DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 69 : KANGEN MAMA


__ADS_3

Darel hanya mengangkat alisnya sambil mengangguk mencoba setuju dengan yang di sampaikan Anin. "Sungguh gadis berhati emas mulia. Aku kira dia akan ngamuk-ngamuk atau mau cakar - cakar Nicole." Batin Darel dalam hati yang sudah semakin menyadari kebaikan hati seorang Anin.


"Kamu yakin dengan keputusan mu, untuk tidak melaporkannya ke polisi?" tanya Darel memastikan.


Anin mengangguk.


"Ga nyesel, karyamu yang menang. Tapi orang yang dapat hadiah...?" tanya Darel lagi.


"Hati nya bang. Selamanya hatinya akan merasa tidak nyaman sepanjang hidup. Biar Tuhan saja yang lebih pantas memberi ganjaran padanya. Lihat saja , sampai nanti siapa yang benar benar emas murni dan mana yang imitasi, sendirinya ia kan melebur dan menyesali semua perbuatannya, yang begitu memaksakan diri."


"Nin..., aku boleh peluk kamu ga... tiba - tiba aku kangen mama." Pinta Darel terlontar begitu saja.


"Bukan muhrim bang, ga boleh!!! Kata pa haji itu dosa." Tiba -tiba saja kata itu keluar dari mulut Anin dengan logat yang terdengar lucu.


Darel tertawa garing mendengar jawaban Anin.


Dan justru membuatnya makin yakin jika Anin lah yang kini di inginkan nya, untuk menjadi pasangan hidupnya.


Tetapi, dengan suasana seperti ini. Darel merasa tidak keren untuk katakan cinta.bJadi, ia memilih menundanya dulu untuk sementara. Darel mengakui, bahwa beban yang Anin hadapi sekarang sangat berat.


Pikiran Anin cukup terporsir atas kekalahannya. Juga setelah tau kenyataan yang sebenarnya. Di luar saja ia tampak tegar, namun sesungguhnya Darel tau bahwa ia hanya mencoba untuk menguatkan hatinya.


Darel melihat waktu pada jam di pergelangan tangannya menunjukan pukul 3 sore. Iseng - iseng Darel melihat jadwal penerbangan sore ini ke Singapura. Yang ternyata ada pada pukul 6 petang. Dengan jentikan satu jari, kini Darel telah mendapatkan tiket pesawat untuk terbang ke Singapura. Setelah melihat kebaikan hati Anin, Darel sungguh merasa rindu pada mamanya. Ia ingin membangunkan mama dan mengatakan ia telah menentukan pilihannya.


"Oke, Nin. Jika kamu memang yakin tidak menyesal dengan semua keputusanmu. Kurasa, urusanku tentang karyamu ini ku anggap beres. Dan, sekarang aku pamit pulang ya."


"Baiklah, terima kasih untuk semua usaha yang abang lakukan untuk membuktikan kebenaran yang sesungguhnya ya. Jujur, aku sakit hati atas ulah Nicole. Tetapi di sisi lain aku bangga jika karyaku justru, bisa mejadi berkah untuk orang lain."


Darel berdiri dari duduknya, di ikuti Anin yang akan mengantarnya ke ujung teras itu.


"Terima kasih untuk makanan dan semuanya ya Nin. Sore ini aku akan terbang ke Singapura. Aku mau nengok mama, mau ikut?" lagi - lagi Darel menawarkan sesuatu yang konyol.

__ADS_1


"Emang Singapura itu bioskop bang?" jawab Anin dengan senyum khasnya. Yang tentunya nanti akan Darel rindukan lagi.


Darel masih menatap dalam wajah Anin, dan kali ini sungguh Darel benar benar ingin memeluk tubuh mungil hitam manis itu.


Anin masih bersidekap sambil terus tersenyum manis pada Darel. Dan Darel hanya berani mendusel pucuk kepala Anin. "Selamat belajar bahasa Perancis nya ya, semoga segera dapat panggilan dari Esmod." Ujar Darel yang sesungguhnya masih ingin berlama - lama bersama Anin.


"Iya, abang hati - hati. Sampaikan salam ku buat mamanya abang ya. Semoga cepat sadar dan segera pulih." Doa Anin pada mama darel.


"Oke siap, keep in touch ya Nin. Assalamualaikum." Pamitnya.


"Walaikumsallam." Balas Anin.


Ayah memilih diam, dan pura -pura tidak tau saja tentang semua yang mereka berdua bahas, karena sejak tadi sebenarnya nguping pembicaraan anak gadisnya dengan Emil yang katanya kekasih sahabatnya itu.


Sementara di kantor, Gerald tampak sudah tidak sabar menunggu instruksi selanjutnya dari Darel. Untuk memberi pelajaran atau menghukum pencuri seperti Nicole. Namun, sampai senja pun Gerald tidak mendapat kabar apapun dari Darel.


Di tempat lain.


Sambil mengecek beberapa email yang masuk, dari sekretarisnya di Bandung. Juga melihat jadwal kegiatannya untuk satu minggu kedepan.


Darel merasa lega, sebab tidak ada pekerjaaan yang sifatnya mendesak untuk di kerjakan di kantor sehingga mungkin ia bisa berlama- lama ikut menjaga mama di sana.


Membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam 10 menit. untuk penerbangan Surabaya - Singapura. Kini Darel sudah berada di Changi Airport. Sebelum terbang Darel tentu sudah menghubungi papanya bahwa ia akan bertolak ke Singapura, sehingga kini Darel sudah di jemput pak Topik supir pribadi papa. Sedangkan Mang Dito yang juga kecelakaan bersama mama kemarin, sudah mulai membaik pasca operasi dan kini masih dalam masa pemulihan. Dan sementara di istirahatkan dulu, sampai keadaan beliau benar benar sehat baru bisa bekerja kembali.


Sesampainya di sana, Darel memilih untuk langsung ke rumah sakit. Koper pakaiannya ia minta pak Topik yang membawakan ke apartemen papa.


Ketika Darel tiba di ruang rawat, ia langsung menghambur memeluk tubuh mamanya, Darel benar - benar rindu belaian sayang dari sang mama yang memang sangat penyayang. Dalam posisi masih memeluk mama, Darel berbisik di telinga mamanya.


"Mama, cepat bangun. Emil sudah pilih Anin untuk jadi menantu mama. Mama setuju kan? Buruan bangun, biar Emil cepet nikah. Anin ga mau di sentuh Emil sebelum dihalalin, ma. Mama ga kasian sama Emil yang harus nahan hasrat, walau cuma meluk doang.


Mama pendukung Anin garis keras kan?" Bisik Darel panjang di telinga mamanya. Lagi, air mata itu keluar dari sudut mata milik mama Darel.

__ADS_1


Keadaan mama Darel memang tampak lebih baik dari sebelumnya. Beliau masih dirawat di ruang ICU, agar kondisinya dapat terpantau secara intensif. Terdapat alat bantu pernapasan untuk menjaga laju pernapasannya. Mama Darel juga dipasangkan selang makan dan infus untuk memasukkan nutrisi dan obat-obatan. Selain itu, dokter juga telah memasang monitor denyut jantung serta kateter urine.


Untuk kepastian kapan mama sembuh dari komanya, dokter mengatakan itu akan terjadi secara bertahap. Untuk itu dokter juga meminta kepada keluarga untuk bersabar menjalani proses penyembuhannya.


Dokter juga meminta pada keluarga, untuk membantu pasien mencari hal apa yang paling pasien inginkan sebelum sakit. Misalkan sebelum sakit, pasien pernah meminta berjumpa dengan siapa, atau meminta hal apa. Kiranya keluarga dapat lebih peka untuk menstimulus proses percepatan kesembuhan pasien.


Setelah Darel lama memeluk mamanya, barulah kini Darel berjalan mendekati ayahnya. Dan melakukan hal yang sama.


Darel tampak memeluk erat papanya, entah Darel merasa malam ini ia begitu melankolis.


"Kamu kenapa? Kerjaan kantor terlampau berat ya bagi mu?" tanya papa mengira - ngira saja.


"Tidak pa, kantor aman - aman saja. Karena itu Emil merasa punya kesempatan untuk ikut menjaga mama di sini." Jawab Emil seraya melepas pelukannya.


"Di Bandung sepi, kalau di rumah ga ada mama. Ga ada yang bawel dan suka masak buat Emil." Curhatnya manja bagai seorang anak kecil yang sedang protes.


Bersambung..


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat autor harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2