DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 97 : OTW NIKAH


__ADS_3

Sejak hari ulang tahun Darel ke 28 yang mereka tetapkan sebagai hari jadi mereka berdua.


Sejak itu pula, semakin tidak ada rahasia antara keduanya. Mereka tampak semakin mantap dan semakin lebih mengenal karakter masing-masing. Anin cendrung lebih dewasa dalam berpikir, sedangkan Darel masih terkesan lebih manja pada Anin.


Sedapat mungkin Anin dan Darel selalu berusaha untuk saling jujur dan terbuka akan perasaan masing-masing.


Untuk prilaku keseharian pun, antara mereka tidak saling menjaga imeg nya masing-masing.


Karena sebagian besar telah banyak mereka ketahui sebelum menjadi sepasang kekasih.


Kini, Darel sudah kembali ke tanah air. Pulang dengan rasa bahagia yang tak dapat ia lukiskan, juga meninggalkan sejuta rindu yang tentu menyerang nya. Saat kini kembali berjauhan dengan Anin wanita kesayangan.


Jika dua bulan lalu Darel menemui Anin di Paris. Berbeda dengan saat ini. Pada minggu kedua di bulan kesembilan di tahun itu.


Dengan segenap pemikiran dan kesepakatan juga tentu di sponsori oleh Darel kekasih hatinya itu. Kini, giliran Anin yang telah mendarat di Bandara Juanda untuk pulang. Menemui orang orang yang sangat mengasihi dan merestuinya.


Bukan hanya Darel yang menantikan kepulangannya. Tetapi, kini bahkan ayah sudah berada di rumah mereka di Surabaya.


Atas kesepakatan dua keluarga, mereka telah dengan santai nya menentukan bahwa kepulangan Anin kali ini adalah untuk mengikat Anin dalam suatu ikatan pertunangan.


Darel telah mengurus dan mengatur semuanya, acara itu hanya di gelar sederhana di rumah keluarga Anin, sesuai petunjuk, arahan dan permintaan ayah Anin. Tampak rumah Anin di dekor ala rustique terkesan natural yang juga mengundang beberapa tetangga dekat, agar hubungan Anin juga dapat di ketahui orang sekitar, terutama ketua RT.


Anin malam itu terbalut dalam kebaya modern biru turquoise berbahan lace dengan detail peplum di bagian bawah membuatnya tampil mempesona. Yang di kombinasikan dengan bawahan rok kain batik, senada dengan atasan yang Darel gunakan di tambah dengan celana cokelat tua. Menyempurnakan penampilan keduanya.


Dalam agama yang mereka anut prosesi itu di sebut Khitbah. Yaitu prosesi lamaran di mana pihak keluarga calon mempelai laki-laki mengunjungi kediaman calon mempelai perempuan. Mengutarakan permintaannya untuk mengajak sang mempelai perempuan berumah tangga.


Permintaan atau pernyataan tersebut bisa disampaikan langsung oleh sang mempelai laki-laki, tapi juga bisa dengan perantara pihak lain yang dipercayai sesuai dengan ketentuan agama. Jika pihak mempelai wanita telah menerima. Maka dia tidak diperkenankan untuk menerima lamaran dari laki-laki lain.


Papa, mama, Melisa dan suami juga Darel tampak telah berada di rumah kediaman Keluarga Anin. Lengkap dengan Hantaran yang akan diserahkan kepada keluarga Anin sebagai bentuk keseriusannya untuk meminang sang calon istri yang ia idamkan.


Setelah pembicaraan intinya selesai. Di lanjutkan acara penyematan cincin pertunangan di jari kedua calon mempelai, sebagai simbol komitmen mereka untuk menjalani hubungan yang lebih serius.


Sehingga kini tampak kilauan cincin couple bertahtakan berlian pada jari manis di tangan kiri keduanya. Maka selanjutnya adalah penutupan acara lamaran. Acara ditutup dengan pembacaan doa supaya rencana pernikahan dapat berjalan dengan lancar.


Untuk hari dan tanggal pernikahan itu sendiri belum di tentukan, menyesuaikan jadwal khursus Anin yang memang belum selesai.


Sebenarnya, Anin tidak ingin prosesi ini segera di langsungkan. Tetapi, baik mama Darel dan ayah Anin pun telah sama-sama setuju untuk malaksanakan ini dalam waktu yang terbilang singkat ini. Maka, Anin pun tidak punya alasan untuk menolak.


"Lov... makasih sudah menerimaku. Tinggal selangkah lagi kamu akan jadi milikku sepenuhnya."


"Ingat Bee... masih selangkah lagi ya. Masih belum muhrim, belum halal." Jawab Anin mengingatkan.

__ADS_1


"Ah... gampang. Besok ke KUA, Ijab Qobul. Selesai." Jawabnya dengan enteng.


"Kenapa ga tadi aja sekalian bawa penghulu Bee...biar irit."


"Iya...ya. Biar cepet anu."


"Anu apa...?" pancing Anin.


"Ga...mom becanda." Jawab Darel lagi.


Anin yang selalu merengut saat di panggil mom, tentu selalu membuat Darel geregetan.


"Lov, pliiis. Jangan suka merengut gitu. Liat bibirmu gitu, aku jadi pengen"


"Ya...buruan." Tantang Anin yang yakin Darel tidak akan berani melakukannya, karena mereka sedang berada di teras rumah Anin.


"Hm... berani nantang ya sekarang." Tawa Darel.


Obrolan keduanya terhenti, karena mbak Winda kini sudah ikut nimbrung ke teras depan rumah itu dengan membawa nampan berisi minuman dan beberapa kue.


"Iih...mbak repot-repot." Ujar Anin.


"Ga apa-apa, sekalian gangguin orang pacaran." Jawabnya sambil bercanda.


"Mau masuk 7 bulan. Minggu depan mau acara siraman 7 bulan Nin."


"Waaah... dua bulan lagi aku punya keponakan dong yaa. Selamat, sehat sampai lahiran ya mbak."


"Amiiin. Acara kalian juga mbak doakan lancar sampai hari H ya. Eh... rencananya kapan ke penghulunya...?" tanya Winda pada keduanya.


"Aku maunya besok..." Celetuk Darel tanpa malu, karena ia sudah cukup akrab dengan Winda, karena keseringannya berkomunikasi dengan ayah Anin.


"Tuh...mbak ada yang kebelet mau nikah." Ejek Anin pada Darel


"Wajar aja...nikah kan ibadah." Tiba-tiba Jovan muncul juga dari dalam rumah, yang ternyata sudah menguping pembicaraan mereka.


"Senangnya....ada yang bela." Ujar Anin. Di sambut tawa dari mereka yang tampak begitu akrab dan hangat.


"Oh iya, Nin. Kamu masih lama di sini? Mau ke Solo ga...minggu depan mantanmu nikah lo."


Kata-kata dari Jovan membuat Anin dan Darel spontan berpandangan.

__ADS_1


"Mas Bimo nikah kak...?" Anin memperjelas maksud pembicaraan Jovan.


"Memangnya mantan kamu ada berapa siih...?" ejek Jovan sambil mencubit pipi Anin. Ia bahkan tidak peduli ada Darel dan juga Winda di antara mereka.


"Anin di undang ga...?


Kali aja nanti kedatanganku malah merusak acara orang, secara aku kan mantan terindahnya mas Bimo." Anin senang membuat Darel kesal.


"Di undang lah. Tapi, lewat lewat aja. Mungkin dia mengira kamu ga bakalan datang karena masih di Paris.." Jawab Jovan lagi.


"Yah... gagal deh! Padahal aku mau banget liat perhelatan akbar pernikahan keluarga ningrat itu." Ucap Anin seolah kecewa. Dan kata-kata itu berhasil membuat Darel mencubit lama dan keras pada hidungnya. Membuat mereka semua yang ada di sana tertawa menyaksikannya.


"Bang...lepas bang. Aku baru ingat mau itu.. tuh." Alasan Anin supaya Darel melepas cubitan itu. Sambil menunjuk ponsel yang sedari tadi teronggok di atas meja.


"Mau apa..?" tanya Darel.


"Ini" Ujarnya mengambil ponselnya lalu membuka galeri foto. Dan memilih pic jari mereka berdua yang telah tersemat cincin itu.


"💍otw 👰" Caption nya.


Seketika Darel tersenyum melihat yang Anin lakukan, sambil mendusel pelan pucuk kepala Anin dengan penuh sayang.


Kemudian menyodorkan ponselnya pada Anin, memintanya untuk membuat hal yang sama.


Sehingga SW mereka bahkan pic profil di beberapa akun medsos mereka berdua pun berganti dengan pic yang sama.



Bersambung ...


...Author suka sesuatu yang happy ending...


...Atau perlu kita buat konflik lagi reader...?...


...Mohon dukungannya 🙏...


...Komen kalian...


...Sangat author harapkan lho...


...Kasih 👍💌✍️🌹...

__ADS_1


...seikhlasnya yaa...


__ADS_2