DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 35 : KECEWA LAGI


__ADS_3

Keesokan harinya. Di penginapan sejak pukul 5 sudah terjadi kehebohan. Tentu saja karena Felysia yang ribut mencari Anin si asistennya itu. Sebab sebentar lagi mereka akan mulai pemotretan.


"Ada apa siih ribut - ribut?" tanya Gerald yang saat bangun pagi sudah keluar untuk jalan jalan di sekitar penginapan mereka.


"Ini ..nih Anin jam segini belum keluar kamarnya. Aku kan udah mau mulai syuting nih." Ujarnya kesal.


"Yang syuting siapa?" tanya Gerald


"Ya aku lah."


"Trus...kenapa harus ada Anin. Pakaianmu belum dia siapkan?"


"Udah."


"MUA mu ada?"


"Ada, ini dah mulai dandan kan aku."


"Masalahnya di mana?"


"Ya... aku ga suka aja. Kalo aku kerja dia ga ada. Pasti dia enak-enakan tidur." Jawab Felysia.


"Yang kulihat, biasanya dia kerja setelah kamu selesai syuting. Membereskan pakaian yang kamu berantakin. Dia juga selalu lembur di malam hari saat kamu sudah tidur." Ujar Gerald seakan membela Anin.


"Bela aja terus... Kalian sesama asisten memang harus saling melindungi...!!" ujar Felysia.


"Aku bicara fakta. Apa aku juga harus bicara yang sebenarnya, kalo aku tau pekerjaan sampingan mu selain jadi model?" tanya Gerald mendekati telinga Felysia.


Felysia pun menoleh ke arah Gerald sambil melotot. "Tutup mulutmu!!"


Gerald pun tersenyum nakal. "Karena itu...berhentilah mengomel pada Anin yang sudah maksimal melayani mu." Ujar Gerald yang sambil berlalu meninggalkan Felysia yang makin kesal di buatnya.


Sepintas Gerald mengetuk kamar Darel untuk membangunkannya. Tetapi tidak dapat jawaban dari dalam. Sehingga Gerald pun memilih masuk kamarnya untuk mandi, dan segera ke lokasi syuting untuk mengawasi proses pemotretan itu.


Di rumah sakit.


Tampak Anin telah bangun, dan segera menelpon bu Ratih untuk memastikan bahwa beliau telah memasak untuk ayahnya. Anin juga menelpon sang ayah, tetapi tidak VC. Anin takut, jika ayahnya tau dia sedang di rawat di rumah sakit maka ayahnya akan sangat mengkhawatirkannya.


Anin yang hanya terganggu lambungnya, tentu tidak mengalami masalah kesehatan yang serius. Maka, Anin cukup menghabiskan 1 kantong infus saja,sudah membuat tubuhnya bugar kembali.


Anin menengok ke bagian kamar keluarga ruangan VVIP itu, terlihat Darel masih meringkuk tidur dengan nyenyak nya di sana.

__ADS_1


Melihat hal itu, Anin pun bergegas mandi juga melahap sarapan pagi yang telah di sediakan pihak rumah sakit.


Pukul 8 Dokter melakukan visite, untuk memeriksa keadaan Anin. Dokter itu hanya tersenyum dan berkata : "Rupanya suami ibu terlalu panik semalam, sehingga membawa anda ke sini. Kondisi ibu baik baik saja, hanya lain kali jangan lupa untuk makan. Hari ini sudah boleh pulang. Dan ini vitamin yang harus ibu habiskan untuk menjaga stamina juga agar tubuh ibu semakin fit."


Anin hanya mengangguk dan tidak sanggup berkata - kata mendengar penuturan dokter tadi.


Lalu dokter dan perawat itupun pergi meninggalkan mereka.


Anin tidak mau membangunkan Darel. Sehingga ia hanya memilih duduk di sofa sambil menonton TV yang memang telah jarang di lihatnya. Anin sengaja mengabaikan beberapa panggilan dari Felysia, sebab dia bingung harus bilang apa pada Felysia. Satu jam kemudian, Darel tampak terbangun sendiri dari tidurnya. Mengucek matanya, sambil berjalan ke arah Anin.


"Hei, kamu sudah rapi. Kenapa tidak bangunkan aku?" Darel tampak sambil mengucek matanya.


"Sepertinya Bang Emil lelah, jadi aku malas membangunkan mu." Ujar Anin bicara tanpa melihat ke arah Darel. Sebab jika dia sedikit saja menoleh ke arah Darel yang saat bangun tidur pun sudah menunjukan wajah tampannya itu. Mungkin penyakit di lambung nya memang telah sembuh, tetapi ia curiga penyakit jantung berdebar nya yang akan kumat. Ga kuat liat cowok cakep😁


"Tapi ini sudah jam 9 Anin. Dokter...dokter sudah ke sini memeriksa mu?" tanyanya lagi ke arah Anin.


"Sudah, katanya hari ini sudah boleh pulang kok. Ini, infus ku sudah di cabut.Nih aku di kasih vitamin.Aku juga sudah mandi, sudah sarapan juga,tinggal nunggu abang bangun aja." Celoteh Anin.


"Waduh... aku lapar Nin."


"Trus..?"


"Ya udah buruan kita pulang ke penginapan aja."


"Aku juga ga ada baju ganti." Ujar Anin.


"Truus...cuma mandi tapi pake baju semalem?"


"Iya." Jawab Anin cuek.


"Iya ... kamu tadi malan kan tidur ga pake baju itu. Pakenya baju rumah sakit." Protes Darel.


"Tapi aku... masa aku harus ke penginapan dengan celana pendek gini." Ujarnya cerewet.


"Ya... mau gimana lagi?"


"Aplikasi... pake aplikasi apa gitu Nin. Biar antarkan baju buat ku." Pintanya.


"Kenapa ga minta bang Gerald aja antarkan bajumu ke sini, sekalian jemput kita." Ujar Anin.


"Ga.. jangan. Dia pasti lagi sibuk ngawasin syuting. Gini aja, kamu pulang sendiri aja ke penginapan. Nanti aku nyusul. Soalnya... Ga ada yang tau kalo kamu pingsan semalam. Dan aku ga mau mereka tau, takut pada ribut." Ujar Darel.

__ADS_1


"Oke... baiklah. Bang, makasih ya."


"Iya.. udah ga apa - apa. Sudah tanggung jawabku, karena ini dalam tugas kan."


"Kamu bisa kan pulang sendiri?" tanya Darel seolah khawatir.


"Iya."


"Ya udah, duluan gih. Aku mau mandi, trus nyelesaikan adminstrasi dulu baru pulang." Jawabnya sambil melangkah ke arah pintu kamar mandi.


"Bang, sekali lagi. Maaf merepotkanmu,


terima kasih banyak untuk pertolongannya."


"Iya bawel, buruan pulang!! Ingat Bos mu pemarah lhoo." Ujarnya sambil terbahak.


Anin pun patuh dan berjalan keluar ruangan itu. Sambil memencet aplikasi di handphone nya, untuk memesan taksi agar ia bisa segera pulang menuju penginapan.


Di dalam taksi Anin nampak tersenyum sendiri, mengingat kejadian semalam saat Darel menyuapinya dengan pelan. "Sayangnya aku pingsan. Kebayangkan betapa paniknya dia liat aku jatuh tergeletak semalam. Apa aku di gendong ala bridal style yaaak...? Romantis dong!!!" Anin sibuk bermonolog dalam hatinya, sehingga tidak menyadari kalau dia telah sampai ke penginapan mereka.


Buru - buru Anin melangkah ke kamarnya, untuk segera mengganti bajunya, kemudian bergabung ke lokasi syuting. Seolah dia benar benar terlelap tidur di kamarnya.


Kemudian ia memberanikan diri untuk mengirimkan pesan WhatsApp pada Darel.


"Bang Emil, aku sudah di penginapan. Terima kasih untuk semuanya. Oh ..iya maaf. Tadi ga sempat nemenin abang makanπŸ™"


Pesan itu tersampaikan, dan hanya di read saja. Membuat hati Anin yang tadinya berbunga bunga, menjadi kecewa lagi.


Tetapi rasa itu tidak berlangsung lama, sebab saat mata Felysia menemukan Anin. Seperti biasa, segala perintah pun langsung bagai hujan membasahi bumi. Sehingga Anin tidak punya waktu lagi untuk sekedar mengkhayal lagi.


Bersambung


...Mohon dukungannya πŸ™...


...Komen kalian...


...sangat autor harapkan lho...


...Kasih πŸ‘πŸ’ŒβœοΈπŸŒΉ...


...seikhlasnya yaa...

__ADS_1


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...


__ADS_2