DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 118 : KU LEPAS KAU PERGI


__ADS_3

"Haruskah kita tambah satu malam lagi untuk menginap di sini, mom...?" bisiknya pelan di telinga istrinya.


Mendengar itu Anin segera berdiri dan merapikan pakaian yang sempat saja kusut tak karuan.


Dengan senyum manisnya ia pun melangkah menuju pintu keluar kamar hotel itu sambil berkata : "Lanjut di rumah saja Bee." Ujarnya sambil mengedipkan mata sebelah kanannya.


Darel senyum menyeringai tatkala menyadari bahwa betapa kini istrinya telah semakin pandai menggodanya.


Jujur di dalam hati yang sesungguhnya, sangat berat bagi Darel haus hidup terpisah lagi dengan Anin. Tetapi ia ingat akan janjinya sebagai sesama lelaki pada ayah Anin. Bahwa ia telah siap membahagiakan Anin. Maka Darel menguatkan hatinya bahwa 2,5 tahun atau 3 tahun sekalipun adalah waktu yang sangat sebentar dan singkat baginya untuk berpisah.


Ia tidak ragu akan kesetiaan istrinya, maka Darel dua kali lebih yakin jika ia pun akan lebih setia pada istrinya.


"Mom... pembangunan rumah kita tidak ku percepat ya, ku biarkan selesai dengan tidak terburu-buru.


Dan selama mom di Paris, aku tetap tinggal di rumah mama saja. Supaya ada yang ngurusin makan ku."


Ujar Darel saat Anin sudah membalas email dari pihak Esmod, pertanda ia akan siap menerima tawaran melanjutkan pendidikannya.


"Bee...maaf. Apa aku berdosa tidak melayani suamiku dengan maksimal lagi?" Mood Anin belum stabil.


"Tidak cintaku... aku yang mengijinkan mu. Tenang saja, begitu mom bilang kangen, aku akan segera terbang ke Paris."


"So sweet... jangan boros-boros suamiku. Sebab aku nanti akan siap melahirkan banyak anak untukmu, agar uang daddy mereka cepet habis." Canda Anin.


"Mom..."


"Hmm..."


"Bagaimana jika ternyata yang kita buat akhir-akhir ini akan menjadi janin dan calon bayi kita. Kamu akan menjalani kehamilan tanpa aku mom."


"Bee... jangan membuat aku ragu. Bahkan aku baru saja mengirim email persetujuan keberangkatan ini."


"Hanya pengandaian mom, karena rasanya usaha yang kita lakukan akhir-akhir ini begitu gila-gilaan dan luar biasa."


"Bila memang aku hamil, ya Alhamdullah. Tuhan maha pengatur segala waktu, aku lebih yakin apapun kondisiku di sana nanti, aku akan selalu baik-baik saja." Ujar Anin penuh keyakinan.


Ada semburat rasa haru, saat mama Darel melepas kepergian menantu kesayangannya. Tidak ada kata larangan yang memberatkan kepergian Anin dari kedua mertuanya, hanya doa semoga Anin sukses menuntut ilmu di sana.


Setali tiga uang dengan ayah Anin yang juga menyambut baik kabar kepergian Anin untuk melanjutkan kuliahnya lagi.

__ADS_1


Membuat Anin yakin dalam melangkah, sebab yang ia tinggalkan adalah orang-orang yang menyayanginya.


Darel tampak berkali- kali memeluk dan mencium pucuk kepala istrinya.


"Ku lepas kau pergi sayangku. Ntar ultah ku kita rayain di tempat kita jadian lagi ya. Aku akan urus semua pekerjaanku agar aku bisa lama di sana." Ucapnya pada Anin.


"Jangan suka lembur, nanti sakit. Kasian mama harus ngurusi bayi besar ini." Ucapnya gemas pada suaminya.


Anin kini beralih pada mama yang juga ikut mengantarnya ke Bandara.


"Mama... maaf. Anin titip bang Emil ya. Doakan Anin bisa mengikuti pelajaran dengan baik, supaya cepat selesai dan kembali berkumpul di sini." Pamit Anin.


"Pasti sayang mama... pasti. Doa mama yang terbaik untuk kalian semua.


Sepi kembali melanda kehidupan Darel. Ia kembali tapak beraktivitas di perusahan papanya yang semakin stabil pemasukan dan kinerjanya selama ia pegang. Darel sangat di segani dan di hargai di perusahaan itu, ia juga terkenal sangat tegas pada semua karyawannya, juga sangat disiplin dalam urusan ketepatan waktu bekerja, juga urusan kerapian berpakaian. Ia tidak segan-segan memecat karyawan yang telah ia tegur sebanyak 2 kali.


Yang paling sering berganti adalah sekretaris wanitanya, sebab Darel menilai sebagian dari mereka hanya sengaja ingin tampak menggodanya. Jadilah kini ia hanya memiliki sekretaris laki-laki yang menjadi orang kepercayaannya.


Vino adalah orang yang ia percayai menjadi asistennya, Darel berharap ia memiliki satu lagi orang kepercayaan untuk memudahkan tugas Vino. Apalagi, jika nanti ia mungkin akan menetap selama sebulan di Paris untuk mengunjungi istrinya.


Jalan satu-satunya ialah membuka lowongan pekerjaan, saran Vino padanya.


Tetapi Darel merasa malas jika harus menginterview orang-orang baru yang ia tidak kenal tabiatnya.


"Tumben kamu siang-siang nelpon aku, Darling. Kangen ya...?" Semprot Gerald saat melihat Darel menelponnya.


"Iya... ku kangen pake bingit sama kamu Ger." Canda Darel pada Gerald.


"Ada apa...? Ga usah basa-basi aku tau jika kamu menelpon berarti ada yang urgent." Tebak Gerald.


"Tidak juga. Aku hanya penasaran bagaimana hubunganmu dengan wanita yang kamu bilang calon istri itu."


"What...Sejak kapan loe kepo ma gua...?"


"Ya...sejak sekarang lah... serius nanya kenal di mana...?"


"Itu... cewek yang mama mau kenalin sama aku. Tapi dia ga sadar kalo aku sedang memantaunya. Kebetulan dia lulusan jurusan Administrasi Perkantoran. Jadi aku pura-pura aja membuka lowongan pekerjaan dan melakukan beberapa tes via online. Sehingga ia ku terima di perusahaan. Sampe kemaren sih, kerjanya bagus. Pergaulannya juga bagus. Ini aku baru mau mulai PDKT. Tapi agak jaga jarak, alasannya sudah punya calon laki. GUBRAK... panik ga... panik ga...kalo loe jadi gue." kisah Gerald.


"Emang calonnya siapa..maksudnya dia udah punya pacar...?" Darel tiba-tiba kepo.

__ADS_1


"Itu yang belum aku tau Darling. Eh...BTW kok! aku yang curhat, bukannya kamu yang ada perlu."


"Anin pergi lagi Ger... dia dapat tawaran beasiswa di Esmod Paris ambil Masternya, 2,5 sampai 3 tahun." Ungkap Darel lirih.


"Anin tuh anaknya emang amazing banget yah... trus udah berangkat...?" tanya Gerald semangat.


"Udah ... 2 minggu yang lalu."


"Ha...ha... tersiksa rindu lagi dong kamu."


"Makanya ku jadi ingat kamu, seandainya ada kamu di sini, ku dah senang-senang aja di sana sama bini."


"Tuh...kan. Ga mungkin kamu nelpon kalo ga ada sesuatu. Bro... manusia itu banyak. Masa se Bandung itu ga ada orang yang bisa kamu percayai."


"Udah... aku punya Vino di sini. Dia baik kok, sama kayak kamu. Cuma aku kasian aja jika dia sendiri. Kayak kita dulu kan ada Vanny sebagai sekretaris yang ngatur jadwal kita. Kemaren aku udah 2 kali pecat sekretaris di sini, kerjaan ga bener, sexy iya...!!!"


"Kamu takut to'ing khilaf bro...?"


"Sexy nya sih ga papa, buat cuci mata. Ga bisa kerjanya itu yang bikin emosi."


"Ya maaf... jika di sana kamu sulit mendapatkan orang sebaik Vanny dan aku."


"Ya... aku akuin kalian memang the best."


"Coba kamu cari referensi di alumni sekolahmu dulu deh. Paling tidak kamu udah kenal dan mereka kenal kamu, kira-kira di antara mereka adalah yang masih belum mendapat pekerjaan tetap." Saran Gerald pada Darel.


"Kenapa aku ga kepikiran gitu ya...okelah. Memang ga salah ku rindu kamu Ger, sangat bermanfaat. Thanks ya bradaaaaaah." Darel Segera menutup sambungan telepon


Bersambung...


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat author harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...

__ADS_1


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...


__ADS_2