
Sementara di salah satu meja pengunjung, tampak dua orang bergandengan berjalan terburu-buru ke arah luar acara itu berlangsung.
Mereka adalah pasangan Bimo dan istrinya. Yang entah mengapa saat special performance dari sepasang pengantin yang sangat berbahagia itu sangat membuat gusar seorang pria bernama Bimo Aswatama. Yang sejak tadi memang tampak tenang menikmati syahdunya suasana malam resepsi pernikahan Anin dan Darel. Dengan menenggak beberapa gelas minuman beralkohol yang memang tersaji pada acara resepsi itu. ( Apa yang terjadi selanjutnya tentang kedua pasangan ini, akan di ceritakan pada Novel selanjutnya ' Ijinkan Aku Memiliki Hatimu )
Suasana pesta resepsi Anin dan Darel memang hampir bisa di katakan sempurna dan megah. Tidak hanya kedua mempelai yang merasakan kebahagiaan itu. Tetapi semua tamu, sabahat terlebih ayah Anin juga kedua orang tua Darel.
Mereka mengakui betapa Darel yang tidak peka akan perasaannya terhadap Anin. Tetapi semua termaafkan atas, sikap dan tanggung jawab Darel dalam meyakinkan hati Anin juga telah mampu mempersiapkan perhelatan akbar ini dengan baik.
Tentunya semua kesuksesan ini tak lepas dari bantuan sahabat sejatinya Gerald. Yang ternyata pada malam itu pun hadir dengan seorang sekretarisnya Elianora, wanita yang di perkenalkan mamanya untuk menjadi pendamping hidupnya. (Di sesson lain mungkin author merasa perlu babat tentang kisah cinta Gerald)
Hiruk pikuk pesta telah usai.
Serangkaian acara demi acara pun telah terlewati dengan lancar sesuai harapan. Para tamu undangan, kerabat, sahabat dan semuanya pun telah kembali ke rumah masing-masing.
Hanya beberapa OB dan kru dari WO yang bertugas membersihkan sisa pesta yang masih tampak menjalankan tugas mereka.
Darel dan Anin kini sudah berada dalam sebuah kamar hotel yang sudah jauh-jauh hari Darel persiapkan.
Jika siang tadi mereka sempat ingin tidur beristirahat untuk melanjutkan acara resepsi, kamar itu hanya terlihat bersih dan besar. Tetapi tidak dengan malam ini. Darel benar-benar ingin menjadikan malam itu menjadi malam pertama yang paling romantis dan tidak akan mereka lupakan sepanjang hidup mereka.
Sepeninggalan mereka pada saat resepsi tadi, kamar itu telah di sulap menjadi kamar yang sangat cantik. Sebuah kamar yang di hiasi cahaya lilin menguatkan cahaya temaram di sana. Beberapa kelopak mawar juga beberapa kuntum merah berani bertebaran membentuk sebuah simbol hati. Serta tampak di sana lipatan handuk putih berbentuk dua angsa putih tampak terhampar di atas ranjang pada bagian tengahnya. Juga wewangian cinnamon begitu menusuk menyeruak memenuhi kamar pengantin mereka malam itu.
Malam yang akan mereka jadikan malam paling indah dan bersejarah, berhentinya penantian keduanya dalam menunggu waktu untuk benar-benar bersatu.
Anin sangat terpukau dengan dekorasi yang terpampang di depan matanya. Dengan tidak ada rasa canggung dan malu, kini Anin yang lebih dahulu menubruk tubuh suaminya, melingkarkan lengannya pada leher suaminya, sambil berbisik di telinga Darel.
"Bee...terima kasih untuk semuanya. Aku bahagia menjadi wanita yang kau pilih menjadi istrimu."
__ADS_1
Darel tidak dapat menjawab ucapan itu, sebab sejak siang pun ia sudah sangat ingin menerkam serta melahap tubuh wanita yang kini memang telah sah menjadi miliknya.
Kedua insan di mabuk cinta itu, sudah terbenam dalam suasana romantis yang tidak dapat di lukiskan dengan kata, decakan - decakan bersahutan terdengar begitu berirama keluar dari mulut keduanya, akibat pertautan bibir yang sudah semakin rakus dan mulai memanas.
Satu persatu tuksedo, rompi, dasi bahkan kemeja Darel sudah tampak berceceran tidak beraturan di lantai kamar hotel itu. Tidak jauh berbeda dengan gaun pengantin yang tadi terbalut rapi pada tubuh Anin, sudah tampak berada di ujung kaki Anin.
Ada semburat rasa malu menyeruak dalam hati Anin. Saat ia menyadari jika kini tubuhnya hanya di lapisi kaos dalam panjang polos tipis pada tubuhnya dengan perlengkapan pakaian dalam yang masih melekat tentunya.
"Bee... badanku masih terasa lengket karena keringat. Aku mandi dulu ya. Biar segar dan wangi."
"Tapi ini sudah malam banget mom." Jawab Darel yang memang telah terlanjur on akibat ciuman membara yang mereka lakukan tadi.
"Kan pake air panas Bee." Ujar Anin sembari melangkah menuju kamar mandi di ikuti Darel di belakangnya, sambil terus melingkarkan tangannya ke perut Anin.
"Mom...mandi bareng ya." Bisiknya tepat di telinga istrinya itu. Membuat Anin bergidik agak ngeri.
"Gantian aja, aku bentar kok mandinya." Tolak Anin yang sesungguhnya masih malu jika tubuh polosnya di lihat lelaki yang seharusnya memang telah wajar melihat semuanya.
Kini ia malah tampak sudah melepas celana panjangnya dan kini hanya menyisakan CD di tubuhnya. Sontak Anin telah diperhadapkan dengan sebuah pemandangan tubuh sempurna lelaki kesayangannya itu. Tampak dengan jelas body atletis, putih, dada bidang dan perut sixpack milik Darel terpampang nyata di sana.
Dengan cueknya, ia malah lebih dahulu masuk dalam bath up yang telah terisi air hangat. Sisa Anin yang masih bingung, apakah memilih mengguyur tubuhnya di bawah pancuran shower atau ikut bergabung dengan suaminya di dalam bath up itu.
"Kapan kamu akan melepaskan atribut yang masih melekat di tubuhmu itu mom...?" tanyanya yang masih menunggu istrinya melepas kaos dalam panjang polos yang masih menutupi semua aset berharga yang ia miliki. Dengan rasa malu yang sangat besar, Anin pun akhirnya membiarkan kaos dalam panjang itu sukses terjun bebas ke arah kakinya. Sehingga tampak satu set bra dan cd berwarna cream masih setia menempel di tubuh hitam manis itu.
Pemandangan itu tentu saja, membuat nafas Darel menderu, ada yang bergejolak bahkan meronta ingin keluar di bagian bawah sana yang telah terendam dalam air hangat. Ia pun panik, segera bangkit menarik tubuh istrinya, lagi...!!! Menerkam dan melu*** bibir ranum yang telah membuatnya candu.
Tidak ada penolakan dari Anin, walau tubuhnya masih berada di luar bak itu. Sementara tangan Anin tampak nyaman memegang tengkuk dan dagu suaminya dengan posisi menghadap Darel yang sebagian tubuhnya di dalam air. Tangan Darel tidak tinggal diam, kini tampak dengan lincahnya mengelus pelan memberi sensasi nyaman untuk istrinya. Bahkan kini telah berhasil melepas pengait bra yang masih melekat di tubuh itu.
__ADS_1
Ada senyum kecil di wajah Darel, saat kini ia melihat dada polos istrinya yang begitu terlihat sangat kencang dan sexy. Sekilas hawa panas menyerangnya... sebab ini adalah pertama kali bagi Anin, tubuh bagian atasnya seolah di pertontonkan pada seorang lelaki walaupun telah jadi muhromnya.
Darel sangat tau, perasaan wanita nya itu. Maka ia pun kembali membenamkan bibirnya, agar Anin tidak merasa sadar bahwa kini ia telah hampir bugil.
Anin, masih sangat menikmati cumbuan dari suaminya, dan terus meyakinkan dirinya, bahwa ini memang wajar bahkan wajib di lakukan sebab mereka memang telah menjadi pasangan yang halal.
Perlahan ciuman Darel berpindah ke leher juga gunung kembar milik istrinya, perpindahan isapan itu bergerak senada dengan tangan yang kini justru berhasil melucuti satu satunya kain penutup berbentuk segitiga yang masih menempel di area sensitifnya.
Anin tersadar kini tubuhnya telah benar benar polos, saat ia melihat kain penutup aset berharganya itu telah teronggok di lantai tepat di bawah pergelangan kakinya. Seketika itu, reflek ia menutup area sensitif tubuhnya dengan satu tangan ke arah dada dan satunya lagi ke arah tengah paha. Saat kepalanya tertunduk seketika itu ia berteriak dengan sangat nyaring.
"AAAARRKKH...!!!"
Bersambung...
...Halaah...Anin lebay dehπππ...
...Mohon dukungannya π...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih ππβοΈπΉ...
...seikhlasnya yaa...
__ADS_1
...Biar makin semangat...
...Terima kasih...