
Seketika itu, reflek ia menutup area sensitif tubuhnya dengan satu tangan ke arah dada dan satunya lagi ke arah tengah paha. Saat kepalanya tertunduk seketika itu ia berteriak dengan sangat nyaring.
"AAAARRKKH...!!!"
"Kenapa mom...?" tanya Darel yang tentu saja sangat terkejut karena teriakan Anin.
Anin duduk berjongkok di luar bath up, untuk menghindari tatapan mata suaminya saat tak ada sehelai benang pun menutupi tubuhnya itu.
Kemudian mengangkat kain berbentuk segitiga yang tadi ia kenakan. Kemudian berkata : "Bee...aku haid."
Seketika itu juga Darel menelan salivanya kecewa. Menyadari jika malam pengantin yang telah ia rancang dengan sempurna harus mengalami penundaan. Bersama dengan itu, seolah mengerti to'ing yang sejak tadi beranjak bangun pun berangsur menciut tidak bergelora seperti siang tadi.
Anin melihat rona kecewa di wajah suaminya, kemudian memasang kembali kaos dalam panjang yang ia lepas sendiri tadi. Untuk menutupi tubuhnya kemudian beranjak berdiri menikmati guyuran shower di kamar mandi itu.
"Maaf ya Bee... tamu ini membuat aku ga bisa bayar cicilan." Candanya pada suami yang sangat terlihat frustasi.
"Lama ga mom...?" tanyanya yang kini mulai menggosok tubuhnya di dalam bath up. Sementara Anin pun sudah terlihat sibuk menyabuni seluruh permukaan kulitnya.
"Biasanya 7 hari Bee." Jawab Anin dengan santainya.
"Busyet dah... ngantri lagi kalo gitu. Besok kita langsung ke Bandung aja ya mom. Kita percepat acara apa tuh... yang di bilang mama?"
"Ngunduh Mantu Bee..."
"Iya itu. Agar saat tamu mu itu masih betah main, kita sibuk di acara. Jadi aku ga ngerasa bosan untuk menunggu." Ucap Darel jujur.
"Iya... aku setuju saja. Lebih cepat selesai acaranya berarti aku bisa cepat ke Paris lagi untuk ujian." Jawab Anin yang kini sudah tampak membungkus tubuhnya dalam balutan bathrobe putih yang telah tersedia di kamar mandi itu.
"Mom... kayaknya kita nge-goalnya di Paris aja deh. Ntar kita di hotel aja ya mom." Tawar Darel yang kembali sibuk memikirkan malam pertamanya yang tertunda.
"Kan ada appartemen Bee... ngapain harus di hotel lagi."
__ADS_1
"Biar suasananya romantis lah, kan itu akan jadi yang pertama bagi kita berdua." Ujarnya.
"Yakiiin... itu pertama bagi abang...?" goda Anin yang kini sudah mengulurkan handuk pada suaminya agar menyudahi acara mandinya itu.
"Ya iyalah... eneng kira, abang cowok apaan ?" ujar Darel membela diri, karena sesungguhnya memang itu juga akan menjadi pengalaman pertama baginya. Bahkan perut kotak-kotak itu pun baru pertama kali ia perlihatkan pada wanita selain mama dan Melisa kakaknya.
Anin hanya tersenyum seolah masih tidak percaya dengan pengakuan suaminya itu.
Waktu menunjukan pukul 11 malam, keduanya pun kini telah berpakaian rapi. Karena ritual malam pertama yang tertunda, keduanya memutuskan untuk keluar hotel sekedar ingin menikmati suasana di rooftop gedung itu, dengan menikmati beberapa cemilan ringan.
Malam itu mereka habiskan dengan menikmati indahnya Surabaya di waktu malam dengan posisi duduk menempel di mana tangan Anin yang tampak melingkar manja di perut Darel.
Mereka terbuai dalam obrolan kilas balik kisah cinta mereka yang sesungguhnya lebih lama terpendam di antara keduanya, dengan sesekali Darel lancarkan kecupan kecupan kecil di kening istri yang sangat ia cintai ini. Hingga tengah malam, mereka pun kembali ke kamar untuk beristirahat.
Ada rona bahagia yang mereka tak bisa tuangkan lagi dengan kata - kata, saat mereka berdua kini sama - sama memegang buku Nikah yang tadi pagi mereka miliki. Ada bangga, ada haru juga puas di hati keduanya. Bahwa kini mereka telah menjadi pasangan yang sah, juga telah dapat melewati godaan untuk menjaga kesucian sampai di malam pengantin mereka. Walau ini adalah kali pertama Anin tidur bersama lelaki yang bukan ayah dan kakaknya, tetapi ia langsung merasa nyaman saat kepalanya rebah berbantalkan lengan kekar milik pria pujaan hatinya.
Sama dengan Darel yang memang harus bersabar untuk mendapatkan haknya, tetap merasa bahagia tatkala malam itu, ia bisa menghabiskan malamnya dengan memeluk tubuh wanita yang sangat ia hormati dan ingin ia jaga selamanya selain mama dan kakak perempuannya.
Pagi pun telah menjelang, dengan mata yang masih sangat berat Anin sedikit mengintip lelaki yang kini telah menjadi imamnya itu, tengah melaksanakan sholat subuh sendiri karena istrinya masih berhalangan.
"Kenapa... susah bangun?" tanya Darel yang kini sudah berhasil mendirikan Anin tepat di depannya, serta menghujani wanita itu dengan kecupan di seluruh permukaan wajah Anin.
"Udah kangen pelukan suami lagi." Jawab Anin manja.
"Jangan menggodaku, kamu baru merasakan pelukanku saja sudah candu. Nih... tanda ini baru pemanasan, gerakan inti akan lebih membuat mu ketagihan." Ucapnya sambil menunjuk beberapa bekas. tanda kepemilikan yang sempat ia buat di area dada semalam.
Seketika wajah Anin memerah karena malu, rupanya ia juga baru sadar sebab tanda itu lebih dari satu di sana.
"Bee... pulang ke rumah ayah yuks. Aku lama ga masak. Mumpung ayah dan mbak Winda masih di sini. Aku mau main sama Lyra." Pinta Anin yang sudah bergegas untuk mandi.
"Ini masih subuh Lov... kita tidur lagi aja." ajak Darel yang tampak masih malas untuk beraktivitas.
__ADS_1
"Justru masih subuh begini, lebih baik kita ke pasar tradisional. Kita pasti akan banyak dapat sayuran dan ikan segar. Oke Bee..."
"Whaat...? Di hari pertama setelah menikah istriku malah ingin mengajakku ke pasar tradisional. Ga romantis banget sih Lov."
"Trus... klo ga ke pasar dan makan, kita mau ngapain.
Ntar tanganmu gerayangan lagi. Keterusan...badanku juga bisa bisa kaya macan tutul karena isapan vampire." Ujar Anin beralasan.
Dengan malas Darel pun melangkah untuk mengganti pakaiannya, dengan lebih santai.
Sementara Anin, tampak sudah merapikan semua pakaian mereka kembali masuk dalam koper.
Sebab rencananya mereka akan menginap selama 3 hari di hotel, untuk berbulan madu. Menuntaskan segala hasrat terpendam keduanya. Tetapi karena tamu bulanan itu, membuat semuanya menjadi gagal total.
Saat itu masih gelap, namun mereka tetap melangkah pasti meninggalkan hotel yang mereka kira akan mengukir sejarah pencapaian pemecahan pertahanan seorang Anin. Tetapi waktu belum berpihak bagi mereka. Dengan tangan kanan menarik pegangan koper dan tangan kirinya menggenggam erat tangan Anin, mereka pun benar-benar keluar dari hotel itu.
Seketika keduanya terkejut saat pintu lift terbuka, tampak sesosok pria yang sangat mereka kenal berdiri di depan lift itu dengan aroma alkohol yang begitu pekat. Kini dengan cepat menubruk tubuh Anin, memeluk Anin dengan erat.
Bersambung...
...Waduuh...siapa siih?...
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
__ADS_1
...Biar makin semangat...
...Terima kasih...