DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 89 : DAREL DI INTEROGASI


__ADS_3

"Tugasmu sekarang, fokuslah pada pelajaran mu. Dan tunggu saja, pangeran hati mu akan mewujudkan semua mimpimu." Janji mama Darel penuh keyakinan.


Lagi-lagi Anin hanya bisa senyum tersipu, menatap lekat pada kedua bola mata milik mama Darel, seakan mencari kebenaran di sana.


Anin memang bukan atau belum menjadi kekasih Darel. Tetapi perlakuan keluarga Darel seolah ia telah menjadi bagian dari keluarga itu. Kadang Anin berpikir, apakah sudah benar langkah yang dia ambil. Dimana rasa malunya, harus tinggal dan menumpang di sana.


Karena itu, walau khursus belum juga di mulai, Anin tetap meminta ijin untuk segera kembali ke Paris. Dengan alasan, agar tidak tergesa-gesa mempersiapkan semua keperluannya saat benar-benar mulai aktif untuk belajar.


Orang tua Darel serta Melisa pun tidak bisa menahan Anin lebih lama untuk tetap tinggal sementara di Singapura, sebab mereka tau betul apa alasan Anin sebenarnya. Yaitu tetap ingin mempunyai harga diri.


Entah suatu kebetulan atau memang tidak beruntung. Sehingga saat pesawat yang Anin tumpangi untuk mengantarnya ke Paris telah mendarat dengan sempurna, kini tampak Darel baru saja tiba di Bandara Changi Airport. Dia mengira Anin akan tetap bertahan di Singapura, sebab ia tau masih 1 minggu lagi Anin baru masuk khursus. Maksud hati ingin membuat kejutan pada mereka semua yang berada di Singapura, tapi malah Darel yang terkejut menerima kenyataan bahwa Anin sudah kembali.


Tampak Melisa menoyor mesra jidat adik kesayangannya itu sembari berkata: "Norak kamu, pake acara surprise-surprise segala...akhirnya ZONK kan...payah...!!!" ledeknya.


"Kakak...!!!" hardiknya pada Melisa.


Darel segera memeluk mencium mama bertubi-tubi. Sambil terus berkata : " Akhiiirnya mama ku kembali. Ma, jangan sakit kaya gitu lagi ya Ma... Aku belum kasih cucu yang lucu buat mama, mama harus sehat terus. Jaga kesehatan terus ya ma." Dengan posisi yang masih belum melepas pelukan sayangnya pada wanita yang sudah melahirkannya itu.


"Kasih cucu, ngasih mantu aja alotnya bukan main." Mama pura-pura marah pada Darel.


"Iya sabar."


"Sabar apanya... sekarang mama tanya, udah bisa milih cewek belum sih...?"


"Udah, aku pilihnya Anin ma. Mama setuju kan...?"


"Pilih Anin, tapi kata papa yang kamu bawa jenguk mama waktu di Bandung bukan Anin."


"Itu, dia datang sendiri ma. Bukan Emil yang ajak."

__ADS_1


"Terus, kenapa sampai mama harus di rawat di sini dan kakak mu yang bawa Anin ke mama...?"


"Ya...Anin susah di ajak ma. Ayahnya pasti ga ijinkan bawa anak gadisnya kemana-mana tanpa tujuan yang jelas." Bela Darel pada dirinya.


"Ya ... iyalah ga di ijinkan. Hubungan mu sama anak gadis orang ga jelas. Orang tua mana yang mengijinkan anaknya pergi pergi dengan laki-laki yang pacar bukan, suami tidak, teman juga ganjil." Mama masih tampak berkobar-kobar menceramahi Darel.


Kedatangannya kali ini, bagai seorang terdakwa yang sedang di interogasi oleh penyidik. Tetapi, Darel juga tidak bisa berkutik karena semua yang mamanya katakan itu benar adanya.


"Mama sudah katakan padamu, jangan sekali-kali mempermainkan perasaan wanita. Bayangkan itu kakak mu. Bagaimana jika ada laki-laki yang hanya dekat tetapi tidak memberikan tanda, signal apalagi kepastian akan perasaannya. Untung, Anin adalah gadis yang pintar. Tidak hanya duduk diam menunggu lelaki yang sangat berpotensi dicintainya. Sehingga kini ia telah bahagia dengan pria yang lebih dahulu memberikan kepastian untuknya. Mama juga sudah memberikan restu mama padanya. Semoga dia bahagia dengan pria pilihannya itu. Dan untuk kamu Mil, semoga kamu tidak menyesal telah banyak membuang waktu dan melewati kesempatan untuk memilikinya." Ujar mama dengan nada pelan, seolah ada rasa kekecewaan dalam di hatinya.


"Apa Anin, juga cerita kalau kami memang belum jadian ma...?" tanya Darel tanpa malu.


"Menurut kamu, mama tau dari mana kecuali dari orangnya langsung. Mama sampai malu sama Anin, mama yang begitu menginginkan dia menjadi menantu mama, eh. Ternyata anak mama sendiri oknumnya, yang membuat mimpi itu tidak terwujud." Kesal sekali wajah yang mama tunjukkan pada Darel saat itu.


"Lalu, apa Anin juga cerita tentang hubungannya dengan Bimo...?" selidik Darel lagi, yang penasaran sudah sejauh apa pembicaraan Anin dan mama.


"Mil, Anin itu gadis yang baik dan jujur. Tidak ada sedikit pun hal yang bisa ia sembunyikan dari mama.


"Jadi... menurut mama Emil harus bagaimana?" Darel menyerah agar sidang ini tidak berlanjut sampai pagi.


"Masih tidak tau apa yang bisa kamu perbuat, Mil?" Mama balik bertanya pada anaknya yang sepertinya memang tidak mahir dalam urusan ini.


"Aku sudah tidak mau mama berteka-teki sama Emil seperti waktu itu. Mama kasih arahan yang gamblang saja. Emil sudah cukup sibuk dengan urusan bisnis papa. Mama jangan ikut memperbanyak pikiran Emil ya..." Pintanya manja.


"Sesungguhnya hatimu bagaimana?" tanya mama yang sudah mulai luluh melihat anaknya seolah frustasi.


"Ya, Emil sudah yakin sekarang. Bahwa Emil cuma ingin dia yang menjadi istri Emil ma..." Ujarnya dengan wajah yang memerah malu.


"Oke, sekarang kamu mau mulai dari mana untuk mendapatkannya?" tanya mama mulai ingin mengetahui strategi Darel.

__ADS_1


"Entahlah ma. Apa Emil ke Paris saja menyusulnya?


Tapi, Anin tidak mungkin semudah itu untuk di rayu. Apalagi jika ia masih sama Bimo. Masa, Emil ambil pacar orang." Darel sibuk berbicara sendiri.


Nampak mama masih diam, membiarkan Darel mencari solusi sendiri.


"Tapi, sebelum berangkat kemaren. Aku sama sekali tidak melihat mereka saling menghubungi." Ujar Darel masih berbicara sendiri ke arah mamanya.


Mama masih diam melihat wajah anaknya yang memang masih bingung sendiri.


"Atau, aku cari kepastian tentang hubungan mereka saja terlebih dahulu ya ma...?" tanyanya pada mama.


Yang hanya di balas gerakan angkat bahu dari sang mama.


"Ah, tau ah. Nanti lagi Emil pikirin. Mungkin yang terpenting sekarang, aku harus gencar menghubunginya saja...mungkin." Kebingungan dan kegundahan Darel masih sangat tampak di wajah tampan seorang Darel.


"Melihat wajah bingung mu ini, mama malah takut. Bagaimana mungkin perusahaan papa akan berkembang pesat jika di pimpin oleh seorang pria sulit menentukan pilihan sepertimu, nak." Ujar mama sambil mengusap pelan kepala Darel.


Bersambung...


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat author harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...

__ADS_1


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...


__ADS_2