
Pada pukul 16.30 Anin telah tampak berdiri di Bandara Husein Sastranegara Bandung.
Dengan hati yang bergemuruh bagai insan dilanda cinta, sebab kini semua rasa rindunya akan berakhir. Anin berjanji tak ingin jauh lagi dengan Darel Emilio Aswindra suaminya.
Anin sedikit kecewa saat melihat hanya mama dan pa Dito supir pribadinya yang menjemput Anin di bandara. Tetapi, Anin yang selalu memiliki senyum manis dan tulus tentu tidak pernah menunjukkan perasaan hati yang sesungguhnya.
"Darel sudah bilang ke kamu Nak... dia ga bisa jemput karena ada meeting yang tidak bisa di tinggalkan." Mama berusaha memberi keterangan.
"Iya ma, kemarin dia bilang diusahakan. Sepertinya dia sedang sibuk sekali akhir-akhir ini." Jawab Anin sambil mengusap pelan perutnya yang sudah membuncit.
"Iya... katanya ada rekanan bisnis yang baru membuka anak cabang dari perusahaan di Paris. Dan itu cukup menyita waktu dan konsentrasinya. Oh iya bulan depan usia kandungan mu memasuki 7 bulan kan. Kita lakukan tradisi siraman di rumah baru kalian saja ya Nak. Cucu nenek memang sangat pengertian... ia hadir saat mommy nya akan selesai kuliah, juga saat rumah yang daddy nya siapkan juga sudah siap huni. Luar biasa. Nanti mama cari baby sister di yayasan ya Nin, agar kamu tidak repot mengurus anak kalian." Celoteh panjang sang mama mertua yang sangat menyayangi anak menantunya ini, untuk mengalihkan pembicaraan.
"Tidak usah dulu ma. Anin coba urus sendiri dulu. Kan Anin belum tau di terima atau tidak bekerjanya. Anin akan belajar pelan pelan dalam urusan mengurus bayi."
"Kamu melamar pekerjaan Nin...?" tanta mama Darel agak terkejut.
"Iya Ma, Anin mengirim lamaran untuk menjadi tenaga pengajar di sebuah Universitas di sini dan Surabaya." Jawab Anin
"Luar biasa... mama yakin kamu pasti mendapatkannya sayang. Mama selalu mendukung apapun keputusanmu. Lakukanlah sesuai kemampuan dan keinginanmu, dan jangan lupa ijin sama suami ya sayang."
"Sudah ma... Bang Emil sudah mengijinkan dan setuju jika nanti Anin akan menjadi seorang dosen."
"Subhanallah. Doa terbaik mama selalu untuk keluarga kecil kalian ya nak" Ucap mama sambil mengecup sayang kening menantunya juga sambil mengusap halus perut Anin dengan pelan.
Saat Anin masuk ke kamar tidurnya dan Darel. Sepi melanda hatinya, tidak ada penyambutan di sana, padahal Anin berharap andai saja suaminya diam-diam telah mempersiapkan kejutan untuknya.
Suasana kamar itu masih tampak sama seperti terakhir Anin tinggalkan.
Menurut mama, rumah mereka memang telah selesai tetapi Darel tak sekalipun pernah ingin menidurinya sendiri. Sebab, ia hanya ingin masuk dan tinggal di sana dengan Anin.
Di tempat lain.
Darel tampak gelisah terperangkap pada pekerjaan yang saat itu sulit ia tinggalkan.
Bahkan, ia kini tengah berada di Surabaya.
Awalnya Darel memang begitu antusias bekerja sama dengan perusahaan milik Santy, seorang CEO cantik, cerdas dan juga sexy itu.
__ADS_1
Namun, setelah kurang lebih dua bulan terakhir Darel merasa ngeri jika berlama-lama dekat dengannya.
Makin sering mereka bertemu, Santy semakin tidak seperti yang Darel kenal saat performa pertamanya di Paris.
Ia lebih sering menggunakan pakaian yang seperti kurang bahan terutama saat melakukan pertemuan dengan Darel.
Tak jarang Santy pun seolah sengaja bergelayut manja di tubuh sorang Darel. Bahkan tanpa segan jika bertemu selalu saja menempelkan pipi kiri dan kanannya pada Darel.
FLASHBACK ON
Tok...
Tok...
Tok...
Ketuk suara dari balik pintu ruangan Darel.
Yang kemudian di buka sendiri oleh Nindy Sekretaris Darel.
Darel hanya memberikan kode pada Nindy agar meninggalkan ruangannya, untuk mereka berdua dapat melanjutkan obrolan.
Tujuan Santy datang saat itu adalah untuk menandatangani kontrak kerja sama mereka, sebab Santy sudah menentukan dengan mantap bahwa ia akan menjadi rekanan bisnis Darel. Dan berniat akan membangun sebuah kantornya di Bandung.
Tetapi dengan melihat gelagat Santy yang begitu agresif, membuat Darel mengurungkan niatnya untuk bekerjasama. Namun belum menemukan alasan yang tepat untuk menolaknya, sedangkan berpatner dengan perusahaan Santy juga menurut Darel akan mendatangkan income yang sangat besar.
Darel terus saja mengulur waktu, selama itu pula Santy tampak datang dan pergi sesuka hati menemui Darel. Ia bahkan tampak sengaja menggunakan kemeja yang sangat menonjolkan belahan dadanya. Belum lagi rok ketat dan pendeknya yang sangat menampakkan betapa putih dan mulusnya paha itu.
Bagaimanapun Darel adalah seorang lelaki normal, yang jauh dari istri, dan jika dekat pun istrinya sedang dalam keadaan hamil yang tentunya tidak akan pernah bisa melayaninya dengan maksimal.
Darel tampak beberapa kali meneguk salivanya, melihat pemandangan yang sangat menarik yang tidak pernah ia dapatkan dari seorang Anin istrinya.
Darel tetap bersikukuh untuk tidak menandatangani perjanjian kontrak itu, dengan alasan belum memahami beberapa bagian isi yang berbeda dari kesepakatan mereka.
Hal itu justru Santy pergunakan dengn sangat baik, ia malah lebih berani menumpuk pahanya pada paha Darel sekedar untuk merontokkan iman Darel. Sebab Santy tau dari gestur yang Darel tunjukan, bahwa Darel telah terpancing dengan kemolekan tubuh sexy nya.
Darel yang saat itu memegang ponselnya, segera memencet menghubungi Nindy, berkali-kali.
__ADS_1
Nindy yang tidak paham maksudnya, berinisiatif untuk masuk ke ruangan Darel.
Tampak sebuah pemandangan di depannya. Paha Darel dan Santy yang telah saling bertumpukan, juga tangan Santy telah sibuk berusaha melepas kancing kemeja di sana.
Nindy hendak membuang muka, tetapi matanya sempat bersirobok dengan mata Darel yang seolah meminta pertolongannya.
"Maaf mengganggu Pa. Sekarang bapa sudah di tunggu di ruang meeting." Ujar Nindy sambil menatap tidak suka pada Santy yang pelan-pelan menurunkan pahanya yang bertumpuk tadi, dengan wajah agak memerah.
Demikian juga dengan Darel yang tampak menghela nafas panjang pertanda merasa lega.
"Oh... maaf saya tidak tau jika kamu punya janji meeting, baiklah... saya tunggu jawabanmu secepatnya." Pamit Santy yang salah tingkah saat melewati Nindy yang masih berdiri mematung di depan pintu.
Saat Santy telah benar-benar keluar dari ruangan Darel, Nindy pun mulai angkat suara.
"Maaf... aku kali ini berbicara sebagai teman. Bagaimanapun caranya. Perusahaan ini jangan sampai bekerja sama dengan wanita itu. Rumah tanggamu akan menjadi taruhannya Darel. Aku tau betul bagaimana baiknya istrimu dan bagaimana besarnya cinta kalian. Tetapi... walau bagaimanapun kuatnya cinta itu, akan tumbang juga jika selalu diperhadapkan dengan manusia-manusia bermental rusak seperti Santy itu. Sumpah, aku menyesal kita pernah kagum dan mengenalnya."
Nindy berbicara dengan nada marah.
Semetara Darel masih diam mematung belum bisa berkata-kata.
Bersambung..
...Sorry reader... bukan pelakor...
...Hanya sedikit godaan buat si babang Darel yang jablayπ€π€...
...Mohon dukungannya π...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih ππβοΈπΉ...
...seikhlasnya yaa...
...Biar makin semangat...
__ADS_1