DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 138 : ALUNA QUEENI ASWINDRA


__ADS_3

"Ada kejadian apa ini...!!!" pekik suara yang keluar dari balik pintu ruang rawat Anin.


Mama Darel tampak gusar melihat putra kesayangannya kini tengah tersungkur bersujud di kaki ayah mertuanya.


Tampak wajah suram, masih merah padam pada wajah ayah Anin, tanpa suara.


Darel mendongakkan kepalanya, pun menampilkan wajah yang begitu pilu memalukan di mata mamanya. Tidak pernah wanita itu melihat wajah frustasi anaknya.


Ayah Anin hanya sanggup mengulurkan ponsel milik Anin pada besannya. Seketika ponsel itu telah berpindah tangan ke pada papa Darel.


Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut papa Darel.


BUUUKKH!!!


Sebuah tendangan yang mampu membuat badan Darel tergeser sekian centi dari posisinya mengarah ke hadapan mamanya yang tampak semakin bingung melihat kemarahan suaminya.


"Papa...!!! Kenapa sampai begini. Katakan apa salah Emil." Ucap mama yang berusaha membantu Darel berdiri dan berusaha akan memeluk anak kesayangannya.


"Sungguh memalukan... kamu tau. Kamu hampir saja mencabut dua nyawa sekaligus karena perbuatanmu...!!!!" Bentak papa Darel yang benar-benar tampak lebih marah dari ayah Anin yang kini hanya mampu mengusap air matanya sendiri dan meraih tangan Anin dengan lembut.


"Sejak awal saya sudah peringatan Emil, bahwa jangan sekali-kali mengecewakan hartaku yang paling berharga ini. Walau hidup kami sederhana tidak dalam kemewahan seperti kalian, tapi kami juga berhak bahagia. Kembalikan saja Anin ku, jika memang kalian tidak mampu membahagiakannya." Suara ayah Anin terdengar sangat lirih dan pelan namun terdengar bagaikan sayatan sembilu bagi mereka yang berada di ruangan itu.


Mama makin penasaran dengan perkataan ayah Anin, kemudian merebut ponsel yang ada di tangan papa Darel.


Dengan mata yang lebar terbelalak, mama menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Sukses menjatuhkan benda pipih itu kelantai.


Kemudian...


BUK...BUK...BUK


Darel kembali menerima pukulan bertubi-tubi dari mamanya.


"Kamu jahat Mil... mama malu memiliki anak sepertimu. Katakan apa salah Anin sehingga kamu tega melakukan perselingkuhan itu padanya Mil. KATAKAN....!!!" Teriak mama yang kini tampak lebih histeris dari dua pria sebelumnya.


Tindakan brutal mama pada Darel kini teredam oleh pelukan papa Darel. Masih sangat jelas tangis sesungukan mama dalam dada papa Darel.

__ADS_1


Darel hanya diam menerima semua perlakuan dari para pendukung Anin garis keras. Ia tidak berminat untuk membela diri. Karena ia sadar jika sekarang ia tidak memiliki bukti untuk menyangkal perbuatan itu.


Ia hanya tepekur di sudut ruangan itu, mencoba mencari solusi untuk dapat segera menyelasaikan permasalahan rumah tangganya.


Darel belum sepenuhnya bisa berpikir jernih, tatkala pikiranya masih kacau dengan kenyataan bahwa Anin melahirkan sebelum waktuya di sebabkan oleh perbuatannya, anak mereka harus berada dalam inkubator sementara istrinya pun belum sadarkan diri. Jelas... Darel tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Kedua lututnya masih terasa lemah, belum lagi tamparan, tendangan, pukulan dan cercaan dari kedua orang tua juga mertuanya sangat menohok hatinya. Pilu.


Suasana ruang rawat inap itu, hening. Tidak ada seorang pun yang mampu berbicara, sebab mereka tengah sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Dengan imajinasi dan logika, beragam asumsi dalam benak mereka.


Hingga terdengar suara menggema dalam ruangan itu, membuat semuanya terlonjak dan tersentak kaget.


"Bee... mana anak kita?" pertanyaan itu lolos keluar dari mulut seorang Anin yang telah seutuhnya sadar dari pingsannya kurang lebih 6 jam. Namun, sesungguhnya sedari tadi Anin telah sadar, hanya ia meminta dokter merahasiakan keadaanya. Untuk memberi efek jera pada suaminya. Juga memberi waktu untuknya berpikir sendiri, tentang pic yang Santy kirimkan untuknya siang tadi.


Segera Darel menghambur mendekati Anin yang di dengarnya memanggil namanya.


Namun, dengan satu tangan ayah Anin menghalang di dada Darel membuatnya tidak dapat menempel di sisi ranjang pesakitan milik Anin.


Ayah Anin tampak telah pasang badan untuk Anin. Dan dengan segera memencet tombol, untuk memanggil tenaga medis untuk memeriksa keadan putrinya tersayang.


"Tenanglah, putrimu ada di ruang bayi nak." Ucap ayah dengan nada datar.


Sama halnya dengan mama dan papa Darel, mereka hanya mampu melihat pemadangan itu dengan diam, tanpa protes. Untuk menjaga susana hati Anin yang baru pulih dari pinsannya.


"Baik... selamat ya bu. Ibu sudah sukses melahirkan bayi prematur dengan selamat. Untuk beberapa waktu kedepan bayi ibu kita rawat di inkubator terlebih dahulu, sampai berat badan bayi mengalami kenaikan. Dokter spesialis anak sudah melakukan pemeriksaan, dan kondisi bayi ibu sehat sempurna.


Besok, jika keadaan ibu sudah stabil... ibu boleh menstimulasi bayi dengan memberikan ASI untuk si bayi." Terang dokter pada saat melakukan pemeriksaan terhadap Anin.


"Iya... terima kasih dokter." Jawab Anin pelan.


"Oh... iya. Siapa nama bayi cantiknya pa. Agar kami bisa memasang label pada box bayinya."


"Aluna Queeni Aswindra." Dengan lantang Darel menyampaikan nama putri pertama mereka pada dokter dan perawat yang siap mencatat nama bayi mereka. Nama yang sebelumnya memang telah Darel dan Anin sepakati, setelah mengetahui jenis kelamin bayi yang di kandung Anin itu.


"Nama yang cantik sesuai dengan bayinya. Mari kami tinggal dulu, selamat beristirahat. Oh iya... jangan di ajak untuk bicara yang berat dulu ya ... pasiennya. Agar lekas pulih." Pesan dokter seraya meninggalkan mereka yang ada di sana.


Suasana tampak tegang kembali, tidak ada yang berani untuk memulai. Sementara, Darel masih terlihat berpikir dua kali untuk sekedar mendekati istrinya pasca melahirkan.

__ADS_1


"Bee... kenapa begitu jauh dariku. Kamu tidak bahagia sekarang kita telah menjadi orang tua?" tanya Anin pada suaminya sambil melirik pada ayah yang sedari tadi duduk mematung di tepi tempat tidurnya.


Darel masih belum memberi jawaban, juga tidak memiliki nyali untuk sekedar menyeret kakinya mendekati istri yang kini telah menjadi ibu dari anaknya.


"Ayah... mama, papa dan suamiku. Sini, tolong mendekat padaku. Aku butuh pelukan kalian." Pinta Anin pelan.


Sontak mereka yang Anin sebutkan serentah mengikuti aba-aba itu, dan tampak mengelilingi petiduran Anin.


"Bantu dudukkan sedikit Bee." Pintanya manja pada suaminya. Membuat Darel dengan sigap mendudukan dan membiarkan Anin bersandar di depan dadanya.


"Sedari tadi aku sudah sadar, hanya aku merasa lelah dan perlu banyak istirahat juga tidur. Namun belum bisa mengeluarkan suara. Aku mendengar semua kebisingan suara tangisan, pukulan juga bermacam-macam bentuk kemarahan. Tetapi aku belum bisa membuka mataku. Jika aku tidak salah... apakah pukulan itu di tujukan untuk suamiku...?" pancing Anin membuat semuanya lagi-lagi terperanjat kaget.


"Sudah lah Nak... bukankah dokter juga tidak menyarankan untuk mu berbicara hal-hal yang berat terlebih dahulu. Sekarang... lebih baik kita istrirahat saja. Agar kamu cepat pulih. Ayahmu juga butuh istirahat, kita semua sangat terkuras emosi dan energi yang banyak hari ini." Pinta mama dengan pelan, tanpa maksud menghindar atau lari dari permasalahan yang sebenarnya.


"Maaf... Anin merasa harus segera menyelesaikan masalah ini." Ucapnya dengan nada tegas.


Bersambung...


...Sorry......


...author masih auto nyesek niih...


...ada yang sama ga...?...


...So' jangan pelit kasih :...


...VOTE...


...LIKE...


...GIFT...


...KOMEN...


...Yang banyak ya... šŸ™šŸ™šŸ™...

__ADS_1


__ADS_2