
"Ga ... ku tinggal pergi aja. Emosi gue...!!"
Jawab Darel yang langsung berubah mood.
"Itu salah sayangku...mestinya kalian bicara lagi baik-baik. Atau jangan - jangan putusnya kemaren memang sepihak Bee...?" suara Anin lebih pelan dan terdengar hati-hati, ia tau jika Darel tipe orang yang mudah naik darah.
"Ya kali dia ga terima. Bukan urusanku."
"Ini jelas urusan kalian Bee. Apalagi kita akan menikah, bisa saja dia akan berbuat nekat jika memang masih sangat mengharapkan mu.
Aku tau sikap Fely, semakin kamu melawannya. Maka ia akan semakin arogan. Tetapi sebaliknya, bicarakan saja baik-baik dengannya mungkin dia lebih bisa mengerti."
"Ah...sudah deh mom. Paling juga ga ketemu lagi. Kemaren hanya kebetulan. Kita fokus sama persiapan pernikahan kita saja ya... bahas dia bikin aku bete aja. Mom...ku tidur ya."
"Ya sudah... ku juga udah mau sholat ini.
Selamat istirahat calon suamiku. Muaaach."
"Enaaak banget di dengernya mom."
"Bee...ingat sebelum nikah. Ku ga mau panggilan mom di dengar orang lain. Hanya saat kita berdua."
"Hallaaah tinggal selangkah ini. Ntar juga kamu beneran jari momy nya anak-anakku."
Seketika hawa panas menjalari tubuh Anin. Tidak dapat ia pungkiri, bahwa ia memang semakin jatuh cinta pada calon suaminya itu.
Di Bandung.
Suasana Kota Bandung di sore sabtu tentu selalu ramai dan hiruk pikuk. Apa lagi menjelang malam minggu yang selalu di gadang-gadang menjadi malam panjang bagi pasangan muda mudi yang tengah di mabuk asmara. Darel tersenyum kecut melihat beberapa pasangan muda yang begitu mesra hilir mudik berseliweran di depannya, saat ia hanya duduk sendiri di sebuah cafe pada sebuah mall, saat ia menunggui mama yang asyik berbelanja.
Ia baru sadar, ternyata hubungan berpacarannya dengan Anin, tidak seperti pasangan pada umumnya.
__ADS_1
Tidak pernah ada kencan manis yang mereka lakukan semacam rutinitas, sebab hubungan mereka terjadi bahkan saat sudah saling berjauhan. "Tapi, kenapa aku bahkan begitu cepat melamarnya menjadi istriku. Apa dia memang telah yakin kami secepat ini akan menikah...?" Darel tampak baru sadar jika benar saja mereka terlalu lama hanya main kucing-kucingan. Sering jalan bahkan menikmati hari bersama tadi tanpa status. "Apa yang di katakan Fely benar, bahwa sebenarnya sejak masih kadi asisten pun mereka telah saling mencintai...?" Pikiran orang mau nikah begini amat ya...??
"Darel... aku masih mau bicara." Tiba-tiba saja suara seorang wanita muncul sambil menepuk pundak Darel.
Ia menoleh dan terkejut, sebab ternyata itu lagi-lagi Felysia yang menyambanginya. Bahkan ia dapat menemukan Darel di Kota Bandung, di Mall besar pula. Istimewa.
"Jika, yang kamu bicarakan hanya soal Anin. Dan kembali berteriak-teriak, sebaiknya kita tidak usah bicara." Jawab Darel begitu datar.
"Tidak...aku usahakan aku tidak emosi. Beberapa hari yang lalu aku hanya sangat terkejut. Bagaimanapun...rasanya sakit begitu tau bahwa Anin yang akan menjadi istrimu."
"Ada apa dengan Anin, sebegitu bencinya kah kamu padanya...? Tidak bolehkah dia bahagia...?"
"Bukan begitu...rasanya dunia tidak adil padaku. Mengapa harus dia yang mendapatkan pria baik sepertimu, sedangkan aku.. ?" Ucapnya tertahan sebab kini Fely menahan air mata yang hampir jatuh ke pipinya. Ia menengadahkan kepalanya, agar air matanya tidak tumpah.
"Berbicara tentang keadilan hidup, mungkin kamu harus lebih menelaah hidup mu kembali dan bandingkan dengan Anin. Dulu, aku bahkan kau tolak karena aku adalah lelaki miskin yang ingin belajar berjuang merenda hidup bersamamu. Ingin memulainya dari nol, cinta juga cita. Tetapi... karena hidupmu sudah bergelimang harta, membuatmu enggan untuk sekedar mencoba menjalani sedikit waktu bersamaku. Sedangkan Anin... bukan hanya kemewahan bahkan keluarga lengkap pun sudah tidak ia miliki sejak lama. Karena itu, ijinkan aku menemaninya untuk mengecap rasa bahagia itu." Darel berbicara dengan datar tanpa ada emosi seperti kemaren.
"Iya...maafkan aku. Aku yang sangat tidak bersyukur atas semua kehidupan yang menjadi bagian ku."
"Entahlah kalau soal itu. Aku sudah terlanjur kotor untuk hal saling mencinta atau apalah itu." Jawab Fely yang akhirnya mengambil tissue di depannya untuk menyeka air mata yang akhirnya memang membasahi wajahnya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Dennis...?" Darel mengalihkan topik pembicaraan.
Felysia tampak hanya menghela nafas dalam.
"Aku telah menikah siri dengannya. Sebab aku hanya menjadi istri ketiga baginya. Dan ia berjanji akan menikahi aku secara resmi, jika anak yang aku kandung ini berjenis kelamin laki-laki. Dia hanya ingin anak laki-laki. Karena di pernikahan sebelumnya ia sudah memiliki 5 anak perempuan."
"Kamu sekarang sedang mengandung...?" tanya Darel terkejut.
"Iya... tetapi ini baru memasuki bulan ke 4. Dan jenis kelaminnya belum dapat di ketahui."
"Mengapa perutmu tidak terlihat besar?" tanya Darel yang berubah ceria setelah tau jika kini Felysia sedang hamil.
__ADS_1
"Iya...perutku memang belum begitu terlihat. Tapi ini coba kamu lihat... bagian dadaku sudah sangat berkembang, dan ini... bagian ini juga sudah tampak 2 kali lebih besar." Ucapnya sambil berdiri menunjuk bagian dada dan bo****nya yang memang lebih berisi.
"Wah... Emil ada teman ngobrol...?" tanya mama yang baru saja selesai berbelanja dan mendatangi tempat yang telah mereka sepakati untuk bertemu.
"Tante...ini Felysia." Ujar Fely ramah dan langsung menghambur memeluk mama Darel.
"Felysia. Kamu makin cantik saja. Apa kabar Nak...? Kok ada di sini?" tanya mama yang memang selalu mudah akrab.
"Fely kemaren minta alamat ke Ka Mel. Sengaja ke sini memang mau bicara sama Darel. Karena Fely baru tau jika ia akan menikah bahkan dengan Anin."
"Oh...begitu. Ya..bagaimana pun kalian pernah saling berhubungan lebih dari teman. Jadi sangat wajar sekali jika diantara kalian harus saling membereskan dan menyelesaikan masalah yang mungkin ada di antara kalian, sebelum diantara kalian akan melanjutkan ke jenjang pernikahan dengan pilihan masing-masing. Agar kedepannya sama-sama nyaman karena telah saling ikhlas."mama sudah mengeluarkan jurus permainan lidahnya.
"Iya, beberapa hari lalu aku bertemu dengan Darel. Tapi kami masih sama sama emosi. Kemudian aku menemui Kak Melisa. Banyak yang ia sampaikan perihal hubungan Darel dan Anin. Aku juga kini yakin, bahwa Anin yang lebih layak menjadi istri seorang Darel.
Dan juga... aku mohon restu dari Darel, agar aku pun boleh bahagia dengan ketentuan nasibku." Kali ucapan Felysia yang sangat lebih manusiawi sekali.
Tampak mama Darel menggenggam tangan Felysia penuh sayang dan membelai pipi Felysia.
"Kalian tidak berjodoh. Semoga kamu mendapatkan pria baik, bahkan yang berkali-kali lebih mencintaimu." Doa mama Darel.
"Terima kasih tante. Doakan anak yang Fely kandung laki-laki ya... sebab suami Fely hanya menginginkan anak laki-laki." Ujar Fely yang kini mengantarkan tangan wanita tua itu, ke perutnya yang sebenarnya memang mulai terlihat tidak langsing lagi.
Bersambung ...
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
__ADS_1
...seikhlasnya yaa...