
"Iya, kan dulu. Sekarang kan mereka udah putus. Kali aja kalian bisa jadian." Tiba-tiba kata itu membuat Anin ingin mengakui hubungannya dengan Bimo. Tetapi di urungkannya, Anin merasa belum waktunya menceritakan tentang Bimo pada siapapun, kecuali keluarganya yang memang telah tau.
"Oh, iya Nin. Kamu wajib ikut ya. Nanti pada minggu terakhir di bulan Maret sampai Pertengahan bulan Mei akan ada acara Festival Fahsion Step On di Orchid Road, Singapura. Nah, itu merupakan ajang parade aneka busana hasil karya desainer tingkat dunia, acara itu di gelar di kawasan pusat perbelanjaan. Ini bisa jadi sumber inspirasi mu untuk menciptakan karya - karyamu selanjutnya. Soal biaya, tenang. Akan di tanggung semua oleh Butik. Aku juga mengajak mereka yang masuk 5 besar kemarin." Terang Melisa dengan antusias.
"Tapi, aku kan tidak masuk dalam 5 besar kak." Anin yang sadar diri tentu tidak serta merta menerima tawaran yang sangat menarik itu.
"Sudah lah Anin, kekalahan mu hanya karena kesalahan teknik. Dan aku ingin menebusnya dengan mengajak mu ikut serta."
"Tapi, bagaimana dengan mereka yang ikut. Bukankah mereka taunya aku gugur bahkan dalam seleksi berkas."
"Ah, gampang. Kita tinggal atur waktunya agar tidak terlihat bersamaan. Sekarang kamu pilih mau berangkat pada bulan apa?" tanya Melisa yang memang terkesan memaksa.
"Minggu kedua di bulan Maret aku sudah harus ke Paris untuk registrasi Kak. Lalu bulan April sudah mulai aktif. Jadi sepertinya, aku tidak bisa." Tolaknya secara halus.
"Registrasi itu cuma sebentar. Paling lama 3 hari Nin. Jadi, kamu habiskan saja waktumu di Singapura sampai akhir bulan Maret itu.
Nah di bulan berikutnya baru kamu menetap di Paris, gimana?"
Anin, tampak berpikir sebentar. Memang ia juga ingin melihat secara langsung Festival itu.
Tapi, dengan lamanya ia bertahan di sana, tentu akan menambah biaya hidup yang tidak mungkin selalu di tanggung pihak butik.
"Tidak usah saja, Kak. Anin, takut kelamaan di sana. Dan tentu sulit untuk urusan tempat tinggal." Jujur Anin pada Melisa
"Oh, kamu tenang saja. Jika kamu tidak keberatan, kamu tinggal di appartemen papa saja. Aku juga nanti akan ajak Rafa dan Reya sekaligus jenguk mama. Supaya papa ga bosan ."
Dengan mata berbinar, Anin pun mengangguk setuju.
"Wah, kalo begitu dengan senang hati. Jika aku diijinkan numpang tinggal di sana ya Kak. Sekalian, aku juga mau jenguk mamanya kak Melisa dan Bang Emil."
"Oke, mantap kalo begitu Nin. Pasti mama juga akan senang ada yang menjenguknya selain kami."
"Maaf Kak. Apa masih belum ada kemajuan tentang keadaan tante...?" tanya Anin pelan agar Melisa tidak bersedih.
__ADS_1
"Beberapa bulan lalu, mama sudah bisa mengerjapkan matanya. Lalu beberapa hari ini, kata papa. Mama sudah bisa menggerakkan tangannya. Tetapi belum bisa bangkit dari posisi tidurnya, bersuara pun belum bisa. Tetapi, kini sudah mulai di lakukan terapi, agar organ-organnya bisa aktif dan berfungsi." Terang Melisa yang begitu lancar dan tampak akrab pada Anin.
"Tante pasti akan segera pulih Kak. Progresnya juga sudah sangat mengalami kemajuan jika demikian." Anin memberi semangat.
"Terima kasih ya Nin."
"Sama - sama Kak. Anin permisi dulu ya kak." Pamitnya sopan pada Melisa.Yang kemudian pergi meninggalkan ruangan Melisa dengan hati senang bercampur bingung. Karena, artinya mulai pertengahan bulan tiga nanti, ia sudah harus berpisah dengan ayahnya.
Walaupun kemarin, Anin belum dapat kepastian kapan dan apakah akan ke Paris. Tetapi, ia sudah saling berembuk dengan Jovan dan Winda. Agar, saat Anin melanjutkan studinya, ayah akan tinggal di desa bersama Jovan.
Untuk itu, Anin pun menghubungi Jovan. Agar sebelum ia registrasi ayah sudah harus di jemput. Bak gayung bersambut, Jovan pun sangat senang menerima ayahnya tinggal bersama mereka di desa.
Berbeda dengan Bimo, yang sebenarnya masih berat melepas kepergian Anin yang terhitung masih lama. Terdengar dari obrolan mereka via telepon malam itu.
"Bukannya waktu itu mas sudah mengijinkanku untuk pergi ke Paris...?" ulang Anin mengingatkan Bimo.
"Iya, tapi kan. Sayang bilang mulainya bulan April bukan Maret...?"
"Regis cuma sebentar, balik aja lagi. Ke desa kek gitu, sebelum lama di sana. Dua minggu lumayan lho sayang." Pinta Bimo bak bocah.
"Kan aku ga tau, di sana tinggalnya gimana...? Apakah ada di siapkan asrama atau harus sewa kamar atau sewa rumah atau gimana gitu. Itu semua perlu waktu mas." Jawab Anin meyakinkan.
"Gini aja deh yang. Bulan depan aku ambil cuti lagi. Aku serius mau lamar kamu, kita ke Solo ya... ketemu orang tuaku. Kita tunangan atau apa dulu gitu. Supaya aku yakin, bahwa kamu akan selalu setia sama aku."
"Mas, yang harusnya takut kehilangan kamu itu aku. Secara kekasih ku ini adalah pria tampan dan mapan. Pake sekali melintas aja, cewek-cewek pasti klepek-klepek minta mas nikahin." Jawab Anin memuji sekaligus bercanda.
"Iya mestinya gitu sayang. Tapi, kamu ga termasuk cewek-cewek itu. Di ajak nikah aja susah banget. Nikah itu ibadah loh sayang."
"Ih... selalu ke situ arahnya."
"Oke, ya sayang, bulan depan kita ke Solo." Ujarnya meminta persetujuan Anin.
"Anin, minta ijin ayah dulu ya mas. Kalo di perbolehkan ayah, baiklah." Ujar Anin melunak.
__ADS_1
"Siap. Segera kasih kabar ya sayangku.
Miss you calon istriku."
Bimo, pria yang selalu membiasakan Anin masuk dalam buaian kata sayang dan perhatiannya. Mestinya Anin merasa senang dan beruntung saat ia akan di ajak melangkah ke jenjang yang lebih serius oleh seorang Bimo. Bimo yang sejak awal pertemuan tampak tegas dan konsisten dengan keseriusannya dalam menjalani hubungan mereka. Namun, jauh di lubuk hati Anin merasa belum merasakan getaran yang berarti.
Jujur, Anin kagum dan meleleh dengan ketampanannya, belum lagi ia adalah pria mapan dan dewasa. Sejauh ini pun ia selalu dengan sopan memperlakukan Anin, terasa sekali bahwa ia begitu melindungi Anin tidak ingin merusaknya.
Sebut saja, Bimo adalah pria yang sempurna. Yang belum Anin temukan cacat cela nya. Tapi hati kecil Anin berkata, untuk belum bisa mencintai Bimo seutuhnya, dengan alasan yang tidak dapat Anin uraikan.
Entah, di bagian sudut hati Anin sebelah mana?
Anin tiba-tiba masih berharap dan menginginkan Darel, apalagi setelah ia tau bahwa Darel bukan lagi milik Felysia.
Ada secercah harapan baginya mendapatkan peluang untuk memiliki seorang Darel, bahkan di saat yang telah nyata kini ia telah memiliki seorang Bimo kekasihnya itu.
Apakah Bimo hanya pelarian hati Anin yang penasaran tidak mendapatkan Darel...? Anin bimbang dibuatnya.
Bersambung
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
...Biar makin semangat...
...Terima kasih...
__ADS_1