
"Karya dengan nomor urut 35, atas nama Nicole Matilda." Melisa membaca data yang ada dalam buku pendaftaran, juga foto seorang wanita yang lumayan cantik.
"Nicole... cocok!!! Sangat cocok dengan yang Anin katakan tadi malam. Ayo Ger, kita cek CCTV. Kini aku malah lebih yakin, jika sakit perut Anin adalah ulahnya juga." Ujar Darel penuh keyakinan dan semangat.
Lagi - lagi Gerald dan Melisa saling bertatapan. Ada tatapan bingung di bola mata Melisa, melihat Darel yang begitu antusias dengan karya Anin.
"Bentar-bentar, sepertinya ada bagian yang tertinggal kamu ceritakan sama kakak deh,Mil." Pancing Melisa berharap adiknya jujur akan hubungannya dengan Anin.
"Yang mana? Udah semua kok." Jawab Darel yang sudah berdiri ingin ke kantin untuk mengecek CCTV di hari kejadian itu.
"Kapan Anin bisa cerita sedetail itu sama kamu? Dan apa hubungan kalian berdua? Bukankah sebelum kamu pindah ke Bandung kamu jadian sama Felysia?"
Melisa tidak mengerti.
"Ah, nanti saja bicara soal itu. Mencari kebenaran ini tuh lebih penting, Kak. Emil pamit dulu ya, bye..." Ucap Anin sambil mencium pipi kakak tersayangnya. Begitulah Darel yang sangat penyayang, bahkan saat Kakaknya sudah bersuami pun ia selalu bersikap hangat.
Gerald nampak kembali sebagai asisten yang selalu berada di belakang bosnya, yang mulai menunjukan ketegasannya seperti biasa, dalam memecahkan kasus serius.
Darel terkenal sebagai CEO yang tegas dan tidak pandai berbasa - basi di kalangan deretan CEO muda. Jika ia sudah berkata A maka tidak bisa dibantahkan. Dan, entah mengapa instingnya selalu kuat dan tepat dalam mengambil keputusan. Mungkin otaknya sudah ia habiskan untuk memikirkan hal demikian, ketimbang memutuskan soal cinta. Sebab, sampai sekarang pun ia masih belum yakin akan perasaannya pada Anin.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Gerald dan Darel sekarang sudah mengantongi bukti jika Nicole benar telah menukar karya tersebut, tepat saat Anin dan yang lainnya ke toilet. Hanya Darel dan Gerald tidak dapat membuktikan, penyebab sakit perut Anin tersebut atas perbuatannya atau tidak.
"Ini kriminal Ger, kita harus memproses ini kepada pihak yang berwajib." Ujar Darel pada Gerald yang tentu sangat geram dengan kenyataan yang telah terbukti ini.
"Tidak bisa semudah itu Dar, jika kamu melaporkan ini. Lalu bagaimana kelanjutan pemenang kompetisi itu."
"Di buat saja semuanya batal. Dari pada kalian sudah memenangkan orang yang nyata - nyata telah curang." Ujar Darel.
"Sebaiknya kita adakan rapat luar biasa saja, untuk memutuskan hal ini. Dan, sebaiknya kita katakan semuanya pada Anin. Dan tanyakan apa pendapatnya, tentang hal ini. Seandainya ini kita bawa ke ranah yang berwajib pun, mestinya Anin yang berhak melaporkannya, bukan kita." Terang Gerald yang memang selalu bisa berpikir dengan kepala dingin di saat genting sekalipun.
"Iya, kamu benar. nanti akan ku sampaikan dan ku tunjukkan semua bukti ini pada Anin."
__ADS_1
"Oke, masalah ini sudah clear ya. Sekarang pertanyaanku sama seperti kak Melisa, apa hubunganmu dengan Anin sekarang, apa sudah ada kemajuan?" tanya Gerald yang memang telah tau jika Darel menyimpan rasa pada Anin.
Sejenak, Darel menarik nafasnya dalam dan menghembuskan dengan berat. "Belum Ger. Kami hanya sebatas teman yang bagiku spesial, tapi juga tidak saling mengungkapkan rasa. Aku tidak tau, perhatian Anin itu artinya apa? Dia tampak datar dan biasa - biasa saja jika kami tengah berduaan. Sehingga tidak ada kesempatan yang dapat mengkondisikan aku menyatakan perasaanku."
"Kamu sendiri apakah sudah yakin, memiliki rasa padanya? Jika hatimu sendiri bimbang dengan perasaanmu padanya, mana bisa kamu menyentuh hatinya."
"Saat kami bersama, dia pasti selalu menyinggung soal Fely sebagai calon istri ku." Ujar Darel pada Gerald di mana kini mereka sudah duduk di ruang VIP di kantin sebelah Butik MJ.
"Anin tau ga, kalau kamu sudah putus sama Fely?" tanya Gerald.
"Aku tidak bilang." Jawab Darel.
"Itulah masalahnya. Tentu saja dia tidak berani menunjukan perasaannya padamu, secara yang ia tau kamu itu adalah seorang pria yang memiliki kekasih, bukan jomblo. Lu, jadi orang kadang ga peka banget ya..!"
"Masa gitu Ger? Ku pikir paling Felysia udah bilang ke Anin, kalo kami sudah putus." Ucap Darel dengan lugu.
"Logika aja bro, mungkin ga sih Fely cerita kalo dia kamu putusin. Sedangkan jadian sama kamu itu adalah hal yang sangat di inginkan nya. Ingat, ia bahkan kasih Anin 300jt demi dapatkan kamu. Ya aib lah baginya kalau sampai Anin tau kalian udah putus, dodol... dodol." Ledek Gerald.
Gerald tidak dapat berkata-kata lagi untuk mengomentari jalan pikiran sahabat nya yang tampak sempurna di kantor tapi nol dalam urusan cinta.
"Ger, aku duluan ya. Mau makan siang." Ujarnya sambil berdiri meninggalkan Gerald yang hanya ternga-nga.
"Bukannya sekarang kami sudah duduk di meja makan? Lalu Darel makan siang di mana?" Gumam Gerald sendiri, yang kemudian berlari mengejar Darel, dan baru menyadari jika tadi ia hanya menumpang dengan mobil Darel. Alhasil, Gerald hanya bisa memesan taksi online untuk dia bisa kembali ke kantornya. Karena telah di tinggal Darel.
Dirumah Anin.
Sesuai janjinya Anin benar benar memasakkan Steak Salmon With Mushroom Sauce untuk Darel. Sedangkan untuk ayahnya, Anin hanya membuat Salmon Panggang Madu. Dan untuknya, Anin membuat nasi bakar yang juga berisi salmon. Satu bahan dengan tiga menu yang berbeda itu, semua tampak enak dan menggiurkan. Jika biasanya Anin hanya terlihat makan berdua dengan Darel, berbeda untuk hari ini. Kini, tampak ayah Anin juga makan bersama mereka. Ketiganya tampak lahap menikmati bagian menunya masing - masing.
"Pak, mestinya Anin buka restoran saja. Kalau masakannya selalu enak seperti ini." Ujar Darel di meja makan yang kursinya hanya cukup untuk 4 orang itu.
"Bakat memasak Anin itu, turun dari ibunya. Dulu ibunya juga pandai mengatur menu makanan, walau dengan bahan makanan seadanya, tetapi selalu tak pernah bosan untuk kami nikmati." Cerita ayah sambil mengunyah pelan makanannya.
__ADS_1
"Habiskan saja dulu makanannya Pa, setelah itu baru ngobrol lagi. Bang Emil, masih lama di sini, kapan ke Bandung lagi?"
"Belum tau sih, tunggu urusan di sini beres dulu. Kenapa, mau ikut ke Bandung?" canda Darel pada Anin.
"Ngapain ke Bandung, kan mamanya abang masih di Singapura kan?' tanya Anin.
"Iya, kali aja mau jalan jalan, ya kan Pak?" tanya Darel melempar pandangannya pada ayah Anin. Tetapi tidak di gubris oleh ayah Anin.
"Jadwal khursus bahasa ku udah mulai padat mulai minggu depan. Aku ambil yang 3 minggu aja. Supaya nanti pas ke tempat Kak Jovan khursus ku sudah beres." jawab Anin.
Darel menggeleng mendengar penjelasan Anin.
"Itu otak sama badan, kapan istirahatnya? Apa ga butuh piknik? tanyanya pada Anin.
Bersambung...
...Untuk hari ini, author up 2 eps lagi....
...Biar semangat menghadapi hari esok....
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat autor harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
...Biar makin semangat...
__ADS_1
...Terima kasih...