DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 140 : RUTINITAS BARU ANIN


__ADS_3

Untaian doa Anin pun tak kalah menguar dalam hatinya. Merasa puas dan lega satu masalah dalam rumah tangganya mampu mereka lewati dengan kepala dingin.


Walau ayah, mama, dan papa Darel sepertinya berusaha mempercayai cerita Darel. Tidak serta merta mereka langsung bersikap manis pada Darel. Bagaimana pun hati mereka sempat luka karena kesalahpaham itu.


Demikian juga dengan Anin. Di sela-sela waktu sendirinya yang masih harus menginap di rumah sakit. Terkadang ia masih tampak melamun.


Dan Darel sedikit demi sedikit mulai berubah menjadi pribadi yang agak peka.


Ia berinisiatif meminta kiriman file video yang sudah di kantongi oleh Gerald. Dan menunjukkan bukti itu pada Anin.


Pagi menjelang, tampak Anin telah rapi dan lebih bugar dari hari kemarin. Ia tampak begitu bersemangat untuk bertemu baby Aluna di ruang khusus bayi. Darel tak kalah bersemangat mendorong kursi roda istrinya menuju ruangan bayu mereka.


Ketika memasuki ruang khusus itu, mendadak dada Anin bergemuruh dan terasa sesak tatkala matanya di suguhkan pemandangan deretan boks menyerupai kontainer kecil di lengkapi dengan kubah plastik bening.


Ya itulah inkubator, sebuah alat yang dapat memastikan kondisi lingkungan yang ideal bagi bayi prematur, dengan membiarkan suhu disesuaikan secara manual atau memberikan penyesuaian otomatis berdasarkan perubahan dalam suhu bayi.


Alat ini dapat mengatur kelembapan udara untuk menjaga integritas kulit dan bahkan dilengkapi dengan lampu khusus untuk mengobati penyakit kuning neonatal yang umum pada bayi baru lahir.


Belum ada batasan waktu bagi bayi prematur untuk tinggal di inkubator.


Mungkin memerlukan waktu tambahan untuk mengembangkan paru-paru dan organ vital lainnya, seperti mata dan gendang telinga yang mungkin sangat sensitif sehingga cahaya dan suara normal akan menyebabkan kerusakan permanen pada organ-organ ini.


Selain itu, bayi yang lahir sangat awal tidak akan memiliki waktu untuk mengembangkan lemak tepat di bawah kulit dan akan membutuhkan bantuan untuk menjaga diri mereka hangat dan hangat.


Betapa perjuangan Aluna belum berakhir untuk hidup.


Ada buliran bening mengalir di pipi Anin. Ada sedikit penyesalan di hatinya, saat menyadari betapa ia tidak dapat menguasai emosinya.


Perawat mendekati Anin untuk meminta Anin memeras ASInya, sebab sebaik-baiknya susu formula jenis apapun dan semahal apapun tetap tidak bisa menyaingi istimewanya air susu seorang ibu.


Di sela kesedihannya, mereka pun harus tetap bersyukur sebab baby Aluna termasuk bayi yang kuat dan sehat. Untuk organ bagian dalamnya semua baik, mungkin hanya sampai menunggu berat badannya normal baby Aluna sudah boleh di bawa pulang.

__ADS_1


Anin hanya memerlukan waktu 3 hari untuk di rawat sebab ia melahirkan secara normal. Berbeda dengan baby Aluna, berat badannya masih di pantau. Membuat Anin harus setiap hari ke rumah sakit untuk mengantar ASi juga memantau perkembangan baby Aluna.


Yang telah menjadi rutinitas barunya pasca melahirkan.


Suasana itu terus berlangsung setiap harinya.


Hampir setengah hari Anin habiskan di rumah sakit. Untuk memberikan ASInya. Hanya baby Aluna sudah terlanjur kenal dan biasa dengan ****** dot. Sehingga baby Aluna tetap mendapatkan ASI tetapi tidak langsung dari sumbernya. Anin menjalani hidupnya dengan keyakinan bahwa ia pasti bisa melewati semuanya dengan baik.


Raut wajah Anin memang tidak pernah menunjukkan kemarahan dan kekesalan atas perjalanan hidup yang kini mereka jalani.


Tetapi Darel menjadi semakin mengerti akan perasaan hati istrinya.


Hingga pada suatu sore, saat Anin baru saja tiba dari Rumah Sakit. Anin melihat Santy telah duduk di teras rumah mereka.


Anin melirik tajam pada Darel yang ada di balik kemudi. Darel bahkan membalas tatapan itu dengan tak kalah heran.


Tetapi, bukan Anin namanya jika tidak berani menghadapi masalah dan kenyataan.


Belum sampai depan pintu Anin melangkah. Tubuhnya telah di dekap erat olah Santy.


"Anin... maafkan aku." Ucap Santy terdengar sungguh-sungguh.


"Sudah lah Kak. Aku sedang tidak ingin membahas masalah yang telah berlalu. Dan terima kasih berkat kakak. Aku bahkan sudah sah menjadi seorang ibu yang sempurna sekarang." Ucap Anin yang masih tidak bergeming dalam pelukan Santy.


"Tidak Anin aku benar-benar menyesal telah berbohong padamu. Sungguh antara aku dan suamimu tidak ada hubungan apa-apa. Dia pria setia Nin. Bahkan saat kami bertemu ia selalu memujimu dan mengatakan betapa ia mencintaimu." Tangis Santy pecah masih dengan meluk Anin dengan erat.


"Kak Santy... secara pribadi aku sangat bersyukur pernah dipertemukan dengan mu. Sungguh langit memang tak selalu biru. Terima kasih pernah menjadi penolong dalam hidupku saat di Paris, bahkan atas fitnah yang Kak Santy sampaikan hingga aku shock dan melahirkan sebelum waktunya. Ka Santy sungguh telah memporak-porandakan hidupku. Ku beri kesempatan untuk Kak Santy, jika ingin sekali lagi menghancurkan hidupku. Kejarlah pria yang kau inginkan bahkan mungkin itu suamiku sendiri. Aku merasa cukup memiliki baby Aluna." Ucap Anin ketus sambil melepas pelukan posesif Santy. Kemudian berlalu dengan kasar tanpa menoleh ke arah Santy dan Darel sekalipun yang sedari tadi mematung melihat interaksi keduanya.


"Darel... sungguh maafkan aku. Dan tolong jangan bawa kasus ini ke ranah hukum. Aku siap menjauh dari hidup kalian, bahkan siap lenyap dari muka bumi ini." Kali ini Santy memohon pada Darel.


"Sudahlah. Semoga istriku benar benar memaafkanmu dari hatinya. Untuk urusan ini di bawa ke ranah hukum atau tidak... itu tergantung gerakanmu. Jika memang berbuat ulah sekali lagi. Aku pastikan seumur hidupmu akan kau habiskan di penjara." Ancam Darel.

__ADS_1


"Tolong sekali saja...percaya padaku. Sumpah!!! Ini adalah pertemuan kita yang terakhir. Aku tidak akan merusak rumah tangga kalian dalam bentuk apapun. Dan jika kita bertemu di tempat lain, berlakulah seolah kita tidak pernah saling kenal." Ujar Santy dengan sungguh-sungguh kemudian beringsut undur diri dari kediaman Darel.


"Tidak perlu banyak bicara. Kami perlu bukti." Ucap Darel yang dengan angkuhnya melangkah masuk ke rumahnya dengan perasaan yang kembali berkecambuk.


Darel masuk ke kamar mendapati istrinya yang tidak ada di sana. Mata Darel sudah berkeliling menjelajah seluruh ruangan itu, tetapi tetap tidak ia temukan.


Gemericik suara air samar terdengar dari dalam kamar mandi di kamar tersebut.


Segera ia membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak di kunci. Dia dapati Anin tampak basah dengan pakaian lengkap di bawah guyuran shower, memberi kesan sexy membuat Darel berkali-kali menelan salivanya. Melihat pandangan yang telah lama tidak ia lihat.


Mendadak dadanya bergemuruh, berdegub kencang tidak karuan. Dengan langkah frustasi dan meremas rambutnya sendiri ia mendekati Anin yang masih tampak asyik menikmati guyuran air shower itu.


"Mom..." Ucapnya lirih sambil membuka pelan kancing kemeja yang masih melekat di tubuh Anin.


Bersambung...


...Eng...Ing...Eng...


...Apa yang akan Darel lakukan pada Anin...


...Yuuks... kita simak di Eps selanjutnya...


...VOTE...


...LIKE...


...GIFT...


...KOMEN...


...Yang banyak ya... 🙏...

__ADS_1


__ADS_2