DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 83 : KATA PAK HAJI ITU DOSA


__ADS_3

Anin hanya mengangguk pelan sambil tersenyum melihat tingkah pria yang ia rasa ke sininya, makin terasa lebih dekat dan memahaminya.


Usai magrib Darel menepati janjinya untuk menjemput Anin untuk makan malam. Dan benar saja, ternyata Anin memang hanya ingin makan baso. Tepatnya di daerah Kampusnya dulu saat mengambil jurusan Desain Fahsion.


Sepertinya Anin ingin sedikit melepas rindu akan masa kuliahnya dan kini bahkan akan pergi lagi melanjutkan studinya, walau hanya khursus.


Darel dengan senang hati mengantar Anin ketempat itu. Yang bahkan pemilik warung itu, masih sangat mengenal Anin sebagai pribadi yang rajin dan suka menolong.


"Kamu senang ketempat ini Nin...?"


"Iya, suka. Makasih ya. Sudah lama sekali ternyata aku tidak bersantai." Ucapnya pelan.


"Dulu waktu kuliah pernah punya pacar ga sih...? Kali aja di tempat ini punya kenangan tersendiri bagimu...?"


"Ha...ha...ha... aku ga pernah pacaran sejak sekolah sampai kuliah bang." Jawab Anin dengan nada bercanda yang tentu di kira Darel tidak serius.


"Masa...sih?"


"Bener, waktu kuliah. Aku buru-buru aja mau nyelesaikan kuliahku. Biar ga banyak biaya yang di keluarkan. Trus pas baru lulus, ayah sakit, lalu aku kerja sama Fely. Jadi habislah waktu santai ku." Anin tampak mengenang masa lalunya.


"Kamu terlalu sibuk memikirkan kesenangan orang lain. Sehingga lupa untuk bahagia." Jawab Darel pada Anin dengan serius.


"Tetapi, saat melihat orang lain senang, itu suatu kebahagiaan bagiku, bang."


"Ya...tetap saja beda." Ujar Darel.


"Kalo abang waktu kuliah, pacarnya berapa...?"


Lama Darel tidak menjitak jidat Anin.


Dan kali ini, ia sukses mendaratkan itu di dahi Anin.


"Kamu kira pacaran itu mainan...?"


"Aduh... sakit. Ya kali abang playboy saat kuliah." Ucapnya sambil menggosok pelan bekas jitakan Darel.


"Sorry ya playboy. Kata Pa Haji itu Dosa, Anin."


Dan keduanya pun sama-sama terbahak.


"Trus sama Fely, pacarannya berapa lama...?"


"Kasih tau ga ya...?" Goda Darel yang sebenarnya sudah malas membahas nama itu.


Anin hanya memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"Ga lama. Sebentar aja kok." Jawabnya lagi.


"Trus, waktu di LN, pacar abang siapa...?"


"Kuliah Nin, kuliah. Aku Ke LN cuma mau belajar bukan mau pacaran. Udah ah, yuk nonton. Bentar lagi mulai. Aku sudah beli tiket nih." Ucapnya menyodorkan ponsel dan tertera bukti pembelian di sana.


Kemudian mereka pun menuju bioskop. Kali ini Darel benar benar ingin menghabiskan malamnya bersama Anin. Ia bahkan tidak peduli dengan omelan Anin yang mengajak pulang. Karena Darel sudah memesan tiket bahkan sampai jam tengah malam. Anin yang awalnya bersemangat, kemudian ngomel minta pulang, sampai akhirnya tertidur karena lelah menunggu Darel yang sama sekali tidak bergeming untuk pulang.


Entah apa yang ada dalam pikiran Darel, sehingga ia merasa senang saja, saat melihat teduhnya wajah Anin saat tidur. Dan itu ia abadikan di dalam ponselnya. Kemudian baru ia bangunkan untuk segera pulang.


Nampak wajah Anin masih sangat kesal karena ulah Darel. Sepanjang jalan Anin tidak bersuara.


"Maaf ... aku kira kamu sama sepertiku. Suka nonton, Nin." Ujarnya yang masih tidak di pedulikan oleh Anin.


"Maniiis, maafin abang...!!!" Darel masih saja membujuk Anin.


"Abang mau lama - lama sama Anin, tapi kalo di rumah susah Nin. Takut khilaf, Kata Pa Haji itu Dosa...!!!" lagi-lagi Darel menggunakan mantra Anin.


Yang akhirnya berhasil membuat Anin tertawa.


"Anin ga marah, hanya ingin cepat istirahat. Besok akan menempuh perjalanan jauh, dan pertama bagi Anin." Ucapnya lagi.


"Besok di antar ke Bandara saja, atau sekalian Ke Paris." Tawar Darel yang terdengar sangat murah hati.


Seketika Anin menoleh Darel yang ada di balik kemudi. Lalu berkata : "Bukan Muhrim, Kata Pa Haji itu Dosa...!!!"


Hingga tak terasa, kini mobil sudah terparkir rapi di halaman depan rumah Anin.


"Nin, maaf ya. Selamat istirahat." Ucapnya lembut sambil mengelus puncak kepala Anin dengan sayang.


"Iya, makasih untuk hari ini. See u. Hati-hati, bang." Ujar Anin seraya turun dari mobil dan di balas anggukan oleh Darel.


Saat akan pergi ke Paris, gaya berpakaian Anin tidak jauh berbeda dari biasanya. Selalu dengan pakaian yang serba tertutup dan panjang.


Kali ini Anin menggunakan kaos putih lengan panjang, agak ketat yang ia masukan ke dalam celana levis model Cropped Pants atau model gantung dengan aksen 3 kancing besar di bagian perut yang menampilkan kesan slim dan trendy. Sementara untuk mantel, Anin memilih model Classic Military Coat hitam sebagai outfit perlengkapan bepergian ke Luar Negeri yang sangat menampilkan sisi feminine dan fashionable. Snikers dan waist bag sudah menjadi ciri khas seorang Anindita Kailila.


Darel selalu terkesima dengan pilihan model berpakaian Anin, yang tidak pernah menunjukan aurat nya. Tetapi tetap terlihat seksi dan modis.


Kini mereka sudah berada di Bandara Juanda.


Anin tampak melangkah pasti menuju ruang tunggu keberangkatan.


Anin bingung melihat Darel yang dengan santainya juga melangkah mengikutinya menuju ruang tunggu keberangkatan luar negeri. Setelah terasa lama memarkirkan mobilnya.


Anin yang sejak tadi memang telah memegang paspor dan tiketnya di tangan. Sama halnya dengan Darel yang tampak memegang hal yang sama.

__ADS_1


Ketika mereka sama sama duduk di kursi tunggu, Anin pun memberanikan diri untuk bertanya.


"Abang pergi ke mana...?"


"Ikut kamu lah, ke Paris. Takut kamu nyasar. Kan ini pengalaman pertamamu." Jawabnya santai.


Anin menelan salivanya. Kemudian berkata : "Orang kaya mah bebas ya, ke Paris udah kaya mau ke Mall aja."


"Tapi kita beda pesawat Nin..., ga apa-apa?" tanya Darel lagi.


Anin tidak berminat untuk menjawab. Sebab ia bingung sekaligus takut, jika Darel benar-benar akan pergi bersamanya ke Paris. Anin merasa telah gagal mengikuti amanat ayahnya. Yang tidak mengijinkannya pergi bersama laki-laki yang bukan suaminya.


Terdengar panggilan untuk penumpang tujuan Surabaya - Paris. Anin dan Darel pun sama sama berdiri. Untuk melangkah mendekati gerbang pemeriksa terakhir.


Masih dengan degup jantung yang tidak dapat Anin artikan, ia mencoba untuk melangkah maju. Dengan lirikan ekor matanya ia melihat Darel terus melangkah di belakangnya.


Dan ketika semakin dekat penjaga, Anin merasa tangannya di tarik seseorang. Kemudian terdengar suara berkata : "Kali ini, ijinkan aku melanggar pesan Pak Haji ya, Nin." Ucap Darel yang sudah membawa Anin dalam pelukannya. Dan Anin hanya bisa diam mematung pasrah dalam dekapan itu.


Darel belum melepas pelukannya dan lagi berkata : "Selamat jalan ya, aku akan pasti selalu merindukanmu. Jaga diri, jangan tinggalkan sholat, sampai jumpa lagi manis. Akulah orang pertama yang menunggu kepulangan mu." Kata-kata Darel berhasil menguraikan air mata Anin.


Mendengar isakan tangis Anin, Darel segera melepas pelukannya. "Penerbangan ku ke Singapura masih 1 jam lagi..." Ucap Darel tanpa pertanyaan dari Anin dan kedua tangannya mengusap air mata di pipi Anin.


Anin hanya mengulas senyum leganya, dan berani mencubit perut Darel dengan kuat.


"Wah...berani menyentuh ku ya. Lupa juga sama pesan pak haji...?" ujar Darel di sertai tawa keduanya yang sangat bahagia.


"Terima kasih pesan dan doanya bang."


Darel hanya mengangguk setuju, kemudian memandang nanar punggung wanita yang sangat ia cintai itu."


Bersambung...


...Hah... Nahan nafas Author membayangkan mereka melanggar pesan pak Haji 😁...


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat author harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2