DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 49 : KEDATANGAN FELYSIA


__ADS_3

"Apa? Felysia ke Bandung?" tanya Darel yang benar - benar kaget mengetahui info itu dari Anin.


"Bukannya Bang Ge sendiri tadi yang bilang ke Fely kalau mamanya Pak Darel kecelakaan?" balas Anin bingung.


"Iya, tapi aku ga tau kalau dia sampai nekat terbang ke Bandung." Balas Darel pada chat itu.


"Oh, apakah keadaan mamanya sangat parah Bang Ge?" tanya Anin lagi yang memang penasaran dengan keadaan mama Darel


"Ya, begitulah Nin. Sudah 10 hari mengalami koma. Darel minta dukungan doa ya buat kesembuhan mamanya." Ujar Darel seolah ia adalah Gerald seperti yang Anin ketahui.


"Iya Pasti Bang. Anin pasti ikut mendoakan untuk kesembuhan dan kepulihan mamanya Pak Darel. Sampaikan salam ku untuk Pak Bos ya Bang. Sampaikan juga padanya untuk menjaga kesehatannya, jangan sampai jatuh sakit karena menjaga orang sakit." Balas Anin Panjang dan bersungguh - sungguh.


"Kenapa tidak kamu sampaikan sendiri saja padanya, bukan kah kamu juga punya nomor kontak Darel." Tiba - tiba Darel usil pada Anin.


"Malu lah Bang. Dia kan Big Bos aku kan hanya lah seorang asisten, ntar dikira ga tau diri. Kalo sama Abang kan kita selevel gitu 😁." Balas Anin dengan polos.


"Darel ga gitu kok. Dia ga pernah beda - beda in orang berdasarkan pekerjaaan. Oh, ya Nin. Sementara aku ga pake no ini lagi ya. Soalnya HP ini mau ku kasih ke tukang kebunku. Jadi nomor ini akan segera ku non aktifkan. Ok."


"Lho, kok gitu. Aku jadi ga ada teman ngobrol lagi dong." Balas Anin lagi.


"Kan ada nomorku yang satunya." Bohong Darel, padahal ia ingin segera mengakhiri kebohongan nya sebagai Gerald.Ia takut Anin akan merasa nyaman pada Gerald padahal itu jelas - jelas dia.


"Ok deh. Bang maaf Anin mau lanjutkan kegiatan anin ya. Selamat beristirahat." Ketik Anin mengakhiri chat panjangnya.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, kini Anin kembali tenggelam pada kertas dan pensil nya untuk kembali melanjutkan desain yang minggu depan sudah harus ia kumpulkan.


Sementara di Bandung


Darel tampak kasak kusuk, bingung bagaimana menghadapi Felysia nantinya.


Walau sekuat apapun Darel menghindar Felysia, ia yakin Felysia akan tetap menemukan keberadaannya. Waktu menunjukan hampir pukul 7 malam, Darel tampak berpakaian santai dan rapi untuk menggantikan ayahnya berjaga di Rumah Sakit.


Melisa kini sudah berada di rumah menemani Rafa dan Reya yang sejak pagi tadi hanya bermain dengan Bi Ratna, untung lah mereka adalah anak - anak yang pintar dan terbiasa di tinggal bekerja. Sehingga tidak menjadi masalah yang besar bagi mereka jika di tinggal lama serta di titip dengan siapa saja, sesuai pesan orang tuanya.


"Mil, Emil." Panggil Melia saat melihat Darel melangkah ke arah luar pintu utama.


"Ada apa kak?" tanya Darel

__ADS_1


"Tadi Felysia menghubungi kakak, minta alamat rumah sakit tempat mama di rawat."


"Lalu kakak kasih?" tanya Darel


"Iya, masa kakak ga kasih. Kan dia baik mau jenguk mama. Akhirnya, kamu pilih dia ya Mil?" tanya Melisa asal.


"Kakak, apaan sih. Emil belum pilih siapa siapa kak, sekarang yang penting mama sembuh dulu deh. Mana Emil harus ngurus perusahaan papa di sini lagi. Urusan cewek pending lagi aja kak." Jawab Darel sekenanya.


"Ya udah terserah kamu, ingat pesan mama waktu kita ngobrol di mobil ya Mil." Melisa mengungkit kebersamaan mereka beberapa minggu lalu bersama mama.


Darel mengurungkan langkahnya keluar dan berjalan menuju Melisa. "Kak, sebelum mama kecelakaan. Hari itu mama lama sekali ngobrol sama Emil."


"Oh ya, bicara tentang apa?"


"Agak aneh sih Kak, mama minta Maaf katanya jika selama meminta Emil cepat - cepat nikah. Dan isinya mirip - mirip kaya waktu kita di mobil tempo hari. Tetapi kalo bisa, katanya pas Emil 30 tahun sebaiknya aku nikah, mama akan nunggu. Gitu katanya."


"Apa artinya mama bilang gitu ya Mil?"


"Ga tau, trus dia bilang juga antara Fely dan Anin sebenarnya mama udah punya pilihan sendiri. Tetapi dia mau tunggu jawabanku terlebih dahulu."


"Ya udah, semoga mama akan sembuh dan benar - benar bisa melihat kamu menikah ya Mil."


"Amin." Sahut Darel.


"Den... Den Emil mau ke rumah Sakit." Seru Bi Ratna pada Emil.


"Iya Bi, ada apa?"


"Ini Den, boleh titip? Makan malam buat bapak dan baju bersih beliau, yang dia pesan tadi." Jawab Bi Ratna.


"Oh, iya. Sini Bi Emil bawakan, terima kasih ya Bi."


"Saya yang terima kasih Den."


"Iya sama sama. Bi Ratna dan Kak Mel, aku ke Rumah Sakit dulu ya, Assalamulaikum."


"Walaikumsallam, hati - hati ya Mil." Sahut Melisa mengantar adiknya ke depan pintu.

__ADS_1


Di rumah sakit.


Tampak Felysia sudah duduk menunggu di kursi tak jauh dari kamar mama Darel. Ia tidak di ijinkan masuk, sebab papa Darel tidak merasa mengenal wanita itu, sehingga ia belajar sabar dan tidak menunjukan sikap bar-bar nya, mengingat itu adalah calon ayah mertuanya. Sehingga ia meras harus menjaga imeg nya.


"Sayang, kok kamu ga bilang sih kalo mama kecelakaan. Untung tadi aku ke kantormu untuk bertanya pada Gerald. Mau sampai kapan kamu sembunyikan kesedihanmu sendiri." Ucap Felysia yang langsung bergelayut manja pada Darel yang baru saja tiba di area itu.


Darel menjadi salah tingkah mendapat serangan pelukan dari Felysia yang memang sangat agresif itu, Darel berusaha melepas pelukan itu bersamaan dengan keluarnya papa dari ruangan itu. Dan melihat anaknya yang tampak sedang berpelukan, membuat papa buang muka seperti tak suka dengan pemandangan itu.


"Pa, ini makan malam dan baju ganti buat papa. Atau papa sebaiknya malam ini tidur di rumah saja, biar Emil yang menemani mama." Ujar Darel yang sudah berhasil melepas pelukan nya dari Felysia.


"Siapa wanita ini, sejak tadi ia ingin melihat mama. Apakah ia mengenal mamamu?" tanya papa tidak menanggapi tawaran Darel.


"Ini Felysia pa, teman Emil sewaktu kuliah di Surabaya." Ungkap Darel memperkenalkan Felysia


Felysia pun mengulurkan tangannya untuk bersalaman pada papa Darel. Papa Darel hanya melirik sebentar dan menyambut uluran tangan Felysia.


"Dar, boleh ya...sebentar saja aku mau liat mamamu." Pinta Felysia manja


"Pa, ijin Felysia masuk sebentar ya. Mereka saling kenal saat kemarin mama ke Surabaya." Tampak papa mengangguk tanda memberi ijin untuk Felysia masuk.


Dan saat Fely dan Darel masuk, barulah papa mulai mencari tempat untuknya menikmati makan malamnya.


Bersambung


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat autor harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2