
"Abang, makin kepo. Udah dulu ya... Anin mau siap siap beraktivitas pagi ini. Assalamualaikum." Anin mengakhiri sambungan telepon itu.
Darel mengusap kasar wajahnya.
Belum selesai rasa gugupnya menghadapi ayah Anin dan Jovan, bahkan belum di jawab dengan jelas oleh mereka,. Darel kembali di hadapkan dengan kenyataan bahwa jodoh Anin pun sudah di siapkan. Padahal baru saja ia ingin bersorak bergembira atas putusnya hubungan Anin dan Bimo. Akhirnya, ia hanya bisa tertidur dalam keadaan hati yang sangat kacau.
Beruntung Darel selalu menyetel alarm pada ponselnya agar tidak pernah melewatkan sholat subuh nya. Sehingga walau baru terlelap beberapa jam yang lalu ia tetap bisa bangun pagi.
Setelah sholat, Darel nampak keluar rumah sekedar ingin menikmati udara sejuk, bersih dan nyaman di desa itu. Ia melihat ayah Anin pun keluar menuju halaman. Sehingga keduanya pun bersepakat untuk jalan pagi di sekitar desa itu.
"Bagaimana tidurmu semalam... nyenyak?" tanya ayah pada Darel.
"Lumayan lah..." Jawabnya seadanya.
"Kenapa...tempatnya terlalu sederhana, tidak semewah kamar mu...?" tanya ayah lagi.
"Tidak, bukan begitu pa. Tidur di tempat bagaimanapun akan selalu enak, jika suasana hati sedang senang. Tapi...lamaran ku semalam belum mendapat jawaban yang jelas." Darel memberanikan diri.
Ayah Anin tidak menanggapi ucapan Darel, karena kini tampak seorang lelaki gagah juga sedang berjalan pagi, melangkah ke arah mereka.
"Pagi pa, makin sehat ya pa." Ucapnya penuh hormat sambil mencium punggung tangan ayah Anin.
"Iya, Alhamdulillah nak. Bagaimana rencana pernikahannya sudah rampung...?" tanya ayah yang terlihat akrab dan perhatian pada pria yang sepertinya Darel kenal tetapi lupa di mana ...?
"Ya... sudah masuk ke penyerahan persyaratan di bagian SUMDA Polres Batu. Jadi tinggal tunggu panggilan sidang Pranikah. Untuk Ijab Qobul dan Resepsi kemungkinan di laksanakan di Solo sesuai permintaan Ibu." Jawab pria itu
"Bimo...apakah ini Bimo, pria yang ada di wallpaper pada ponsel Anin waktu itu." Batin Darel bergejolak.
"Wah... Cepat juga prosesnya ... ya. Bapak doakan semoga semuanya lancar ya Nak. Selamat berbahagia selalu, semoga Samawa." Ucap ayah dengan tulus.
"Amin. Bapak... sedang dengan siapa?"
"Oh, ini kenalkan Emil calon suaminya Anin." Ucap ayah Anin dengan santainya. Membuat lobang hidung Darel mengembang mengempis dengan sendirinya, karena ke Ge-eR an dong.π
Segera Darel mengulurkan tangannya ke arah lelaki yang ia yakini adalah Bimo, itu dengan penuh percaya diri.
"Oh, senang bertemu dengan pria pilihan Anin.
Anin gadis yang baik dan berpendirian kuat, kamu beruntung mendapatkannya, salam buat dia ya...!" seru Bimo nampak tulus.
"Iya... terima kasih." Hanya itu yang mampu Darel ucapkan pada Bimo.
__ADS_1
Kemudian, Bimo pun pamit untuk melanjutkan joging nya yang sempat terhenti karena obrolan tadi.
"Pa... apa itu Bimo, mantan kekasih Anin?" tanya Darel pelan pada ayah.
"Iya." Jawab ayah singkat.
"Pa... yang bapak katakan padanya tadi benarkan?" tanya Darel lagi.
"Yang mana...?" tanya ayah pura-pura tidak tau.
"Yang bapak bilang, aku calon suaminya Anin." Jawab Darel makin dengan nada tinggi karena kesenangan.
"Hmm..."
"Benarkan Pa...??"
"Hmmm..."
"Artinya aku di terima pa...???"
Kali ini ayah menoleh ke arah Darel. Melirik tajam ke arah Darel yang baginya seperti anak kecil baru mendapat ijin di belikan mainan baru.
"Iya...tapi ingat. Jangan buat Anin ku kecewa. Jangan sekali kali kau buat dia menangis karena penderitaan, pengkhianatan juga penganiayaan darimu. Dan satu lagi, tetap lindungi dia, hormati wanita yang sungguh-sungguh ingin kau minta menjadi ibu dari anak-anakmu kelak. Jangan sampai melewati batas!!!"
Ucap ayah dua kali panjang tambah lebar (rumus keliling donkπ€)
Seketika Darel meraih tangan ayah Anin untuk di genggamnya lalu berkata : "Janji... iya aku berjanji akan memenuhi semua yang bapak minta."
"Sudah lah... biasakan panggil ayah saja, agar sama dengan mbak Winda menantu ayah." Pinta ayah Anin.
"Baik...ayah." Ujar Darel patuh.
"Apakah, kamu berniat menikahi Anin dalam waktu dekat Mil...?" tanya ayah.
"Tentu saja tidak, belajar di Paris adalah keinginan terbesar dalam hidup Anin. Dan, aku juga sangat mendukung impiannya itu. Maka, ku bebaskan saja dia menjalani hal yang dia inginkan. Sebab, aku tau. Bahkan sejak dulu ia jarang menikmati hidup sesuai dengan keinginannya." Jelas Darel bijak.
"Sepakat...!!! ayah juga berkali-kali meminta maaf pada Anin, karena ayah sakit dan tidak mampu. Anin tidak bisa menjalani hidupnya dengan normal."
"Tidak ayah, bukan karena ayah. Hanya memang ini garis takdir yang menjadi bagiannya. Yang penting kedepannya, yang ia rasakan hanyalah kebahagiaan."
"Ayah, percayakan kebahagiaan Anin sepenuhnya padamu. Jangan merusak kepercayaan yang sudah ayah berikan seluas-luasnya padamu."
__ADS_1
"Siap...ayah. Terima kasih kepercayaannya.
Ayah... aku boleh menyusul Anin ke Paris...?" tanya Darel memberanikan diri.
"Mau ngapain...?" tanya ayah penuh selidik.
Dengan cepat Darel berbisik di telinga ayah Anin.
"Kangen sama anak ayah." Ujarnya sambil terus tertawa senang.
Ayah melotot ke arah Darel, lalu meminta Darel mendekat ke arahnya lagi, tak kalah berbisik.
"Kangen boleh, tapi jangan sampai kebablasan."
Di sambut derai tawa keduanya. Yang sepertinya memang telah saling selesai bernegosiasi.
Sulit bagi Darel untuk melukiskan betapa senang dan bahagia hatinya, saat tau kini ia telah mengantongi restu dari ayah Anin, wanita yang memang telah sangat di gilainya itu.
Kini, ia telah kembali ke Bandung. Kembali pada rutinitas perusahaan Aswindra group yang memang telah sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya. Kedua orang tuanya pun telah berada di tanah air. Mama sudah dapat beraktivitas dengan normal, beliau kembali menjadi ibu yang ceria juga cekatan untuk mengurus urusan rumah tangga. Terutama kecerewetannya dalam hal mengingatkan anaknya untuk tidak memporsir waktu nya untuk bekerja dan selalu bekerja. Tetapi, harus juga memperhatikan kesehatannya.
Sementara, sang ayah memang tampak sengaja tidak membantu pekerjaan putra kesayangannya itu. Untuk sekedar melatih mentalnya untuk menjadi pria yang pantang menyerah terhadap suatu tanggung jawab.
Mama dan papa, hanya tampak sesekali pergi berdua untuk sekedar mengawas pembangunan panti jompo, seperti yang telah papa Darel rencanakan waktu itu.
Mereka tampak serius ingin menikmati masa tua mereka dengan pengabdian di bidang sosial. Sebagai wujud syukur mereka, atas kesempatan menikmati hidup yang tergolong mampu bahkan berlebihan dari yang mereka kira sebelumnya. Mana mereka tau, jika ternyata perjalanan rejeki hidup mereka, pelan-pelan telah mengantarkan mereka pada kehidupan yang sangat layak.
Hingga, pada awal bulan di bulan ke tujuh pada tahun itu. Papa memanggil Darel menemuinya di ruang kerjanya yang terdapat di bagia tengah rumah mereka. Tidak biasanya papa memanggil Darel untuk bicara di ruang kerja seperti itu. Bahkan tampaknya, pembicaraan itu hanya mereka lakukan, empat mata.
Bersambung...
...Nah...ada masalah apa lagi siih iniiih...???...
...Mohon dukungannya π...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih ππβοΈπΉ...
...seikhlasnya yaa...
__ADS_1