DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 91 : LAMARAN


__ADS_3

Lalu, apa maksud kedatangan mu jauh-jauh ke sini...?"tanya ayah Anin yang masih penasaran dengan kemunculan Darel di Desa Bumiraya ini.


Obrolan keduanya terhenti, tatkala Winda yang penasaran dengan mobil mewah yang terparkir di halaman rumah suaminya itu.


"Ayah... kedatangan tamu, kenapa tidak di suruh masuk ke dalam rumah...?" tanya nya yang sesungguhnya kepo setelah melihat ternyata tamu ayah itu adalah seorang cogan, muda dan terlihat kaya.


"Oh, ayah terlalu asyik ngobrol sambil menikmati alam sore. Ini kenalkan mbak Winda istri Jovan." Ujar ayah memperkenalkan Darel.


Darel pun segera bangkit berdiri dan bersalaman dengan wanita berkerudung istri Jovan itu.


"Emil, teman Anin." Ujar Darel memperkenalkan diri sebab ia tau ada tanda tanya besar di wajah Winda tentang siapa tamu ayah ini.


"Oh, teman Anin. Sempat bingung tadi, kok ayah tiba-tiba punya tamu di Desa ini."


"Tadi saat mencari alamat, saya juga sempat berkenalan dengan Kak Jovan. Kebetulan dia sedang piket di kantor." Urai Darel tanpa di tanya.


"Iya, Mas Jovan piket sampai pukul 6 sore ini. Sebentar lagi akan pulang."


"Mbak, Bapak, kemungkinan saya akan menginap beberapa hari di sini, apa ada penginapan di Desa ini?" tanya Darel yang sebenarnya sudah sangat ingin mandi sedari tadi, karena merasa lelah setelah menyetir sendiri hampir seharian.


"Penginapan... ada di dekat Kecamatan daerah pasar. Tapi sebaiknya kita tunggu mas Jovan saja. Agar dia yang mengantar Emil ke penginapan." Tawar Winda pada Darel.


Darel tidak menjawab, ia tampak memandang ke arah ayah semacam meminta persetujuan.


"Iya, ikuti saja saran mbak Winda. Dan, silahkan masuk...mungkin nak Emil mau mandi dulu supaya segar. Karena telah melewati perjalanan yang cukup jauh." Kali ini ayah yang mengijinkan Darel agar boleh masuk ke dalam rumah itu.


"Mbak Winda, tolong siapkan makan malam. Agar saat Jovan nanti pulang, kita bisa makan bersama nak Emil juga." Perintah ayah pada menantunya.


Walau dengan sedikit rasa sungkan pada orang-orang di rumah itu, tetapi Darel tidak punya pilihan selain tetap meninggalkan rasa malunya karena kini yang di dalam pikirannya adalah meminta Anin jadi istrinya jika memang hubungannya dengan Bimo sudah berakhir.


Kini, mereka sudah terlihat saling bercengkrama menikmati makan malam bersama. Masakan Winda tak kalah enak dari masakan Anin. Darel sangat senang jika ia akan menjadi menantu di keluarga ini. Maka, mungkin ia harus memperkuat olahraganya lagi, sebab bisa saja ia akan kehilangan bentuk tubuh atletisnya karena selalu di suguhkan makanan lezat yang susah untuk di tolak.


Ketika makan malam selesai, tampak Jovan, ayah juga Darel berpindah tempat ngobrol.


Ayah kembali mempertanyakan maksud dan tujuan kedatangan Darel ke desa itu.


Sejenak Darel menarik nafasnya dalam, untuk menyampaikan alasannya.

__ADS_1


"Maksud kedatangan saya ke sini adalah meminta ijin pada bapak dan juga kak Jovan untuk menjadikan Anin calon istri." Dengan wajah yang bersemu merah dan degup jantung yang berdetak tidak karuan Darel memberanikan diri mengatakan hal yang sangat jauh dari perkiraannya. Tanpa memperdulikan hubungan Anin dan Bimo sebelumnya.


Ayah dan Jovan serentak menoleh melihat wajah Darel yang kini terlihat basah karena keringatnya.


Kemudian tampak senyum tipis di wajah keduanya, melihat kesungguhan yang terpancar dari wajah yang terlihat gugup itu.


"Apa kamu yakin ingin mengambil Anin menjadi istrimu...? Bahkan dia sekarang pun tidak berada di sini." Jawab ayah.


"Setidaknya saya sudah mendapat ijin dari bapak, jika memungkinkan saya akan menemuinya di Paris."


"Apa kamu tau jika Anin telah memiliki kekasih...?" pancing Jovan pada Darel.


"Iya... aku tau jika Anin kemaren telah memiliki hubungan khusus dengan Kapolsek di Desa ini. Tetapi, bukan bermaksud merusak hubungan mereka. Hanya saya ingin tetap memperjuangkan cinta saya terhadap Anin. Lagi pula, sampai detik terakhir keberangkatan Anin ke Paris beberapa waktu yang lalu pun, saya tidak melihat tanda-tanda kedekatan mereka berdua." Ucap Darel dengan berani setelah dapat menguasai rasa gugupnya. "Sumpah...sebenarnya. Mending gua presentase di depan kolega bisnis dari pada harus menghadapi dua pria ini. Tapi... demi Anin. Fase ini harus aku lewati." Darel membatin dalam hatinya.


"Apa kamu berjanji untuk menjadi satu-satunya pria yang tidak membuat Anin kecewa...?" lagi, Jovan mencari ketulusan pada diri seorang Darel.


"Insyaallah. Dan, aku selalu mengingat pesan yang bapak sampaikan lewat obrolan kami saat masih di Surabaya. Sekarang saya dalam keadaan sadar, mengakui bahwa telah tulus ingin mencintai Anin dengan segenap jiwa dan raga, berusaha menjadi satu-satunya lelaki yang akan selalu membahagiakannya." Ujar Darel dengan penuh keyakinan penuh.


Tidak ada jawaban dari keduanya.


Hanya tampak senyum di wajah ayah dan mengangkat dagunya ke arah Jovan seperti mengisyaratkan sesuatu.


"Jika memang di ijinkan, dengan senang hati." Jawab Darel dengan senyum tipis, mengartikan bahwa kemungkinan ia akan mendapatkan lampu hijau untuk memiliki Anin.


Saat di tengah malam di kamar itu, Darel memberanikan diri untuk melakukan panggilan telepon pada Anin.


"Assalamualikum bang." Sapa suara di seberang sana.


"Di situ masih subuh Nin...udah sholat?" tanyanya memulai obrolan.


"Ini baru selesai. Abang belum tidur...?" tanya Anin.


"Belum bisa tidur, banyak pikiran." Pancingnya.


"Mikirin apa siih, sampai segitunya... masalah apa? Perusahaan...?" Anin masih berusaha memberikan perhatiannya pada pria pujaannya itu.


"Mikirin lamaran ke calon mertua, takut di tolak." Jawab Darel mendramatisir.

__ADS_1


Seketika dada Anin bergemuruh, ada sepercik kesal saat mendengar jika bahkan kini Darel akan melamar seseorang. Lalu apa artinya ucapan mama Darel padanya waktu itu...? Tapi, Anin selalu berusaha untuk tenang.


"Bawa dalam doa saja bang. Selain mendapat ketenangan, Allah akan menunjukkan hidayahnya pada hubungan abang nantinya." Jawab Anin sebijak mungkin.


"Iya, makasih saran mu. Anin, bagaimana hubunganmu dengan Bimo...?" Darel akhirnya menanyakan langsung pada Anin tentang hubungan mereka.


"Oh, aku dan mas Bimo sebelum aku pergi ke sini sudah bersepakat mengakhiri hubungan kami bang."


"Hah...!!! Kenapa...?" tanya Darel bersemangat.


"Orang tuanya sudah memiliki calon istri untuknya yang berstatus sosial dan berdarah biru, sama seperti mereka." Jawab Anin apa adanya.


"Waaah... patah hati dong kamu Nin." Canda Darel yang sebenarnya senang mendapat kepastian hubungan Anin yang telah berakhir.


"Tidak juga, aku sekarang hanya ingin fokus belajar bang. Makanya, kadang pesan teks dari abang juga slow respon. Soalnya...pelajarannya lumayan susah dan perlu ketelitian dan disiplin, bang." Terang Anin tanpa bermaksud menutupi apapun dari Darel.


"Ga takut jadi jomblo seumur hidup Nin...?" Darel masih ingin bercanda dengan Anin.


"Ngapain takut... jodohku sudah di siapkan. Aku tinggal menunggu waktunya saja." Jawab Anin dengan yakin.


"Hah...kamu baru putus sama Bimo, sekarang sudah punya penggantinya...?" giliran Darel yang di buat bingung.


"Abang, makin kepo. Udah dulu ya... Anin mau siap siap beraktivitas pagi ini. Assalamualaikum." Anin mengakhiri sambungan telepon itu.


Bersambung...


...Masih Alot sodara-sodara....šŸ˜‚šŸ˜‚...


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat author harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...

__ADS_1


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...


__ADS_2