DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 115 : NOTIFIKASI MEMBUAT BISU


__ADS_3

"Cetak buku." Jawab mama sambil tersenyum. Yang melihat Darel dengan tidak canggungnya sudah memeluk dan mengecup kening istrinya sepulang ia belerja.


Membuat Anin agak risih, terlihat dari pipinya yang merona memerah di sana.


"Mil... buruan buatkan Anin tempat untuk dia menyalurkan hobbynya dalam merancang dan membuat beberapa jenis pakaian." Pinta mama pada Darel.


"Sudah ku siapkan mama. Dianya ini saja yang masih menunda-nunda, ga tau nunggu apa...?" seru Darel sambil menyelipkan beberapa anak rambut yang tampak gugur terurai tak beraturan.


"Anin masih belum percaya diri untuk membuka lahan pekerjaan seperti itu ma." Ujar Anin pelan.


"Ya wajar saja. Tidak usah fokus pada larisnya yang penting menambah pengalaman mu. Juga agar kamu tidak bosan selalu di rumah. Apa lagi suami mu itu, mama liat sangat jarang sekali mengajak mu keluar sekedar untuk jalan-jalan atau shoping gitu. Atau Mil... jangan-jangan kamu hanya kasih nafkah batinnya saja, nafkah lahirnya gimana...?"


"Astagfirullahaladzim... mama. Blackcard Emil tuh sudah sama dia sejak setelah menikah, bahkan waktu dia baru berhenti jadi asisten pun sudah mau Emil kasih ma. Nafkah lahir yang bagaimana lagi yang tidak ku berikan padanya." Darel membela dirinya lagi.


"Iya ma... nafkah lahir dan batin Anin insyaalloh sangat tercukupi oleh anak kesayangan mama ini. Percayalah dia suami sempurna mama." Anin ikut membela.


"Ya ... kali aja, karena kalian masih tinggal di sini sehingga kamu merasa tidak perlu menafkahi keluargamu sendiri." Ucap mama yang sebenarnya juga tau kalau anaknya tentu tau telah sangat tau tentang hak dan kewajibannya sebagai seorang suami.


"3 bulan kemudian mungkin kami bahkan akan tidak tinggal di sini lagi ma. Karena Emil sedang membangun sebuah rumah impian keluarga kami." Ujar Darel pada mamanya.


"Yaa... mama kesepian lagi dong kalau kalian akan pindah dari sini." Ucap mama sedih.


"Mama dan papa dulu juga memutuskan untuk hidup dan tinggal sendiri kan setelah menikah. Lagi pula kita masih sekota kami pasti sering mengunjungi kalian di sini. Juga... masih tahap di bangun. 3 bulan itu hanya waktu tercepat, mana tau jika istri ku masih meminta di buatkan kolam renang atau kebun, kemungkinan akan lebih lama."


"Issh... My hubby lebay. Mana pernah aku minta di buatkan hal-hal yang tidak penting seperti itu." Anin menyela ucapan suaminya.


"Ha...ha...ya. Iya sudah sewajarnya yang namanya berumah tangga ya mesti tinggal di rumah sendiri. Agar kalian lebih leluasa mengatur kehidupan kalian. Mama malah bangga jika kalian sekarang malah sudah mulai membangun rumah kalian sendiri. Tetapi bukan berarti mama usir kalian dari sini kan." Canda mama lagi.


"Mama tuh memang paling the best pokoknya." Ujar Darel yang kini sudah berpindah memeluk sayang wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.


"Lalu bagaimana dengan rencana Anin untuk membuka ruko atau butik tempatnya bekerja tadi, kenapa kamu seolah ragu untuk memulai usaha mu Nin...?" tanya mama Darel pelan pada menantunya tersayang.


"Sebenarnya Anin takut terlalu repot nantinya. Dan... berharap bisa cepat hamil. Supaya rumah kita ga sepi lagi kalo sudah ada tangisan bayi di rumah ini." Ucapnya lirih sembari tertunduk lesu.

__ADS_1


"Lov... kita masih pengantin baru. Aku juga tidak menuntut kamu harus cepat hamil. Jangan sampai jadi beban, yang penting kita udah usaha. Santai saja lah." Ujar Darel sangat bijak.


"Iya... mama juga sudah bilang begitu tadi sama Anin. Semua pasangan menikah tentu sangat menginginkan rumah tangganya di karuniai kehadiran buah hati. Tetapi itu bicara tentang kehendak Allah SWT, nikmati saja dulu waktu kalian berdua-duan. Apalagi kalian yang pacarannya banyak jauhan kan. Anggap saja kalian di kasih waktu untuk pacaran setelah menikah, jadi bebas kayak jalan tol." Mama menasehati dengan sedikit bahasa yang ringan juga penuh canda.


"Tuh... dengerin mama. Jalan tol Lov, udah halal. Aku bebas berselancar sesuka hati kapan saja dan di mana saja, ga boleh di tolak kecuali lagi palang merah." Darel membela diri.


"Ya ga dimana-mana juga kali Bee. Keseringan buat juga, susah jadi kali. Ya kan ma...?" tanya Anin minta pembelaan agar tidak selalu di gempur oleh suaminya.


"Ha...ha...ha... Emil mana bisa di tahan kalo sudah punya keinginan. Tampangnya saja lembut, aslinya keras kepala kan Nin. Hanya kadang kurang peka." Ujar mama.


"Cemburuan juga ma..." Tawa Anin tergerai.


"Masa... sama siapa?" tanya mama.


"Ah... udah udah. Ga penting banget bahas itu." Darel menghindari pembicaraan tentang pria lain dalam rumah tangga barunya itu.


Kemudian berpamitan pada mama untuk meninggalkan teras yang sedari tadi di tempati mama dan Anin. Karena ia juga sudah merasa gerah dan ingin segera mandi setelah hampir seharian bekerja di perusahaan yang kini ia pimpin.


"Bee... lihat isi email ini." Ucapnya setengah berteriak karena benar-benar kaget.


Darel pun segera meraih ponsel di tangan istrinya, kemudian membacanya dengan seksama.


Sebuah notifikasi, lebih tepatnya pemberitahuan bahwa atas nama Anindyta Kailila mendapat rekomendasi dari ESMOD Paris untuk melanjutkan studi untuk Program S2 ( Master ) dengan pilihan :



Master of Arts Contemporary Fashion Design


MBA Luxury Brand Management


MBA Fashion Business


MBA Global Fashion Media

__ADS_1


MBA Fashion Technology


Dan untuk ini di butuhkan waktu kurang lebih 2,5 tahun juga mendapat tawaran beasiswa. Sepertinya prestasi khursus Anin kemarin cukup menarik perhatian pihak Esmod, Paris.



Darel tiba-tiba lemas melihat notifikasi itu, dan menatap nanar pada mata bulat milik istrinya.


Anin paham dengan perasaan yang suaminya rasakan. Tentu Darel tidak akan mengijinkannya untuk menerima tawaran itu. Yang tentu bukan karena dana, tetapi lagi-lagi mereka harus terpisah jarak dan waktu lagi, bahkan dalam waktu lebih lama dari sebelumnya.


"Aku tidak akan mengambil tawaran itu Bee, jika suamiku tidak mengijinkannya." Ucap Anin pelan sambil melingkarkan tangannya pada perut kotak-kotak suaminya, dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Darel kesayangannya.


Darel hanya diam, belum bisa menanggapi isi dari email itu.


Mereka hanya saling diam. Dan memilih untuk tidur dengan berpelukan saja sepanjang malam. Tidak ada pembicaraan soal apapun di antara keduanya.


Sebab mereka sepertinya sedang saling mengembara pada pikiran mereka masing-masing.


Bersambung...


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat author harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2