
Darel menggeleng mendengar penjelasan Anin.
"Itu otak sama badan, kapan istirahatnya?
Apa ga butuh piknik? tanyanya pada Anin.
Mendengar itu Anin hanya nyengir kuda.
(Emang kuda bisa nyengir, thor)
"Pak, Emil boleh ijin agak lama ga hari ini di sini, atau Anin boleh Emil ajak keluar?" tanya Darel meminta ijin pada ayah Anin.
"Ya terserah Anin nya. Mau di ajak keluar tau di rumah saja." jawab ayah Anin.
"Memangnya ada apa, bang?" tanya Anin yang sempat mendengar Darel minta ijin pada ayahnya.
"Ada hal yang ingin ku bicarakan dengan serius, tetapi dalam keadaan santai." Ujar Darel.
"Kalau begitu di rumah saja Bang.
Matahari sedang panas betul ini, bikin malas kalo keluar rumah." Jawab Anin.
"Kalo gitu aku permisi, pinjam toilet ya.
Aku gerah kalo seharian harus pakai setelan kemeja begini. Aku ada bawa baju ganti di mobil." Ujar Darel.
"Oh ya udah, silahkan." Ujar Anin yang memang terkesan biasa, seolah Darel hanya teman tidak ada yang istimewa.
Sementara Darel sibuk mengganti pakaiannya, Anin pun tampak membuka kulkas untuk sekedar memastikan Manggo Popsicle atau Es loli dari campuran susu, yogurt, dan potongan buah mangga yang dibekukan nya tadi sudah bisa di santap atau belum, sebab sangat memang cocok sekali disantap ketika matahari terik seperti suasana siang ini.
Anin tersenyum tipis dengan mata berbinar melihat beberapa potongan Es loli itu ternyata sudah mengeras dan bisa di nikmati.
Anin membawa beberapa potong dan meletakkannya pada wadah yang bagian bawahnya terdapat es batu agar bisa menjaga suhu dingin di bagian atasnya.
Darel keluar, menuju teras di mana Anin berada. Ia pun senyum sumringah melihat cemilan yang telah Anin sediakan bagi mereka di atas meja itu.
Darel yang mungkin memang sudah tampan sejak orok, bahkan mungkin malah sejak dalam kandungan ibunya, memang selalu tampak mempesona. Walau saat ia hanya memakai kaos rumahan dan celana pendek selutut, seperti sekarang ini pun tidak sedikit pun melunturkan kegantengannya itu.
Sejenak, Anin memejamkan matanya dan menarik nafasnya panjang. Untuk berpesan pada hatinya untuk selalu kuat menghadapi godaan dari pria pujaan hatinya, yang telah di miliki orang lain ini. Selalu itu yang ada dalam pikiran Anin.
Itu satu - satunya kekuatan Anin, untuk membentengi dirinya. Agar tidak terlihat sesungguhnya ia sangat tergila - gila dan meleleh jika di dekat Darel.
"Kenapa bengong, kagum ya baru liat bulu kakiku." Ucap Darel sembarang.
"Udah pernah liat kali, bang..." ucap Anin yang sudah bisa menguasai hatinya pada mode datar.
__ADS_1
"Masa...kapan?" tanya Darel sambil mengambil satu potong es loli mangga itu.
"Waktu di rumah sakit, bukannya Abang cuma pake kolor... ha ... ha ... ha..." ledek Anin.
"Iya ,ya. Hampir lupa." Ujar Darel santai.
"Abang..., mau cerita apa sih tadi serius banget kayaknya."
"Bentar..." Ucap Darel mengeluarkan Flasdish dan menyambungkannya pada ponselnya.
"Kamu perhatikan ini." Perintah Darel pada Anin.
Anin pun meraih ponsel itu, lalu memperhatikan dengan seksama adegan demi adegan yang ia tau, kapan dan dimana kejadian itu terjadi.
"Inikan kami sebelum ngantar berkas." Respon Anin pada adegan itu.
"Astagafurullahaladzim, Nicole!!!" Anin menutup mulutnya dengan satu tangan, dengan membelalakkan kedua matanya tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Jadi, benar Nicole yang sudah menukarkan karya ku?" tanya Anin dengan mata yang mulai berkaca.
Darel mengangguk. "Kamu tau siapa juara 1 dalam kompetisi itu, Nin?" tanya Darel lagi.
"Nicole, aku lihat nama Nicole ada di urutan paling atas pada papan pengumuman 10 besar waktu itu." Jawab Anin
"Akulah seharusnya yang jadi pemenangnya." tangis Anin pecah antara marah, kesal sekaligus terharu dan bangga, bahwa sesungguhnya karyanya lah yang menjadi pemenang.
Anin, tidak bisa menahan rasa kecewanya. Kembali Anin menangis sesungukkan. Ia tidak memikirkan rasa malu lagi, saat ini lagi-lagi ia menangis di hadapan Darel.
Darel hanya bisa menepuk halus pundaknya, untuk sedikit menenangkan gadis yang kini di akuinya telah berhasil mencuri hatinya.
"Timbang di tutup pake telapak tangan sendiri, mending sembunyiin di dada abang deh Nin wajah manis mu yang lagi nangis ini." Batin Darel, tetapi sadar akan status mereka yang bukan siapa - siapa itu. Mana tuh si bapa, bisa aja kan tiba - tiba nyelonong keluar mendekati mereka, bisa malu dan memerah kayak kepiting rebus deh wajah Darel.
Wanita emang gitu kali ya, bisa tiba - tiba nangis bombay. Terus mereda sendiri tanpa komando kayak hujan.
Darel menyodorkan sapu tangannya yang kebetulan ada terbawa di saku jas yang di pakainya tadi.
Di atas meja dekat Anin, juga kebetulan ga ada tissue sehingga dengan cepat Anin menyambar saputangan itu, untuk menghapus air matanya.
"Gimana, udah tenang?" tanya Darel.
Anin masih diam.
"Sebaiknya kita lapor polisi aja ya, biar Nicole di kasih sangsi atau di hukum, sebab tindakannya itu sudah termasuk kriminal." Ujar Darel berapi - api.
"Jangan bang, kasihan dia. Jangan di lapor ke polisi. Anggap kita ga tau saja yang di lakukan nya." Ujar Anin pelan.
__ADS_1
"Kamu gimana sih Nin, mau ngelepas penjahat begitu aja? Kalau hal ini di biarkan, maka akan ada Nicole , Nicole yang lain lagi yang tumbuh."
Marah Darel.
"Jangan lapor ke polisi, semua perbuatan pasti ada alasan. Dan mungkin saja alasan itu dapat kita tolerir." Anin berkata dengan sangat pelan.
"Alasan itu dapat di buat, agar semuanya tampak benar dan wajar, Nin."
"Lalu, jika Nicole kita laporkan, maka siapa yang akan jadi pemenangnya...? Aku....? juga tidak kan?" Kini Anin juga mulai kesal dengan Darel yang menurutnya kejam.
"Lalu, kamu maunya apa?"
"Biarkan saja dia tetap menang dan mendapatkan dana bantuan untuk melanjutkan studi itu. Dia memang lebih membutuhkan ilmu yang lebih tinggi lagi dalam mendesain. Buktinya, saat di minta membuat desain gaun pengantin saja, yang dapat dia buat hanya sebuah sketsa. Artinya, pengetahuannya masih dangkal. Dan orang seperti itu memang perlu pendidikan lagi."
"Dan kamu...?"
"Sudah ku katakan, menang atau tidak aku akan tetap ke Paris melanjutkan studiku."
"Walau dengan biaya sendiri?"
"Bang Emil sudah banyak membantuku melalui Felysia. Berkat pemutusan kerjasama dengan perusahaan abang kemarin, Felysia memberikanku setengah dari nilai yang abang berikan. Jadi, sekarang aku bisa melanjutkan studi ku, tanpa harus menjadi pemenang." Jelas Anin yang sekarang sudah jauh lebih tenang.
Darel hanya mengangkat alisnya sambil mengangguk mencoba setuju dengan yang di sampaikan Anin. "Sungguh gadis berhati emas mulia. Aku kira ia akan ngamuk-ngamuk atau mau cakar-cakar Nicole." Batin Darel dalam hati yang sudah semakin menyadari kebaikan hati seorang Anin.
Bersambung
...Ada yang sebel ga sih...
...sama kebaikan hati Anin ini...
...Titisan malaikat kali yaak šš...
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat autor harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
...Biar makin semangat...
...Terima kasih...
__ADS_1