dan memanggil nama salah satu dari mereka.
"Anin!!" sontak Anin mencari asal suara yang memanggil namanya.
Lalu Anin tersenyum setelah menemukan asal suara yang memanggil namanya itu. Kemudian tangan Gerald pun melambai memberi isyarat agar Anin bergabung dengan mereka di pojok ruangan itu.
Dari kejauhan pun Anin tampak mengangguk setuju, dan menunjukan ke arah teman teman yang bersamanya. Lagi, Gerald pun mengangguk tanda setuju. Mungkin yang di maksudkan Anin adalah bagaimana dengan beberapa teman yang bersamanya. Apakah boleh di ijinkan di bawa serta untuk bergabung makan di tempat yang sama.
"Anin, itukan Pak Gerald dan Pak Emil Kamu sudah kenal?" tanya Wilna pada Anin, yang tidak tau perkembangan kedekatan Anin selama ini karena sebagai asisten model.
"Iya, kami sudah sering bekerja sama dengan perusahaan mereka. Aku kan juga sebagai asisten Felysia, model Butik ini." Jelas Anin sambil mulai sibuk mengambil beberapa makanan yang menggugah seleranya pada hamparan sajian prasmanan yang tersedia di kantin itu.
"Oh iya, ya. Aku lupa kalo kamu juga kerja sebagai asisten model." Ujar Wilna lagi.
Bersambung
...Ciee readerkuh...
...Gimana dah makin seneng donk Darel makin deket sama Anin....
...Udah mulai nyetrum - nyetrum inih šš...
...Mulai besok dosis kembali normal yah...
...Cukup 1x1 supaya stok author aman....
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat autor harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
__ADS_1
...Biar makin semangat...
...Terima kasih...