
"Ini to'ing gemukan ya dad...?" Ujar Anin yang masih merem melek menikmati ulah suaminya.
"Ga Mom. Si iteung menyempit kali, karena lama ga di garap." Jawab Darel yang semakin cepat memacu, memajukan dan memundurkan pinggangnya bak gerakan memompa dan...
"Aaahhhh..." Suara itu lolos keluar bersamaan dari mulut keduanya. Penyatuan itu telah terlaksana dengan sempurna.
Dengan pelan Darel merebahkan tubuhnya di antara Aluna dan Anin dua wanita pujaaanya.
Mencium lama kening istriya yang sudah sangat basah dilumuri peluh karena permaianan luar biasa yang telah mereka lakukan bersama tadi.
Darel tampak telentang demi menetralkan nafasnya. Menghirup banyak oksigen agar tersuplay dengan baik keseluruh tubuhnya.
Sementara Anin tampak berusaha mendudukan dirinya dengan bergeser pelan pelan dengan kekuatan tangannya.
Beranjak berdiri menuju kamar mandi, waktu menunjukkan pukul 11 malam, di mana biasanya pada jam itu Aluna akan terbangun meminta susu.
Terpaksa Anin mandi besar di malam itu, demi mengakhiri masa puasa mereka berdua.
Ya mereka berdua, sebab bukan hanya Darel, Anin pun telah sangat merindukan ritual itu.
Ada sedikit rasa pegal di pangkal pahanya, karena lama tidak melakukan itu. Tetapi kini ia seorang ibu yang telah memiliki tanggung jawab mengurus anak yang telah sangat mereka inginkan.
Di ambilnya washlap untuk membersihkan sisa ****** ***** yang masih menempel di kepala to'ing. Mengusapnya dengan lembut dan mengeringkannya dengan handuk kecil. Kemudian menyelimuti tubuh polos suaminya yang seakan terkulai tak berdaya setelah buka puasa. Hilang sudah penampakan singabperkasa tadi dan wajah garangnya saat memimpin permainan tadi. Anin tersenyum kecil melihat wajah tampan suaminya.
Kini Anin duduk di tepi ranjang mereka, sambil menggendong Aluna untuk memberinya susu. Sambil netranya bergantian memandang dua orang yang kesayanangannya dalam kamar tidurnya.
Pukul 2 dini hari, tba-tiba Darel terbangun dan mengerjabkan matanya, memastikan istri yang baru saja nampak terkulai pasrah di bawahnya tadi, kini sudah duduk dengan tegarnya, terjaga menghilangkan waktu tidurnya demi untuk memberi susu pada anak mereka.
"Mom... mulai besok dan selanjutnya Kaka tidur sama mbak ya. Supaya mommy ga harus bangun kasih Kakak susu kayak gini." Ucapnya yang baru selesai membersihkan dirinya. Kemudian memilih duduk membelai lembut pucuk kepala baby Aluna.
"Ga selalu kali Bee. Ini anak yang sangat kita inginkan, masa ia harus lengket pada si mbak."
"Ya... kakak kan nanti makin besar mom, hari ini dia bisa anteng saat kita gituan. Tapi ntar lama-lama nasib to'ing jadi taruhan mom." Ujar Darel sambil merebahkan tubuhnya de samping Anin.
"To'ing...to'ing...to'ing mulu yang daddy pikirin." Sarkas Anin
"Ga gitu mom. Nanti kan mom mulai kerja, cape donk. Kalo malam juga harus bangun kayak gini kasih susu buat kaka. Trus ngapain kita bayar pengasuh mom."
"Ga usah di hitung-hitung gitu ah Bee. Aku tau batas cape ku. Percayalah... jatah to'ing ga akan berkurang deh. Soal Aluna aku juga ga kasih 100% buat si Mbak. Ngalir aja Bee. Kita usahakan walau ada pengasuh, anak kita tetap ketergantungan sama kita."
Darel lagi-lagi mencium lama kening istri yang di rasakannya makin di sayanginya ini.
"Terima kasih sudah menjadi ibu yang sempurna untuk anak kita dan istri yang luar biasa untuku." Ucap Darel tulus.
__ADS_1
"Bukan begitu Bee. aku adalah wanita biasa yang di cintai lelaki luar biasa. Jangan berhenti terus belajar mencintaiku ya Bee." Pinta Anin tak kalah tulus dengan ucapan suaminya.
"Selalu saling belajar memahami dan menerima. Jadikan aku satu-satunya tempat ternyaman untukmu bersandar ya mom. Dengan seluruh jiwa ragaku, aku akan selalu menjadi pelindungmu...eh kalian. Permata dalam hidupku."
Giliran Anin yang mendekatkan bibirnya untuk mengecup suaminya.
"Mom... trauma ga sih melahirkan... sakit banget ya?" tanya Darel tiba-tiba.
Saat Aluna sudah Anin letakan di ujung dekat dinding. Agar ia dan suaminya bisa tidur saling menempel dan berpelukan satu sama lain.
"Melahirkan itu sakit Bee, tapi ga sakit banget mungkin karen Aluna kecil sekali jadi mudah keluarnya. Tapi... kemaren, hatiku yang lebih sakit, membuat aku agak drop. Karena mentalku yang ga siap melahirkan.Tetapi... Alhamdulilah sudah kita lalui." jawabnya sambil menyusup jarinya pada jari suaminya.
"Jadi mom... masih mau kan nambah anak lagi." tanya Darel absurd.
"Ya mau lah Bee... tapi nanti tunggu Kaka umur 1 tahun lebih lah."
"Apa ga terlalu dekat jaraknya? Dua tahun lah." Tawar Darel lagi.
"Ga papa... kalo melahirkan normal 3 bulan juga bisa hamil lagi kok Bee. Sedikasihnya aja kali ya Bee. Kaya Aluna kemaren."
"Mom... si kaka Aluna nanti di kasih adik berapa...?" tanya Darel lagi.
"Mungkin 4 atau 5 kali ya Bee. Baru kita tutup pabriknya."
"Yakin... suamiku itu bibit ungul. Dia tampan, cerdas, kaya, dan penyanyang. Jadi perlu di perbanyak spesies macam ini."
"Aaah mom. Punya anak satu ini aja sudah susah berselancar, gimana mau punya 6 anak...?"
"Ya... kan daddynya tajir melintir. Cari aja pengasuhnya. Kita juga jadi bisa buka lahan pekerjaan buat orang lainkan.
Ingat ya Bee... selama aku jadi istrimu. Isi rekeningmu belum geser digitnya."
"Iya... itu karena istriku terlalu irit. Tapi semoga besok pas di Paris, dia mau banyak belanja."
"Apa yang mau di beli Bee. Cuma mau wisudaan ini. Trus kita pulang."
"Mom...mobil mu kemaren udah di kasih ke mas Jovan kan. Daddy belikan mobil terbaru ya...sebagai hadiah udah jadi mom yang sesungguhnya. Buat mom pake ngampus."
"Terserah daddy aja kalo urusan begituan. Daddy bisa panggil anak panti buat doa aja aku dah seneng Bee."
Darel kembali menghujani istriya dengan ciuman kecil di seluruh permukaan wajah istrinya, kelopak mat, kening, hidung, dagu semuanya. Ia merasa benar-benar bahagia memiliki Anin wanita sederhana yang memiliki hati tulus seluas samudra.
"Mom nanti... apa ga malu punya banyak anak mom...?"
__ADS_1
"Ya ga papa kalo punya cuma banyak anak, kan juga banyak rejeki. Kecuali suaminya yang banyak itu parah Bee."
"Ya iyalah... enak aja mau punya banyak suami. Emang ada pria lain yang bisa menandingi aku?"
"Hallah sombong amat."
"Bercanda lah mom."
"Iya suamiku sayang. Untuk sementara tidak ada lelaki lain yang mampu membuat aku goyah untuk mengalahkan cintamu di hatiku Bee."
"Subhanallaah... so sweet banget deh.
Istri ngomong gini bikin aku mau beri dia lagi."
"Beri apaan...?" mata Anin membeliak kearah suaminya.
Tidak ada jawaban.
Darel sudah kembali sibuk melucuti pakaian nya dan pakaian istrinya. Untuk kembali beradu ilmu kanuragan.π
"Yang tadi apaan Bee?" tanya Anin
"Tadi baru takjil nya mom, makanan pembuka. Ini baru makan besarnya. Kita berenti sampai adzan subuh berkumandang ya mom. Biar sekalian sholat berjamaah."
Anin hanya bisa berdoa semoga kali ini sukses agar tidak dapat gangguan dari baby Aluna.
Bersambung...
...Bayar rapelan kayaknya si to'ing mah...
...πππ€π€...
...Tamat di depan mataππ...
...Pliiis BOOM...
...VOTE...
...LIKE...
...GIFT...
...KOMEN...
__ADS_1
...Yang banyak ya... π...