
"Iya... kamu semangat lagi lanjut kerja ya, sampai jumpa cantik." Ujar Darel yang sangat berhasil merubah mood Felysia kembali. Dan syuting pun berlanjut.
Sesekali Darel merasa rugi melihat ramainya malam kebersamaan antar semua tim yang saling bekerja sama di sana. Mereka mengadakan acara Barbeque Party. Dan ia hanya bisa melihat keseruan itu lagi lagi lewat layar monitornya.
Tok...tok... tok.
Pintu kamar Darel di ketuk seseorang. Darel hanya diam.
"Dar...ini aku." Terdengar suara Gerald dari luar. Segera Darel membuka pintu.
Terlihat penuh kedua tangan Gerald membawa semua makanan yang mereka nikmati bersama.
"Tadi kamu yang nelpon Model sombong itu?" tanya Gerald.
"Ya iyalah...dan terpaksa besok pagi aku harus menampakan diri, di vila ini Ger."
"Pantas dia langsung jinak. Kayaknya... dia mau ambil hati kamu lagi lhoo. Jangan - jangan dia nyesel dulu pernah nolak kamu, Dar." Ucap Gerald
Darel hanya menggendikkan kedua bahunya.
"Malam ini kamu tidur sama aku?" tanya Darel
"Sama Anin mungkin." Jawab Gerald santai.
"Whaat....? Jangan sekali kali kamu samakan Anin dengan wanita pemuas nafsumu di ranjang ya!!! Dia beda."
"Selow bradaaah. Sudah kaya bapaknya aja kamu."
"Kemaren aku ga sengaja denger dia telponan sama kakaknya. Ternyata dia kerja di dua tempat, untuk membiayai pengobatan ayahnya Ger."
"Cie...perhatian banget nih sama si asisten. Jatuh cinta yaaa...??"
"Ger...!!!" Ucapnya tegas
"Ii...iya, aku tidur sama kamu di sini lah Darling!! Ha ha ha..." Ucap Gerald meledek Darel.
Setelah itu tampak Gerald meninggalkan Darel untuk bergabung kembali ke tempat party.
Entah mengapa sejak Gerald masuk kamarnya. Darel tidak dapat memejamkan matanya. Apakah karena Gerald minum banyak alkohol. Sehingga Darel tidak tahan dengan baunya. Waktu menunjukkan pukul 1 dini hari. Darel yakin semua penghuni Villa pasti sudah semua tidur. Maka, Darel memutuskan untuk memberanikan diri keluar kamar. Untuk sekedar memastikan keamanan, kebersihan dan persiapan syuting besok.
Darel melangkah pelan, setengah mengendap. Saat ia berada di area syuting besok. Ia melihat sekelebat bayangan hitam, bergerak sendiri. Darel berhenti dan mengamati bayangan itu. Sambil terus mendekat dengan waspada.
Dekat
Dan semakin dekat, terdengar suara di balik properti, dan banyak kain berserakan di sana. Ada sedikit cahaya yang bergerak gerak sendiri di tempat remang remang itu. Darel makin penasaran dan semakin mendekat.
"Anin..?" ucap Darel setengah berbisik di dekatnya.
Anin yang merasa ada namanya di sebut pun, membalikkan badannya.
"Pak Darel??? Kapan bapak datang...?"
__ADS_1
Darel hampir lupa jika ia merahasiakan keberadaannya yang ada di sana sejak pagi.
"Oh.. barusan." Jawabnya bohong.
"Ah syukurlah. Bapak bisa sampai dengan selamat. Felysia bete terus jika bapak tidak ada."
"Kamu sedang apa di sini. Ini tengah malam lho. Apa kamu ga takut.?"
"Aku sudah biasa begini pak. Aku malas harus di marah marah di tengah orang banyak, jika pekerjaanku tidak beres."
"Sekarang apakah yang kau cari sudah dapat?" tanya Darel sedikit perhatian.
" Iya sudah dapat dan siap semua. Hanya... aku harus melipat dan merapikan kembali semua yang berserakan ini. Supaya besok sudah tampak rapi."
"Aku temani ya..." Tawar Darel sambil menarik kursi agar tidak jauh dari Anin yang masih sibuk sendiri merapikan area yang berserakan olehnya tadi
"Apa bapak tidak capek? Kan bapak baru sampe. Nyetir sendiri kan tadi?" tanya Anin perhatian, bukan karena dia CEO tetapi memang sifat Anin selalu ramah dengan orang lain.
"Ga apa - apa. Aku juga belum ngantuk." Ucap Darel yang memang merasa nyaman bisa ngobrol berduaan dengan Anin. Darel juga nampak kagum melihat kecepatan tangan Anin melakukan pekerjaannya. Dia selalu tampak sungguh sungguh dalam melakukan pekerjaannya.
"Anin."
" Iya, pak."
"Bisa ga.. kamu ga panggil bapa ke aku, kayaknya aku tuh tua banget. Aku kan seusia Felysia, Gerald juga. Dengan mereka kamu panggil nama, kenapa tidak denganku.?"
"Karena bapak bosnya."
"Felysia juga Bos mu"
"Iya... tapi kalo lagi berdua begini rasanya ga enak Nin, di panggil gitu."
"Lalu boleh nya aku panggil apa? Felysia Darel. Bu Melisa Emil. Ya...situ nya suka di panggil gimana?"
"Mil... Emil saja. Biar akrab dan sama kaya orang rumah manggilnya gitu." Jawab Darel yang juga tidak paham kenapa dia ingin di panggil begitu oleh Anin.
"Oke Mil. Tapi saat ada yang lain terutama Felysia. Aku ga berani ya...Ntar di kira aku genit. Mau goda targetnya."
"Aduuh kok..keceplosan siih" Umpat Anin dalam hati.
"Apa...target?
" Hi ... hi... hi... Maaf Mil. Aku tau dari Felysia. Kalo dulu ... kamu pernah naksir dia. Dan sekarang dia mau jadikan bapak... eh ..kamu jadi kekasihnya lagi." Ungkap Anin jujur.
"Emang dia masih jomblo?'
"Kasih tau ga ya...?" Sahut Anin mulai berani bercanda dengan Bos tampannya itu.
"Kasih tau aja deh...ntar ku kasih nilai tinggi deh buat karya mu di kompetisi."
"Jangan gitu dong. Aku memang mau menang. Tapi dengan penilaian yang benar. Dan soal pribadi Felysia, aku ga berhak kasih tau. Hargai privasinya lah."
__ADS_1
"Yah...ini cewek ga gampang juga ternyata. Tipe setia." Lagi lagi Darel bergumam dalam hatinya.
"Mil... kerjaan ku sudah selesai niih. Istirahat gih.!!" ajak Anin.
"Aku lapar Nin, kamu bisa masak ga?" tanya Darel pura pura tidak tau kalo Anin jago masak.
"Ya ..kalo cuma masak air sama bikin telur ceplok sih bisa." Jawab Anin merendah.
"Boleh, aku minta kamu masak untukku malam ini."
" Udah mau pagi ini pak... Haha..hahaha... Ayo kita kedapur, semoga ada bahan yang bisa di masak." Ucap Anin tanpa sungkan pada Darel.
Sesampai di dapur vila itu, Anin langsung membuka kulkas, dan cek Nasi yang tersisa.
"Oke... mantap. Ada mix jagung wortel, telur, sosis, filet ayam dan nasi. Aku buat nasi goreng sebentar ya Mil."
Tanpa persetujuan Darel, Anin langsung beraksi di sana. Bukan hal yang sulit bagi Anin jika hanya membuat menu nasi goreng walau dadakan.
Saat Anin sibuk dengan wajan penggorengan. Darel juga tampak sibuk menyiapkan 2 cangkir jeruk panas, dan 2 gelas air putih.
Mereka tampak seperti sepasang kekasih yang saling melengkapi.
Belum 30 menit, nasi goreng pun siap tersaji. Anin tersenyum saat melihat air minum yang di siapkan Darel.
"Wah....ada jeruk hangat. Terima kasih ya Mil."
Darel hanya tersenyum. "Ayo makan." Ajak Darel.
"Siap...aku juga tiba tiba lapar lho."
"Ya iyalah...sejak tadi kamu ga berhenti kerja." Ucap Darel keceplosan.
"Kok tau....?"
"Jelas jelas aku nemu kamu lagi kerja rodi." Ujar Darel.
"Ha...ha...besok jam 5 mereka udah mulai syuting. Kalo ga ku siapin...bakalan kacau."
"Anin...nasi gorengnya enak banget. Minta norek mu ya...supaya ku bayar. Aku ga banyak bawa uang cash."
"Ah ..ga usah. Aku juga lapar. Ga di minta masak juga. Aku bakalan tetap makan walau dini hari.'
Bersambung
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian sangat autor harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
__ADS_1
...Biar makin semangat...
...Terima kasih...