
"Aku Bohong jika bilang di sini bahagia... karena aku tersiksa rindu pada suamiku. Tetapi aku bangga berada disini. Terima kasih sudah mengijinkan aku melanjutkan studi yang bahkan lebih dari yang aku impikan." Ucap Anin bersungguh-sungguh..
"Tapi sejauh ini aman saja kan Mom...?" tanyanya pelan pada Anin.
"So far do Good, Bee."
"Mom... setelah lulus ini. Kita akan tinggal dan menetap di Bandung kan? Aku memintamu untuk mulai dari sekarang memikirkan, pekerjaaan apa yang akan kamu lakukan setelah lulus nanti. Sebab, aku tak suka melihat istriku uring-uringan memikirkan langkah selanjutnya. Seperti kemarin, kamu tampak seperti orang yang tidak punya tujuan mom.
Maaf jika ini menyinggung perasaanmu, sewaktu kita masih belum bersama, kamu begitu ke-keuh ingin belajar di Paris, khursus saja pun boleh asalkan di sini. Tetapi, setelah itu tercapai...kamu malah bingung dengan pekerjaan apa yang bisa kamu lakukan ketika pulang." Ungkap Darel jujur pada istrinya. Sepertinya mereka sudah semakin dewasa dalam menata rumah tangga mereka kedepannya nanti.
"Iya... maaf ya Bee. Karena ambisi ku, rumah tangga kita menjadi seperti ini. Atau semua rencana dan cita-citaku kacau karena aku menikah sebelum sukses." Anin menanggapi tak kalah serius.
"Itu bukan ambisi istriku, itu wajar saja.
Hanya... saat aku memilih untuk kuliah kemudian melanjutkan studiku di Amerika, begitu lulus aku sudah tau aku akan melakukan apa setelahnya. Berbeda dengan mu, setelah tercapai yang kamu inginkan justru bingung mau ngapain."
"Iya..sih. Ya itu tadi. Kayanya aku salah pilih cita-cita. Mestinya dulu aku cukup bercita-cita menikahi seorang CEO muda tampan dan tajir saja. tentu sekarang aku tidak perlu terpisah jarak dan waktu lagi seperti sekarang."
"Tidak... mana pernah cita-cita itu salah. Bukankah tawaran beasiswa ini datang juga karena kemampuan akademik mu yang memadai, sehingga tidak semua orang dengan mudah mendapatkan kesempatan ini. Karena itu, kamu perlu memikirkan setelah ini kamu mau ngapain dalam urusan karier. Sebab...tidak mungkin kamu telah mengorbankan perasaan kita dengan LDR seperti ini, nantinya akan kamu gunakan hanya menjadi seorang pemilik Butik seperti kak Melisa."
Cup... Anin mengecup kecil bibir suaminya yang ia rasa sudah semakin bawel tetang masa depan mereka. Kini mereka telah berada di sebuah ruang tengah apartemen milik Darel.
"Kalau menurut suami ku... kira-kira jika aku telah selesai kuliah ini aku kerja apa...?" pancingnya pada suaminya.
"Tidak usah tanya mau ku. Jika di tanya... tentu aku hanya ingin istriku di rumah melahirkan anak saja untukku. Tapi ... itu hanya mimpiku ha...ha...ha." tawa itu terdengar sangat garing di telinga Anin. Membuatnya merasa bersalah.
"Suamiku ... maafkan aku. Mestinya dari awal kau mencegahku, bukan mengijinkanku." Anin tertunduk mengenang masa mereka bergumul akan kelanjutan studi ini.
"Kamu kira aku tahan melihat istriku mendiami ku berhari-hari karena tidak berani mengungkapkan keinginannya...?"
Kini Anin malah lebih nakal dan agresif, sebab ia sudah terlihat duduk manja di atas pangkuan suaminya serta melingkarkan kedua tangannya pada perut suaminya.
"Aku sudah memikirkan ingin jadi apa setelah ini Bee."
"Boleh aku tau...?"
__ADS_1
"Memang belum pasti... tapi sedang aku usahakan."
"Apa itu...?"
"Jadi ibu dari anak-anak kita." Bisiknya sangat pelan tepat di telinga suaminya.
Hanya dengan merasakan hembusan nafas yang keluar dari lewat indra penciuman Anin saja mampu memacu adrenalin seorang Darel. Ada bagian tertentu yang menegang dan meningkatkan irama jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya.
Darel sudah tidak memikirkan apapun jawaban istrinya, yang lebih penting baginya sekarang adalah segera menuntaskan hasrat yang bisa kapan saja muncul jika berdekatan dengan wanita kesayangannya ini. Anin paham, juga sangat membutuhkan hal yang sama. Perasaan rindu, cinta, nafsu semua bercampur menjadi satu dalam hati keduanya. Sehingga mereka tidak pernah perduli dengan waktu. Yang mereka tau, selama ada waktu untuk bersama, maka gelora itu bagai gulungan ombak yang tak hentinya berkejaran menyapu bersih bibir pantai.
Satu bulan Darel habiskan hanya untuk bersantai menemani istrinya di Paris, tentu selalu memantau dari jauh semua perkembangan perusahannya di tangan Vino juga sesekali pantauan papa Felix Simon Aswindra yang masih tercatat sebagai Komisaris tertinggi di perusahaan itu.
Ada pertemuan manis yang selalu menyisakan perpisahan yang selalu membuat Anin menangis.
Cup... Darel mengecup mesra pucuk kepala istrinya berkali-kali.
"Belajar yang rajin...agar cepat pulang cintaku." Bisik Darel dengan suara pelan pada istrinya.
Kali ini Anin yang tampak enggan melepas kepulangan suaminya. Namun, ia harus tetap kuat, sebab ini pilihannya dan ia harus bertanggung jawab dengan keputusannya sendiri.
Anin memang tidak pernah mau mengambil kesempatan untuk pulang ke Indonesia saat libur sekalipun, ia tampak sungguh-sungguh dalam menimba ilmu sebanyak-banyaknya disana.
Semakin tinggi semester, semakin rumit pula pelajaran dan tuntutan tugas yang di sodorkan padanya.
Hingga saat itu di akhir semester tiganya.
Anin tampak bertekuk lutut menangis tersedu, tatkala melihat nilai ujiannya tidak memuaskan baginya. Ia bahkan tidak peduli jika kini tampak terduduk di sebuah koridor kampus itu. Lama ia sembunyikan wajahnya, tertumpu pada kedua lututnya yang bertaut.
Hingga Anin mendengar suara derap langkah kaki mendekatinya dan menepuk halus pundaknya.
"Hé qu'est-ce que tu fais ici?"
( Hei, apa yang kamu lakukan di sini?)
Pertanyaan itu berhasil menghentikan tangis Anin dan membuatnya mendongakkan kepalanya ke arah sumber suara yang menyapanya tadi.
__ADS_1
Tampak di hadapannya seorang wanita berparas sangat cantik, sexy dan tampak begitu gelamour mempesona. Rambut hitam panjang bervolume memberi kesan sempurna pada penampilannya.
Sontak Anin merasa ia hanyalah seonggok remahan rengginang saat kini tubuh mereka berdekatan, sebab wanita itu memilih duduk menghadap Anin. Dengan tatapan bingung.
Tidak ada jawaban dari Anin, karena ia masih terpukau akan kecantikan makhluk hidup di hadapannya itu.
"D'où viens-tu...?" tanyanya lagi pada Anin.
( Dari mana kamu berasal )
"Je suis d'Indonésie." Jawab Anin dengan lancar dalam bahasa Perancis.
( Aku dari Indonesia )
"Oh... haii. Aku pun berasal dari Indonesia. Boleh berkenalan denganmu...?" ucapnya dengan logat bahasa Indonesia yang sangat sempurna.
"Dengan senang hati. Aku Anindyta Kailila. Panggil saja Anin." Jawab Anin dengan nada ceria dan senyum yang sangat terkembang manis dari sudut bibirnya
"Aku Santy Kallie Nafeesa, panggil saja aku Santy." Ujarnya yang telah terlebih dahulu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan tanda perkenalan mereka dengan nada suara tak kalah ramah pada Anin.
Mereka berdua pun saling bertukar senyum saling menerima satu sama lain.
Saat mereka telah berjalan meninggalkan koridor itu, Santy kembali memulai percakapan pada Anin.
"Apa aku boleh tau ... mengapa kamu tampak begitu bersedih tadi?"
Bersambung...
...Mohon dukungannya 🙏...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih 👍💌✍️🌹...
__ADS_1
...seikhlasnya yaa...
...Biar makin semangat...