
Ternyata niat mama Darel untuk menjenguk cucunya di Surabaya mendapat ijin dari papanya Darel. Karena beliau dalam 1 minggu kedepan akan melakukan perjalanan bisnis ke Negara Singapura.
Dengan senyum bahagia, nampak mama berpamitan dengan suaminya. Usia pernikahan mereka memang telah melewati 33 tahun.
Tetapi kemesraan mereka hampir sama dengan Usia pernikahan Melisa dan Jordan yang baru 5 tahun. Papa dan mama mereka sangat baik dalam merawat hubungan rumah tangga mereka.
Jarang terdengar perselisihan antara keduanya, sebab mereka telah saling memahami karakter masing - masing juga saling menghargai pendapat satu sama lain. Dan selalu mengutamakan kejujuran di atas segalanya.
Sehingga kehidupan mereka yang dari nol pun telah mereka lewati, dengan mulai merangkak - berdiri bahkan sekuat sekarang. Pasangan orang tua adalah panutan bagi Melisa dan Darel.
Sesampai di Surabaya.
Darel langsung mengantar mama ke rumah Melisa. Sebab, ia sudah sangat rindu pada cucu kembarnya Rafa Syahreza dan Reya Kurnia. Mereka sepakat untuk memberi nama anak mereka sesuai jenis kelaminnya.
Jika laki - laki akan melanjutkan nama Syahreza dan jika perempuan akan melanjutkan nama Kurnia sama seperti sang ibu. Si kembar telah berusia 4 tahun. Usia perkembangan anak yang sedang lucu lucunya, juga bawel.
Dalam satu hari, ada ada saja tingkah dan polah keduanya yang membuat gemes Jordan juga Melisa. Ia sudah melewati masa masa sulitnya dalam membagi waktu saat si kembar sering berebut ASI dan juga perhatiannya. Belum lagi Jordan suaminya yang kadang uring-uringan saat hanya mendapatkan jatah sisa kasih sayang dan perhatian dari istri tercintanya. Kerap merasa dongkol dan merasa tersisihkan di rumahnya sendiri karena di dominasi oleh anak anak mereka. Tetapi itu bukan menjadi alasan untuknya menjadi suami yang tidak setia. Jordan ingat betul, bagaimana perjuangannya mendapatkan Melisa.
Menjadi satu satunya pria yang akhirnya di pilih Melisa menjadi suaminya, dari para pesaing di perusahaan, bahkan dari para mantan mantan pacar Melisa yang bejibun. Melisa yang berparas cantik dan ramah. Sifatnya sering di salah artikan oleh beberapa lawan jenisnya. Berbanding terbalik dengan Darel yang dingin dan super cuek.
Untuk itu, mereka bersepakat untuk menunggu si kembar berusia 5 tahun dulu, baru mereka akan memprogramkan lagi, untuk menambah momongan.
Darel yang memang tidak memberi kabar sebelumnya pada Melisa tentang kedatangan mamanya, tentu sangat kaget bercampur senang melihat mamanya tiba. Sama dengan Rafa dan Reya yang kadang hanya berjumpa lewat VC dengan nenek mereka itu, tampak berlari menghambur kepelukan sang nenek yang di rindukan. Melihat drama pertemuan itu, Darel hanya tersenyum. Kemudian pamit untuk pulang ke apartemennya.
"Mama, kok ga kasih kabar dulu mau ke sini?" Ujar Melisa setelah mereka sudah mengantar Darel sampai ke pintu keluar.
"Mendadak juga siih, Emil tuh yang tiba tiba muncul di Bandung jumat kemaren."
"Jumaat..? Bukannya sejak kamis sampai sabtu dia bilang ada kerjaan di puncak. Kok malah ke Bandung."
"Dia lagi galau Mel." Ujar mama memelankan suaranya.
__ADS_1
"Galau apanya? Soal apa Ma?"
"Kamu ini... se kota kok ga perhatian sama adik sendiri!!"
"Iya..galau soal apa? Kerjaan? Mas Jordan selalu bantu kok, jika ada yang tidak bisa ia kerjakan." Ujar Melisa membela diri.
"Soal cewek Mel.. cewek." Ujar mama bersemangat.
"Hah...urusan cewek. Emil sampai bela bela in ke Bandung, sekedar curhat ke mama. Busyeet tu anak. Aku di lewati gitu aja. Ntar, ku ubek - ubek deh tu anak."
"Jangan Mel. Jangan kamu ledekin juga. Mumpung dia membuka diri. Mungkin dia nyaman berbagi dengan mama ketimbang kamu. Lagian dia juga mengerti kan, kalo kamu sibuk, urusan rumah, anak, suami, butik juga."
"Iya juga siih. Trus siapa mah ceweknya?" tanya Melisa semangat.
Lalu mama pun menceritakan tentang Felysia si cinta pertamanya itu. Juga tentang Anin si asisten itu.
"Oh... jadi cewek cinta pertamanya Emil yang di ceritakan Hana itu Felysia si gadis model itu. Pantesan Ma, dalam bulan ini sudah 2 kali Emil kerja sama sama model itu. 2 mgg yang lalu mereka weekend di Villanya mas Jordan, nginep 1 malam. Lalu yang barusan kemaren meraka ke Puncak, malah 2 malam. Kalo Si Anin itu, asistennya Felysia Ma. Tapi, dia juga pegawai di butik ku. Aslinya dia seorang desainer berbakat lho ma."
"Ma... Mama mau ga ku pertemukan dengan keduanya.?" tanya Melisa.
"Boleh, tapi apa Emil ga marah?"
"Ngapain dia marah, Anin kan pegawai ku Ma. Jadi itu masalah gampang."
"Boleh boleh kapan?"
"Mama mau langsung Mel kenalkan sebagai mama secara langsung. Atau secara tidak sengaja?" tanya Melisa pada mamanya.
"Maksudnya?"
"Gini Ma. Jika Mama, Mel kenalkan sebagai mama kami tentu antara keduanya akan jaim. Kalo Anin aku ga tau dia suka Emil atau tidak. Tapi kalau Fely kayaknya, suka banget dan manja sama Emil Mah. Nah, misal ni yaaa... misal. Mama itu sebagai pembeli di butik Mel, saat bersama mereka. Maka, mama akan tau sendiri bagaimana karakter keduanya. Gimana?"
__ADS_1
"Good ide. Mama setuju."
"Bentar aku hubungi mereka dulu ya ... kapan mereka bisa ke Butik ku."
Nampak Melisa menghubungi Anin.
Untuk menginfokan, bahwa ia akan memberikan bonus pada Felysia karena telah menjadi model Butiknya.
Dan Fely di minta memilih sendiri sebuah gaun malam lengkap dengan clutch dan sepatu dari butiknya tersebut. Melisa juga meminta agar Anin mengukur badan Felysia, untuk di jadikan model Gaun Pengantin untuk persiapan akhir tahun.
Tidak membutuhkan waktu lama, setelah Anin mengutarakan maksud Melisa tadi. Yang tentu di sambut baik oleh Felysia. Mereka pun mendapatkan sebuah kesepakatan bertemu pada hari senin besok pukul 3 sore di Butik. Sebab, di jam itu Butik sudah mulai sepi. Sehingga mereka bisa lebih fokus dalam memilih pakaian dan lainnya untuk di bawa pulang.
Bagi Felysia, tawaran itu bak gayung bersambut. Walau kemarin dia terlihat murung karena kehilangan Darel di Puncak. Tetapi panggilan dari Melisa kakak Darel baginya adalah suatu pertanda baik. Untuk hubungannya kedepan bersama Darel. Senyum sumringah tak lepas dari bibir sexy milik Felysia, sambil mengelus lembut gelang cantik bermata biru pemberian Darel. "Oh... Darling. Kau akan segera jatuh kepelukanku. Aku mantap kembali padamu." Ujarnya bergumam sendiri, sambil sesekali menyesap rokok di tangannya.
Tak lama panggilan VC dari Dennis masuk ke ponsel Felysia. Buru buru ia memoles lipstik merah di bibirnya, agar selalu tampak sexy dan menggairahkan. Balutan tank top dan celana tipis sepaha yang selalu ia kenakan di rumah, tentu selalu menonjolkan keindahan tubuh proporsionalnya.
Bersambung
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat autor harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
...Biar makin semangat...
...Terima kasih...
__ADS_1