DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 58 : ILUSI TAK BERTEPI


__ADS_3

"Iya bawel cepat pulang gih." Usirnya halus pada Darel. Yang sudah benar benar meninggalkannya dan masuk ke mobil.


Darel segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia menyadari jika kini wajahnya di penuhi senyum sumringah ga jelas.


"Sumpah rasa ini tuh, ga sama sekali aku dapatkan saat dengan Fely." Ujar Darel bicara dengan dirinya sendiri.


Belum lagi obrolannya dengan Felysia tuh sama sekali ga mutu. Sangat terasa berbeda saat dia bersama Anin, mulai dari bercanda, marahan sampai saling memberi nasehat pun semua mereka lalui bersama.


Sementara di kamar Anin. Ia tidak dapat memejamkan matanya. Potongan potongan obrolan dan segala kegiatan mereka tadi selalu terbayang didalam benak Anin.


"Apa iya. Aku sudah jatuh cinta sama Emil. Pliis deh hati. Dia bukan untukmu, Anin." Kalimat itu berulang ulang Anin ucapkan bagai mantra, agar dia tidak terjerumus pada cinta yang salah. Cinta yang tidak semestinya hadir dan tumbuh dalam hatinya.


"Tapi, jika aku jatuh cinta pun ga semua salahku dong. Ngapain juga dia sering deket-deketin aku gitu, coba. Apa dia mau dapatkan Felysia dan aku sekaligus. OMG maruk banget yak? Pake ngatur - ngatur aku jangan deket deket sama Bang Gerald juga. Emang dia siapa ku?" Anin sibuk bermonolog dengan hatinya. Dan akhirnya terlelap tidur dalam posisi yang tidak beraturan.


Sampai terdengar ketukan dari luar pintu kamarnya.


"Anin, kamu masih tidur Nak?" Sayup sayup Anin mendengar suara ayah membangunnya. Segera Anin bangkit dan membuka tirai yang menutupi jendela di kamarnya. Dengan meloncat Anin membuka pintu kamarnya, tampak ayah sudah berdiri dengan pakaian olah raga rapi.


"Ga joging? Ini hari minggu lo. Banyak jajanan kue." tanya ayah sambil tersenyum.


"I..iya Yah, Anin cuci muka dulu." Ucap Anin dengan gerak cepat membasuh wajah, menggosok gigi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian olah raga. Untung hari ini hari minggu, dan memang libur dari kerjaan. "Sialan tuh Emil, udah bikin aku bangun kesiangan aja." Batin nya.


"Pulang jam berapa nak Emil semalam?" tanya Ayah saat mereka sudah tampak berjalan sejajar di area komplek perumahan mereka.


"Hampir jam 10 ayah. Dia juga mohon maaf karena ga sempat pamit sama ayah."


"Ga apa - apa. Anak itu, hari ini pamit paling besok juga datang lagi."


"Ya, ga lah, ayah. Dia kesini cuma sebentar, dia pindah kerja ke Bandung sekalian mau fokus jaga mamanya pasca kecelakaan. Dan sekarang masih koma."


"Oh begitu. Anin, Emil itu kekasih mu?" tanya Ayah tanpa basa basi.


"Apaan sih ayah, dia itu pacarnya Felysia ayah, bos ku..."


"Lho, kok kamu gitu sama kekasih orang. Kamu jangan bikin ayah malu Anin. Ayah kira lelaki pertama yang berani kamu bawa kerumah itu adalah lelaki yang sangat spesial."


"Kan Anin ga bilang dia siapanya Anin kemaren. Trus tadi malam juga Anin ga tau kalau dia datang. Mendadak gitu." Bela Anin pada tuduhan ayahnya.


"Jangan sampai kamu berhubungan sama dia lagi Anin, ayah sudah banyak bicara panjang lebar semalam dengannya. Karena ayah kira dia adalah kekasihmu."

__ADS_1


"Memang ayah bicara apa saja dengannya tadi malam?" selidik Anin.


"Ah, sudahlah Anin. Pembicaraan sesama laki-laki. Kamu tidak perlu tau. Yang penting, kamu jangan sampai mencintai seseorang yang tidak seharusnya untukmu. Apa lagi itu milik Felysia, kamu sama sekali tidak boleh melupakan kebaikan Fely padamu. Ayah bisa sembuh seperti sekarang adalah bagian dari jasa nya, yang sudah mempekerjakanmu selama ini."


"Iya, Ayah. Anin juga tau diri. Anin sudah menganggap Fely seperti sahabat bahkan saudara Anin sendiri.Walaupun mungkin Fely tidak menganggap aku demikian. Anin juga tau diri. Anin hanya seorang asisten dengan kata lain pembantunya Fely, masa Anin ambil kekasih majikan Anin?" ucap Anin dengan mata yang berkaca karen mengasihani dirinya.


Ayah tampak sedih melihat anak gadisnya yang telah di buatnya bersedih. "Maafkan ayah ya Nin. Ayah tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Hanya ayah tidak ingin, walau kita orang tak punya harta yang berlimpah, setidaknya kita masih memiliki harga diri, Dimana kita tidak mengambil sesuatu yang bukan hak kita." Ujar Ayah menepuk halus pundak anak kesayangannya itu.


"Eh, Pak Pujo. Makin tampak sehat saja." Ujar Ketua RT yang saat itu juga berolahraga di area perumahan.


"Alhamdullilah Pa, beginilah. Pelan pelan menjaga pola makan dan pola pikir juga, agar bisa segera pulih." Jawab Ayah.


"Oh, iya Pa. Malam ini di tempat pak Budi ada acara pengajian. Jika berkenan, bisa saya jemput, agar bapak bisa sedikit sedikit mulai aktif lagi berinteraksi seperti dulu sewaktu belum sakit."


Ayah memandang kearah Anin.


Dan Anin pun menganggu tanda setuju.


"Iya boleh juga Pak. Sudah lama juga saya tidak kumpul bersama warga di sini." Jawab Ayah.


Ketika Hari mulai gelap, ayah tampak sudah rapi. Ayah juga sudah makan atas instruksi Anin, agar di sana nanti ayah tidak comot comot makanan yang seharusnya tidak ia makan. Anin sudah melebihi emak - emak dalam urusan kecerewetannya, saat akan melepas ayahnya pergi tanpa dia, walaupun hanya ke acara pengajian.


Kini hanya Anin sendiri di rumah, ini pengalaman pertama bagi Anin sejak beberapa tahun ayah sakit. Anin sedih bercampur senang, jika kini ayah sudah mulai bisa berinteraksi dengan orang lain di luar rumah dan semakin sehat.


"Ternyata gini ya rasanya kalo di tinggal sendiri di rumah. Kasihannya Ayah yang biasanya selalu aku tinggal." Ucap Anin di dalam hati. Yang kemudian mengambil gitar dan duduk di teras rumah tempat favoritnya.


Beberapa lagu sudah Anin nyanyikan untuk sekedar melepas semua beban pikirannya yang dia rasa begitu merusak moodnya. Hingga Anin teringat dengan sebuah tembang dari Hijau Daun dengan judul Ilusi Tak Bertepi.


Tak pernah lepas


kau dalam ingatanku


Tak pernah bisa aku melupakanmu


Ku jatuh cinta pada orang yang salah


Kau kekasih sahabatku


Rinduku ini bagaikan di ujung hati

__ADS_1


Cinta ini bagai ilusi yang tak bertepi


Cinta mengapa singgah di hatiku


Kau salah memilih tempat dan waktu


Tak tahan aku menahan rasa


Aku tersiksa


Cinta galau aku menimbang


Rasa aku atau sahabatku


Pantaskah ku abaikan


Hati yang menangis menginginkanmu


Antara senang dan bersedih Anin melantunkan lagu ini, yang baginya sangat mewakili perasaannya pada Emil dan Felysia yang di anggapnya sebagai sahabatnya itu.


Dan kali ini Anin pun menyadari. Fix. Ia memang telah jatuh cinta pada Darel Emilio Aswindra. Konyol. Dan sangat memalukan baginya.


Cepat cepat Anin masuk ke dalam rumah dan membasuh wajahnya. Sebab, dari kejauhan ia telah melihat lampu sepeda motor yang Anin yakini itu milik Pak RT yang mengantarkan ayahnya kembali selesai pengajian.


Bersambung.


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat autor harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2